Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Yang Jokowi Maksud dengan “Memerintah Tanpa Beban”

Kardono Setyorakhmadi oleh Kardono Setyorakhmadi
30 November 2019
A A
Jokowi kaget, Yang Jokowi Maksud dengan “Memerintah Tanpa Beban”

Yang Jokowi Maksud dengan “Memerintah Tanpa Beban”

Share on FacebookShare on Twitter

Publik belakangan ini mendapat banyak kejutan dari pemerintahan Jokowi. Terutama para pegiat HAM dan para aktivis. Pernyataan Menag yang membela FPI dan “menjadi yang pertama” merekomendasikan perpanjangan izinnya, wacana pemilihan presiden melalui MPR, hingga sejumlah fraksi memunculkan isu soal perpanjangan periode jabatan presiden.

Sebelumnya, kontroversi sudah muncul sejak awal jabatan kedua Jokowi. Pemilihan kabinet yang memicu reaksi keras (utamanya soal menag yang membuat NU marah dan soal Prabowo yang jadi Menhan). Langkah yang bagi pendukung Jokowi disebut “langkah kuda” yang mendamaikan, karena mengakhiri perpecahan politik cebong-kampret. (Yang menurut saya langkah kuda mbelgedhes, karena pada dasarnya bukan karena ideologi. Tapi pada kepentingan politik saja).

Lalu, apa sebenarnya makna semua langkah tersebut?

Dalam pidato kenegaraan saat awal dilantik, Jokowi menyatakan bahwa “dia tidak punya beban lagi melaksanakan agendanya”. Karena dia sudah tak mungkin maju lagi.

Banyak pihak yang berharap bahwa ini berarti Jokowi akan melaksanakan agenda reformasi, sebagaimana harapan para pendukung-pendukung awalnya ketika karir politiknya mulai melejit dari wali kota Solo, lalu Gubernur Jakarta, hingga jadi presiden. Pun dalam pilpres 2019 lalu, meski berkurang banyak, sejumlah aktivis masih berharap padanya. Karena memang pilihan lainnya cuma satu, dan tak menarik pula dari perspektif agenda reformasi: Prabowo Subianto. (Termasuk saya juga hehe).

Tapi belakangan (sebenarnya bukan belakangan, karena saya yang terlambat melihatnya), prioritas utama Jokowi sebenarnya selalu pada pertumbuhan ekonomi. Bagai seorang Keynesian sejati, Jokowi melakukan sejumlah langkah yang sangat pro industri. Deregulasi, revisi UU tenaga kerja, hingga revisi UU minerba menunjukkan hal tersebut.

Baginya, yang dimaksud “tak ada beban menjalankan pemerintahannya” itu berarti dia tak ragu menjalankan kebijakan ekonomi tak populis. Seperti menaikkan iuran BPJS, tol, hingga menaikkan cukai rokok secara kontroversial hingga 23 persen.

Baginya, demokrasi hanya dibingkai dalam konteks pertumbuhan ekonomi. Demokrasi hanyalah salah satu alat utk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan kemudian voila, berharap tiba2 saja rakyat sejahtera. Agenda reformasi seperti kemerdekaan berekspresi, hak publik, atau anti korupsi bisa dikesampingkan atas nama pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga:

Isu Ijazah Jokowi Palsu Adalah Isu Goblok, Amat Tidak Penting, dan Menghina Kecerdasan, Lebih Baik Nggak Usah Digubris!

Rumah Pribadi Jokowi di Solo Memang Cocok Jadi Destinasi Wisata Baru

Simak saja pernyataan Mendagri Tito Karnavian. Secara jelas, dia mencontohkan Tiongkok, Singapura, maupun Vietnam. Bahwa tanpa demokrasi, kesejahteraan bisa dicapai.

Ini memang tujuan yang mulia.

Tapi, pada prakteknya, keyakinan itu bisa menimbulkan bencana, jika dikaitkan dengan kondisi politik di Indonesia.

Dalam sebuah artikelnya, Burhanuddin Muhtadi menulis bahwa Jokowi setidaknya terjepit pada dua kepentingan: kartel politik dan tuntutan publik.

Berbeda dengan Jokowi, parpol masih butuh dukungan politik publik. Jika Jokowi sudah tak bertarung lagi di 2024, parpol-parpol masih. Mereka membawa agenda sendiri. Maka kebingungan publik soal perkembangan yang terjadi seperti yang disebut di atas tak lain dalam rangka konsolidasi parpol dan kekuatan politik yang ada menuju pertarungan elektoral selanjutnya.

Dan parpol (utamanya para pengurusnya) selalu memburu ekonomi. Baik untuk melumasi mesin politiknya untuk perang elektoral, maupun untuk memperkaya politisinya. Kemana para politisi ini mencari (sumber uangnya)?

Kemana lagi selain di McD, eh keliru…yang benar kemana lagi selain membentuk oligarkhi. Dengan para konglomerat. Bersama-sama, mereka menumpang dalam agenda pertumbuhan ekonomi jokowi. Mulai dari melemahkan agen anti-korupsi, mengeksploitasi sumber daya alam, hingga mengubah UU yang menguntungkan industri. Ini berarti, KPK akan makin lemah, hutan-hutan akan habis, masyatakat akan tersingkirkan.

