Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Tidak Menyesal Pernah Menelantarkan Kuliah demi Aktif di Ormas Besar

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
6 Oktober 2025
A A
Tidak Menyesal Pernah Menelantarkan Kuliah demi Aktif di Ormas Besar Mojok.co

Tidak Menyesal Pernah Menelantarkan Kuliah demi Aktif di Ormas Besar (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada orang-orang yang menyelesaikan kuliahnya dengan cepat, penuh strategi, dan disiplin tinggi. Ada juga yang menyelesaikannya dengan cara berliku, penuh kisah, dan pertimbangan hidup yang tak sederhana. Abdul Wahab, kawan saya, termasuk kategori yang kedua.

Tak seperti mahasiswa kebanyakan yang lulus setelah 4 tahun kuliah, dia butuh waktu 14 semester atau 7 tahun. Bukan karena tidak mampu, bukan pula karena tidak suka dengan jurusan yang dia ambil. Justru sebaliknya.

Wahab mencintai fakultasnya. Fakultas Hukum di salah satu kampus swasta di Pekanbaru Riau adalah pilihan yang diambil dengan kesadaran penuh. Tidak ada unsur keterpaksaan, dalih yang biasa dipakai mahasiswa yang ogah-olahan kuliah dan lulusnya lama.

Akan tetapi, seperti biasa, hidup punya cara tersendiri membuat manusia berpaling hati. Dalam kasus teman saya ini, Organisasi Kemasyarakatan (ormas) yang membuatnya “berpaling” dari kuliah. Sejak gabung ormas, Wahab jadi larut dalam kegiatan berorganisasi. Akhirnya, dia jadi kehilangan fokus pada satu hal yang juga penting dalam hidupnya: kuliah.

“Waktu itu, saya benar-benar menikmati kegiatan organisasi,” cerita Wahab di suatu kesempatan. Dari caranya bertutur, saya yakin dia tidak sedang mencari pembenaran. Dia hanya sedang menyusun ulang cerita hidupnya, mengenang sesuatu yang dia tahu seharusnya bisa berjalan lebih baik.

Ormas besar yang mendatangkan banyak pengalaman

Kawan saya ini ikut ormas keagamaan yang cukup besar, kegiatannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebuah ormas keagamaan yang pergerakannya tersebar di banyak wilayah di Indonesia, bahkan hingga luar negeri. Alhasil, kegiatannya pun padat. Mulai dari rapat, kajian, kunjungan, koordinasi antarwilayah, hingga agenda pelatihan.

Sedikit banyak, saya bisa membayangkan situasi yang Wahab alami. Di usia dua puluhan awal, saat semangat memberi kontribusi sosial menyala terang, pasti ada rasa ingin bermanfaat. Apalagi, jika kaitannya dengan umat.

Maka, ketika Wahab bertemu dengan ormas yang bisa memenuhi hasrat tersebut, dia merasa seperti menemukan sebuah jalan.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

Terjerat dalam dua dunia

Benar saja. Di ormas tersebut, Wahab seperti menemukan arti peran, pengabdian, dan jati diri. Sayangnya, hal itu pula yang membuatnya seperti terjerat dalam dua dunia yang berbeda.

Di satu sisi, ada dunia kampus yang menuntut keteraturan. Mahasiswa harus berjalan beriringan dengan kalender akademik yang memburu. Mereka wajib hadir di kelas, mengerjakan tugas, mengikuti kuis, mengumpulkan laporan, dan memenuhi jumlah SKS agar bisa naik ke semester berikutnya. Semuanya sudah diatur dalam sistem. Mahasiswa tak punya banyak ruang untuk improvisasi, apalagi sekadar alasan sibuk berorganisasi.

Akan tetapi, di sisi lain, ada dunia ormas yang justru hidup dari dinamika dan spontanitas. Dunia dengan waktu yang lentur, tapi sarat komitmen. Dengan kata lain, semua harus dijalani dengan hati yang penuh. Sebab, setiap kegiatan adalah bentuk pengabdian.

Dua dunia tersebut terlalu sulit untuk bisa berjalan berdampingan dengan rapi. Ketika satu menuntut disiplin administratif, yang lain menuntut pengabdian emosional. Dan, Wahab, berada di tengah-tengahnya, berusaha menyeimbangkan keduanya, tapi akhirnya terpeleset juga.

Meski kuliahnya molor hingga 14 semester, kepada saya Wahab mengaku tidak pernah menyesali keputusannya tersebut. “Saya dapat banyak hal dari organisasi yang tidak diajarkan di bangku kuliah,” ujarnya mantap dan saya percaya itu. Nyatanya, sudah banyak contoh orang yang tumbuh bukan dari ruang kuliah, melainkan dari ruang-ruang sosial yang kaya akan interaksi, negosiasi, dan perbedaan.

Meski demikian, selalu ada harga yang harus dibayar di balik sebuah keputusan. Dedikasi Wahab di ormas berdampak langsung pada molornya masa kuliah. Artinya, dia harus membayar lebih mahal dibanding mereka yang lulus tepat waktu.

