Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

Upin Ipin Serial TV yang Merusak Anak-Anak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa Mojok.co

Upin Ipin Serial TV yang Merusak Anak-Anak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa (wikipedia.org)

Upin Ipin tidak sebaik itu …

Jadi orang tua di era sekarang itu berat, musuhnya banyak. Mulai dari algoritma TikTok yang isinya joget-joget nggak jelas hingga jajanan pinggir jalan yang warnanya gonjreng. Belum gempuran mainan blind box yang astaganaga mahalnya! Itu belum urusan kecanduan gadget. Banyak banget tantangannya. 

Nah, di antara gempuran ancaman itulah, naluri kita sebagai orang tua, atau setidaknya orang dewasa, berusaha untuk memberikan sesuatu yang (tampaknya) lebih aman untuk anak-anak. Dan, sering kali, pilihannya jatuh pada serial anak-anak di televisi. 

Dalam benak kita, “Yang penting kan bukan sinetron dewasa atau video YouTube short yang nggak jelas juntrungannya. Kalau sekadar kartun anak-anak sih, pasti aman.”

Serial kesayangan anak-anak yang sudah tak asing lagi di telinga, Upin dan Ipin, jadi pilihan.  Tapi, benarkah serial TV ini memang aman untuk anak-anak?  Sayangnya, tidak.

Kebanyakan nonton Upin Ipin lidah anak jadi mendadak melayu

Bukan tanpa alasan ‘lidah mendadak melayu’ jadi efek buruk nonton Upin dan Ipin yang disebutkan di awal. Karena nyatanya, terlalu sering nonton Upin dan Ipin memang membuat lidah anak-anak jadi mendadak melayu. 

Buktinya, alih-alih bilang “Saya mau makan”, anak-anak malah bilang, “Saya nak makan.” Anak-anak juga merasa lebih keren ketika menggunakan kata seronok, garang, kedai, jom, budak, dan masih banyak lagi. 

Awalnya, kita mungkin menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang lucu. Gemes aja gitu melihat ada anak kicik ngomong dengan logat melayu. Tapi, bagi anak yang berada di fase golden age, paparan Bahasa Melayu Upin-Ipin ini menciptakan dualisme bahasa yang bisa bikin bingung. Hasilnya? Bahasa mereka jadi gado-gado.

Eits, Ini bukan soal anti-Malaysia, ya. Bukan. Tapi ini soal pondasi bahasa yang sedang kita bangun untuk anak-anak.

Bahasa niru, gesture pun iya

Mirisnya lagi, selain meniru bahasa melayu, gesture yang kerap diperlihatkan oleh karakter di Kampung Durian Runtuh juga tak lepas dari peniruan anak-anak.

Coba perhatikan anak-anak kecil di sekitar kita. Pasti kamu pernah melihat ada anak kecil yang ketika dikandani atau disuruh sesuatu, tiba-tiba mereka melipat tangan rapat-rapat di dada, memalingkan muka, mengerucutkan bibir, sambil bilang, “Tak nak!”

Menurut kalian, mirip siapa kayak gitu? Ya si duo kembar itulah.

Gestur lain yang sebetulnya kurang pas tapi sialnya ditiru oleh banyak anak-anak, misalnya menghentakkan kaki ke lantai sambil merengek, guling-guling di lantai, berkacak pinggang, terbahak-bahak saat berhasil menjahili teman, dan masih banyak lagi lainnya. Tinggal kalian pikir sendiri kira-kira yang seperti itu pantas tidak ditiru oleh anak-anak.

Upin Ipin menormalisasi casual bullying

Bukan hanya itu saja. Kalau kalian pernah nonton serial Upin Ipin, kalian pasti ngeh bahwa di serial ini seringkali ada adegan bullying.

Ingat nggak waktu Ehsan kacamatanya pecah? Ehsan tidak bisa melihat sekeliling dengan jelas. Ehh, teman-temannya malah menertawakannya. Pernah pula Fizi ngata-ngatain Upin Ipin botak hingga nggak bisa masuk surga karena nggak punya ibu lah, dll.

Dan, di situlah masalahnya. Anak-anak jadi meniru, seolah menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Saya jadi ingat dengan teori Albert Bandura, psikolog terkenal yang teori-teorinya banyak berseliweran ketika saya belajar tentang ilmu pendidikan. Lewat teori Social Learning-nya, Albert Bandura ini bilang kalau anak belajar perilaku sosial dengan cara meniru apa yang mereka lihat. 

Artinya, kalau yang diamati setiap hari adalah adegan meledek yang berujung tawa… ya, jangan heran kalau si kecil mulai ikut-ikutan. Ada temannya jatuh bukan ditolong, malah diketawain sambi ditunjuk-tunjuk. Ada keinginan yang tidak terpenuhi, langsung merajuk seperti saat Upin Ipin merajuk.

Kak Ros dan transfer energi agresif

Lainnya, perhatikan pula bagaimana cara Kak Ros berkomunikasi dengan adik kembarnya. Dia itu seringkali marah, berteriak, berkacak pinggang, mengancam, bahkan melakukan kekerasan fisik. 

Ya, kita paham sih, kalau Kak Ros ini representasi kakak sulung yang stres karena harus mengurus dua adik kembar yang super aktif sambil kuliah atau jualan. Asli, relate.

Akan tetapi, bagi penonton balita, ini jelas bawa pengaruh yang tidak baik. Lewat karakter Kak Ros yang temperamental itu, tanpa sadar anak sedang belajar bahwa kemarahan dan teriakan adalah validasi terbaik untuk menyelesaikan masalah, menunjukkan otoritas, atau sekadar melampiaskan emosi.

Lagi-lagi, jangan kaget kalau anak tantrum di rumah, dan setelah dilihat-lihat kok polahnya mirip dengan Kak Ros pas lagi kumat. Ya karena itulah yang mereka lihat sehari-hari.

Jadi, salah Les’ Copaque?

Nggak juga. Studio animasinya nggak salah. Toh, kartun ini memang menggambarkan realitas dunia anak-anak dengan sangat jujur, termasuk sisi-sisi nakal mereka. Beberapa episode juga harus diakui punya banyak nilai positif, seperti persahabatan, hormat kepada guru, hingga semangat belajar. 

Masalah terbesar dari efek buruk tontonan ini justru datang dari orang dewasa yang kehilangan perannya. Alih-alih mendampingi anak-anak menonton serial ini supaya bisa menyaring mana perilaku yang boleh ditiru mana yang tidak tidak, eh si bocah malah ditinggal nonton sendirian. Ya, terjadilah anak menelan mentah-mentah apa yang mereka lihat.

Pada akhirnya, perkembangan anak tidak bisa dilepaskan dari peran orang dewasa. Televisi, video YouTube, HP, tidak bisa menggantikan kehadiran orang dewasa. Anak-anak kecil itu masih butuh kita. 

Mereka butuh kita untuk melihat dunia dengan lebih terang, bukan sekadar dari apa yang mereka lihat. Dan, menonton Upin Ipin tanpa pendampingan orang dewasa, hanya akan membawa efek buruk untuk perkembangan mereka.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Seandainya Bau Badan Karakter di Serial Upin Ipin Bisa Tercium, Mungkin Akan seperti Ini. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version