Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Toraja Yang Unik, Toraja Yang Indah, Toraja Yang Toleransi

Utamy Ningsih oleh Utamy Ningsih
25 Mei 2019
A A
toraja

toraja

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagian besar dari kita mungkin sudah pernah membaca, mendengar atau bahkan berkunjung langsung ke Toraja. Toraja adalah daerah pegunungan di bagian utara provinsi Sulawesi Selatan. Orang-orang yang mendiami daerah ini kemudian disebut suku Toraja. Toraja sendiri berasal dari bahasa bugis “To Riaja” yang berarti orang yang berdiam di negeri atas. Hal ini selaras dengan letak Toraja yang ada di daerah atas (pegunungan). Untuk sampai ke Toraja, dibutuhkan waktu sekitar 6-8 jam dari Kota Makassar—ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan—melalui jalur darat.

Toraja dengan keunikan budaya upacara pemakamannya mampu menjadi daya tarik tersendiri. Tidak hanya di kalangan wisatawan lokal melainkan juga di kalangan wisatawan mancanegara. Upacara pemakaman atau upacara kematian yang dalam bahasa Toraja disebut rambu solo’ biasanya dilangsungkan selama 3-7 hari, bergantung pada kelas strata sosial kebangsawanan keluarga yang menggelar rambu solo’. Semakin tinggi kasta kebangsawanan seseorang, semakin lama rambu solo’ dilangsungkan. Hal ini juga berarti akan semakin banyak biaya dibutuhkan.

Berdasarkan fakta tersebut di atas maka tidak heran jika upacara rambu solo’  baru bisa diselenggarakan setelah beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, bahkan ada yang sampai butuh waktu beberapa tahun setelah seseorang dinyatakan meninggal. Hal ini disebabkan karena pihak keluarga terlebih dahulu harus mengumpulkan uang untuk bisa menyelenggarakan upacara rambu solo’. Selama jenazah orang yang sudah meninggal belum diupacarakan, selama itu pula ia masih dianggap hidup—tapi dalam keadaan sakit. Karena dianggap masih hidup, maka jenazah tersebut masih diperlakukan seperti biasa. Diberi makan, minum, dan diajak bicara.

Hal inilah yang kemudian membuat Toraja terasa sangat dekat dengan nuansa mistis. Tempat wisata berupa kuburan batu (gua), patane (bangunan menyerupai rumah yang digunakan untuk menyimpan peti jenazah) dan kuburan berbentuk pohon (khusus untuk bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi) yang ada di Toraja semakin menambah kuat kesan mistis dan membuat lokasi ini semakin terkenal dengan keunikannya.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya berbagai aspek kehidupan. Toraja juga ikut berbenah. Berbagai destinasi wisata yang menawarkan keindahan alam terus dikembangkan. Yang paling hits saat ini adalah sensasi seperti berada di atas awan yang bisa dijumpai di beberapa destinasi wisata. Selain itu, ada juga destinasi wisata yang menawarkan pemandangan yang begitu menakjubkan. Dia adalah Ollon, salah satu daerah di bagian Barat wilayah ini. Untuk sampai ke sana, kita harus melalui jalan yang cukup ekstrim— berpasir dan berbatu dengan jurang di sisi jalan. Meski butuh perjuangan yang tidak mudah tapi Ollon tetap saja ramai pengunjung. Hal yang cukup wajar memang jika mengingat keindahan alam yang akan tersaji di depan mata begitu sampai di lokasi.

Tapi tahukah kalian, selain keunikan adat dan budaya serta keindahan alamnya, Toraja masih punya satu harta karun yang istimewa. Hal itu adalah rasa toleransi antar umat beragama.

Dulunya, nenek moyang suku Toraja menganut agama atau kepercayaan Aluk Todolo. Keadaan ini baru berubah saat misionaris Belanda datang ke wilayah ini untuk menyebarkan agama Kristen. Dalam perkembangannya, masyarakat Toraja pun sebagian besar memeluk agama Kristen. Sisanya ada Katolik, Muslim (Islam), Hindu (tahun 1970 Aluk Todolo dimasukkan dalam sekte Hindu-Bali), dan Budha.

Jika beberapa waktu lalu sempat terjadi keributan antar sesama pemeluk agama di beberapa daerah di Indonesia,—yang disebabkan isu SARA— Toraja justru tidak terprovokasi sama sekali. Kehidupan masyarakat di sini tetap berjalan sebagaimana biasanya. Praktik hidup damai antar sesama pemeluk agama memang sudah berlangsung sejak lama dan masih terawat hingga kini.

Baca Juga:

Pengalaman Transit di Bandara Sultan Hasanuddin: Bandara Elite, AC dan Troli Pelit

Sop Saudara, Kuliner Makassar yang Namanya Bikin Salah Paham tapi Rasanya Bikin Ketagihan

Tidak jarang bahkan dalam satu rumpun keluarga diisi dengan beberapa agama yang berbeda. Meski demikian, hubungan kekeluargaan tetap terjalin erat. Perbedaan agama tidak lantas membuat satu dengan lainnya menjaga jarak atau sampai putus silaturahmi. Saat hari raya keagamaan tiba, semua ikut berbahagia meskti tidak ikut merayakan.

