Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

Vinicius Junior, Teriakan Monyet di Mestalla, dan Betapa Bodohnya Pemakluman atas Rasisme

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
24 Mei 2023
A A
Vinicius Junior, Teriakan Monyet di Mestalla, dan Betapa Bodohnya Pemakluman atas Rasisme

Vinicius Junior, Teriakan Monyet di Mestalla, dan Betapa Bodohnya Pemakluman atas Rasisme (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Akui saja, kalian pernah membenci salah satu kawan kalian yang begitu berprestasi saat muda. Oke, benci mungkin kurang tepat, mungkin “tidak suka” lebih tepat. Wajar, dia—si pemuda peraih segalanya—itu mendapat semua yang ada: sorot lampu, prestasi, kebanggaan, juga segepok uang yang mungkin hanya ada dalam mimpimu.

Tapi, terima saja kenyataannya. Kebanyakan manusia adalah medioker, dan itu tak masalah. Sebab memang seperti itulah desain dunia, selalu ada orang lain yang meraih lebih banyak ketimbang dirimu. Dan sialnya, ada medioker yang jauh lebih sukses ketimbang dirimu. Dan rasanya amat wajar jika kau mengutuk beberapa manusia terpilih. Tak apa, itu normal…

Jika kau lakukan itu dalam hatimu.

Ayolah, tak ada yang lebih menyedihkan ketimbang orang kalah yang mengeluh. Coba kau temui para pemenang yang kau temui dalam hidup, mereka, pasti, akan mengatakan satu hal: winners don’t make an excuses. Titik, full stop.

Kau ingin tahu bagaimana menyedihkannya orang kalah yang membuat alasan? Lihat La Liga.

Kumpulan manusia payah

Spanyol adalah raja liga Eropa selama satu dekade terakhir. Simpan argumen panjang dan menyedihkanmu tentang betapa superiornya Premier League, Real Madrid dan Sevilla adalah penguasa Eropa. Pemenang Liga Champions dan Europa League selain kedua tim tersebut, dalam dekade ini, hanya kameo, penyeimbang semesta.

Tapi kedigdayaan itu, entah kenapa, tak tercermin sama sekali pada liga dan suporternya. Untuk negara yang punya tim penguasa liga benua, mereka benar-benar payah dalam menghadapi kekalahan. Dan mereka memilih menjadi golongan manusia yang pantas dilempar tai setiap sejam sekali: menjadi rasis.

Vinicius Junior, The Wonder Boy

Vinicius Junior adalah pemenang. Tanpa ragu, saya akan bilang ia winger kiri terbaik dunia saat ini. Segala trofi klub sudah ia peroleh di usia 22. Dialah alasan kedua Madrid bisa meraih trofi UCL keempat belas musim lalu.

Baca Juga:

Sisi Gelap Kerja di Korea Selatan: Gaji Besar tapi Hak-hak Lain Tergadaikan  

Kenapa Jadwal Pertandingan La Liga Tak Ramah untuk Penonton Asia?

Ayolah, kalian tahu Courtois adalah alasan pertamanya.

Saya tak perlu memberikan detil kemampuannya. Tapi jika kalian bukan penikmat bola, mudahnya begini: dia adalah pisau panas, dan sisi kiri lawan adalah mentega. Yang terjadi bisa ditebak, dia akan membelahmu begitu mudah, dan yang bisa kau lakukan adalah meleleh.

Tidak, dia tak segila Messi. Tapi menghentikan Vinicius sama sulitnya dengan mempercayai politisi negara ini. Sebegitu vital Vinicius Junior untuk Madrid, cara paling mudah mengalahkan Madrid adalah menghentikan Vini. Done, mereka tak punya cara lain untuk menang.

Wajar jika akhirnya ia “dibenci”. Saya beri tanda kutip, karena sebagai orang yang pernah mengenyam sedikit pendidikan sepak bola, kau benar-benar benci jika lawanmu punya pemain macam Vini. Kau tak bisa mengejarnya, tak bisa merebut bolanya, dan yang bisa kau lakukan adalah berdoa Tuhan benar-benar ada.

Tapi, yang membedakan manusia dengan binatang, adalah menyikapi kekalahan. Dan suporter klub La Liga, beberapa memilih menjadi binatang.

Monyet, monyet, dan monyet

Teriakan “Vinicius, kau adalah monyet!” bergema di hampir tiap pertandingan Real Madrid. Kecuali Anda memang benar-benar bodoh, tentu saja hal itu masuk dalam tindakan rasisme. Manusia yang punya akal tak akan membenarkan rasisme. No buts, no ifs.

