Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Yang Kejam Kapitalisme, yang Ditolak Malah Kesetaraan Gender, Ukhti Sehat?

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
5 April 2020
A A
kesetaraan gender

Yang Kejam Kapitalisme, Tapi yang Ditolak Malah Kesetaraan Gender, Ukhti Sehat?

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau emang nggak pengin perempuan jadi sasaran ekspolitasi, ukhti malah harus ikut gerakan kesetaraan gender, khususnya yang menolak kuasa kapitalis.

Buka Twitter malam-malam saya syok sekali. Bukan karena postingan Siskaeee. Tapi trending yang membuat saya jengah. Mengatasnamakan muslimah, beramai-ramai menaikan #MuslimahTolakGenderEquality. Terakhir kali saya lihat, sudah ada 200 ribuan tweet. Hanya kalah pamor dibanding nakedchallenge.

Usut punya usut, muslimah-muslimah itu menolak kesetaraan gender karena dianggap sebagai kedok memperkaya golongan kapitalis. Gerakan kesetaraan gender juga mereka anggap sebagai ilusi yang ditawarkan golongan sekuler dan kapitalis untuk merusak tatanan keluarga dan perempuan dalam “Islam”.

Mereka yang mengkampanyekan hastags tersebut, menilai bahwa perempuan terancam eksploitasi karena menuntut kesetaraan gender. Dasar pemikirannya adalah kalau perempuan setara dengan laki-laki, misalnya dalam pekerjaan, maka pekerja wanita semakin banyak. Risikonya meningkatkan eksploitasi perempuan. Mereka juga takut kalau laki-laki dan perempuan sudah setara, perempuan akan meninggalkan kodratnya mengurus pekerjaan domestik. 

Hmm. Kalau dilihat dari argumen mereka, yang dibenci ini sebenarnya kapitalisme, tapi kok yang diserangnya malah kesetaraan gender? Ini logika dari mana toh, Ukhtii.

Padahal kalau yang diserang secara langsung adalah kapitalisme saya pasti bakal dukung hastag ini karena kapitalisme memang musuh bersama. Dia menindas kaum proletar secara keseluruhan. Dan mengeksploitasi semua orang—bukan hanya perempuan tapi laki-laki juga. Kalau gini kan pasti lebih banyak pendukungnya.

Tapi kalau membenci kapitalisme eh yang diserang kesetaraan gender ya ramashoook. Itu dua hal yang berbeda. Nggak bisa dicocoklogikan.

Mana data yang diberikan untuk mendukung argumen mereka juga cherry picking alias cuma nyantumin data yang mendukung gerakan mereka doang lagi. Data BPS soal jumlah pekerja perempuan yang meningkat misal—yang mereka bilang jadi alasan banyak suami dan anak terlantar—dibahas secara parsial. Data yang sebenarnya menunjukan kalau partisipasi tenaga kerja masih didominasi laki-laki kok.

Baca Juga:

Mengakhiri Langgengnya Ideologi Kejantanan

Surat untuk Gus Yahya: Kesetaraan Gender Itu Nggak Cuma Ngurusin “Kapasitas”, Gus

Lha iya jumlah perempuan meningkat dalam pasar tenaga kerja. Tapi jumlah pekerja laki-laki tetap jauh lebih banyak. Kenaikan pekerja perempuan per tahun hanya 0,06% saja, bandingkan dengan laki-laki yang hampir 3 kali lipatnya di angka 0,17%.

Lagian gerakan kesetaraan gender itu tujuannya mau melindungi perempuan meningat perempuan rentan mengalami kekerasan. Normalisasi perempuan di ruang publik juga membuat mereka lebih berdaya. Berkat gerakan ini lebih banyak perempuan menjadi ekonom, politikus, penulis.

Ya nggak salah sih kalau ukhti-ukhti yang menolak kesetaraan gender menggambarkan tempat kerja sebagai ruang yang menakutkan bagi perempuan. Kenyataannya memang demikian. Buruh Pabrik AICE yang hamil tapi tetap dapat pekerjaan kasar hanya contoh kecil saja. Tapi justru keadilan dalam ruang kerja untuk perempuan adalah hal yang sedang berusaha dicapai oleh gerakan kesetaraan gender. Makanya aneh kalau mereka malah nolak. Ini sama kayak ada orang lagi nolongin kita, terus kita benci sama orang itu.

