Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Tugu sebagai Pertanda Eksistensi Marga di Suku Batak

Johan Gregorius Manotari Pardede oleh Johan Gregorius Manotari Pardede
23 November 2020
A A
tugu batak toba eksistensi marga mojok

tugu batak eksistensi marga mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Indonesia menempati posisi lima besar jumlah penduduk terbanyak di dunia, yang mana komposisi penduduk itu tersebar dari Sabang sampai Merauke. Masing-masing wilayah biasanya diisi oleh komposisi suku tertentu. Tak mengherankan jika beragam adat istiadat tercipta, antara satu daerah dengan daerah lain tak bisa disamakan.

Ibarat bunga yang ada di taman, masing-masing suku tersebut berperan sebagai bunga yang memperindah taman yang bernama Indonesia. Demikian juga suku Batak memiliki suatu adat istiadat yang sangat berbeda dengan suku lain yaitu soal pendirian tugu.

ADVERTISEMENT

Tugu merupakan bangunan yang sakral bagi orang bersuku Batak. Bagi orang awam yang sedang melintas di Tanah Batak akan terheran-heran akan melihat banyaknya tugu yang bertebaran di sepanjang jalan. Pernah suatu hari, saat saya di angkutan umum dari Medan menuju Toba seorang ibu bertanya kenapa tugu begitu mewah di daerah Tanah Batak. Mendapat pertanyaan tersebut saya berprasangka bahwa si ibu tersebut merupakan pendatang yang baru pertama kali ke tanah Toba. Lantas dengan senyum aku mulai menjelaskan apa itu tugu kepada beliau.

Tugu bukanlah sekadar ornamen bangunan yang dibuat untuk sekadar perhiasan ataupun ikon suatu kota, melainkan suatu bangunan yang menyimbolkan suatu keutuhan akan suatu turunan atau kelompok marga tertentu. Bisa dikatakan kesuksesan suatu marga tertentu ditunjukkan jika sudah terdapat tugunya. Kesuksesan yang dimaksud tak sekadar materi saja, tapi juga kerelaan meluangkan waktu. Maksudnya pembangunan tugu tersebut bukanlah atas prakarsa satu atau beberapa orang dari marga tersebut, tapi harus melalui musyawarah antara penyandang marga tersebut, di mana pun komunitas marga itu tersebar.

Contohnya jika ada marga X yang berada di Jakarta, bukan berarti pembangunan tugu yang direncanakan harus dari koceknya saja karena ia kaya ataupun pejabat yang berpengaruh, tapi yang bersangkutan malah harus mengajak sesamanya yang marga X di daerah lain untuk meniatkan diri membangun tugu sebagai lambang persatuan mereka di daerah asal marga mereka muncul (bona pasogit).

Tentu hal tersebut membuat suatu komunitas marga X tersebut harus mempunyai rasa memiliki dan persatuan yang utuh agar bisa mencapai tujuan tersebut. Dengan mengandalkan materi seseorang saja dianggap sebagai suatu yang tabu (tokka). Orang yang status sosialnya tinggi dari marga X itu akan menjalin komunikasi dengan sesama marga X yang berdiaspora serta sudah mendirikan paguyuban marga X di daerah diasporanya. Masing-masing perwakilan diaspora akan mengirimkan perwakilan untuk membahas pembangunan tugu tersebut. Tak cukup hanya sekali saja perwakilan diaspora itu hadir. Ibarat membuat suatu perjanjian diplomatik, masing-masing perwakilan diaspora memberi rancangan bagaimana bentuk tugu tersebut dibuat serta jumlah kontribusi yang diberikan per komunitas diaspora. Jika berjalan lancar atas proses yang dilakukan tersebut, tugu pun pun mulai dibangun.

