Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Ulah Rombongan Pengantar Jenazah yang Terkadang Menjengkelkan

Kevin Winanda Eka Putra oleh Kevin Winanda Eka Putra
16 Februari 2021
A A
iring-iringan pengantar jenazah ambulans mojok

iring-iringan pengantar jenazah ambulans mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Momen lelayu barangkali menjadi momen paling sedih dalam hidup di dunia ini. Momen saat kita harus kehilangan seseorang di hidup kita. Seseorang yang memberi warna dari perjalanan kehidupan kita hidup di dunia yang kini sudah tiada. Setiap orang pasti merasa kehilangan. Saya dan Anda pun begitu. Ada beberapa orang yang telah pergi meninggalkan saya. Oleh karena tahu akan rasanya, saya pun juga merasa kehilangan tiap-tiap secara kebetulan melewati kerumunan orang yang melayat di salah satu tempat. Saat menyaksikan itu, walaupun tidak mengenal siapa yang telah pergi, saya sempatkan paling barang sekejap memanjatkan doa untuk si mayit dan keluarga yang ditinggalkan.

Akan tetapi, dunia kadang menunjukkan sisi bangsat. Sesedih-sedihnya momen seperti itu, tetap ada saja hal-hal yang entah bagaimana menjadikan suasana yang seharusnya penuh ratapan berubah menjadi penuh cacian dan pisuhan. Salah satunya adalah kelakuan kelompok iring-iringan pengantar jenazah. Dan sialnya saya mengalaminya baru-baru ini.

Beberapa waktu lalu, kira-kira sebulanan lah. Saya berkendara di sebuah jalan provinsi di kota saya, Kabupaten Sukoharjo, eh kota apa kabupaten sih. Saya ini hendak pergi menuju ke satu waduk untuk suatu urusan dan makan di warung pecel langganan saya di sana. Warung pecel satu itu sungguh mantap, kalau kalian berkesempatan ke Sukoharjo mampirlah ke sini, Warung Pecel Mboto namanya. Sambelnya pedes, gorengannya yahud, es tehnya seger, harganya murah meriah. Lah malah bahas pecel ki piye, hadeh. Kembali ke bahasan utama.

Jadi di sela-sela perjalanan terdengar sayup-sayup suara sirine ambulans jauh dari belakang. Saya lantas melihat di kaca spion dan mendapati rombongan pengantar jenazah. Terlihat karena di bagian depan rombongan ada yang mengibar-ngibarkan bendera merah. Sebagai pengemudi yang taat akan aturan (utamanya kalau sedang ada polisi, hehehe) saya memelankan kecepatan motor saya dan rada-rada minggir ke lajur kiri untuk mendahulukan rombongan itu lewat. Beberapa orang yang sadar akan suara itu juga melakukan hal yang sama dengan saya. Tapi, ada satu keanehan di sini, rombongannya kok nggak segera maju-maju, pikir saya. Harusnya kan kalau sudah tahu begitu, si sopir ambulans segera mempercepat lajunya, tapi ini tidak.

Saking penasarannya saya coba menengok ke belakang, lalu tiba-tiba, mak klebet bendera merah melintas hampir mengenai depan muka saya. Seketika saya kaget mendapati kibasan bendera itu dari mas-mas rombongan pengantar jenazah. “Minggir, Mas!” Bentaknya ke saya. Lah baru maju rupanya ini rombongan, dari mana aja tadi, gumam saya sembari menenangkan kemudi saya akibat kekagetan saya tadi. Kurang ajar juga nih mas-mas, udah tau daritadi saya minggir tapi kok nggak segera maju, mana malah hampir disampluk bendera lagi.

Kejengkelan saya tidak berhenti sampai situ. Rombongan ambulans yang sudah mendahului itu ternyata tidak segerah hilang dari hadapan mata saya. Padahal seyogyanya, pasca melewati pengendara lain, rombongan itu harusnya segera mempercepat lajunya karena jalanan sudah kosong. Tapi, lagi-lagi kelakuan rombongan ini tidak. Bahkan kecepatan laju ambulans ini sama dengan kecepatan speedometer motor saya yang kala itu 60-70 km/jam. Lah dalah pantesan dari tadi gak maju-maju, ualone kaya ngene. Makin jengkel saya itu, karena merasa sudah membuang waktu saya untuk pelan-pelan tadi. Saya lantas menggeber motor saya untuk melewati bahkan meninggalkan rombongan pengantar jenazah kurang ajar ini.

Namun, niatan saya dihentikan oleh mas-mas pemegang bendera tadi. Tetap saja mengibar-ngibarkan bendera yang kadang sambil mencet klakson di depan yang mengakibatkan saya kudu mengurungkan niat saya melaju lebih jauh lagi. Oleh karena tertahan oleh mas-mas kurang ajar ini, saya jadi memperhatikan masnya. Ternyata kelakuan masnya ini lebih bangsat daripada si sopir ambulans yang gak maju-maju tadi. Sudah tadi hampir mencelakakan saya dengan sabetan bendera merahnya, memekakan telinga saya dengan suara klaksonnya dan menahan saya agar tidak mendahului mereka.

