The Batman: Kembalinya sang Kelelawar pada Kegelapan

Artikel

Muhamad Iqbal Haqiqi

Trailer film The Batman yang baru keluar membuat banyak orang girang. Tak lama lagi, kita akan disuguhi performa Robert Pattinson sebagai Bruce Wayne yang baru. Tak hanya pemeran baru, kita pun disuguhi Batmobile yang baru.

Jika kita mendengar kata “Batman”, yang terlintas dalam pikiran kita adalah sosok pahlawan penuh kharisma. Cerdas, gelap, dan brutal adalah hal yang tak bisa lepas dari alter ego Bruce Wayne tersebut. Meski hanya manusia biasa, namun Bruce bisa sejajar dengan superhero di Justice League. Bahkan pada titik tertentu, Bruce lah yang menjadi harapan bagi pahlawan lain.

Batman adalah super hero terbitan DC Comics ciptaan Bob Kean dan Bill Finger. Batman adalah tokoh yang paling banyak muncul dalam issues yang diterbitkan DC Comics. Wajar saja jika The Dark Knight menjadi tokoh yang paling diidolai dan dibuat filmnya.

Kehadiran Batman menjaga kita untuk tetap menapak tanah. Sebagai manusia biasa, Bruce memaksimalkan kekayaan dan otaknya untuk menumpas kejahatan. Tak terlahir dengan kekuatan super macam Kal-El tidak membuatnya gentar.

Film-film Batman dibuat tidak begitu berjarak dengan manusia pada umumnya. Kemiskinan, tingkat kejahatan, dan korupsi sering menjadi tema yang diangkat dalam film Batman. Singkatnya, kita merasakan konflik batin yang dirasakan Bruce Wayne. Kecuali bagian dia beli hotel biar bisa jeguran di kolamnya, sih.

Semua fenomena konflik sosial itu kemudian dibungkus dengan suasana Kota Gotham yang begitu gelap. Karakter villain yang dihadapi begitu kompleks, sehingga menguji mental dan fisik Bruce Wayne. Hal tersebut tentu menambah kesan intimidatif dalam setiap ceritanya.

Dari segi filmnya, Batman sendiri mengalami beberapa pasang surut. Beberapa filmnya banyak menuai kritik, ada yang mendapat banyak pujian. Puncak kesuksesan besar diperoleh Batman pada trilogi Dark Knight yang diperankan oleh Cristian Bale. Karya besutan Cristopher Nolan itu dirilis masing-masing pada tahun 2005 (Batman Begins), 2008 (The Dark Knight), dan terakhir 2012 (The Dark Knight Rises).

Baca Juga:  Bukan Joker: Seribu Kebaikan Dilupakan Hanya Karena Satu Keburukan

Trilogi tersebut berhasil mendapat pujian dari kritikus film, rating yang diperoleh dari IMDB untuk ketiga film tersebut pun di atas angka 8. The Dark Knight sendiri malah memperoleh rating lebih dari angka 9. Trilogi The Dark Knight besutan Cristopher Nolan berhasil menciptakan standar baru dalam film superhero.

Namun kesuksesan tersebut runtuh. Ibarat diterjang banjir bandang, film Batman vs Superman: Dawn Of Justice (2016) membuat Batman sendiri basah kuyup dan tenggelam oleh banjir kritikan dari kritikus dan cibiran dari para penonton yang kecewa. Ben Affleck yang berperan sebagai Batman bahkan harus menerima hujatan dari sebelum film tersebut tayang. Kegagalannya memerankan tokoh Daredevil menjadi penyebab atas kritikan yang dilontarkan kepadanya. Banyak yang merasa ragu Ben Affleck mampu mengahadirkan sosok Batman yang begitu kelam.

Meski keraguan para penggemar mampu dijawab oleh Ben Affleck dengan perannya yang dianggap mendekati Batman versi komik, tapi hal tersebut berbanding terbalik dengan cerita film tersebut secara keseluruhan.  Banyak yang menganggap alur cerita film tersebut membingungkan. Zack Snyder dianggap gagal menghadirkan konflik antara dua hero tersebut. Motivasi konflik kedua superhero tersebut terlihat begitu dangkal.

Meski mampu menembus daftar box office, rating film tersebut anjlok begitu dalam. Score di Rotten hanya 27 persen sedangkan di IMDB hanya di angka 6 untuk sebuah film yang menelan biaya 200 juta US Dollar.

Keterpurukan sosok Batman kembali berlanjut bahkan semakin parah di film Justice League. Romantisasi berlebihan atas kematian Superman dalam film ini pun mengaburkan aspek substansial. Kedangkalan eksplorasi terhadap setiap latar belakang superhero pun sangat dirasakan.

Karakter Batman dalam film ini sangat memalukan, tak berdaya, dan sangat bergantung pada kehadiran super hero lain, terutama Superman. Bruce Wayne dalam film ini terkesan seperti Batman renta yang hanya bisa berlindung di keteknya Wonder Woman. Hal tersebut diperparah oleh parade CGI yang sangat over dosis. Dua film tersebut sangat memudarkan unsur gelap dan misteri yang melekat pada Batman.

Baca Juga:  Joker Kali Ini Humanis dan Kita Banget

Namun kita bisa berharap kepada The Batman. Jika melihat teaser trailernya, saya merasakan Batman telah kembali kepada fitrahnya. Rilisan teaser trailer The Batman seperti menjadi ajang pembuktian bahwa DC comics dan Warner Bros sadar bahwa mereka telah membiarkan Batman bermain terlalu jauh dari habitat aslinya.

Dalam teaser trailernya, The Batman kembali menekankan aspek gelap dan kental dengan unsur misteri. Bisa dilihat dari lokasi Batcave yang berada di dekat kuburan, membuat saya merasa bahwa kesan gelap adalah fokus utama film ini.

Ada dua villain yang akan muncul dalam film ini. The Riddler akan memberi kesan misteri ala-ala film detektif dengan “riddle” yang diberikan Kemudian ada Pinguin yang merupakan musuh Batman yang menjadi mafia di Gotham yang memiliki kekuasaan di dunia bawah. Pinguin tentunya akan menambah kesan mafia dalam film Batman kali ini.

Dalam teaser trailernya, dua villain ini terkesan membuat Batman mengalami tekanan psikologis mendalam dan membuat Batman terlihat frustasi sehingga terlihat begitu brutal, meskipun pada kisah-kisah sebelumnya Batman memang terkesan brutal.

Dan yang lebih penting, Robert Pattinson yang memerankan Bruce Wayne akan membuktikan apakah dia hanya layak menjadi vampir atau mampu mengemban amanah lebih sebagai superhero yang terkenal dengan sisi cool, misterius, dan intelegensi yang tinggi.

Teaser trailer The Batman memberi kita sedikit harapan blunder “Batfleck” tidak akan terulang. Sebagai pelindung Gotham, fitrah Batman memang ada di balik bayangan kota, bukan lampu terang CGI warna-warni.

BACA JUGA Cara Anak Pesantren Ngelawan Setan yang Bisa Niruin Baca Alquran atau tulisan Muhamad Fauzi Zakaria lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
8


Komentar

Comments are closed.