Trik Sukses Berjualan di WhatsApp agar Story-mu Nggak Di-skip Orang

Featured

Nimatul Faizah

Akhir-akhir ini, saya melihat kontak WhatsApp didominasi oleh orang-orang yang berjualan di story. Saya tidak tahu, apa ini efek dari banyaknya orang yang dirumahkan dari tempat kerja atau tidak. Yang jelas, makin banyak saja orang yang berjualan. Barang yang dijual pun beragam, ada makanan cepat saji, minuman, masker, ubi lumer, kue kering, dan lain-lain. Karena hal itu, ada beberapa orang yang garis di story WhatsApp-nya sangat panjang.

Saya sih sebenarnya tidak masalah dengan banyaknya orang yang berjualan. Tapi saya terganggu dengan banyaknya garis story yang harus saya lewati untuk melihat story satu orang ke orang lain. Kalau masih sabar, kadang hanya saya skip. Tapi pada akhirnya, jalan ninja yang saya tempuh adalah mute story orang-orang tersebut. Ternyata, skip dan mute story tak hanya dilakukan saya seorang diri, tapi juga teman-teman saya yang lain.

Kami (red: tim mute dan skip) sama sekali tidak rugi dengan langkah yang kami tempuh. Selain untuk menyelamatkan kantong dari potensi beli sana sini, kami juga menjadi lebih hemat kuota. Justru yang rugi adalah orang yang berjualan itu. Mereka jadi kehilangan viewer story dan akhirnya kehilangan potensi pembeli. Hal ini pun yang menjadi pegangan saya saat mulai ikut berjualan di WhatsApp karena kehilangan sebagian sumber penghasilan.

Saya ingin tetap berjualan, tapi tidak ingin mengganggu orang. Akhirnya, saya mencoba beberapa metode yang ternyata sukses membuat dagangan saya dilirik orang. Berikut saya bocorkan lima trik sukses berjualan di story WhatsApp tanpa mengganggu orang lain.

Satu: Batasi Postingan

Kalau kamu merasa story WhatsApp-mu masih panjang seperti tembok besar China. Maka, membatasi postingan adalah langkah pertama yang harus kamu lakukan. Hal ini berguna supaya teman dalam kontakmu tidak menganggap kamu spam, lantas skip dan membisukan story WhatsApp-mu. Kalau yang saya lakukan adalah membuat target hanya tiga story yang saya posting.

Baca Juga:  Merdesa, Indonesia

Kalau berjualan banyak bagaimana dong? Gampang! Kamu cukup menyatukan 2-4 gambar dalam satu frame. Hal ini lebih efektif karena orang bisa melihat beberapa daganganmu dalam sekali lihat story.

Post story-pun jangan dalam sekali waktu. Tapi lihat jam biasanya orang istirahat dan memegang smartphone. Saya biasanya memposting gambar di jam 12 siang, jam 5 sore, dan jam 7 malam.

Dua: Atur Target Viewer

Setelah membatasi jumlah postingan, saya pun membuat target viewer. Di kontak WhatsApp saya ada sekitar 400-an nama. Dari 400-an kontak, saya membuat target viewer sekitar 150 orang. Jadi kalau sudah tiga postingan, tapi saya ingin membuat baru. Maka saya harus melihat apakah story pertama sudah mencapai target. Kalau sudah memenuhi, maka story yang sudah memenuhi saya hapus dan baru bisa membuat story lagi.

Tujuan dari adanya target viewer adalah untuk memastikan kalau barang yang kita jual sudah dilihat banyak orang. Ingat, viewer adalah potensi pembeli. Jadi tetapkan target viewer dengan baik ya.

Tiga: Buka Reseller

Langkah selanjutnya yang saya tempuh adalah membuka reseller. Saya membuat caption selalu ada kata “open reseller”. Reseller ini berguna sekali untuk menambah jangkauan jualan kita. Setiap satu reseller pasti juga punya kontak orang lain. Itulah saatnya arus informasi barang daganganmu bertambah. Jika reseller berhasil menjual barang daganganmu, siapa yang ikut untung? Tentu kamu ikut untung, dong.

Empat: Posting Testimoni dan Hal Lucu

Jualan tanpa bukti-bukti meyakinkan? Hati-hati, nanti dikira penipuan. Inilah pentingnya testimoni. Selain untuk meningkatkan kepercayaan pembeli lain, testimoni juga bisa jadi sarana promosi kalau barangmu memang bagus. Kalau pembeli lain memuji barang jualanmu, pasti pembeli lain akan tertarik dong untuk membeli daganganmu. Saya dulu sewaktu jadi pembeli, kadang jadi ikut tertarik karena testimoni orang lain, lho. Jadilah ilmu ini saya terapkan saat saya berdagang.

Baca Juga:  Dilema Admin Tunggal WhatsApp Group (WAG) yang Nggak Laku

Selain testimoni, rasanya perlu juga penyegaran story. Kamu bisa posting meme lucu yang bisa bikin ketawa viewer story kamu. Hal ini juga bertujuan agar orang lain tetap menantikan story lucumu.

Lima: Potongan Harga untuk Pembeli

Berikan penghargaan untuk pembeli, semisal potongan harga. Kalau berani, berikan syarat kepada pembeli. Semisal mempromosikan daganganmu di story WhatsApp mereka, maka kamu akan memberikan harga khusus. Pembeli tentu punya kontak yang nggak kalah banyak. Kalau daganganmu dipromosikan itu berarti makin banyak orang yang tahu produk jualanmu. Eh, kecuali story-nya diatur ke mode “hanya bagikan dengan…” kamu. Hahaha.

Selain cara tadi, kamu bisa juga memberikan potongan harga untuk pembeli yang membeli lebih dari satu barang. Menurut saya, potongan harga nggak harus banyak. Sewaktu saya menjadi pembeli, saat saya mendengar kata diskon saja sudah bahagia. Padahal diskonnya tak seberapa, hanya sekitar seribu sampai lima ribu rupiah.

Demikian kiat sukses berjualan di story WhatsApp tanpa di-skip orang lain. Hal ini terbukti ampuh untuk saya. Maka dari itu, saya ingin membagikan kiat sukses ini untuk  kamu yang bernasib sama dengan saya, yang berkurang penghasilannya di saat pandemi. Mari kita bagikan tulisan ini, agar lebih banyak orang semakin efektif dan efisien saat berjualan di WhatsApp Story.

BACA JUGA Tipe Teman Berdasarkan Status WhatsApp Mereka atau tulisan Nimatul Faizah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
19


Komentar

Comments are closed.