Ini tidak terjadi sekali. Tapi berkali-kali. Vinicius Junior, sebagai manusia, tentu saja tak terima dia diperlakukan seperti itu. Wajar, begitu wajar.

Tapi Javier Tebas, idiot yang kebetulan ditunjuk sebagai Presiden La Liga, punya pendapat lain. Ia, alih-alih menghadapi masalah rasisme, memilih untuk “membela diri”. Bayangkan.

Ya que los que deberían no te explican qué es y qué puede hacer @LaLiga en los casos de racismo, hemos intentado explicártelo nosotros, pero no te has presentado a ninguna de las dos fechas acordadas que tú mismo solicitaste. Antes de criticar e injuriar a @LaLiga, es necesario… https://t.co/pLCIx1b6hS pic.twitter.com/eHvdd3vJcb

— Javier Tebas Medrano (@Tebasjavier) May 21, 2023

Saya tak akan membeberkan detil kasus rasisme yang diterima Vinicius Junior. Saya fans Madrid, dan melihat pemain tim yang saya bela diteriaki monyet bikin hati saya remuk. Tapi, saya lebih remuk melihat respons Tebas dan beberapa idiot lain yang muncul memberi statemen.

Pemakluman rasisme kepada Vinicius Junior, tanda kemunduran umat manusia

Bayangkan skenario ini: Anda sedang memasak nasi goreng. Harum bumbumu tercium hingga luar dapur. Tiba-tiba, rumah Anda dilempari tai. Alasannya? Harum bumbumu mengganggu mereka.

Konyol? Begitu pula alasan orang-orang “membenarkan” rasisme kepada Vinicius Junior.

Vinicius Junior dianggap suka memprovokasi pemain lain. Jika akhirnya mendapat tindakan rasisme, itu adalah risiko yang harus diterima. Rasisme, adalah harga yang harus ia bayar atas segala polah yang ia lakukan di lapangan.

Masalahnya adalah, rasisme bukanlah respons yang bisa diterima dan tak akan pernah diterima. Membenarkan rasisme, dengan alasan apa pun, adalah tanda bahwa ada masalah yang serius pada dunia sepak bola.

Jika kita menerima pemakluman rasisme atas provokasi, artinya kita baru saja melakukan kesalahan logika paling dasar. Bayangkan, kau bisa dibunuh tetanggamu hanya karena kamu kebetulan melakukan hal yang tak menyenangkan. Kamu bisa kehilangan nyawa hanya karena kelakuanmu yang kebetulan bikin orang lain merasa sebal.

Oh, Anda pasti merasa saya berlebihan. Tentu saja tidak, rasisme dan pembunuhan, bagi saya setara. Dua-duanya kejahatan yang HARUSNYA tak dilakukan, apa pun alasannya.

Rasisme, apa pun alasannya, tak bisa dibenarkan

Jujur saja, saya tak ingin menulis panjang-panjang kenapa provokasi (andai itu benar adanya) yang dilakukan Vinicius Junior itu harusnya tak dibalas dengan tindakan rasisme. Sebab, pertama, rasisme tak bisa dibenarkan apa pun alasannya. Kedua, manusia yang punya otak tahu bahwa tindakan rasisme tak harusnya dilakukan, apa pun alasannya.

Jika benar provokasi Vinicius Junior dan ketengilan yang ia tunjukkan adalah penyebab ia mendapat serangan rasisme, saya ingin bertanya. Apakah Iñaki Williams, Nico Williams, Mouctar Diakhaby, Samuel Chukwueze, Carlos Akapo, Antonio Rüdiger, Marcelo, Rivaldo, Roberto Carlos, Dani Alves, adalah pemain yang tengil dan suka provokasi?

Betul, pemain-pemain tersebut sempat mendapat serangan rasis. Dan setahu saya, mereka bukan pemain tengil dan tukang provokasi. Pemain-pemain tersebut berbagi hal yang sama dengan Vini: warna kulit yang berbeda.

Tebas kosong nyaring bunyinya

Pembiaran atas tindakan rasisme di La Liga adalah penyebab kenapa chant rasis ada dan akan selalu ada. La Liga tak pernah memberi sikap yang tegas atas hal ini. Sikap Javier Tebas yang memilih untuk menanggapi Vinicius Junior, alih-alih addressing the racist problem adalah contoh terbaik bagaimana La Liga menghadapi rasisme.

