Video Klarifikasi Gofar Hilman: Situ Mau Klarifikasi atau Membela Diri? – Terminal Mojok

Video Klarifikasi Gofar Hilman: Situ Mau Klarifikasi atau Membela Diri?

ArtikelFeatured

Beberapa waktu yang lalu, Gofar bikin konten lagi. Video klarifikasi Gofar Hilman yang bermaksud “menjelaskan” perihal tuduhan pelecehan seksual yang dituduhkan kepadanya, namun justru nggak menjelaskan apa-apa perihal kasusnya. Video berdurasi tujuh menit itu, seakan kita disajikan seseorang yang bingung mau ngomong apa.

Gofar Hilman nggak sendiri, kok. Setidaknya, makna “klarifikasi” bagi para artis atau influencer di Indonesia, mengalami penyalahgunaan makna yang cukup ekstrem belakangan ini.

Beberapa poin perihal klarifikasi yang marak terjadi di Indonesia adalah bahwa bahwasanya klarifikasi itu tidak menjelaskan apa-apa. Para influencer yang kena blunder, seakan keblinger dengan klarifikasi yang muter-muter.

Kemuakan publik barangkali nggak cukup lha wong tiap bulan pasti ada yang melakukan tindakan klarifikasi model ini. Ada yang disajikan dalam bentuk podcast pasang AdSense, ada pula yang ngelantur nggak jelas titik persoalannya apa.

Misal kasus A, yang diklarifikasi bukannya perihal kasus A, malahan A’ (aksen). Atau malah membahas B, C, sampai Z. Bundet ra karuan. Bundet ndasmu menghadapi para influencer yang klarifikasi tapi nggak nggak clarify apa-apa.

Kembali ke Gofar Hilman, ya.

Mas Gofar Hilman mungkin menambah daftar panjang artis yang bingung ketika hendak klarifikasi. Dua minggu sudah blio berdiam diri (kata blio sih begitu), sekalinya muncul ke publik justru membahas kebebasan berekspresi.

Awal video saya sudah gembira, bahwa ia nggak melakukan seperti apa yang dituduhkan. Ia juga mempertanggungjawabkan. Seharusnya video tersebut cukup berakhir sampai di sana, berhenti dan disudahi. Beranjak dari menit ke menit, ha kok makin ngelantur dan seakan membela diri dengan premis demi premis yang keluar dari pokok pembicaraan.

Contohnya, nih, ya;

“4:47 Gue menjunjung tinggi kebebasan berekspresi orang-orang… ”

Video ini justru akan jadi alat oleh para fansnya, bahwa membela Gofar Hilman adalah sebuah kebebasan dan mengesampingkan si penyintas. Seperti kasus-kasus sebelumnya, beginilah susahnya jadi penyintas pelecehan seksual.

“4:50 Termasuk kebebasan perempuan dalam berekspresi… “

Berbanding terbalik dengan cara ia merepresentasikan diri/branding diri sebagai sosok bad boy di konten-kontennya dalam memandang perempuan. Bahkan di menit 5:20 ia membicarakan stigma kepada perempuan, namun tidak terlihat dari cara ia menyampaikan kepada audiensi kanal YouTube-nya.

Sebelum dia bikin klarifikasi tuh, sebenarnya mikir nggak sih?

Sejatinya siapapun yang berani speak-up perihal pelecehan seksual, itu harus diberi dukungan moril bahwa ia berani muncul ke permukaan. Sebelum Gofar Hilman hilang, kita bisa tahu betapa buasnya jagat internet menghakimi person yang mencoba speak-up tersebut.

Jangankan yang speak-up, deh. Bahkan mereka yang mencoba membela, kena sasaran dari para fans Gofar Hilman yang sekut abieees itu.

Semisal klarifikasi Gofar hanya sampai “Saya tidak melakukan. Dan berani bertanggungjawab,” mungkin akan meredakan suasana. Namun beberapa menit setelahnya, ketika ia membela dirinya dan menambah runyam suasana, fans blio justru makin beringas menyerang siapapun yang meragukan idolanya tersebut.

Nggak percaya? Coba buka wahana geger gedhen bernama Twitter. Di sana riuh pro dan kontra, saling sikut berlindung di balik tameng sekuuut. Ironinya, di video tersebut Gofar membahas perihal “jujur dalam berekspresi”, tentunya dengan nada sedih dan membuat siapa pun menjadi iba.

Apalagi para kerabat dan kolega Gofar, memberikan kesan yang seakan menyalahkan korban dalam tajuk mendukung sahabatnya tersebut. Kultur seperti ini, tentu tidak baik untuk seseorang yang mencobanya speak-up. Sudah media sosial yang tidak suportif, pemerintah pun cenderung lawless. Duh, nelangsa.

Penyintas kekerasan seksual tidak lagi berhadapan dengan rape culture, namun juga kultur klarifikasi yang sebentar lagi akan membalikkan keadaan dan akan menghimpit si penyintas dan mereka yang membelanya. Ini kultur baru, seperti gelombang kejut dari gelombang pertama; ketakutan dalam speak-up.

Well, klarifikasi Gofar menunjukkan sikap nggak suportif perihal kasus yang sedang ia alami. Ia seperti memancing para pendukungnya untuk berkerumun dan semakin liar. Seperti biasanya, negara kita nggak ramah kepada penyintas kekerasan seksual. Semua terbukti dengan adanya sebuah klarifikasi tanpa makna dan justru membuat runyam masalah.

TL:DR. Yang disampaikan Gofar dalam video klarifikasi tersebut logikanya jelek saja belum. Kalau dipercaya mentah-mentah, gosong otakmu.

BACA JUGA Gofar Hilman dan Monyet di Kebun Binatang dan tulisan Bhaswara Parikesit lainnya.

Baca Juga:  Xiaomi Redmi 8A Pro, Hape yang Layak Ditebus dengan Harga 1 Jutaan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.