Kelakuan yang satu ini adalah puncak kejengkelan saya terhadap rombongan pengantar jenazah ini. Yaitu setelah saya memperhatikan mas-mas ini yang terdiri dari enam kepala manusia saling berboncengan dalam tiga motor, semuanya tidak pakai helm, masker atau pun jaket. Ini di jalan provinsi loh mas-mase. Sudah begitu yang paling ultimate adalah mereka melewati kantor polres dan tidak diapa-apakan. Hla kok bisa-bisanya mereka tenang-tenang aja. Halo pak polisi, ini depan saya orang-orang kurang ajar yang sedari tadi bikin jengkel saya loh.

Baca Juga:

Lika-liku Sopir Jenazah: Sengaja “Mengantar” Hantu karena Gabut dan Sering Ditolak Jadi Talent Uji Nyali

Dear Rombongan Pengantar Jenazah, kalau Bawa Orang Mati, Jangan Bikin Orang Lain Mati!

Saya tidak masalah pada awalnya, tapi apa panjenengan sedaya tidak melihat rombongan mas-mas ini. Kalau bukan jadwal tilangan apakah nggak masalah orang-orang ini berkendara tanpa menggunakan helm, nggak pake masker di kala pandemi ini, sudah begitu oblongan lengan pendek? Oh apakah kalau jadi rombongan pengantar jenazah aturannya beda? Jadi bebas-sebebasnya?

Sampai di perempatan lampu merah saya belok ke kiri sementara si rombongan bangsat ini terus melaju terus entah ke mana. Sesudahnya saya memaki-maki rombongan tadi sambil diselingi kata-kata mutiara di pikiran saya. Kepala saya jadi penuh dengan kejengkelan. Saya jadi hampir lupa mendoakan si mayit yang ada di ambulans itu akibat kejadian menjengkelkan itu. Kok bisa-bisanya loh berkelakuan begitu. Berurusan sama orang hidup itu lebih menyusahkan daripada berurusan dengan orang mati. Peok.

BACA JUGA Alasan Makam di Kampung Saya Tidak Bisa Menerima Jenazah dari Luar Kampung dan tulisan Kevin Winanda Eka Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2021 oleh

Tags: ambulanspengiring jenazah
Kevin Winanda Eka Putra

Kevin Winanda Eka Putra

Bukan siapa-siapa dan tidak ingin jadi siapa-siapa.

ArtikelTerkait

sirine

Toott… Toott… Uwiiww… Uwiiww…. Sirine Kadang Menyebalkan Tapi Eiitsss Lihat Dulu Siapa yang Lewat

28 Agustus 2019
Ambulans Berbasis MPV Suzuki APV, Bagaimana Rasanya? Kebiasaan Pengendara di Indonesia Ketika Ambulans Lewat: Bukannya Meminggirkan Kendaraan, Malah Menutup Lajur

Kebiasaan Pengendara di Indonesia Ketika Ambulans Lewat: Bukannya Minggir, Malah Tutupin Jalan!

12 Februari 2020
Dear Rombongan Pengantar Jenazah, kalau Bawa Orang Mati, Jangan Ngajak Orang Lain Mati!

Dear Rombongan Pengantar Jenazah, kalau Bawa Orang Mati, Jangan Bikin Orang Lain Mati!

5 Oktober 2023
Dajjal pun Minder di Hadapan Fitnah Ambulans Kosong dan Campaign Anti Info Covid-19 terminal mojok.co sopir jenazah mobil jenazah

Arogansi Pengiring Mobil Jenazah Itu Nggak Masuk Akal, dan Jelas Nggak Bisa Dibenarkan

13 Juli 2023
Lika-liku Sopir Jenazah: Sengaja "Mengantar" Hantu karena Gabut dan Sering Ditolak Jadi Talent Uji Nyali

Lika-liku Sopir Jenazah: Sengaja “Mengantar” Hantu karena Gabut dan Sering Ditolak Jadi Talent Uji Nyali

17 Februari 2024
Ambulans Berbasis MPV Suzuki APV, Bagaimana Rasanya? Kebiasaan Pengendara di Indonesia Ketika Ambulans Lewat: Bukannya Meminggirkan Kendaraan, Malah Menutup Lajur

Ambulans Berbasis MPV Suzuki APV, Bagaimana Rasanya?

19 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelebihan dan Kekurangan Cicilan Emas yang Harus Kamu Ketahui sebelum Berinvestasi

Dilema Investasi Emas Bikin Maju Mundur: Kalau Beli, Takut Harganya Turun, kalau Nggak Beli, Nanti Makin Naik

30 Maret 2026
Orang Waras Pilih Toyota Agya Dibanding Honda Brio, Lebih Keren dan Bebas Julukan Aneh-aneh Mojok.co

Orang Waras Pilih Toyota Agya Dibanding Honda Brio, Lebih Keren dan Bebas Julukan Aneh-aneh

28 Maret 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara: Membayar Tiket Eksekutif demi Uji Nyali Makan Nasi yang Sudah Almarhum

29 Maret 2026
4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

Mewakili Warga Tegal, Saya Ingin Menyampaikan Permintaan Maaf kepada Pemudik

28 Maret 2026
Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.