Saya percaya, sebetulnya kalau dipersiapkan lebih matang dan diumumkan dari jauh-jauh hari, tentu tidak akan ada semua drama tak penting dari program KKN di UM Malang ini
Menjelang akhir semester genap ini, terjadi kehebohan luar biasa di dalam kampus saya. Sebab untuk kesekian kalinya, pihak Rektorat Universitas Negeri Malang (UM), kembali mengeluarkan kebijakan secara mendadak lagi menyusahkan banyak orang.
Setelah hadirnya Smart Gate System (SGS) yang diharapkan bakal meningkatkan keamanan kampus, kini berakhir menjadi portal tidak berguna yang selalu terbuka—bahkan mempersilakan maling motor buat pergi begitu saja—kini, rektorat UM seperti tidak belajar untuk kedua kalinya.
Adalah pemberlakuan program Kuliah Kerja Nyata (KKN)—atau UM menyebutnya Belajar Bersama Masyarakat (BBM)—tanpa pemberitahuan yang jelas sebelumnya.
Drama KKN yang tiba-tiba diwajibkan bagi semua
Sebagian dari kita, tentu sudah tidak asing dengan yang namanya KKN. Sebuah program mulia, yang ingin mempertemukan antara mahasiswa dengan ide kreatif dan keilmuan teoritisnya, dengan berbagai permasalahan ketertinggalan dan ketimpangan yang dialami oleh warga desa.
Tentu, sebagai sebuah program, KKN punya tujuan yang sangat baik. Tapi, kalau saja ia dipersiapkan dengan buruk, bisa jadi, alih-alih mempermudah kehidupan warga desa, KKN justru bakal menambah berat beban mereka. Dan saya kira, sudah banyak contoh kasusnya soal ini.
Mirisnya, gejala persiapan yang sembarangan itu, terlihat begitu jelas dari kebijakan Rektorat UM Malang.
Sekarang coba bayangkan saja, selama bertahun-tahun, program KKN di UM ini hadir hanya bagi mahasiswa tua, yang tinggal menyelesaikan skripsi dan belum menempuh mata kuliah KKN.
Tapi ndilalah, mendadak, sekarang KKN diwajibkan bagi semua mahasiswa semester 4! Padahal, idealnya mereka masih butuh satu tahun lagi untuk skripsi. Pun, sudah banyak program studi yang menawarkan konversi mata kuliah KKN dengan program Magang Berdampak.
Yang lebih parah, pemberitahuan ini, baru didengar secara resmi oleh mahasiswa UM Malang di Mei. Padahal pelaksanaannya itu Juni nanti!
Maksud saya, kok bisa sih ada yang kepikiran kalau dengan timeline seperti itu, program KKN-nya bakal maksimal?! Saya kira Idealis Mendrofa pun pasti kesulitan untuk menemukan dasar logika dari kebijakan yang tergesa-gesa ini.
BACA JUGA: 3 Hal Nggak Enaknya Jadi Mahasiswa UM
Banyak perubahan dan dosen pembimbing lapangan tidak tahu menahu
Seperti yang sudah bisa diprediksi, timeline mepet pasti berdampak pada banyaknya celah yang akan muncul di tengah jalan. Dan terbukti, ini tidak bisa dihindari lagi.
Salah satunya adalah mundurnya pengumuman pembagian kelompok KKN tanpa alasan yang jelas. Tak tanggung-tanggung, pengumuman tersebut, tiba-tiba saja diputuskan mundur untuk 8 hari!
Padahal, 8 hari itu kan, cukup banget ya, buat mahasiswa bisa berkoordinasi dengan teman kelompoknya atau perangkat desa bakal daerah KKN mereka. Maksud saya, sudah mah waktunya sedikit, ada sisa 8 hari pun, dibuang sia-sia karena ketidaksiapan sistem untuk mendata.
Kalau begini yang susah siapa? Ya, mahasiswanya juga.
