Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Meneladani Tukang Sampah di Bulan Ramadan: Tetap Bersyukur Sambil Menahan Lapar dan Bau Sampah

Erma Kumala Dewi oleh Erma Kumala Dewi
2 April 2024
A A
Meneladani Tukang Sampah di Bulan Ramadan: Tetap Bersyukur Sambil Menahan Lapar dan Bau Sampah Mojok.co

Meneladani Tukang Sampah di Bulan Ramadan: Tetap Bersyukur Sambil Menahan Lapar dan Bau Sampah (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Memulai aktivitas di pagi hari di bulan Ramadan adalah tantangan yang berat. Namun, itu tidak berlaku bagi Pak Nyono (bukan nama sebenarnya). Sebagai tukang sampah, dia memulai pekerjaannya sejak pukul 6 pagi. Dia mengitari salah satu kampung di Malang dengan menyeret gerobak kesayangan. 

Sebelum bekerja sebagai tukang sampah, dia terlebih dahulu menjadi loper koran. Kesempatan bekerja sebagai tukang sampah Pak Nyono dapat setelah ditawari oleh salah satu pengurus RW. Tanpa pikir panjang, dia langsung terima. Kini dia menjalani dua pekerjaan sekaligus. 

“Akhirnya kegiatan saya bertambah. Pagi ngangkut sampah, setelahnya baru dagang koran,” cerita Pak Nyono kepada saya. Karena sudah punya pelanggan tetap, jadi nggak masalah kalau koran dijual agak siang.

Wilayah kerja bantaran kali adalah yang tersulit

Secara garis besar wilayah RW tempat saya tinggal dibagi menjadi tiga wilayah. Kampung sisi timur, kampung sisi barat, dan kampung bantaran kali di selatan. Ada dua sungai yang mengalir melewati kampung saya. Pertama ada sungai kecil seukuran Selokan Mataram. Kedua, Kali Metro yang ukurannya lebih besar terletak di sisi lebih selatan.

Wilayah seluas itu digarap oleh tiga tukang sampah, Pak Nyono salah satunya. Satu tukang sampah punya tanggung jawab mengangkut sampah di satu wilayah kampung. Wilayah kerja Pak Nyono sebenarnya nggak luas, hanya saja lebih menantang karena berada di bantaran kali alias sisi selatan. 

Sejak dahulu, nggak ada tukang sampah yang mau bertanggung jawab atas wilayah itu. Jalanannya yang nylurut (turun karena berlereng) jadi alasannya. Kalau nggak berhati-hati ketika turun, bisa meluncur bebas ke kali. Ketika naik nggak kalah menantang, apalagi ketika muatan gerobak sedang penuh. Beratnya bukan main. 

Saat masih awal-awal menjadi tukang sampah, Nyono juga merasakan kengerian itu. Dia sampai minta ditemani anaknya untuk mendorong dan menarik gerobak ketika berada di tanjakan.

“Wong saya pernah hampir bablas,” kenang dia.

Baca Juga:

9 Kasta Tertinggi Takjil yang Paling Sering Diperebutkan Pembeli

4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer

Warga bantaran kali yang masih membuang sampah sembarangan

Kendati wilayah kerjanya sulit, Pak Nyono merasa terpanggil melayani daerah tersebut. Dia nggak tega melihat sungai yang semakin kotor. Dari tahun ke tahun kampung semakin padat. Sayangnya, pertambahan jumlah penduduk itu nggak dibarengi dengan kesadaran membuat sampah pada tempatnya.

Pengamatan Pak Nyono warga bantaran kali lebih suka buang sampah ke kali. Sampah kecil-kecil dibuang ke kali atas. Kalau sampah ukuran besar dibuang di Kali Metro. Alasan mereka melakukan itu karena selama ini tidak ada tukang sampah yang lewat. Sementara, jarak TPS (Tempat Penampungan Sementara) lumayan jauh.

Semua itu berubah ketika ada tukang sampah yang bertanggung jawab atas wilayah bantaran kali. Warga terlihat lebih tertib. Sampah di kali sudah banyak sekali berkurang. Beberapa kali memang masih ada sampah dapur seperti sisa makanan. Namun, menurut Nyono itu tidak terlalu jadi masalah karena itung memberi makan ikan.

Tetap setia mengabdi sebagai tukang sampah dan senantiasa bersyukur

Pak Nyono masih ingat, awal menjadi tukang sampah, alias 15 tahun yang lalu adalah Rp150.000. Seiring berjalannya waktu honornya naik, hingga menjadi Rp1 juta per bulan saat ini. Dana itu diambil dari iuran gotong royong yang sudah mencakup dana kebersihan. 

Di mata orang lain mungkin upahnya nggak bergitu besar, tapi dia bersyukur telah menerima kesempatan sebagai tukang sampah. Apalagi ketika penjualan koran kian seret seperti sekarang ini, pendapatan sebagai tukang sampah sangat menolong. Terlebih, dia sering mendapat komisi kalau ada warga yang membuang sampah-sampah berukuran besar seperti perabot rumah tangga.

Pak Nyono juga masih bisa mengumpulkan pendapatan tambahan dari memilah sampah. Sampah-sampah yang masih ada nilainya dikumpulkan dan dijual ke bank sampah atau pengepul. Kadang kalau masih punya waktu dan energi, dia membersihkan kali. Sampah-sampah tangkapan yang masih punya nilai dia dijual.

“Dari situ saya nyeser-nyeser rejeki tambahan. Kalau semua penghasilan dikumpulkan, Alhamdulillah masih bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya juga berhasil menyekolahkan semua anak saya sampai tamat SMA.”

