Tinggal di Eropa Tidak Seindah Bayangan Orang Indonesia, tapi…

Artikel

Banyak orang Indonesia bercita-cita keluar negeri. Ada anak-anak yang sekadar ingin liburan ke Paris karena gambar menara Eiffel di kertas bindernya. Lalu murid SD yang ingin kuliah di Harvard karena temannya bilang Harvard itu universitas terbaik dunia. Kalau sudah agak gede biasanya lebih macam-macam keinginannya, contohnya ingin kuliah di Oxford biar kayak Maudy Ayunda, ke Jepang kayak Jerome Polin, ke Korea biar bisa ketemu EXO (ini keinginan saya dulu), atau liburan ke Eropa biar bisa foto-foto estetik.

Bapak dan ibu-ibu juga tidak mau kalah. Mereka juga ingin sekali berfoto minimal di depan patung Merlion atau menara Petronas bersama komunitas mereka.

Tapi, kenapa tidak banyak yang bisa mewujudkan impian mereka? Bahkan untuk hanya jalan-jalan? Soalnya mereka sudah mengetahui betapa susah dan ribetnya ke luar negeri.

Saya menerima banyak sekali pertanyaan dari orang karena saya lagi kuliah di Jerman dan sudah pernah ke beberapa negara. “Mbak, saya tertarik kuliah di Jerman, gimana ya caranya? harus bisa bahasa Inggris atau Jerman? Terus katanya harus sekolah lagi, ya? Nggak bisa apa langsung kuliah?”

Atau, “Mbak, kalau mau jalan-jalan ke Inggris, tapi TOEFL saya nggak sampe 500, bisa ya diterima visanya?”

Walaupun saya bosan sekali mendengar pertanyaan semacam itu, soalnya bisa ditemukan dengan mudah di internet kalau mau mencari, saya tetap menjawab sebisanya dan apa adanya. Jangan sampai saya memutus mimpi orang selagi positif niatnya.

Sayangnya kebanyakan dari mereka mundur dan mengurungkan niatnya untuk ke luar negeri setelah saya jawab pertanyaan mereka. Alasannya macam-macam, tapi pada intinya, karena ke luar negeri itu ribet.

Jangan mengira ribetnya saat persiapannya saja, seperti ujian, persiapan visa dan dokumen, atau semacamnya. Justru kalau kalian sampai di negara yang dituju, kehidupan ribet yang sebenarnya baru dimulai. Kalau kalian menganggap persiapan bahasa dan pengurusan visa itu sudah sangat memberatkan, lebih baik jangan dilanjutkan.

Baca Juga:  Seni Menitikkan Air Mata ala Milanisti

Bukannya saya mau bikin down, tapi itu kenyataannya gitu sih. Ini bukan masalah uang dan kepintaran, tapi ujian mental dan daya tahan.

Keribetan tinggal di Eropa #1 Bahasa

Klise sih, semua juga tahu, tapi bukan berarti semua bisa survive. Google Translate memang praktis, tapi apa yang lebih praktis dari menggunakan bahasa sendiri? Bahasa bukan hanya soal menerjemahkan kata. Cara penyampaian, pemilihan kata, gestur, dan topik sehari-hari juga berbeda-beda di setiap negara. Jangan harap dengan belajar bahasa di ekskul pas sekolah sudah cukup untuk beradaptasi di negara tersebut.

“Kan kita bisa pakai bahasa Inggris?”

Bisa banget. Apalagi di kota-kota besar yang terkenal banyak turis, banyak yang bisa bahasa Inggris dengan baik. Tapi, mereka banyak yang tidak mau berbahasa Inggris, terutama di negara Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Belanda. Mereka berpendapat kita sebagai pendatanglah yang harus menyesuaikan diri dengan bahasa mereka, bukan sebaliknya. Mereka juga lebih menghormati kita jika menggunakan bahasa lokal yang acakadul daripada bahasa Inggris yang buagus.

Keribetan tinggal di Eropa #2 Cuaca

Sering banget saya aku nemu turis salah kostum. Pakai mantel tebal saat musim semi atau pakai sweater tipis saat musim dingin. Pergantian musim harusnya mudah untuk diprediksi, tapi yang kita bahas ini bukan tentang musim, namun cuaca yang tiap jamnya bisa berubah tidak sesuai prediksi di berita.

Berangkat ke tujuan naik sepeda pakai jaket tipis, pulangnya meggigil karena tiba-tiba hujan es, kan susah ya. Apalagi di negara non-tropis, perubahan cuacanya sangat ekstrem.

Keribetan tinggal di Eropa #3 Budaya

Menurut saya ini yang paling susah dihadapi. Ini bukan tentang gaya berpakaian, seks bebas atau perdagangan ganja ya. Yang bermasalah adalah soal sensitivitas etika.

Misalnya, ada beberapa kata atau sikap yang menurut mereka itu sah-sah saja dikatakan atau diperlakukan ke orang lain, tapi bagi kita rasanya sangat tidak pantas atau bisa sangat menyakiti hati. Juga sebaliknya.

Baca Juga:  Panduan Menuju Puncak Sikunir Dieng bagi Mahasiswa Dompet Tipis

Ketika perbedaan budaya itu nggak disikapi dengan bijak, bisa salah paham dan bertengkar. Ini saya alami sendiri ketika sampai kabur dari rumah orang tua asuh saya di Jerman di tengah malam karena sudah terlalu capek menghadapi mereka. Awalnya saya mengira orang tua asuh saya jahat, eh ternyata cuma salah paham karena perbedaan budaya. Sesusah itu.

Keribetan tinggal di Eropa #4 Semuanya baru dan berbeda 

Ini bisa jadi menarik bagi sebagian orang. Tapi, buat sebagian lainnya, sesuatu yang baru dan beda seperti: tempat ibadah yang tidak lagi di mana-mana; nggak ada cilok dan seblak; nggak tahu di mana dan bagaimana cara mengurus visa dan berhadapan dengan petugas galak; hampir semua teman kuliah bisa memainkan setidaknya satu alat musik dan kalian tidak; hingga biaya apartemen per bulan mencapai 10 juta.

Tapi, walau banyak yang mundur, bukan berarti sedikit yang bertahan. Ada banyak sekali teman yang berhasil survive di negara orang, memutuskan untuk menetap, dan bahkan tidak mau pulang ke negara asalnya. Sisi positif yang didapat dari “ke luar negeri” memang lebih banyak dari sisi negatif dan sisi ribetnya, sampai-sampai gelar “keren” pun sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan apa yang kalian sudah lalui jika sudah berhasil survive di negara asing.

BACA JUGA 6 Pesan Absurd dari Mereka yang Penasaran Pengen Kuliah di Luar Negeri 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
27


Komentar

Comments are closed.