Makanya, pernyataan Jokowi “bahwa harus ada industrialisasi setiap sumber daya alam” membuat saya ngeri. Mungkin yang dimaksud adalah petani tak lagi hanya menjual buah nangka, tapi jual lah kripik nangka biar ada nilai tambah. Tapi melihat kondisi yang ada, yang terbayang di saya adalah hutan-hutan yang berganti perkebunan sawit dan konflik agraria berkepanjangan.

Tujuan Jokowi mungkin baik dengan agenda pertumbuhan ekonominya, tapi problemnya adalah politik di Indonesia tidak ideal. Sederhana saja. Idealnya, masyarakat memilih politisi untuk memperjuangkan aspirasinya. Yang terjadi, publik memilih politisi, tapi politisi tidak memperjuangkan aspirasi masyarakat. Melainkan agenda politik parpolnya. Ada dua arah yang berbeda dari tujuan awal dan pada kenyataan di lapangan.

Yang terjadi adalah problem yang lebih berbahaya lagi. Kartel politik dan industri yang mungkin jumlahnya tak lebih dari tiga persen, menguasai lebih dari 90 persen sumber daya di Indonesia. Rakyat dapat apa? Hanya kebagian iuran BPJS yang naik, biaya hidup yang semakin naik, dan sulitnya dapat pekerjaan (karena eselon 3-4 PNS katanya mau diganti robot), juga semakin tergusur. Kalaupun ada pertumbuhan ekonomi yang terjadi, porsi terbesar kue ekonomi jatuh ke sebagian kecil oligarkhi saja. Bagaimana dengan rakyat miskin? Paling-paling ya dibully oleh kelas menengah dengan perkataan “ah, itu karena kemalasan dan kebodohan kalian, juga mental, yang membuat tetap miskin”.

Meski suram, tetap saya yakin, bakal ada yang bergerak untuk meluruskannya. Jika tidak, maka ujaran “ketika pohon terakhir telah ditebang, ikan terakhir telah dipancing, dan tetes air terakhir telah diminum, mereka akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan” akan terjadi. Semoga tidak begitu…

BACA JUGA Sisi Lain Nadiem Makarim atau tulisan Kardono Setyorakhmadi lainnya. Follow Facebook Kardono Setyorakhmadi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 November 2019 oleh

Tags: Jokowipembangunan ekonomipemerintahan jokowi
Kardono Setyorakhmadi

Kardono Setyorakhmadi

ArtikelTerkait

Di Mana Kemanusiaan, Kalau Banjir Saja Sempat-sempatnya Dipolitisasi?

Di Mana Kemanusiaan, Kalau Banjir Saja Sempat-sempatnya Dipolitisasi?

5 Januari 2020
Djoko Tjandra Jokowi MOJOK.CO

Jokowi Cuma Peduli Sama Gimmick Pakaian Adat, Bukan Masyarakat Adatnya

21 Agustus 2020
golput dan prabowo

Masuknya Prabowo ke Kabinet dan Perkiraan Golput yang Akhirnya Terbukti

22 Oktober 2019
mudik dan pulang kampung

Gimana Cara Petugas Bedain Orang Mudik dan Pulang Kampung di Lapangan?

23 April 2020
jadi presiden selama sehari lambang negara jokowi nasionalisme karya anak bangsa jabatan presiden tiga periode sepak bola indonesia piala menpora 2021 iwan bule indonesia jokowi megawati ahok jadi presiden mojok

Jokowi Jadi Presiden Biar Aman Saat Mengkritik Negara: Sebuah Plot Twist

31 Mei 2021
Sistem Zonasi Cuma Bentuk Kemalasan Pemerintah. Hapus Saja! (Unsplash)

Sistem Zonasi Cuma Bentuk Kemalasan Pemerintah untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan. Sudah, Hapus Saja!

30 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Alasan Wonogiri Masih dan Akan Selalu Jadi Ibu Kota Bakso Indonesia, Malang Minggir Dulu!

20 Mei 2026
Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah Mojok.co

Peribahasa Ada Harga Ada Rupa Tidak Berlaku untuk “MBG” Superindo yang Wujudnya Meyakinkan, Rasa Enak, dan Harganya Tetap Murah

17 Mei 2026
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
Mahasiswa Akuntansi yang Menghindari Bahasa Inggris Tak Ubahnya Menembak Kaki Sendiri, alias Menyulitkan Diri Sendiri!

Mahasiswa Akuntansi yang Menghindari Bahasa Inggris Tak Ubahnya Menembak Kaki Sendiri

20 Mei 2026
Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau Aslinya Bikin Malas

18 Mei 2026
Jogja Aneh, Membiarkan Tukang Becak Mati dalam Kemiskinan (Unsplash)

Jogja Itu Aneh: Becaknya Dianggap Warisan Budaya, tapi Pengemudinya Dibiarkan Menua, Lalu Mati dalam Kemiskinan

21 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.