Di bulan Ramadan, Pak Nyono mengaku tugasnya sebagai tukang sampah memang bertambah berat. Bayangkan saja, sejak pagi dia harus berkeliling untuk mengangkut sampah. Belum lagi rute menuju TPS yang menanjak. Kalau muatannya penuh, energinya benar habis di tanjakan itu.

Selain itu saya harus bertemu dengan sampah berbagi rupa. Ada yang bentuknya nggilani dan busuk betul baunya, biasanya sampah dapur. Apalagi memasuki musim maleman di mana banyak orang  menggelar slametan. Di waktu itu, semakin banyak makanan terbuang yang harus ditangani Pak Nyono. Belum lagi di siang harinya Pak Nyono Nyono masih jualan koran dari kampung ke kampung. Semua itu dilakukan dalam kondisi perut kosong karena puasa.

“Awalnya saya nggak tahan, capek dan mual karena bau sampah. Mau berhenti saja rasanya. Tapi lama-lama ya terbiasa. Buktinya bisa bertahan selawas ini. Saya anggap ladang ibadah.”

Bulan Ramadhan yang penuh tantangan bagi tukang sampah, tapi bertabur berkah

Kendati pekerjaannya terasa makin berat, dia mengaku tetap senang dengan kehadiran bulan suci ini. Baginya, ungkapan Ramadan bulan penuh berkah memang benar adanya. Dia merasa selalu ada saja rezeki-rezeki di bulan ini.

Tiap menjelang lebaran, RW memberi bonus sejumlah uang dan barang. Barangnya bisa berupa sembako, baju, sarung, atau jajanan buat nyuguh tamu pas lebaran, isinya nggak tentu setiap tahun. Beberapa warga juga ada yang memberi amplopan maupun sembako.

Pak Nyono adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang dimiliki kampung. Beliau adalah garda terdepan penjaga kebersihan dan keindahan kampung. Tanpa kehadiran Pak Nyono, entah bagaimana nasib sampah-sampah di sini.

Dari kisah orang-orang seperti Pak Nyono pula banyak hikmah yang bisa kita petik. Bulan Ramadan memang tidak semestinya menjadi halangan untuk giat bekerja. Justru setiap pekerjaan baik yang kita kerjakan dengan ikhlas akan tercatat sebagai ibadah. Dan bersyukur adalah kunci utama untuk menjalani hidup dengan penuh rasa tenang.

Penulis: Erma Kumala Dewi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Curahan Hati Asisten Rumah Tangga di Semarang yang Menjalani Pekerjaan Sampingan Saat Bulan Puasa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 April 2024 oleh

Tags: bulan ramadanSampahtukang sampah
Erma Kumala Dewi

Erma Kumala Dewi

Penggemar berat film kartun walaupun sudah berumur. Suka kulineran dan kekunoan.

ArtikelTerkait

Mengenang Acara 'YKS', Acara Sahur yang Bikin Saya Pengin Joget #TakjilanTerminal28

Mengenang Acara ‘YKS’, Acara Sahur yang Bikin Saya Pengin Joget Terus #TakjilanTerminal28

26 April 2021
9 Kasta Tertinggi Takjil yang Paling Sering Diperebutkan Pembeli Mojok.co

9 Kasta Tertinggi Takjil yang Paling Sering Diperebutkan Pembeli

22 Februari 2026
Tidak Ada Satu pun Pantai di Karawang yang Bisa Dibanggakan, Semuanya Kotor Tertimbun Sampah!

Tidak Ada Satu pun Pantai di Karawang yang Bisa Dibanggakan, Semuanya Kotor Tertimbun Sampah!

14 Februari 2024
Taman Kali Tuntang Demak, Kali Bersejarah yang Jadi Taman Penuh Sampah

Taman Kali Tuntang Demak, Kali Bersejarah yang Jadi Taman Penuh Sampah

28 Juli 2024
Kegiatan Upin Ipin dan Anak-anak Kampung Durian Runtuh Selama Bulan Ramadan Mojok.co

Kegiatan Upin Ipin dan Anak-anak Kampung Durian Runtuh Selama Ramadan

9 Maret 2025
Misteri Kawuk: Hewan Pemangsa Mayat di Cilacap dan Penjaga Lapas Nusakambangan pulau nusakambangan

Penderitaan yang Saya Rasakan Saat Berkunjung ke Pulau Nusakambangan

26 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan

Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan Semarang

11 Maret 2026
Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026
Penyesalan “Membuang” Yamaha F1ZR Marlboro yang Kini Harganya Naik Lebih dari 10 Kali Lipat Mojok.co

Penyesalan “Membuang” Yamaha F1ZR Marlboro yang Kini Harganya Naik Lebih dari 10 Kali Lipat

10 Maret 2026
Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

8 Maret 2026
ATM Pecahan 20 Ribu Menyelamatkan Saya dari Biaya Jasa Tukar Uang Baru Pinggir Jalan yang Nggak Masuk Akal Mojok.co

ATM Pecahan 20 Ribu Menyelamatkan Saya dari Biaya Jasa Tukar Uang Baru Pinggir Jalan yang Nggak Masuk Akal

10 Maret 2026
Vespa Matic Dibenci Banyak Orang, Hanya Orang Bodoh yang Beli (Unsplash)

Vespa Matic Adalah Motor yang Paling Tidak Layak untuk Dibeli karena Overpriced, Boros, dan Paling Dibenci Tukang Servis Motor (Bagian 2)

11 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto
  • Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah
  • Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata
  • Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”
  • Rangkaian Penderitaan Naik Travel dari Jogja Menuju Surabaya: Disiksa Selama Perjalanan oleh Sopir Amatiran, Nyawa Penumpang Jadi Taruhannya. Sialan!

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.