Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara: Membayar Tiket Eksekutif demi Uji Nyali Makan Nasi yang Sudah Almarhum

Administrator oleh Administrator
29 Maret 2026
A A
Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Duduk di kursi empuk Sancaka Utara kelas eksekutif itu membuai iman. Sebuah situasi yang mendadak membuat kita seperti manusia kelas menengah yang sudah “sampai” pada tujuan hidup. Setidaknya sampai urusan perut memanggil dan seporsi nasi rames membuatmu sangat kecewa.

Perjalanan dari Bojonegoro menuju Jogja adalah lintasan yang penuh kontradiksi. Di luar jendela, kita melihat hutan jati yang mulai gundul, sawah yang perlahan kehilangan kedaulatannya sebagai sumber kehidupan, sementara di dalam gerbong, kita menikmati ilusi pelayanan prima.

Dan puncak dari drama sosiologis ini terjadi ketika saya memutuskan untuk memesan makan di atas rel. Saya memesan seporsi nasi rames.

BACA JUGA: Kereta Api Sancaka Utara, Kereta Penolong Warga Pantura untuk Menjangkau Daerah Selatan

Nasi rames Sancaka Utara, antara lapar, gengsi, dan label Kedaluwarsa

Nasi Rames di Sancaka Utara bukan sekadar pengganjal lapar. Ia adalah sebuah pernyataan status. Harganya yang “premium” itu setara dengan tiga porsi nasi rames di warung pinggiran Bojonegoro yang porsinya sanggup membuat kuli bangunan kenyang hingga lusa.

Tapi di Sancaka Utara, jujur, saya rela membayar sebab rasa lapar yang tak lagi bisa saya tunda. Mungkin, sebagian dari kita membayar demi sebuah legitimasi bahwa kita sanggup membeli kenyamanan. Termasuk kenyamanan dalam mengunyah di tengah guncangan gerbong.

Namun, baru saja kotak nasi itu mendarat di meja lipat, sebuah pemandangan horor tersaji. Di label kemasannya, tertera angka yang membuat bulu kuduk berdiri: Expired pukul 10:30. Sementara jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 11:00.

Dapat nasi kedaluwarsa

Bayangkan, saya membeli nasi rames yang secara administratif sudah “meninggal dunia” selama 30 menit. Di dunia medis, ini sudah masuk fase persiapan pemakaman. Tapi, di atas Sancaka Utara, para petugas masih menjajakannya dengan penuh percaya diri seolah-olah ia adalah hidangan segar yang baru keluar dari dapur bintang lima.

Baca Juga:

3 Dosa Utama Penjual Nasi Rames yang Masih Kerap Kita Jumpai, Bikin Males Balik Lagi

Tiket Kereta Semakin Mencekik, Sleeper Bus Sinar Jaya dan Juragan 99 Menyelamatkan Kewarasan Isi Dompet para Pekerja

Maka terjadilah sebuah dialog eksistensial yang sangat sosiologis antara saya dan nasi rames. Makan dengan tangan (muluk) di Sancaka Utara kelas eksekutif itu ibarat memakai sandal jepit di acara gala dinner. Bisa saja saya melakukannya, tapi ada beban moral yang berat di pundak.

Kalian bisa membayangkan situasinya. Di sebelah saya ada orang yang sedang mengetik laporan dengan MacBook terbaru. Lalu, di depan saya, ada ibu-ibu yang wangi parfumnya seharga cicilan motor, dan saya harus meraup nasi rames yang berminyak itu dengan tangan telanjang? 

Ini bukan sekadar aktivitas makan. Itu adalah sebuah penghinaan terhadap estetika kelas eksekutif yang sudah susah payah saya beli lewat tiket mahal.

Penderitaan ganda: Nasi rames tak layak makan, tanpa sendok pula

Seolah-olah status “almarhum” pada nasi rames itu belum cukup menghina martabat saya sebagai penumpang Sancaka Utara eksekutif. Eh, kotak nasi itu datang tanpa sendok. 

Ini adalah puncak dari sebuah absurditas pelayanan. KAI seolah-olah sedang memberikan pesan subliminal: “Nasi ini sudah kedaluwarsa, jadi buat apa kami kasih sendok? Toh, kamu juga nggak bakal berani makannya, kan?”

Sedikit bersedih batin saya berkata. Nasi rames yang sudah kehilangan marwahnya, dalam kondisi tanpa alat makan, di sebuah gerbong Sancaka Utara yang tiketnya tidak murah. Saya merasa sedang dikerjai oleh semesta lewat perantara manajemen pangan kereta api.

BACA JUGA: 3 Dosa Utama Penjual Nasi Rames yang Masih Kerap Kita Jumpai, Bikin Males Balik Lagi

Birokrasi penantian nasi rames di atas Sancaka Utara

Tentu saja saya protes. Petugas Sancaka Utara memang meminta maaf dengan senyum standar operasional yang terlanjur mainstream itu, lalu membawa pergi nasi bangkai tersebut untuk dievakuasi. 

