Tuntutlah Ilmu Produksi Drama Hingga ke Negeri Ginseng Korea – Terminal Mojok

Tuntutlah Ilmu Produksi Drama Hingga ke Negeri Ginseng Korea

Artikel

Avatar

Sebagai seseorang yang baru-baru ini terjun kembali ke dunia persinetronan Indonesia gara-gara Ikatan Cinta, setelah sebelumnya hampir 13 tahun hanya nonton drama Korea, saya tergelitik untuk menuliskan beberapa hal yang bisa kita pelajari dari produksi drama Korea. Tentu saja ini semua demi masa depan persinetronan Indonesia yang lebih baik dan berkualitas.

Siapa tahu di masa depan Amanda Manopo dapat beradu akting dengan Song Joong-ki hingga Lee Min-ho, kan? Sebelumnya, saya tegaskan bahwa tulisan ini murni dari perspektif saya. Tidak bermaksud mengundang fandom war antara fans sinetron Indonesia dan drama Korea. Jadi, bacalah sembari menerapkan sila ketiga Pancasila. Berikut hal-hal yang perlu menjadi perhatian bagi produsen sinetron Indonesia.

Judul

Judul sebaiknya dibuat sesingkat mungkin, namun mampu menarik rasa penasaran penonton. Seperti salah satu drama Korea berjudul Descendants of the Sun yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Keturunan (atau anak cucu?) Dari Matahari. Yang terlintas dalam pikiran saya pertama kali adalah drama ini akan membahas tentang peranakan Dewa Matahari mitologi bangsa Mesir Kuno.

Ealah, ternyata drama satu ini jauh dari panggangan api, Mylov! Descendants of the Sun bercerita tentang percintaan seorang dokter dan tentara yang ditugaskan di daerah konflik. Mungkin si tentara salah satu keturunan Dewa Ra atau sang dokter yang pernah menolong proses persalinan salah satu anak Dewa Ra, ya. Entahlah, saat itu bukan saya yang bertugas jaga di rumah sakit~

Baca Juga:  Memetakan Perjalanan Orang Tua Mencari Pendidikan Berkualitas untuk Anak

Sementara itu, pemberian judul pada sinetron Indonesia terlalu umum dengan kalimat panjang, sehingga sebelum menonton pun sudah dapat dibayangkan bagaimana jalan ceritanya. Alih-alih menarik minat penonton, banyak judul sinetron Indonesia malah membuat penonton gagal fokus. Seperti baru-baru ini saya menemukan judul sinetron seperti Aku Di-review Buruk oleh Istriku yang Selebgram dan Hobi Traveling Suamiku Membuat Aku Seperti Menjadi Janda. Heleh, heleh, ajur kamu, Jon~

Aktor dan Aktris

Dalam drama Korea, para aktor dan aktris terasa melebur ke dalam perannya. Pendalaman karakter, dialog, mimik, improvisasi adegan dengan lawan main pun didiskusikan dengan matang. Saya biasanya lebih tertarik menonton behind the scene dramanya daripada menonton drama itu sendiri.

Sebelumnya, para aktor dan aktris drama Korea juga telah menjalani training dari agensi atau manajemen tempat mereka bernaung sebelum melakukan debut. Jadi, sudah pasti aktor dan aktris di sana memiliki bekal tentang dunia yang mereka geluti. Proses casting-nya pun melalui proses yang amat panjang layaknya Hatori yang mendaki gunung dan melewati lembah. Pihak manajemen biasanya memiliki hak penuh untuk memilih aktor dan aktrisnya yang punya karakter sesuai tokoh yang akan diperankan.

Meski telah terpilih, para aktor dan aktris tetap harus mengikuti tahap casting dan beberapa tahap panjang plus bikin pusing lainnya. Tidak ada lagi tuh ceritanya yang gara-gara viral di media sosial, eh langsung didaulat main drama, jadi tokoh utama pula. Hancur sudah dunia persilatan.

Baca Juga:  Pengalaman Saya Jadi Korban Penipuan Berkedok Pembeli di OLX

Cerita

Hal krusial lainnya adalah cerita. Mayoritas drama Korea mengangkat berbagai macam tema seperti kedokteran, sistem pendidikan, percintaan, militer, jurnalisme, hingga politik. Setiap tema diulas secara mendalam dan detail. Misalnya dalam drama bertemakan kedokteran, maka akan ditampilkan adegan operasi, tahapan operasi, hingga hal kecil seperti pisau bedah yang namanya disebut sesuai penyebutannya dalam bidang medis. Begitu pula penyebutan nama penyakit yang biasanya disertai keterangan kecil di bawah layar sebagai informasi lanjutan. Setiap adegan dalam drama Korea menggambarkan development cerita, scene satu dengan lainnya berkesinambungan.

Sementara sinetron Indonesia sendiri tema cerita yang diambil masih sama, seputar cinta-cintaan, perebutan harta warisan, dan orang ketiga dalam rumah tangga. Plis deh, Jon, otakmu bisa tumpul kalau setiap hari dijejelin cinta tok. Progress cerita juga masih sangat lambat, bahkan tak jarang saking lambatnya malah melebar ke mana-mana hingga akhirnya setelah ditinggalkan banyak penonton baru mulai memaksakan menamatkan cerita. Padahal sesuatu yang dipaksa itu ndak enak lho, Pak Sut…

Menilik tiga point rumit di atas untuk sebuah produksi drama, tak heran jika drama Korea begitu digandrungi masyarakat bahkan hingga lintas negara. Sebetulnya masih banyak hal lain yang perlu jadi pembelajaran bagi para produsen sinetron Indonesia. Saran saya jangan hanya mengejar rating, masyarakat hari gini sudah mulai pintar memilah tontonan. Setidaknya produksilah tontonan yang mendidik meski sedikit memaksakan. Karakter masyarakat Indonesia kebanyakan suka dipaksa dulu, lama-lama juga cinta. Kasihan kan emak-emak yang setiap hari sudah puyeng dengan drama rumah tangga di real life masih harus pusing lagi dengan drama rumah tangga fiktif di sinetron~

Baca Juga:  Emak-Emak Pencinta Drakor VS Emak-Emak Anti Drakor

BACA JUGA 5 Drama Korea dengan Ending Ter-lucknut yang Bikin Geregetan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
9


Komentar

Comments are closed.