Kalau emang ukhti-ukhti ini nggak suka kesetaraan gender karena dalam bayangan ukhti perempuan akan terus bekerja lalu meninggalkan pekerjaan domestik, mungkin ukhti ini kurang membaca. Tujuan perempuan pengin setara bukan cuma karena sudah “malas” atau “muak” dengan pekerjaan domestik lantas pengin berkarier seperti laki-laki. Ingin setara juga bukan soal mengejar materi seperti yang ukhti sangkakan.

Seperti halnya laki-laki, perempuan juga kan pengin dilihat sebagai manusia yang bisa melakukan apa saja. Bahkan di Al-Quran saja sudah jelas kalau perempuan juga punya peran yang sama di bumi yaitu, jadi khalifah fil ardh atau khalifah di muka bumi.

Kalau emang nggak pengin perempuan jadi sasaran ekspolitasi, ukhti malah harus ikut gerakan kesetaraan gender, khususnya yang menolak kuasa kapitalis. Karena para pemilik modal yang culas ini lah banyak perempuan akhirnya mau tidak mau pergi bekerja karena terus tertekan oleh kemiskinan.

Kalau ukhti nggak mau kesetaraan gender dan konsep perempuan yang bekerja ya sebenernya nggak apa-apa juga sih, asal ukhti siap berkomitmen menanggung kebutuhan perempuan-perempuan yang tertindas karena tidak punya kapital.

Kesetaraan gender bukan topeng untuk mengeksploitasi perempuan seperti yang ukhti pikirkan. Tetapi justru melindunginya dari ekploitasi. Bayangkan kalau sampai tak ada ide dan gerakan kesetaraan gender, ukhti kalau punya suami nganggur, padahal punya anak banyak, kalau ukhti tidak bisa bekerja, darimana coba bisa dapat uang untuk ngasih makan mereka?

BTW, setelah saya telisik, ternyata gerakan muslimah yang menolak gender equality berawal dari sebuah tulisan oleh Arum Harjanti yang dimuat di muslimahnews. Di akhir tulisan, si penulis menjabarkan solusi praktis. Ketimbang kesetaraan gender lebih baik mengikuti Daulah Khilafah Islamiyyah. Elahdalah… jebul khilafah maneh… khilafah maneh… hadehh~

BACA JUGA Perempuan Harusnya Nggak Benci Laki-Laki Karena Kesetaraan Itu Saling Melengkapi atau tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2021 oleh

Tags: FeminismeKesetaraan Genderkhilafah
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

Mengenang Nawal El Saadawi Melalui Novelnya 'Perempuan di Titik Nol' terminal mojok.co

Mengenang Nawal El Saadawi Melalui Novelnya ‘Perempuan di Titik Nol’

23 Maret 2021
emansipasi

Bila Emansipasi Wanita Itu Ada, Sudah Semestinya Emansipasi Laki-laki juga Harus Ada

21 Juni 2019
identitas

Identitas

20 Agustus 2019
Akhir Penjantanan Dunia Dorongan Revolusi untuk Perempuan dan Laki-laki Terminal Mojok

Mengakhiri Langgengnya Ideologi Kejantanan

30 Januari 2023
lagu iwan fals yang bisa saja dikritik feminisme mata indah bola pingpong pesawat tempur maaf cintaku lirik mojok.co

3 Lagu Iwan Fals yang Kalau Diciptakan Sekarang, Pasti Rame kayak Tilik

31 Agustus 2020
feminisme

Ngobrolin Feminisme di Tengah Gelombang Penolakannya

25 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

23 Februari 2026
Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

26 Februari 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

UNNES Semarang Rajin Menambah Mahasiswa, tapi Lupa Menyediakan Parkiran yang Cukup

24 Februari 2026
Pengalaman Naik Whoosh Pertama Kali, Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang Bikin Mental Orang Kabupaten Jiper Mojok.co KA Feeder Whoosh

Sisi Gelap KA Feeder Whoosh, Fasilitas Gratis yang Bikin Penumpang Whoosh Merasa Miris

1 Maret 2026
Dosa Penjual Oseng Mercon, Makanan Khas Jogja Paling Seksi (Wikimedia Commons)

Dosa Penjual Oseng Mercon Menghilangkan Statusnya Sebagai Kuliner Unik, padahal Ia Adalah Makanan Khas Jogja Paling Seksi

23 Februari 2026
Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

24 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.