Tebas begitu bersemangat menentang Super League, begitu marah pada beberapa klub yang menolak kesepakatan dengan CVC, tapi begitu lembek ketika beberapa kali kasus rasisme terjadi. Pokoknya, apa pun yang berhubungan dengan uang, Javier Tebas punya tenaga tak terbatas dan antusias tanpa batas.

Tapi ketika berurusan dengan rasisme, dia begitu layu. Sikap Tebas adalah cerminan La Liga dan tim-tim lainnya: menganggap rasisme tak pernah penting dan tak perlu dianggap penting.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Vinicius Jr. ⚡️🇧🇷 (@vinijr)

Pembiaran ini, akhirnya jadi kebiasaan. Psy war yang suporter tim La Liga tahu adalah dengan mengolok-olok warna kulit pemain dan menganggap pemain berkulit hitam sebagai monyet. Saya bahkan berani bertaruh, kalau suporter tim La Liga punya anggapan bahwa cara menang melawan Madrid adalah mengejek Vinicius Junior dengan panggilan monyet.

Kau tahu akan kesulitan menang melawan Real Madrid. Lalu, kau memilih untuk memanggil pemainnya monyet. Cara rendah yang hanya bisa dipikirkan oleh orang-orang dengan IQ rendah.

Apakah rasisme ini akan hilang ketika La Liga akhirnya bertindak tegas? Tidak, tapi tindakan tegas akan membuat orang rasis akan berpikir dua-tiga kali untuk mengatai pemain berkulit hitam dengan sebutan monyet.

The only good racist is a very dead racist

Jujur, menulis ini begitu berat. Teriakan monyet yang bergaung di Mestalla bikin hati saya remuk. Air mata Vinicius Junior masih terekam jelas di kepala. Komen Justinus Laksana (saya tak akan sudi memanggilnya coach) membuat saya terheran-heran.

Meski tak mengalami rasisme, tapi saya tahu betul rasanya diperlakukan berbeda gara-gara saya orang desa, karena orang tua saya bukan orang terpandang. Saya tahu rasanya diolok-olok karena sesuatu yang bahkan tak pernah saya minta dan punya kuasa untuk memilihnya.

Vinicius Junior hanyalah orang yang mencintai sepak bola dan menjadikan olahraga tersebut sebagai jalan hidupnya. Warna kulitnya, sikapnya, tak menjadikan ia pantas diteriaki monyet dan sejenisnya. Tak ada satu pun orang yang pantas diperlakukan berbeda, hanya karena warna kulitnya lebih gelap ketimbang orang lain.

Rasisme tak akan lenyap di muka bumi ini. Itu terlalu utopis. Tapi, harapan saya adalah, setiap tindakan rasisme ditindak dengan begitu tegas dan pelakunya tak boleh lagi diberi ruang untuk menyampaikan ujaran kebencian.

Sebagai penutup, saya akan mengulangi statemen saya di atas. Vinicius Junior, terlepas ia provokator atau tidak, tidak pantas mendapat tindakan rasisme dan tak bisa dijadikan pembenaran ia pantas mendapat rasisme.

The only good racist is a very dead racist. I repeat, The only good racist is a very dead racist.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA UEFA: Gercep Perkara Duit, Lambat Perkara Rasisme

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Mei 2023 oleh

Tags: javier tebasla ligamestallarasismevinicius junior
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Casemiro, Bukti Bahwa Dunia Tak Berputar Mengelilingi Inggris

Casemiro, Bukti bahwa Dunia Tak Berputar Mengelilingi Inggris

28 Februari 2023
Entah Kalian Suka atau Tidak, Vinicius Junior Adalah Pemain Terbaik di Dunia Saat Ini, dan Kita Tak Perlu Berdebat

Entah Kalian Suka atau Tidak, Vinicius Junior Adalah Pemain Terbaik di Dunia Saat Ini, dan Kita Tak Perlu Berdebat

23 Oktober 2024
eden hazard carlo ancelotti luis enrique david alaba vinicius junior real madrid vs chelsea mojok

Carlo Ancelotti dan Rasa Tidak Bahagia yang Diperlukan

24 September 2021
atletico madrid thomas partey torreira mojok

Ngobrolin La Liga, Thomas Partey, dan Lucas Torreira Bareng Fans Atletico Madrid

19 Oktober 2020
UEFA uang rasisme mojok

UEFA: Gercep Perkara Duit, Lambat Perkara Rasisme

22 April 2021
dpr

Ibu Saya Anggota DPR yang Sedang Didemo dan Anak-anaknya Ribut di Grup WhatsApp

30 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Brebes Punya Tol, tapi Tetap Jadi Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

10 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.