Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

The Lighthouse: Adu Testosteron hingga Metafora Prometheus-Proteus

Ananda Pramesti R. C. oleh Ananda Pramesti R. C.
30 Agustus 2020
A A
resensi review film the lighthouse film horor psikologis sinopsis mojok.co

resensi review film the lighthouse film horor psikologis sinopsis mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Setelah sukses debut dengan film The Witch pada 2015, Robert Egger kembali menunjukkan karyanya lewat The Lighthouse dengan menggandeng Robert Pattinson dan Willem Dafoe sebagai pemain. Film ini bergenre horor psikologis yang tidak biasa dan membingungkan. Sepanjang pemutaran film, kita akan dibuat bingung dengan siapa yang benar dan siapa yang salah. Untuk mengetahui nama karakternya saja, kita harus menunggu sampai menit ke-31 dan 46. Sampai di akhir film pun, kita masih dibuat melongo dengan ending yang rancu.

(Tulisan ini mengandung spoiler.)

ADVERTISEMENT

Kisah dua pria penjaga mencusuar terdampar di pulau terpencil

The Lighthouse Berlatar tahun 1890-an, Thomas Wake, penjaga mercusuar senior yang egois, suka memerintah, dan percaya takhayul mendapat rekan baru seorang pemuda pendiam dan kaku bernama Ephraim Winslow untuk menjaga mercusuar selama empat minggu. Dengan watak mereka yang demikian, hidup hanya berdua tanpa hiburan pengusir bosan, tentu hanya adu testosteronlah yang bisa dibayangkan. Adu kekuatan, saling menunjukkan siapa yang paling berhak memerintah, dan mempertahankan harga diri masing-masing sebagai pria.

Bermodal usia tua dan jam terbang yang (katanya) sudah tinggi, Wake memperlakukan aturan kerja yang timpang untuk Winslow. Winslow ia beri pekerjaan berat di siang hari, mulai dari mengangkut batu, mengangkat tong minyak untuk lampu mercusuar, mencari makan, sampai membersihkan rumah. Tidak hanya memerintah dengan tidak adil, Wake juga sering melontarkan kata kasar ketika pekerjaan Winslow kurang beres. Wake sendiri hanya menjaga lampu mercusuar di malam hari dan melarang keras Winslow untuk naik ke puncak menara. Hal itu membuat Winslow penasaran berat dan mulai berhalusinasi, menerka-nerka apa yang ada di atas sana.

Hingga di hari terakhir mereka berjaga, ternyata cuaca buruk dan badai menghantam pulai terpencil itu. Tidak ada kapal atau perahu yang menjemput mereka. Winslow yang sudah tidak tahan pun semakin gila begitu tahu ia terdampar bersama atasan otoriter tanpa tahu kapan bisa pulang.

Dua karakter utama The Lighthouse bisa membuat penonton ikut sinting

Ketika menonton sebuah film, setidaknya kita akan memihak kepada salah satu karakter, terutama karakter protagonis. Namun, dua tokoh ini memiliki karakter yang buram dan sama-sama tidak bisa dipercaya. Winslow yang pendiam dan kelihatan lebih waras daripada Wake, ternyata tidak bernama Winslow, tapi Thomas Howard. Wake yang gemar kentut sembarangan begitu percaya takhayul soal manusia duyung dan kutukan membunuh burung camar karena di dalam raga burung camar ada jiwa-jiwa pelaut yang mati. Mungkin saja Wake telah membunuh rekan kerja sebelumnya dan menjadikan Winslow santapan berikutnya.

Di malam terakhir mereka berjaga, mereka meminum banyak alkohol yang membuat mereka mabuk berat dan berbicara ngelantur. Setiap mereka mabuk, kita akan dibuat bingung dengan gelagat mereka yang tiba-tiba akrab bernyanyi bersama, lalu mencaci satu sama lain, kemudian saling berpelukan, tidak lama kemudian mereka saling memukul lagi.

Ketika mereka siap untuk pulang, ternyata tidak ada kapal atau perahu yang menjemput. Thomas Howard percaya bahwa mereka terlambat bangun karena mabuk. Namun, Wake mengatakan mereka telah tidur berminggu-minggu. Ketika Thomas Howard ingin kabur dengan kapal kecil di pulau tersebut, Wake mengejarnya dengan kapak dan beralasan tidak ingin ditinggal sendirian di mercusuar. Namun, Wake mengatakan Thomas Howard-lah yang mengejarnya dengan kapak. Semua seakan menutupi kebohongan masing-masing dengan kebohongan-kebohongan baru dan saling memutar fakta.

Baca Juga:

Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera

Pengalaman Nonton Film di Bioskop Bandara Sepinggan Balikpapan, Alternatif Menunggu Penerbangan Tanpa Menguras Dompet 

Ditambah dengan halusinasi Thomas Howard yang tiba-tiba melihat manusia duyung yang sangat cantik, kemudian berubah melihat banyak tentakel gurita yang mencekiknya, sosok Winslow asli yang mati saat bekerja, dan penemuan kepala manusia bermata satu di perangkap kepiting yang menurut Thomas Howard, itu adalah potongan kepala rekan lama Wake. Sampai akhir cerita pun kita bingung siapa di antara mereka yang gila. Atau mereka semua memang gila sejak awal dan membuat kita ikut-ikutan gila? Siapa tahu.

Film horor yang dikemas berbeda dan lebih membuat sesak.

YouTuber Filo Sebastian pernah bilang, manusia lebih menyeramkan daripada hantu karena memiliki kesempurnaan fisik yang bisa kapan saja mengancam dan melukai orang lain tanpa aba-aba. Film ini menekankan bagaimana rasa kesepian dan pertaruhan ego sesama laki-laki bisa mempengaruhi kejiwaan masing-masing dan memicu rasa ingin membunuh antara keduanya. Jika kalian berharap ada jumpscare kuntilanak atau hantu tanpa kepala, film ini akan mengecewakan kalian.