Saat upacara adat, baik itu upacara kematian (rambu solo’) maupun upacara kehidupan atau kebahagiaan (rambu tuka) semua anggota keluarga berkumpul tanpa memedulikan agama apa yang dianut oleh sang pemilik hajat. Ada pun hal yang membedakan adalah perihal makanan. Dalam upacara adat, sudah menjadi hukum tidak tertulis bagi masyarakat Toraja untuk memisahkan makanan antara umat muslim dan nonmuslim. Hal ini dilakukan bukan hanya sekadar untuk memberi rasa nyaman tapi juga untuk menghormati dan menghargai perbedaan yang ada.

Dalam lingkup yang lebih luas, toleransi antar umat beragama bisa dilihat dari pembangunan rumah ibadah. Masyarakat Toraja sangat terbuka akan hal ini. Itulah sebabnya di beberapa daerah di Toraja bisa dijumpai masjid dan gereja yang letaknya berdekatan namun tidak pernah menimbulkan keresahan sama sekali. Bahkan, di Toraja sendiri sudah lama berdiri sebuah pondok pesantren.

Pemandangan umat muslim yang ikut membantu menjaga keamanan demi kelancaran ibadah hari raya umat nonmuslim adalah pemandangan yang sering terjadi di Toraja. Begitu pula sebaliknya, saat umat muslim merayakan hari raya keagamaan atau agenda keagamaan, umat nonmuslim akan dengan senang hati ikut mengambil bagian.

Seperti yang baru-baru ini terjadi. Toraja yang sebagian besar penduduknya beragama Kristsen, ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggaran agenda acara keagamaan STQH (Seleksi Tilawatil Quran dan Hadist) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Tercatat 70% panitia yang ada di dalamnya adalah mereka-mereka yang beragama Kristen dan Katolik. Tempat pelaksanaannya pun  menggunakan fasilitas sejumlah gereja, seperti gedung Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja dan aula gereja Katolik Makale. Masyarakat umum pun menyambut acara ini dengan tangan terbuka. Tidak ada aksi protes atau kerusuhan yang terjadi.

Disadari atau tidak, berbagai hal yang dilakukan sebagai wujud dari sikap menerima perbedaan ini menjadikan Toraja layak dimasukkan sebagai tujuan daerah wisata toleransi yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, jika ingin melihat miniatur Indonesia yang menghargai perbedaan, jangan ragu ke Toraja.

Ayo ke Toraja!

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: Budaya IndonesiaSulawesi SelatanToleransiToraja
Utamy Ningsih

Utamy Ningsih

Suka Membaca, Belajar Menulis.

ArtikelTerkait

tren hijrah

Tren Hijrah dan Betapa Mengerikannya Komodifikasi Agama

9 Agustus 2019
3 Fakta Menyebalkan dari Jalan Ditutup karena Hajatan Terminal Mojok

Kata Siapa Orang Desa Lebih Toleran dan Nggak Egois kayak Orang Perumahan? Hoax Itu. Lihat Aja Saat Mereka Ngadain Hajatan

13 Juli 2023
kompetisi

“Yaelah Gitu Doang!”: Teman Kesusahan, Kok Malah Dijadiin Kompetisi?

18 Oktober 2019
menganut lebih dari satu agama, mbel-Embel Garis Lucu dan Tahun-tahun yang Tidak Ramah Bagi Umat Beragama

Embel-Embel Garis Lucu dan Tahun yang Tidak Ramah Bagi Umat Beragama

14 Desember 2019
benang merah

Memahami Benang Merah Toleransi Dari SpongeBob SquarePants dan Patrick Star

17 Oktober 2019
gotong royong

Gotong Royong yang Masih Lestari di Desa

24 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Lexi Tercipta Untuk Orang Malang, Santai tapi Tegas (Wikimedia Commons)

Yamaha Lexi Adalah Motor yang Terlalu Santai tapi Sebenarnya Tegas, Paling Cocok Dipakai oleh Orang Kota Malang

8 Maret 2026
All New Honda Vario 125 eSP 2018: Motor Matik Kencang, Nyaman, dan Paling Enak Dipakai Harian motor honda blade 110 honda vario 160 supra x 125 vario street

Vario Street Adalah Gebrakan Sia-Sia dari Honda: Niatnya Ingin Sporty, Malah Kelihatan Basi  

7 Maret 2026
Lontong Balap Makanan Khas Surabaya Paling Normal, Pendatang Pasti Doyan Mojok.co

Lontong Balap Makanan Khas Surabaya Paling Normal, Pendatang Pasti Doyan

8 Maret 2026
Bisnis Mobil Rental: Keuntungannya Selangit, Risikonya Juga Selangit rental mobil

Rental Mobil demi Gengsi Saat Pulang Kampung Lebaran Adalah Keputusan yang Goblok

12 Maret 2026
Mengenal Ampo, Camilan Khas Tuban yang Terbuat dari Tanah Liat Mojok.co

Ampo, Makanan Khas Tuban Nggak Akan Pernah Saya Coba

10 Maret 2026
Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan

Blok GM Semarang: Ketika Estetika Anak Skena Menumbalkan Hak Pengguna Jalan Semarang

11 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto
  • Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah
  • Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata
  • Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”
  • Rangkaian Penderitaan Naik Travel dari Jogja Menuju Surabaya: Disiksa Selama Perjalanan oleh Sopir Amatiran, Nyawa Penumpang Jadi Taruhannya. Sialan!

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.