Ujian Mental di Jalanan Kota Bekasi

Artikel

Avatar

Dulu, aku selalu memandang remeh ibuku. Kemampuan navigasi dan berkendaranya buruk sekali. Ibuku hanya berani mengendarai motor dari rumahnya sampai ke Pasar. Jalanan yang dilalui adalah jalanan kampung yang sepi. Ya rame sih kalau pas waktunya anak-anak masuk sekolah. Berharap ibuku mau mengendarai motor ke jalan raya itu jelas tidak mungkin. Padahal 10 tahun lalu, aku saja mampu mengendarai motor dari Kaliurang ke Parangtritis. Suwer!

Ibuku lebih mahir mengendarai mobil. Beliau bisa mengendarai mobil ke jalan raya tapi hanya di jalan-jalan yang beliau sudah paham betul. Jalan Kaliurang, beberapa jalanan di kota Jogja, dan sebagian kecil daerah Sleman. Coba saja minta beliau mengendarai mobil ke daerah Nogotirto. Atau ke Bantul. Ibuku akan lebih senang meminta kerelaan hati bapakku untuk mengantarnya.

Kini, aku tinggal di Kota Bekasi, salah satu kota penyangga ibukota. Dan seperti ibuku, di sini aku tidak bisa mengendarai motor jauh-jauh. Paling ke stasiun yang jaraknya 1 km dari rumah atau ke Superindo yang sebenarnya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Rekor terjauhku mengendarai sepeda motor di Kota Bekasi adalah ke Mega Bekasi Hypermall. Jaraknya sekitar 3 km dari rumah. Buat ke sana, aku harus melalui palang rel kereta api; menyusuri jalan Kartini yang padat kendaraan; serta harus melewati simpang Jalan Ahmad Yani yang luar biasa besar, ramai, dan sedang ada pembangunan jalan layang tol Becakayu.

Aku belum berani untuk berkunjung ke rumah mertuaku di kecamatan Sukawangi Kabupaten Bekasi yang berjarak sekitar 10 km dari rumahku. Nyaliku menciut melihat jalan Karang Satria yang sempit, padat, dan kadang-kadang ada truk-truk yang bersaing dengan motor. Belum lagi, jembatan di perempatan Gading Terace yang baru diperbaiki itu. Sebelum diperbaiki, jalanan di jempatan itu seperempatnya amblas.

Jangankan ke rumah mertuaku, ke rumah tanteku di Galaxy, yang jaraknya hanya 5 km dari rumah saja, aku tidak sanggup. Aku mending mengeluarkan uang untuk membayar tukang ojek daripada harus berjibaku di jalan KH Noer Ali yang tidak pernah sepi tapi orang-orang berkendara dengan kecepatan yang tidak rendah itu.

Mungkin, kalau diriku 11 tahun yang lalu melihat diriku yang sekarang, dia akan merasa malu. Bapakku pernah membesarkan hatiku. Katanya, karakter jalanan di Bekasi memang berbeda dengan di Jogja. Aku tidak perlu berkecil hati kalau tidak sanggup berkendara di belantara jalanan Kota Bekasi sini. Bapak juga malas kalau disuruh berkendara di sini. Mending menyuruh sepupuku untuk menjadi supirnya.

Baca Juga:  Menanggapi Tulisan Indosat Cocok Untuk Mahasiswa, Telkomsel Untuk Pekerja: Saya Mahasiswa dan Saya Pelanggan Telkomsel Garis Keras! 

Tapi, malas berbeda dengan takut kan ya?

Bapakku memang benar. Karakter pengguna jalanan di sini berbeda dengan di Jogja. Di Jogja, bahkan tengah malam pun orang ada orang yang berhenti ketika berjumpa dengan lampu merah. Di sini, jangankan tengah malam. Senin pagi jam 7 saja, di saat jalanan sedang ramai oleh kendaraan orang-orang berangkat kantor dan mengantar anak sekolah, masih ada kok yang menerobos lampu merah. Yang kemudian diganjar dengan klakson panjang oleh orang-orang. Dan itu bukan seorang-dua orang. Dan terjadi hampir setiap hari. Makanya, walaupun sudah ada lampu lalu lintas, setiap pagi dan sore perempatan harus dijaga oleh petugas.