Jika pembangunan tugu sudah selesai, para penyandang marga X tadi beserta perwakilan diaspora akan berkumpul di bona pasogit mereka untuk merayakan keberhasilan tersebut. Keberhasilan itu bisa dicap bahwa mereka sudah mampu mengesampingkan rasa ego masing-masing serta mampu membuat persatuan keluarga yang utuh. Diiringi tabuhan gendang dari pemusik (pargonci) dan tarian tortor, masing-masing penyandang marga X tadi tersenyum puas atas jerih payah mereka. Nasihat “arga do bona ni pinasa” telah ditunaikan oleh mereka. Para marga-marga yang lain pun akan mengucapkan keberhasilan pembangunan tugu marga tersebut. Mereka yang menyandang marga X itu dipandang sudah memiliki status sosial yang tinggi (sangap) serta memiliki kesatuan jiwa (hasadaan).

Melihat prosesnya yang begitu ribet dan memakan waktu yang banyak, tak mengherankan jika belum semua marga di suku Batak memiliki tugu. Secara tersirat pembangunan tugu tersebut memiliki syarat bahwa salah satu penyandang marga tertentu harus memiliki status sosial yang disegani seperti jenderal atau pengusaha besar agar dapat menghimpun anggota marganya yang berdiaspora.

Baca Juga:

Terbiasa Naik Kereta di Stasiun Tugu Jogja Bikin Saya Kaget dengan Stasiun Lempuyangan yang Chaos

Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi

Bisa disimpulkan eksistensi tugu begitu penting bagi suku Batak, tak mengherankan jika setiap golongan marga harus bekerja keras agar marga yang disandangnya tidak dipandang sebelah mata. Selain itu rasa persatuan harus juga dimiliki komponen suatu marga agar pembangunan suatu tugu dapat berjalan lancar tanpa mesti dihambat oleh perselisihan pendapat yang tajam dan membuat persatuan yang menjadi tujuan semula pembangunan tugu jadi tak terealisasi

BACA JUGA Hal yang Perlu Anda Ketahui Jika Jatuh Cinta pada Perempuan Batak atau tulisan Johan Gregorius Manotari Pardede

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 November 2020 oleh

Tags: batakmonumenSukutugu
Johan Gregorius Manotari Pardede

Johan Gregorius Manotari Pardede

Mahasiswa STAN yang doyan menulis dan membaca.

ArtikelTerkait

iri dengan orang madura

Akui Saja, Kita Ini Iri dengan Madura

16 September 2019
Olahan Kecombrang Tidak Cocok untuk Semua Orang, di Lidah Saya Rasanya Aneh Mojok.co

Olahan Kecombrang Tidak Cocok untuk Semua Orang, di Lidah Saya Rasanya Aneh

25 Oktober 2025
Prosus Inten: Belajar ala Orang Batak

Prosus Inten: Belajar ala Orang Batak

13 November 2022
lapo tuak medan batak sumatera utara fungsi sosial ngobrol debat diskusi waerung kopi gelas minum mabuk nyanyi nongkrong sama teman mojok

Lapo Tuak, Tempat Orang Batak Menghibur Diri dan Mengasah Skill Debat

2 Mei 2020
Betapa Repotnya Keluarga Suku Campuran di Hadapan Petugas Sensus

Betapa Repotnya Keluarga Suku Campuran di Hadapan Petugas Sensus

22 September 2023
stereotip orang batak tari tortor pesta batak toba mojok.co

3 Stereotip Orang Batak yang Kuterima selama Sekolah di Jawa

19 Juni 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

30 menit ngopi di angkringan, puluhan info bawah tanah saya dapat (Shutterstock)

30 menit ngopi di angkringan, saya bisa mengakses puluhan informasi bawah tanah

23 Agustus 2026
Kaza Mal Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi Mojok.co

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

19 Agustus 2026
Gen Z lanjut S2 bukan karena ambisi, tapi patah hati (Unsplash)

Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena gelar dan ambisi, tapi karena patah hati dan bingung mau ngapain lagi

20 Agustus 2026
Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1 Mojok.co

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

18 Agustus 2026
Gara-gara industri, matcha kini jadi overrated (Unsplash)

Matcha layak dicintai, hanya saja industri membuatnya jadi overrated

23 Agustus 2026
Jabatan korlas SD kini jadi momok bagi orang tua murid karena ada saja dramanya Mojok.co

Jabatan korlas SD kini jadi momok bagi orang tua murid karena ada saja dramanya

19 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.