Tidak Merindukan Televisi karena Ada Vincent Desta Show

Featured

Gusti Aditya

Semua menyayangkan Net TV untuk menghentikan sementara program Tonight Show selama Ramadhan. Programnya pun diganti dengan Ini Ramadhan yang formulanya sebelas dua belas dengan Pesbukers atau program jejogedan milik Caesar di Trans TV dahulu. Dengan memadukan meme-meme overused selama kuis, acara ini hanya berpangku tangan kepada Andre dan Sule.

Hadirnya Sahila Hisyam yang dimaksud mengikuti formula kesuksesan Enzy Storia di Comedy Night Live dan Tonight Show pun dirasa kurang membantu. Hanya kuat di Nunung, Komeng dan Haji Bolot walau hal ini kurang mengangkat para konsumen Tonight Show untuk singgah di depan televisi (lagi).

Padahal, banyak yang menunggu aksi duo Vindes dan Andre-Sule untuk satu frame seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Segmen unggulan seperti adu gombal Raja Gombal dengan penonton dan bintang tamu pun bisa menjadi sarana kemekelen yang renyah. Sekarang, barangkali hanya Malam Malam NET sebagai magnetnya. Dengan Surya Insomnia, Dita dan Tora Sudiro sebagai unggulan konsumen Tonight Show.

“Dengan adanya perubahan ini, maka tidak ada lagi alasan untuk melihat televisi,” cuit salah satu pengguna Twitter. Memang, beberapa kali host mengatakan lihat di televisi, jangan di Youtube saja. Hal ini mengacu kepada penikmat Tonight Show yang kebanyakan bermuara di kanal Youtube-nya. Dibuktikan dengan beberapa kali menyentuh trending.

Dengan melihat antusias tinggi di jagad sosial media terutama Youtube, Vincent dan Desta pun membuat sebuah kanal Youtube yang dikhususkan untuk mereka. Dalam tajuk Vincent Desta Show, bersama dengan Hesti Purwadinata dan Enzy Storia. Konsepnya sama plek dengan Tonight Show. Ada kuis berupa give away, gimmick dari para host, games dan ngobrol bersama bintang tamu.

Yang disebut terakhir, paling menarik lantaran bintang tamu ini katanya “rela nggak dibayar” karena kawan-kawan dan bagian dari keluarga Tonight Show itu sendiri. Seperti Onadio Leonardo, Epe My Own Music dan Mukmin yang merupakan kawan Vincent satu kompleks. Anehnya, Mukmin malah menjadi idola baru para Sobat STROOONG (panggilan akrab penonton live stream kanal ini). Acara ini berlangsung seminggu empat kali pada jam sembilan malam, namun sering molor sampai belasan menit karena koneksi dan teknis lainnya.

Merujuk lagi pada apa yang Vincent katakan, “ya, namanya juga acara suka-suka, yang penting bisa mendekatkan kami dengan Sobat STROOONG.” Namun, dalam acaranya terlihat mereka sangat serius untuk menyajikan tontonan bagi penggemarnya. Jika Tonight Show menghadirkan tokoh-tokoh gimmick yang menggelitik, di kanal ini pun hadir tokoh-tokoh seperti Botuna dan Mpok Epah yang baru keluar dua minggu, namun menjadi idola Sobat STROOONG.

Entah bermaksud sarkas atau tidak, iklan-iklan yang dihadirkan dalam kanal ini begitu menggelitik dan seakan ingin menampar beberapa iklan yang sangat membosankan. Anehnya, iklan televisi yang tidak menampilkan produknya justru mempertontonkan hal yang menarik seperti prodak rokok. Yang paling membosankan? Tentunya prodak obat. Dalam Vincent Desta Show, semua iklan dibuat dengan ala gimmick mereka.

Menunggu acara live stream di kanal Youtube ini rasanya seperti menyatukan kembali kepingan puzzle kenangan menonton televisi sewaktu kecil. Bagaimana rindunya bergegas pulang dari SD untuk melihat Ceriwis jam satu siang. Atau beradu ngantuk dan delik-delikan bersama orangtua guna melihat acara Smackdown yang terlarang. Hingga menunggu minggu pagi di mana menonton anime belum ada stigma menggelitik dengan sebutan Wibu. Sama, menonton Vincent Desta Show rasanya seperti itu. Tentunya, dengan media yang mudah digapai, yakni ponsel.

Baca Juga:  Jangan Jadi Tukang Mahar dan Seserahan Kalau Kamu Masih Jomblo

Ya, bagaimana pun televisi adalah bagian dari kehidupan. Abad 20 adalah sebuah masa di mana kamera menjadi jawara, dan satu abad kemudian, urgensi kamera meningkat begitu pesat. Yakni kamera bisa menghadirkan idola-idola baru melalui kanal-kanal seperti Instagram, Twitter dan Youtube. Terlepas itu konten kreator cerdas macam Bryan Furran, atau konten kreator sampah macam Hasanjr11 dan Ferdian Paleka.

Dulu, cara terkenal seakan begitu susah. Mengikuti casting dan ujung-ujungnya memerankan peran tidak penting pun seakan kini bukan opsi utama untuk terkenal. Dahulu, sebuah band bisa dikenal harus melalui panggung layar kaca. Kini, jebolan ajang pencarian bakat bisa duduk manis di acara talk show bersama dengan influencer yang muncul dari sosial media. Terkenalnya sama, jumlah pengikutnya bisa jadi berbeda.