Orang-orang yang pasang sein kiri tapi belok kanan bukan sekadar mitos di sini. Mereka benar-benar nyata adanya. Aku sering melihat mereka di jalanan dan pernah harus berhadapan langsung dengan salah satu dari mereka. Ceritanya, sebuah motor matic yang dikendarai oleh ibu-ibu memperlambat lajunya di depanku. Dia menghidupkan sein ke kiri. Aku lantas menyalip lewat kanan, tiba-tiba saja ibu itu membelokkan motornya ke kanan. Aku lantas mengerem dan menyangga motor dengan kakiku. Hampir saja celaka.

Si Ibu-ibu tadi membunyikan klaksonnya panjang dan menghardik, “Mbak, saya mau belok. Saya udah nyalain lampu sein. Mbaknya nggak bisa lihat?”

“Ibu nyalain lampu sein yang mana? Ibu mau ke mana?” tanyaku dengan bibir bergetar karena jantung yang berdegup dengan cepat.

“Ya saya udah nyalain lampu sein artinya mau belok. Mbaknya jangan nyalip donk. Sabar kalau di jalan. Buru-buru mau kemana, sih?” ujar si ibu dengan suara yang menggelegar hingga beberapa orang yang ada di pinggir jalan memperhatikan kami.

Aku merasa panas. Pingin banget rasanya melempar sesuatu ke ibu itu. Namun aku memilih menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan beberapa kali. Menanti si ibu berlalu dan menarik gas lagi untuk melanjutkan perjalanan. Itu pengalaman yang mengerikan.

Pengalaman yang lebih berat lagi aku alami kalau harus berkendara melewati palang perlintasan kereta api di jln Agus Salim menuju Pasar Proyek. Ketika palang pintu tertutup, kendaraan dari 2 sisi memenuhi jalanan hingga ke trotoar. Ketika palang pintu terbuka, kendaraan-kendaraan itu seperti bertabrakan di tengah-tengah. Aku pernah mengalami jatuh, diserempet, hingga kunduran mobil di perlintasan kereta ini.

Baca Juga:  Untuk Mantan yang Masih Saya Cintai: Saya Harap Kamu Bahagia

Sayangnya, aku tidak bisa menghindari jalan ini. Aku harus melewati perlintasan kereta ini untuk mencapai kantor Tiki Cabang Bekasi, di mana aku mengantarkan paket untuk layanan sehari sampai di Jabodetabek.

Dan yang paling membuat tertekan di jalanan Kota Bekasi adalah orang-orang suka sekali membunyikan klakson panjang. Tidak tahu kah mereka kalau klakson panjang itu memiliki efek mengagetkan dan menekan batin orang-orang yang mendengarnya?

Ya, klakson memang diciptakan untuk dibunyikan. Bukan sekadar pajangan. Tapi, bisa kah klakson difungsikan sebagaimana mestinya dan tidak berlebihan?

Sebuah mobil yang disalip motor, bisa membunyikan klakson. Lampu hijau belum menyala tapi jalanan sudah sepi, klakson dibunyikan. Ada kendaraan yang jalan pelan-pelan karena pengendaranya sedang sibuk mencari alamat, klakson dibunyikan. Yang paling parah adalah ketika kendaraan saling mengunci di perlintasan kereta api karena kendaraan saling memenuhi jalanan dari kedua sisi kereta.

Entah apa yang merasuki para pengendara di jalanan Kota Bekasi ini. Seberapa lama sih berhenti menunggu lampu hijau menyala? Sesusah itu kah memastikan mana lampu sein yang menyala ketika akan berbelok? Sulitkah menahan diri untuk tidak membunyikan klakson tanpa kondisi yang perlu?

Harus aku akui, sebenarnya berkendara di jalanan kota Bekasi menjadi penempa mentalku. Setelah 2 tahun tinggal di sini, sekarang aku tidak kagetan lagi mendengar suara klakson yang panjang dan bertubi-tubi meskipun masih merasa terganggu. Aku sudah tidak gemetaran lagi ketika dihardik ibu-ibu yang salah menyalakan lampu sein. Aku bisa menguasai diri untuk menjaga jarak aman ketika palang pintu perlintasan kereta dibuka supaya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Well, mungkin hari-hari mendatang aku bisa bersepeda motor lebih jauh lagi. Mungkin aku bisa ke rumah tanteku tanpa mengandalkan ojek. Atau berkunjung ke rumah mertuaku. Yang pasti, aku akan membuat diriku 11 tahun yang lalu tidak malu pada diriku yang sekarang. (*)

BACA JUGA: Berjuang Bersama Untuk Bisa Turun di Stasiun Bekasi atau tulisan Meita Eryanti lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
1.150 kali dilihat

14

Komentar

Comments are closed.