Namun, lagi-lagi saya merasa KAI sedang mengerjai saya habis-habisan. Proses penggantian nasi rames ini ternyata menempuh jalur birokrasi yang lebih panjang dari rel kereta itu sendiri. Seolah-olah petugas harus panen dulu di sawah. 

Kereta Sancaka Utara melaju kencang melintasi stasiun, sementara perut saya melakukan orkestra keroncongan yang makin lama makin melengking. Lalu saya melihat jam tangan sudah menunjukkan 25 menit lagi saya tiba di stasiun Tugu Jogja, kalau sesuai jadwal.

Menunggu nasi rames pengganti di atas Sancaka Utara itu rasanya lebih lama daripada menunggu kereta ekonomi yang tertahan sinyal di tengah hutan.

Ketika akhirnya nasi rames pengganti datang, rasanya seperti menerima bantuan pangan di tengah bencana. Sendok itu bukan lagi sekadar alat makan, tapi simbol kemenangan kecil dari seorang penumpang yang nyaris menyerah pada keadaan.

Dear KAI, mungkin kalian sudah berhasil memodernisasi mesin dan mempercepat durasi perjalanan. Tapi, kalian lupa bahwa urusan perut tidak mengenal kompromi waktu. 

Nasi rames kedaluwarsa adalah bentuk penindasan halus yang paling nyata di atas  Sancaka Utara. Bahwa setinggi-tingginya kasta penumpang kereta, kita tetaplah manusia jelata yang tak berdaya jika sudah berhadapan dengan manajemen pangan yang geraknya lebih lambat dari kecepatan kereta itu sendiri.

Penulis: Faiz Al Ghiffary

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kasta Makanan Kereta Api dari yang Enak Banget sampai Nggak Banget

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Maret 2026 oleh

Tags: harga tiket sancaka utaraKA eksekutifnasi ramessancakasancaka utaratiket sancaka utara
Administrator

Administrator

ArtikelTerkait

Sinar Jaya & Juragan 99 Terbaik, Harga KA Eksekutif Makin Gila (Unsplash)

Tiket Kereta Semakin Mencekik, Sleeper Bus Sinar Jaya dan Juragan 99 Menyelamatkan Kewarasan Isi Dompet para Pekerja

11 Juni 2025
sancaka

Sancaka di Gundala: Penyebar Virus Literasi dari Jagat Sinema Bumilangit

9 September 2019
Nasi Rames, Menu Makanan Paling Populer di Jawa Tengah jogja

3 Dosa Utama Penjual Nasi Rames yang Masih Kerap Kita Jumpai, Bikin Males Balik Lagi

21 Juli 2025
Banyumas Bukan Cuma Ngapak, tapi Juga Surga Nasi Rames Paling Jujur

Banyumas Bukan Cuma Ngapak, tapi Juga Surga Nasi Rames Paling Jujur

10 April 2025
Warong Texas 1978: Legenda Nasi Rames Jogja Dekat Kampus Sanata Dharma yang Menyediakan hingga 50 Pilihan Menu

Warong Texas 1978: Legenda Nasi Rames Jogja Dekat Kampus Sanata Dharma yang Menyediakan hingga 50 Pilihan Menu

7 September 2023
Begini Rasanya Menjadi Penumpang Taksaka VIP (Unsplash)

Begini Rasanya Menjadi Penumpang Taksaka VIP

31 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Alasan yang Membuat SPs UIN Jakarta Berbeda dengan Program Pascasarjana Kampus Lain Mojok.co

Akui Saja, Lulusan UIN Memang Skill-nya di Bawah Rata-rata, dan Inilah Penyebabnya

25 Maret 2026
Pengalaman Kuliah S3 di Taiwan Bikin Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia Mojok.co

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

25 Maret 2026
Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

29 Maret 2026
Apa Harga Sepadan untuk Kamu yang Bekerja Sampai Lelah? (Unsplash)

Bekerja Sampai Lelah Tidak Pernah Sepadan, tapi Berhenti Bekerja Tidak Membawa Damai

23 Maret 2026
Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
Kereta Tambahan Gambir-Surabaya: Harga Selangit, Fasilitas (Amat) Sulit!

Kereta Tambahan Gambir-Surabaya: Harga Selangit, Fasilitas (Amat) Sulit!

25 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C
  • Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban
  • Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga
  • Dibanding Stasiun Lempuyangan, Saya Lebih Pilih Stasiun Tugu Jogja yang Mahal dan Ramai asal Tak Harus Menahan Emosi Menunggu Jemputan
  • 5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta
  • ‘Na Willa’, Merangkul Inner Child dan Kebutuhan akan Film Anak dari Muaknya Komodifikasi Ketakutan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.