Kini menjadi terkenal seakan mudah. Tinggal mengikuti pola yang mana. Pola berusaha tentunya dengan menghadirkan konten di kanal Youtube secara berkualitas. Atau cara pekok dengan membuat setingan dengan konten kreator yang namanya “agak lebih baik” dan membuat penontonnya bilang, “apa, sih?” nah, jika kata itu sudah terucap, ribuan orang berbondong-bondong mencari tahu. Konsep ini mengadaptasi dari acara gosip yang kebanyakan berisi drama layar kaca.

Kembali lagi dalam bahasan Tonight Show. Acar ini seakan mengorbitkan nama-nama baru guna menjadi idola. Sebut saja Onadio Leonardo yang sempat tenggelam, kini bisa memiliki label komedian dan aktor karenanya. Home band yang dulunya hanya bermain musik ketika jaman Arie Untung, kini banyak mengambil peran bersama duo VinDes.

Tak ubahnya dalam kanal Youtube mereka, seorang tetangga Vincent yang tadi saya sebutkan pun berubah menjadi sosok yang menghibur ketika bersama mereka. Anehnya, sosok yang menurut mereka menghibur, bagi penontonnya pun juga merasa begitu (ini perasaan saya saja atau bagaimana?). Beberapa kali kolom komentar berharap Mukmin diajak live stream bersama mereka lagi.

Mengatakan ini adalah masa di mana televisi mati pun rasanya kurang tepat karena miliarder penguasa televisi makin hari makin gendut. Mereka melebarkan sayapnya ke kanal Youtube, membawa artis-artisnya yang juga tak mau kalah. Seperti apa yang dikhawatirkan VNGNC dalam WTF Indonesia, “Youtube kini isinya hanya selebriti, sosialita, yang acara-acaranya diisi oleh mereka.”

Lagi-lagi, sebuah seleksi di mana kita dihadapkan memilih “sampah” atau “bukan sampah”. Mengolah keduanya ini adalah hal yang sulit karena selera. Sebagai anak kandung budaya pop televisi, saya paham betul betapa kuatnya tombol unsubscribe dalam sebuah kanal Youtube. Layaknya sebuah remot, kita bebas memilih tayangan apap un yang kita mau.

Baca Juga:  Kata Deddy Corbuzier, Kuliah Itu Nggak Penting dan Bikin Milenial Mengalami ‘Postponing Reality’

Ada konten yang membahas berkebun yang durasinya dua jam. Ada pula orang ngobrol, kita tidak tahu siapa dia dan ngomongin apa, berjam-jam pula. Apakah ada yang mau menonton? Tentunya ada. Konten random macam Atta Halilintar dan sanak familinya saja ada, apa lagi dua konten yang terkonsep di atas. Selera menentukan arah dan tentunya sah-sah saja.

Yang berat adalah apakah ada nilai yang bisa dipetik setelah menonton konten-konten tersebut? Menonton orang bercocok tanam selama dua jam, tentu kita tahu gunanya apa. Orang ngobrol bikin podcast, kita bisa menerima apa yang menurut kita penting. Menonton anak kecil banting-banting ponsel mahal? Ya, tentu kan sendiri hal yang bisa dipetiknya di mana (atau malah tidak ada?).

Lantas, jika kini televisi mulai mengejar rating dan mengurangi kualitas muatan di dalam tiap acaranya, alasan apa yang bisa memperkuat para konsumennya untuk repot-repot menyalakan listrik dan menonton layar berukuran lebih besar ketimbang ponsel? Yang tersaji hanyalah acara gosip, sinetron yang melulu polanya begitu dan lawakan basi.

Sebenarnya tidak melulu Vincent Desta Show, ada pula beberapa artis yang mengkonsepkan kanal Youtube-nya dengan baik. Juga, ada konten kreator lain yang kini menjadi idola baru seperti MiawAug, Qorry Gore dan masih banyak lagi. Ini adalah sinyal tanda bahaya untuk televisi, jika televisi main-main dengan menampilkan acara ngawur, maka bersiaplah untuk kehilangan konsumennya.

Kecuali mangsa pasar adalah generasi Boomer yang beberapa masih doyan nonton sinetron. Tapi kini banyak yang beralih kepada layanan streaming legal macam Viu dan Netflix. Jangan salah, banyak Boomer yang kini lebih sudi menungu Drama Korea yang rilis dua kali seminggu ketimbang sinetron sehari sekali yang tidak ada tujuannya selain meraup rupiah dari iklan.

Kembali membahas Tonight Show, dilansir dari Kompas, Vice President PR and Corsec NET Mediatama, Dede Apriadi, mengatakan, “kalau sebut pasti setelah Ramadhan ada atau enggak, ya kami lihat evaluasi dulu. Karena hampir semua program itu kan dievaluasi setiap bulannya kan.”

Yang menjadi pertanyaan kini, bagaimana jika para penikmat duo VinDes dan HenZy kini lebih memilih Vincent Desta Show karena lebih intens dan menarik? Jika masalah bayaran, tentu acara di televisi lebih tinggi bagi mereka. Namun, tinggal tunggu waktunya semua itu menjadi berbalik. Di mana Youtube lebih prospek ketimbang televisi.

Sebagai penutup, mengutip dari salah satu kata-kata filsuf terkenal asal Jerman, “Youtube, youtube lebih dari TV. BOOM! (((kalau nggak ada orang-orang pekoknya)))”.

Sumber Gambar: YouTube TonightShowNet

BACA JUGA Komentator Sepak Bola Harusnya Coba Gimmick ala Host Tonight Show atau tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.

---
40


Komentar

Comments are closed.