Sudah sejak lama UT peduli dengan kondisi guru-guru di pelosok.
Jika sejak kecil kita dibesarkan di daerah perkotaan, akan sulit bagi kita untuk membayangkan betapa beratnya tinggal di daerah terpencil. Cerita tentang mereka mungkin sering kita baca di berita. Tapi, bagaimana persis rasanya, hanya bisa dihayati oleh mereka yang mengalami secara langsung.
Dalam hal pendidikan, misalnya. Di kota besar, pilihan universitas begitu melimpah. Akses transportasi menuju kesana juga sudah terjamin. Sementara di pelosok, kondisinya berbanding terbalik. Pendidikan, apalagi tingkat sarjana, jadi sesuatu yang mewah. Kalaupun mau mengusahakannya, mereka harus merantau. Padahal, ada terlalu banyak hal yang harus dikorbankan ketika memilih pergi dari rumah.
Contoh, bagi guru yang mengajar di pelosok. Bagaimana mungkin mereka merantau untuk dapat gelar sarjana? Nasib anak-anak di kelas bagaimana? Siapa nanti yang akan mengajar mereka? Sungguh dilematis sekali.
Bisa jadi, itu sebabnya banyak orang atau lembaga yang menjadikan nasib guru di pelosok sebagai objek untuk menarik simpati. Seolah, mereka itu peduli. Padahal, jauh sebelum banyak orang yang ngaku-ngaku peduli dengan nasib guru pelosok, Universitas Terbuka (UT) sudah peduli duluan.
Bentuk kepedulian UT pada guru pelosok
Kepedulian UT terhadap guru di daerah pelosok bukan sekadar omon-omon belaka. Buktinya, dalam banyak kesempatan UT melakukan kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah setempat, melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama program beasiswa.
Di Kabupaten Bone Bolango, misalnya. Melalui program Bonebol Juara, UT menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan berkualitas yang dapat dijangkau oleh semua kalangan. Utamanya, para guru di pelosok daerah yang selama ini terkendala jarak maupun kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi. Wujudnya yaitu dengan pemberian beasiswa untuk jenjang Sarjana melalui Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) di Universitas Terbuka.
Bukan hanya itu saja. UT bersama 36 perguruan tinggi lain juga ambil bagian dalam pemberian Beasiswa Huma Betang senilai Rp52,5 miliar bersama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Dengan program ini, beban pendidikan 10.500 mahasiswa di seluruh Kalimantan Tengah dapat terangkat.
Efek domino gelar Sarjana
Kalian mungkin bertanya-tanya, apa kaitan akses pendidikan ini dengan peningkatan derajat hidup para guru di pelosok daerah?
Jadi begini. Guru ketika sudah mendapatkan gelar sarjana, satu pintu kesempatan akan terbuka. Yaitu, kesempatan untuk mendapatkan Sertifikasi Pendidik. Lewat program ini, mereka berhak mendapatkan tambahan penghasilan berupa Tunjangan Profesi Guru sebagai bentuk pengakuan atas kualifikasinya. Besaran Tunjangan Profesi Gurus (TPG) ini setara satu bulan gaji untuk guru ASN dan 2 juta untuk non-ASN.
Bagi guru pelosok yang selama ini mengandalkan honor seadanya, tambahan penghasilan ini jelas sangat berarti. Taraf hidup mereka bisa meningkat berkat kondisi ekonomi yang semakin membaik. Bukan hanya itu saja, secara intelektual, proses belajar di perguruan tinggi juga akan membentuk pola pikir yang jauh lebih terbuka dan kritis. Terlebih, pola belajar secara mandiri yang UT terapkan, bisa jadi ajang untuk membentuk mereka menjadi pribadi yang disiplin terhadap waktu, bertanggung jawab dan tangguh memecahkan masalah secara independen.
Endingnya, cakrawala berpikir mereka meluas, membuat mereka makin percaya diri saat berdiri di depan kelas maupun ketika berhadapan dengan masyarakat sekitar.
Lebih dari itu, gelar sarjana juga jadi kunci yang bisa membuka pintu karier yang lebih menjanjikan. Status mereka di sistem Dapodik menjadi solid, yang guru swasta bisa ikut seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), bisa upgrade gelar, dan bisa ikut berbagai macam diklat atau pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah, hingga menduduki posisi strategis seperti kepala sekolah atau pengawas sekolah. Semua, berawal dari satu langkah kecil, kuliah di Universitas Terbuka.
Dengan kepedulian yang terasa nyata ini, para pendidik di pelosok memiliki kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi lebih luas tanpa harus meninggalkan rumah, pekerjaan, atau keluarga.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Saya Sempat Meremehkan Universitas Terbuka, Sampai Akhirnya Saya Menjalaninya Sendiri sambil Kerja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.