Tipe-Tipe Pembeli Online dari Bikin Hati Tentram Sampai Bikin Kelimpungan

Dalam hubungan tentu ada orang yang serius menjalaninya. Sehingga hubungan jelas mau dibawa ke mana. Begitu pula dengan para pembeli online.

Featured

Avatar

Sebagai penjual online yang sudah bergelut dalam bisnis ini sejak bertahun-tahun, saya cukup mengenal berbagai tipe pembeli saya. Bagi saya, bisnis online ini seperti lagu BBB putus-nyambung-putus-nyambung. Sebab, memang cuma selingan saat butuh jajan. Apalagi namanya usaha, ada pasang-surutnya. Jadi, memang butuh fokus jika usahanya ingin berkembang.

Tapi bagi saya yang sudah memulai usaha online sejak kuliah, agak susah jika menjadikan bisnis online sebagai fokus utama saya. Terlebih lagi, dulu saya punya impian untuk dapat cumlaude. Iya, dulu, saat sedang semangat-semangatnya masuk kuliah dan belum terpapar dengan kenikmatan horisontal body–saving mode (baca: rebahan).

Bisnis online yang saya geluti menjual beragam barang. Awalnya pakaian tertentu dengan mengandalkan aplikasi BB yang hits pada masanya. Lalu mulai masuk fase menjual apa saja yang dicari orang. Kemudian cukup lama jeda, lalu saya mulai menjual buku secara online. Buku asli yah, bukan bajakan loh.

Sembari saya menjalankan usaha, sembari juga saya belajar dan mengamati para pembeli. Dan akhirnya saya menyimpulkan bahwa tipe-tipe pembeli itu mirip seperti membangun sebuah hubungan. Mungkin memang karena subjeknya manusia ya. Jadi, hubungan dalam berbagai hal cenderung sama termasuk dalam urusan jual-beli. Nah, berikut tipe-tipe pembeli online yang saya rangkum menurut pemikiran saya yang masih biasa-biasa saja dibanding mas mbak pembaca Terminal Mojok yang budiman. Ini dia, cekidot~

Satu: Pembeli yang Suka PHP

PHP alias Pemberi Harapan Palsu. Jangan salah, tipe seperti ini ada dalam jual-beli online. Awalnya, dia begitu semangat bertanya, “Kakak-kakak, ini harganya berapa? Ada ukuran M nggak, Kak? Warnanya apa aja? Modelnya cuma ini aja, yah? Diskon dong, Kak!”

Setelah menjawab semua pertanyaannya, sampailah pada akhirnya proses minta rekening, “Kakak, nanti aku transfer tanggal 31 September yah.”

Menunggu hingga tanggal yang dijanjikan tak kunjung ada trasferan. Di-chat nggak dibales. Di telpon nggak diangkat. Pas lihat tangal, ternyata nggak ada tanggal 31 di bulan September. Nah, model beginian, cukup di doain aja, moga Tuhan ampuni dosa-dosanya.

Baca Juga:  Mari Sambut dengan Tawa Wacana Menkes Terawan Soal Wisata Kebugaran, Jamu, dan Kerokan

Dua: Pembeli yang Suka Kasih Kepastian

Dalam sebuah hubungan tentu ada orang yang memang serius menjalaninya, bukan untuk main-main semata. Sehingga hubungan itu jelas mau dibawa ke mana. Cocok yah, lanjut otw ke rumah. Nggak cocok yah, udahan. Emang hidup harusnya sesimpel itu, biar tidak terlalu banyak drama di hidup ini. Begitu pula dengan para pembeli online. Dari banyaknya orang yang  saya PC untuk menawarkan dagangan, ada yang langsung membalas tanpa basa-basi, “Maaf kakak, saya belom.” Dan ada juga yang membalas, “Saya pengin buku ini, ku transfer besok yah.”

Tidak seperti jenis PHP, jenis yang pasti tentu akan membayar atau paling tidak mereka membalas chat saat memang ada kendala ketika ingin mentransfer. Intinya, mereka memberi kepastian. Dan saya yakin, jenis seperti ini yang dibutuhkan para penjual, yang emang butuh kepastian. Sebab, kepastian itu berbanding lurus dengan mereka dapat tambahan jajan atau nggak. Paling nggak kan, kalau udah pasti, mereka bisa alokasikan keuntungan buat disisihkan jajan cilok di walkot saat weekend.

Tiga: Pembeli yang Sungguh Setia

Ini setia beneran yah, bukan yang setiap tikungan ada, loh. Nah, tipe setia ini biasanya adalah orang yang sudah percaya dan berlangganan. Biasanya, kalau nyari barang, dia lebih dulu menanyakan kepada penjual online andalannya, sebelum mencari ke tempat lain. Kalau udah dapat pembeli kayak gini, kudu dijaga bae-bae.

Ibaratnya, jika dalam sebuah hubungan pertemanan, jadikan dia ring satu kita. Orang yang kita prioritaskan. Sebab, untuk dapat sebuah kepercayaan itu nggak mudah loh, Gaes. Lihat aja tuh anggota dewan, udah dipercaya sama masyarakat untuk menunaikan janji-janji manisnya, eh malah ingkar, kan jadinya banyak orang yang nggak percaya lagi dengan mereka. Jadi, kalau nggak mau jualan online-mu turun pamor atau dapat omongan pedas netizen. Jualan yang bener-bener aja, jaga kepercayaan konsumen, karena sekali dirusak, dia nggak bakal setia lagi. Nggak mau kan uang jajannya berkurang~

Baca Juga:  Alasan Para Pengemis Online, Kadang Memang Nggak Masuk Akal!

Empat: Pembeli yang Memilih Kabur

Tipe kayak gini dalam hubungan percintaan itu yang paling sakit. Ketemu keluarga udah, gedung juga udah disewa, makanan udah di-booking, tanggal udah aman, baju udah fitting, undangan udah disebar. Eh, menuju hari-H dia nggak dateng-dateng. Nah ini namanya korban ditinggal nikah. Sakitnya itu mah jangan ditanya, sampe sekampung-kampung.

Begitu juga dengan penjual online, khususnya mereka yang menerapkan sistem bayar belakangan. Barang udah dipesan, dikirim ke tempat tujuan, eh pas barangnya nyampe, orangnya menghilang dari kosan. Ini juga sakitnya parah loh. Apalagi modalnya dari uang buat bayar kuliahan, niat nyari tambahan, malah tekor duluan. Sib… nasib..

Nah, jadi itu dia beberapa tipe-tipe pembeli online yang saya dan mungkin Anda kerap temui. Atau mungkin bahkan kita sendiri yang menjadi pelaku tipe pertama dan terakhir. Hahaha, nggak usah cengar-cengir gitu lah. Kita sama-sama tahu kok, manusia tempatnya salah dan khilaf. Asal jangan jadi kebiasaan aja, yak. Dan terkhusus untuk para pembeli online yang pernah atau biasa bertransaksi dengan saya, tenang kalian bukan tipe PHP kok. Namun, saya masukkan dalam tipe yang setia. Jangan lupa mampir yak, ada katalog baru loh. Xixixi~

BACA JUGA Teruntuk Para Owner Olshop yang Berakun Instagram Private: Kalian Mau Cari Pelanggan atau Follower? atau tulisan Suci Fitrah Syari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
417 kali dilihat

2

Komentar

Comments are closed.