Selain dampak finansial, ada pula dampak emosional yang Wahab rasakan saat kuliahnya molor hingga 14 semester. Dalam tujuh tahun kuliah itu, Wahab menjadi saksi bagaimana kawan-kawannya satu per satu lulus, mulai bekerja, menikah, bahkan punya anak. Sedangkan dia? Masih berjuang di tahapan tanda tangan lembar yudisium. Tapi, lagi-lagi, Wahab tidak menyesali keputusannya.

Tidak pernah menyesal, tapi…

Orang-orang di sekitar Wahab bukannya tidak pernah mengingatkan. Orang tua dan kawan-kawannya sudah berkali-kali menasihatinya agar mengurangi aktivitas di ormas dan segera menyelesaikan kuliah. Sebuah tekanan klasik yang pasti pernah dialami siapa saja yang kuliahnya keteteran karena terlalu aktif berorganisasi.

“Tapi kalau waktu bisa diulang gimana? Masih mau memilih lebih aktif di organisasi?” Jujur pertanyaan itu meluncur begitu saja. Jawaban Wahab ternyata diluar dugaan.

“Kalau bisa mengulang waktu, saya maunya fokus kuliah saja. Karena kuliah itu amanah dari orang tua. Jangan sampai pengabdian ke masyarakat malah bikin kita abai pada tanggung jawab pribadi,” kata dia. Untuk beberapa saat, saya tertegun. Bagaimana mungkin seseorang yang di awal bilang tidak menyesal, bisa sekaligus ingin membuat pilihan lain andai waktu diulang? Bukankah itu sama saja dengan menyesal?

Akan tetapi, kemudian saya paham. Penyesalan tak selalu datang dalam bentuk pengakuan. Kadang, penyesalan juga bisa hadir sebagai kesadaran. Kesadaran tentang apa yang seharusnya bisa dijalani dengan lebih baik, tanpa menihilkan apa yang sudah diperjuangkan sebelumnya.

Dan, itulah yang sedang coba kawan aktivis ormas ini ingin sampaikan. Dia bukan menyesali masa lalunya, dia hanya belajar berdamai dengan konsekuensi dari pilihan yang pernah dibuat. Jadi, kalau ada dari pembaca sekalian sedang di persimpangan antara kuliah dan kegiatan lain, semoga perenungan kawan saya ini bisa jadi pertimbangan ya.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Penyesalan Mereka yang Kuliah 7 Tahun: Kehilangan Teman Seperjuangan, Karier Terhambat, hingga Merepotkan Orang Tua.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2025 oleh

Tags: Kuliahkuliah 7 tahunkuliah lamaMahasiswaorganisasi kemasyarakatanormasormas keagamaan
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Mahasiswa Universitas Terbuka Nggak KRS-an, Nggak Masalah. Tetap Bisa Kuliah dengan Tenang, kok

Mahasiswa Universitas Terbuka Nggak KRS-an, Nggak Masalah. Tetap Bisa Kuliah dengan Tenang, kok

6 Juli 2023
Kiat Mendapatkan Nilai A dengan Mengadopsi Gaya Belajar Anak-anak ‘Law School’ terminal mojok

Kiat Mendapatkan Nilai A dengan Mengadopsi Gaya Belajar Anak-anak ‘Law School’

12 Juni 2021
menyikapi dosen yang tak pernah praktik kerja berdebat dengan dosen

Dosen Ngewajibin Mahasiswa Beli Bukunya Itu Sebenernya Pantes Nggak sih?

18 Desember 2020
5 Kerja Part Time yang Cocok untuk Mahasiswa, Nggak Ganggu Jadwal Kuliah dan Cuan yang Lumayan Mojok.co

5 Kerja Part Time yang Cocok untuk Mahasiswa, Nggak Ganggu Jadwal Kuliah dan Cuan yang Lumayan

20 Mei 2024
bahas proker di warung kopi

Bahas Proker di Warung Kopi: Hasil Nihil, Ngantuk sih Iya

2 November 2021
dosen balas chat

4 Golongan Dosen Berdasarkan Cara Mereka Membalas Chat

23 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar Mojok.co

6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar

26 Januari 2026
5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata (Gil Ribeiro via Unsplash)

5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata

30 Januari 2026
Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

28 Januari 2026
Ayam Geprek Sejajar dengan Gudeg Jogja Menjadi Kuliner Khas (Wikimedia Commons)

Mengapresiasi Ayam Geprek Sebagai Kuliner Khas Sejajar dengan Gudeg Jogja

26 Januari 2026
Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri

Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri

30 Januari 2026
Cara Pilih Kursi Kereta Api Paling Enak, Jangan Asal supaya Nggak Menyesal Mojok.co

Cara Pilih Kursi Kereta Api Paling Nyaman, Jangan Asal supaya Nggak Menyesal

29 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.