Netizen Indonesia dan Indopride yang Ndlogok dan Perlu Ditinggalkan – Terminal Mojok

Netizen Indonesia dan Indopride yang Ndlogok dan Perlu Ditinggalkan

Artikel

Fadlir Nyarmi Rahman

Kebarbaran netizen Indonesia memang bukan isapan jempol belaka. Microsoft bahkan merilis penelitian yang membuktikan hal tersebut bahwa mereka (bukan kita, karena saya nggak gitu) adalah yang paling nggak sopan di jagat maya.

Seolah ingin membuktikannya, netizen Indonesia pun menyerang akun media sosial Microsoft yang membuat kolom komentarnya ditutup. Ini baru satu contoh. Contoh lain dan masih hangat adalah aksi mereka merujak selebgram asal Kazhakstan, Dayana, yang berseteru dengan YouTuber asal Indonesia, Fiki Naki. Tahu sendiri kan apa aksi mereka? Yak benar, mereka ramai-ramai unfollow akun IG Dayana. Sungguh kompaknya sundul langit jika berhadapan dengan yang “asing”.

Nah, belum lama ini (3/3/2021), ramai lagi perihal kejadian serupa yang melibatkan netizen Indonesia vs orang luar. Kali ini adalah bapak-bapak yang menang permainan catur online, Chess.com, atas master catur cum streamer asal Negeri Paman Sam, GothamChess.

Awalnya, akun Facebook atas nama Ali Akbar menggugat lewat status karena akun bapaknya di-banned oleh pihak Chess.com karena terindikasi nge-cheat saat melawan sang master tersebut. Tak lama berselang, GothamChess pun mengklarifikasi secara kronologis melalui akun Twitter-nya bahwa dalam peraturannya memang tidak boleh mencatat langkah-langkah selama permainan, dan menurutnya tak ada yang salah dengan banned pada akun bapaknya Ali itu.

Entah pikiran dari mana, netizen Indonesia kok ya ikutan nimbrung. Dan seperti biasa, ikut andil mereka tentu bukan sekadar meramaikan, melainkan juga hate speech dan bahkan seruan untuk me-report akun dan kanal YouTube GothamChess. Sudah gila~

Baca Juga:  Menikmati Revolusi Perkelahian Berkat Media Sosial

Dari semua kejadian itu sebenarnya bisa ditarik benang merahnya, yakni paham Indopride yang kerap digembar-gemborkan itu. Sebuah keyakinan yang berangkat dari nasionalisme buta dan merasa setiap yang aseng adalah penjajah dan musuh dan jahat.

Memang sih, sekali waktu hal ini perlu, tapi ya dalam batas wajar saja. Misal saat turnamen global gim online, pertandingan internasional olahraga di kancah internasional, dan semacamnya. Ya, saat momen itu kebanggaan untuk mendukung yang berasal dari negeri kita sendiri bahkan penting. Tapi, kalau untuk urusan yang ecek-ecek macam ketiga contoh di atas, rasanya nirfaedah yang maksimal.

Bukan apa-apa, tapi lihatlah diri kalian yang terus-terusan merasa terjajah. Wqwqwq. Punya trauma historis apa sih sampai bertindak segitunya? Apa tidak malu dengan bapak-bapak pendiri bangsa yang dengan gagah menyatakan merdeka dari segala bentuk penindasan?

Kalau memang masih merasa perlu membela sesuatu yang menodai kenasionalisan seperti seteru melawan orang luar macam itu, apa namanya coba kalau bukan merasa inferior akut? Nasionalis nggak, ndlogok iya!

Maksud saya, kebanggaan pada negeri sendiri adalah perlu dan penting dalam hal membangun peradaban dan bukan sekadar citra dan simbol. Itulah bentuk nyata Indopride. Apalagi kalau kita sendiri yang bisa bikin bangga Indonesia dengan berprestasi di bidang apa kek. Tapi, kalau tidak bisa ya ndak usah norak gitu toh.

Baca Juga:  Memaknai Pulang dalam Lagu 'Mercusuar' Milik Kunto Aji

Menurut saya, nasionalisme tidaklah beku, kaku, dan statis sehingga harus mempertahankan hal-hal remeh macam itu, membela simbol. Melainkan ia terus tumbuh, menjadi bentuk lain seiring berjalannya waktu, membangun apa yang sesuai dengan zamannya, sehingga pihak asing bukan selalu musuh yang ingin menjajah dan harus menjadi lawan seperti yang sering kalian posisikan.

Lagi pula perihal riset dari Microsoft, kasus Dayana, atau GothamChess itu hanyalah urusan yang menyentuh permukaan harga diri kalian sebagai sebuah bangsa. Padahal ada banyak yang lebih penting dan seharusnya lebih menusuk jiwa nasionalis kalian. Misalnya kasus korupsi yang keterlaluan bukan main, diskriminasi terhadap bangsa Papua, dan pencorengan nilai kemanusiaan lainnya yang sering terjadi di depan mata.

Dengan kata lain, “nasionalisme” macam itu kalau perlu dikubur saja. Kedepankan humanisme dan pembangunan kolektif sebagai sebuah bangsa. Wong kompak ngerujak orang saja bisa, masa menciptakan sesuatu yang jauh lebih baik susahnya minta ampun? Ya memang ndakik-ndakik, tapi bukan mustahil jika urusan remeh-temeh macam itu sudah ditinggalkan. Apalagi bisa membuang sama sekali ke-ndlogok-an kalian itu. Indonesia maju bukan lagi sekadar jargon dan nama kabinet pasti.

BACA JUGA Episode ‘Upin & Ipin Tumbuh Rambut’ Lahir dari Keinginan Netizen atau tulisan Fadlir Nyarmi Rahman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
17


Komentar

Comments are closed.