ADVERTISEMENT

Akhirnya ada kampus yang menghargai kerja keras orang biasa: di Universitas Terbuka pengalaman kerja bisa dikonversi jadi SKS

Akhirnya ada kampus yang menghargai kerja keras orang biasa: di Universitas Terbuka pengalaman kerja bisa dikonversi jadi SKS Mojok.co

Pekerja atau karyawan bisa kuliah setelah bertahun-tahun terjun di dunia profesional bak mimpi di siang bolong. Sebab, tidak banyak kampus yang mau menerima mahasiswa baru (maba) semacam itu. Kebanyakan kampus terbuka pada calon mahasiswa yang baru saja lulus SMA. 

Akan tetapi, itu semua cerita lama. Kini, ada kampus yang mau memberikan kesempatan kuliah tanpa memandang usia. Selama kalian memiliki Ijazah SMA dan/atau sederajat, siapa saja dan apa saja pekerjaan kalian, bisa kuliah di perguruan tinggi ini, namanya Universitas Terbuka alias UT. 

ADVERTISEMENT

Universitas Terbuka, perguruan tinggi yang bisa mengonversi pengalaman kerja menjadi SKS

Kuliah di UT disukai para pekerja karena mereka tidak harus memulai dari nol. Pengalaman selama di dunia kerja memungkinkan dikonversi menjadi SKS mata kuliah. Sistem ini disebut juga Rekognisi Pembelajaran Lampau alias RPL. Saat ini ada beberapa program studi UT yang menerapkan sistem ini. 

Dengan kata lain, para pekerja tidak perlu mempelajari hal-hal yang benar-benar mereka kuasai karena pekerjaan. Para pekerja hanya perlu mengikuti sisa mata kuliah yang dibutuhkan hingga lulus. 

Terdengar efektif dan efisien bukan? Durasi lama kuliah bisa dipersingkat. Selain itu, waktu belajarnya pun bisa menyesuaikan jam kerja. Tidak perlu repot-repot resign atau cuti pekerjaan, kuliah tetap bisa berjalan. 

Ada kerja sama resminya

Awalnya saya nggak langsung percaya bahwa UT memiliki program RPL khusus para pekerja.  Ah, paling itu cuma promosi saja biar kampus ini semakin banyak yang daftar. Sebab, sejauh pengetahuan saya sebelumnya, UT hanya membuka RPL perpindahan dari kampus lain.

Nyatanya, program RPL Pengalaman Kerja itu benar-benar ada. Bahkan, ada payung hukumnya dan langsung mendapatkan dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Asal tahu saja, Universitas Terbuka menjalin kerjasama dengan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI). Kedua lembaga ini menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Senayan, Jakarta pada tanggal 10 Agustus 2026.

Penandatanganan ini dilakukan Rektor Universitas Terbuka  Prof. Ali Muktiyanto dan Ketua KSPSI M. Jumhur Hidayat yang juga disaksikan langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto. Bahkan, Prof. Brian Yuliarto menilai kerjasama ini memberikan banyak sekali manfaat, terutama bagi pekerja dan lingkungan sosial tempat mereka bekerja.

Hal yang paling bikin saya lega adalah saat mendengar pernyataan dari Mendiktisaintek, Prof. Brian Yuliarto. Beliau menegaskan bahwa lewat kerja sama ini, pengalaman belajar dan jam kerja para pekerja bisa langsung mempercepat masa studi mereka. “Misal yang harusnya 4 tahun bisa jadi 3 tahun saja,” begitu kata Prof. Brian.

ADVERTISEMENT

Bagi mereka yang harus membagi waktu antara mencari nafkah dan belajar, pemangkasan waktu satu tahun bukan hanya tentang efisiensi, tetapi mengurangi beban hidup. Bayangkan saja jika harus kuliah sambil bekerja empat sampai lima tahun lamanya, pasti sangat menguras energi dan pikiran.

Menghargai kerja keras para pekerja

Mengulik soal ini membuat saya merenungkan banyak hal. Saya jadi membayangkan seorang perangkat desa atau guru honorer yang sudah belasan tahun mengabdi. Sebelum ada RPL ini, mereka harus belajar dari nol hanya demi gelar. 

Beruntung, di Universitas Terbuka pengalaman kerja, pengalaman mengajar, pelatihan, dan riwayat kuliah bisa dikonversi menjadi SKS hingga 70 persen. Mahasiswa hanya perlu menempuh beberapa SKS lain untuk lulus. 

Saya pikir, inilah wujud Merdeka Belajar yang sesungguhnya. Pendidikan tidak harus selalu duduk berjam-jam di kelas mendengarkan dosen mengajar. Bagi saya, bentuk pengakuan ini adalah penghormatan paling adil yang bisa diberikan oleh pihak kampus.

Bersyukurlah kalian para pekerja, kalian tidak perlu bingung memilih fokus kuliah atau mendapatkan penghasilan, sebab keduanya bisa berjalan beriringan tanpa harus ada yang dikorbankan.

Penulis: Firdaus Deni Febriansyah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Universitas Terbuka sang tulang punggung Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi Indonesia dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Firdaus Deni Febriansyah

Seorang content writer di salah satu agency dan juga mahasiswa di Universitas Terbuka. Tertarik dengan dunia content writing, copywriting, dan SEO.