Namun tak hanya itu. Yang lebih miris, setelah penentuan lokasi dan kelompok yang molor itu, masih saja ada drama yang terjadi. Di mana, tidak sedikit dari dosen pembimbing lapangan (DPL) yang namanya tercantum dalam file pengumuman, namun ketika dihubungi, justru mengaku tidak tahu apa-apa.
Beberapa dari mereka, bahkan mantap bersaksi jika tidak pernah dikabari kalau bakal mendampingi mahasiswa KKN. Duh! Kok bisa sih? Apa ya gak takut kualat, kalau mainin dosen yang gajinya kecil begini?
Pelecehan verbal di pembekalan UM Malang
Seolah keadaan negara yang sudah terasa buruk tapi ternyata masih bisa lebih buruk lagi, program KKN di UM Malang pun demikian. Dalam sebuah forum pembekalan yang digelar online bagi seluruh mahasiswa, terdengar jelas salah seorang dosen menyampaikan pesan bernada tidak pantas.
Sebetulnya, orang itu berpesan agar mahasiswa mampu memilah foto-foto untuk dilampirkan pada tautan evaluasi nantinya. Hanya saja, beliau berucap begini:
“…nah tapi kalau (dokumentasi/foto selama KKN) terlalu vulgar ya disensor, buat konsumsi pribadi saja. Jangan dishare di sini, di (tautan) evaluasi. … kasihan nanti DPL-nya jadi pengen…”
Duh! Tentu saya tidak perlu mengemukakan argumentasi panjang lebar lagi. Jelas, ini adalah guyonan seksis. Sebab kalimat tadi tidak hanya menganggap bahwa mahasiswa akan mendokumentasikan hal-hal berbau vulgar selama KKN, akan tetapi ia juga sangat melecehkan martabat dari dosen UM Malang secara umum, yang seolah pasti merasa “pengen” kepada mahasiswanya sendiri.
Meski pernyataan permohonan maaf dari oknum dosen tersebut sudah diunggah di akun @dpm.um, tapi tetap saja, masih banyak mahasiswa yang menunggu sanksi tegas dari kampus soal ini. Sebab, pernyataan ngawur itu, sudah telanjur terekam dan menyebar luas ke banyak telinga.
Setahu saya, UM Malang memiliki banyak sekali dosen-dosen hebat dan berkualitas. Pun, saya juga mengenal baik beberapa dari mereka. Maka dari itu, mestinya UM tidak perlu ragu, buat menjatuhkan sanksi kepada oknum dosen yang telah berucap tidak pantas itu. Dengan sanksi yang seterang-terangnya dan seadil-adilnya.
Sebagai mahasiswa UM Malang yang melihat drama KKN
Saya percaya, sebetulnya kalau dipersiapkan lebih matang dan diumumkan dari jauh-jauh hari, tentu tidak akan ada semua drama tak penting dari program KKN di UM Malang ini. Hanya saja, yang terjadi justru sebaliknya.
Sebagai perwakilan mahasiswa, tentu saya menyayangkan ini semua. Saya masih tidak mengira, kemampuan perencanaan program dan komunikasi kepada mahasiswa dari pihak kampus masih saja terbilang payah.
Tentu saya berharap, kalaupun program ini ternyata memang harus tetap berjalan—meskipun dalam keadaan pincang, semoga semua koordinasi bisa diperbaiki lagi. Komunikasi kepada mahasiswa juga bisa diperbaiki lagi.
Jangan sampai, amit-amit, ketika nanti ada situasi buruk yang terjadi di lapangan, kampus justru lepas tangan. Sebab saya percaya, kegagalan dalam perencanaan, sama saja seperti sedang merencanakan kegagalan.
Dan kalau dilihat dari gejalanya, UM Malang ini memang mau merencanakan kegagalan program KKN, kan? Kalau tidak, ya sudah. Buktikan dengan pembenahan dan evaluasi menyeluruh saja dari sekarang. Titik.
Penulis: Ahmad Fahrizal Ilham
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













