Kebiasaan Pengendara di Indonesia Ketika Ambulans Lewat: Bukannya Meminggirkan Kendaraan, Malah Menutup Lajur – Terminal Mojok

Kebiasaan Pengendara di Indonesia Ketika Ambulans Lewat: Bukannya Meminggirkan Kendaraan, Malah Menutup Lajur

Artikel

Seto Wicaksono

Tertib ketika dalam perjalanan dan menjadi pengguna lalu lintas yang baik serta sesuai aturan adalah hal yang utama agar dapat berkendara dengan nyaman dan aman. Banyak hal sederhana yang dapat dilakukan, utamanya sih patuh pada peraturan.

Saya tidak perlu menyebutkan satu per satu apa saja yang harus dilakukan. Pasalnya, saya yakin pada dasarnya banyak di antara kita sudah sadar akan bagaimana menjaga keselamatan di jalanan. Hanya saja, sebagian dari kita terkadang bandel dan tidak mengindahkan peraturan serta keselamatan sewaktu berkendara.

Enggan mengenakan helm lah, tidak mengatur spion selama perjalanan.  Lalu, asal nyalip tanpa memperhitungkan antara jarak kendaraan satu dengan yang lain, tidak menyalakan lampu sign beberapa meter sebelum berbelok, dan masih banyak lagi hal yang sebetulnya sepele. Akan tetapi bisa fatal jika diabaikan.

Selain itu, ketika berkendara baiknya kita semua sadar bahwa pengguna jalanan bukan hanya diri kita seorang. Ada pengendara lain yang juga sedang melajukan kendaraannya. Tak terkecuali mobil ambulans yang bertugas mengantar orang sakit dan butuh penanganan cepat dari ahlinya—juga segera tiba di rumah sakit.

Pemikiran yang cukup sederhana sebetulnya. Ketika kita sedang berkendara lalu di belakang ada ambulans yang melaju sambil menyalakan sirine, besar kemungkinan kendaraan tersebut sedang butuh cepat untuk sampai di tempat tujuan. Utamanya mengantarkan pasien agar bisa segera mendapatkan penanganan medis yang tepat di rumah sakit.

Pada kondisi tersebut, hal yang semestinya dilakukan oleh kita sebagai pengendara adalah memberi jalan, meminggirkan kendaraan agar ambulans leluasa melaju dengan kecepatan sesuai kebutuhan. Namun sayangnya, tidak semua pengendara peka akan hal ini. Saya sendiri masih sering melihat secara langsung banyak pengendara yang tidak dengan segera meminggirkan kendaraannya. Padahal di sisi jalan terlihat aman dan sangat memungkinkan memberi lajur untuk ambulans.

Baca Juga:  Balada Semangat Aksi Mahasiswa Zaman Now

Secara empiris dan teknis, selain kurang pekanya para pengendara dan ogah-ogahan dalam memberi ruas jalan untuk ambulans, ada beberapa kendala lain yang sering kali saya lihat secara langsung. Salah satunya lebar jalan yang hanya cukup untuk dua mobil saja, sedangkan di kiri-kanan jalan terdapat parit. Keadaan tersebut tentu menjadi lain soal. Perlu mengesampingkan kendaraan secara perlahan agar tidak terperosok.

Hal lain yang biasa saya alami sekaligus ditemui, ruas jalan dipadati oleh banyak kendaraan sehingga ambulans sulit lewat. Padahal, semacet dan sepadat apa pun volume kendaraan di suatu jalan, mobil ambulans harus diutamakan. Mengutip dari Kompas, mengacu pada pasal 134 nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan jalan raya, ambulans yang mengangkut orang sakit menjadi salah satu transportasi yang memperoleh hak utama untuk didahulukan.

Mengacu pada peraturan tersebut, sudah menjadi suatu hal yang wajar jika pengendara berbagi ruas jalan kepada ambulans yang lewat. Namun sekali lagi, sayangnya tidak semua pengendara peka. Masih saja ada yang tidak memberi jalan pada ambulans yang sedang melintas. Bahkan, pernah suatu ketika saya dibuat mangkel oleh seorang pengendara yang berkata, “Ngapain sih ambulans lewat sini, nggak tau apa nih lagi macet?!”

Aneh bin ajaib memang pemikiran salah satu warga ber-flower tersebut. Alih-alih membuka jalan atau berkontribusi agar ambulans bisa lewat, malah mempertanyakan sesuatu yang bahkan tidak membantu sama sekali. Alhasil, mobil ambulans malah stuck dalam kemacetan dan berisiko terhadap keselamatan pasien yang sedang dibawa. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kebiasaan pengendara di beberapa negara lain seperti Jerman atau Jepang.

Dalam beberapa video yang saya temukan dan artikel yang saya baca, pengendara di Jerman dan Jepang dengan kesadaran penuh akan langsung meminggirkan kendaraan mereka dan mengosongkan lajur tengah agar ambulans bisa melaju dengan mudah dan cepat. Dengan begitu, ambulans bisa tiba di rumah sakit tepat waktu. Seharusnya, hal baik seperti ini bisa diadaptasi oleh para pengendara dan pengguna jalanan di Indonesia.

Baca Juga:  Ambulans Berbasis MPV Suzuki APV, Bagaimana Rasanya?

Saya pikir, dalam cakupan yang lebih luas, pengendara di negara +62 harus meningkatkan lagi kesadaran akan perilaku dan menghormati pengguna jalan lainnya. Dan setelah saya telusuri kembali, sebagai negara berkembang, India pun memiliki permasalahan yang kurang lebih sama dengan Indonesia dalam hal ini. Inti persoalannya identik, yaitu kemacetan—yang membuat laju ambulans sering kali terhambat.

Sambil menunggu dan berharap Indonesia bisa menjadi salah satu negara maju—agar hal seperti ini bisa dihindari, ada baiknya kita membiasakan diri untuk tertib saat berkendara terlebih dahulu. Yakni dengan meminggirkan kendaraan saat ambulans melaju, meski kemacetan sulit dihindari.

BACA JUGA Toott… Toott… Uwiiww… Uwiiww… Sirine Kadang Menyebalkan tapi Eiitsss Lihat Dulu Siapa yang Lewat atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
7


Komentar

Comments are closed.