Film ini memiliki standar horornya sendiri dengan warna hitam putih dan rasio gambar yang membuat layar tiba-tiba hanya sekubus kecil di tengah, membuat kita sebagai penonton dilingkupi rasa sempit yang sesak. Didukung dengan soundtrack yang mengandalkan suara-suara nyata, seperti suara mesin mercusuar, deburan ombak, teriakan burung camar, dan kentut Wake, menambah kesan horor yang berbeda dari yang lain. Kita dibuat curiga dan waswas dengan setiap suara yang ada.

The Lighthouse memakai metafora mitologi Yunani Prometheus dan Proteus

Saya, dan mungkin semua yang menonton pertama kali­, akan dibuat bingung dengan jalan cerita, ending, dan pesan yang akan disampaikan sutradara. Setelah membaca banyak sumber, saya menemukan bahwa film ini merupakan metafora dari mitologi Yunani Prometheus dan Proteus. Di sini, Proteus (dilambangkan oleh Thomas Wake) yang merupakan penguasa lautan yang sangat cerdas. Namun, ia sangat pelit ilmu. Ini terbukti dengan sikap Thomas Wake yang tidak memberikan kesempatan Winslow/Howard untuk naik ke lampu mercusuar.

Di sisi lain, Prometheus (dilambangkan oleh Winslow/Howard) dikenal sebagai pemberi. Ia terkenal karena membuat Zeus marah akibat mencuri api dan menyebarkan kecerdasan kepada umat manusia. Di film ini, Winslow/Howard begitu berambisi untuk “mencuri” lampu mercusuar yang merupakan simbol dari api yang dicuri Prometheus.

Namun, ada satu teori yang menurut saya juga masuk akal. Lampu mercusuar diibaratkan sebagai “surga” tempat kenikmatan dan cahaya hanya didapat orang tertentu. Di sini, Wake diibaratkan sebagai “penjaga surga” yang terus memaksa Winslow/Howard untuk kerja keras dan melarang naik ke lampu mercusuar sebagai penebusan dosa di dunia. Wake juga identik dengan buku catatan kerjanya yang bisa saja merupakan simbol “buku catatan amal baik dan buruk” Winslow/Howard.

Namun, Winslow/Howard malah terhasut godaan duniawi dan melakukan maksiat dengan membayangkan bersetubuh dengan putri duyung. Di akhir cerita juga ditunjukkan bagaimana Winslow/Howard yang berhasil naik ke atas lampu dengan cara membunuh Wake. Bukannya mendapat kenikmatan, ia malah terlempar jatuh ke bawah dan mayatnya disantap oleh burung camar.

Secara keseluruhan, film ini wajib ditonton oleh penggemar film horor psikologis. Kalian akan dituntut untuk berpikir jernih, menebak siapa yang salah, dan jangan sampai ikut-ikutan gila seperti mereka.

BACA JUGA Rekomendasi Film Adaptasi Novel Anti Gagal. Biasa Mengecewakan, yang Ini Lumayan 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Agustus 2020 oleh

Tags: Filmresensithe lighthouse
Ananda Pramesti R. C.

Ananda Pramesti R. C.

Mahasiswa sastra yang ingin terus mengasah kemampuan menulis dan terbiasa menyampaikan pendapat dan uneg-uneg melalui tulisan.

ArtikelTerkait

film warkop infografik terminal mojok.co

Film Warkop dalam Infografik: 10 Data yang Bisa Anda Temukan jika Menonton Semuanya

11 Februari 2021
5 Dokumenter tentang Penipuan di Netflix yang Sayang Dilewatkan Terminal Mojok

5 Dokumenter tentang Penipuan di Netflix yang Sayang untuk Dilewatkan

26 Maret 2022
Menonton Film Adaptasi Novel yang Pernah Dibaca di Mana Menariknya? terminal mojok.co

Rating Sebuah Film Nggak Perlu Dipercaya Sampai Kita Nonton Filmnya Sendiri

12 Oktober 2020
Sumber gambar Nussa Official Instagram

5 Kesamaan yang Dimiliki Film Nussa dan Serial Upin & Ipin

1 November 2021
Pertemanan kayak di Film Arisan! Itu Beneran Ada Nggak, sih? terminal mojok.co

Pertemanan kayak di Film Arisan! Itu Beneran Ada Nggak, sih?

4 Oktober 2021
Dari Joko Anwar Hingga Timo Tjahjanto, Netflix Gaet Sineas Lokal untuk ‘Waktu Netflix Indonesia’ Terminal Mojok

Dari Joko Anwar Hingga Timo Tjahjanto, Netflix Gaet Sineas Lokal untuk ‘Waktu Netflix Indonesia’

4 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

Setelah Membelah Sleman-Bantul dan Melawan Kemacetan Jogja, Saya Nyatakan Yamaha Aerox Alpha Motor Terbaik di Masa Kini

17 Juli 2026
Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo? (Wikimedia Commons)

Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo?

21 Juli 2026
Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

21 Juli 2026
Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer Mojok.co

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer

19 Juli 2026
Pengalaman mencicipi nasi goreng kuah Bang Tommy: kuliner Kediri yang aneh, tapi enak Mojok.co

Pengalaman mencicipi nasi goreng kuah Bang Tommy: kuliner Kediri yang aneh, tapi enak

17 Juli 2026
Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera Mojok.co

Pengakuan orang Semarang, lidah Jawa saya menyerah pada kuliner Jakarta yang nggak bikin selera

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.