Seperti yang kita tahu, Kota Jogja punya 14 kecamatan atau kemantren. Di antara 14 kecamatan tersebut ada yang dilabeli sebagai kecamatan yang overpower seperti Umbulharjo dan Gondokusuman dengan berbagai fasilitas dan landmark. Kemudian ada juga kecamatan yang Jogja banget seperti Kecamatan Kraton dan Pakualaman.
Nggak berhenti sampai di situ, ada juga beberapa kecamatan yang underrated. Kecamatan-kecamatan ini bukan tujuan utama wisata di Jogja, tapi menyimpan potensi dan cerita yang nggak kalah menarik. Salah satunya, Kecamatan Tegalrejo. Tegalrejo mungkin kalah dari Kecamatan Umbulharjo dan Gondokusuman yang overpower, tapi Tegalrejo sarat akan sejarah dan kearifan.
Buat yang belum tahu, Kecamatan Tegalrejo terletak di sebelah barat laut Kota Jogja. Bertetangga langsung sama Kecamatan Mlati Sleman di utara, Kecamatan Kasihan Bantul di barat, Kecamatan Wirobrajan di selatan, dan Kecamatan Jetis dan Gedongtengen di timur. Luas wilayahnya hanya kalah luas dari Kecamatan Umbulharjo dan Gondokusuman.
Meski letaknya di pinggir kota, Kecamatan Tegalrejo tidak kemudian bisa begitu disisihkan. Walau di pinggir kota, Tegalrejo dekat dengan titik-titik strategis, hanya berjarak 400 meter dari Tugu Jogja dan 1 km dari Jalan Malioboro. Jadi, walau kecamatan “pinggiran” kawasan ini masih terasa pusat kotanya.
Tegalrejo yang diam-diam punya banyak nilai
Saya akui, Tegalrejo nggak terlalu turistik seperti Kotagede dan tidak overpower seperti Gondokusuman. Namun, Tegalrejo sangat terasa vibes asli Jogja. Gang-gangnya ramai sama rutinitas khas Jogja. Pagi-pagi sudah ramai ibu-ibu ke pasar, ada tukang jamu gendong, tukang becak yang mangkal di ujung gang, dan guyubnya masih terasa. Rasanya malah lebih “rumah” dibanding yang lain.
Letaknya juga super strategis. Ada Jalan Magelang dan Jalan Godean yang menjadi pintu gerbang Kota Jogja dari utara dan barat. Mau ke mal atau bioskop, dekat sama JCM. Mau ke tempat bermain, dekat sama SKE City Park. Bepergian pun tidak repot karena dekat dengan Stasiun Tugu juga dekat. Mau ke Sleman, bandara, dan Wates juga gampang. UMKM-nya juga hidup. Banyak wisata kuliner, coffee shop, dan kosan murah.
Kalau Gondokusuman dan Umbulharjo itu panggung, Tegalrejo ibarat dapurnya. Setiap orang Jogja yang tinggal di situ beneran hidup dan makan. Tegalrejo itu bisa dibilang nggak teriak-teriak pamer dengan keglamorannya tapi kalau sudah tinggal pasti betah dan kerasan.
Salah satu hal yang tidak bisa lepas dari Tegalrejo adalah Pangeran Diponegoro. Beliau dibesarkan oleh nenek buyutnya di daerah ini yang kini jadi kompleks Museum Diponegoro. Selain itu, di Tegalrejo juga juga ada Jalan Magelang yang dulu jadi sengketa dengan Belanda dan jadi salah satu casus belli adanya Perang Jawa, keduanya ada di Kecamatan Tegalrejo.
Area persawahan yang terkikis
Dalam sejarahnya Tegalrejo merupakan wilayah persawahan luas di Kota Jogja bahkan dari zaman Pangeran Diponegoro. Di peta Kota Jogja pada 1925 terlihat kalau daerah Tegalrejo punya sawah yang luas. Nggak heran karena wilayah ini dilalui oleh Kali Winongo dan punya tanah yang subur. Bahkan, persawahan di Tegalrejo jadi salah satu penyuplai beras ke Kraton Jogja.
Akan tetapi, kini seiring berjalannya waktu dan pembangunan Kota Jogja yang kian masif, praktis lahan sawah tersebut terus berkurang dan bersalin rupa. Kini hanya menyisakan sedikit di beberapa titik yang juga terus terancam berganti fungsi.
Salah satunya, sepetak sawah di Kelurahan Karangwaru, Tegalrejo, dekat SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Nasibnya di ujung tanduk. Berdampingan dengan perumahan yang berdiri megah dan pembangunan kota yang cepat. Kemarin saya lewat, lahan tersebut sudah nggak jadi sawah lagi dan ditumbuhi semak belukar. Di sisi-sisinya sudah dipasangi seng yang berarti sebentar lagi akan dibuat bangunan.
Kini sawah di Kecamatan Tegalrejo hanya tersisa Kelurahan Bener. Tepatnya barat SMA Negeri 2 Yogyakarta dan di pinggir Jalan HOS Cokroaminoto utara rel kereta api Itu pun nggak seberapa luasnya. Praktis hanya tinggal itu saja sawah di Tegalrejo, di tengah Kota Jogja. Mungkin nasibnya juga cepat atau lambat akan berubah fungsi.
Itulah Kecamatan Tegalrejo Jogja yang nggak bergelimang landmark keren, tapi tetap terasa geliatnya. Tipe kecamatan yang kamu baru ngeh bagusnya pas nyasar ke sana. Nggak glamor, tapi nagih. Ditambah dengan sawah yang masih tersisa, Tegalrejo punya vibes yang Jogja banget seperti yang kita kenal.
Penulis: Rizqian Syah Ultsani
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Banyudono, Kecamatan Pinggiran Boyolali yang Paling Sempurna untuk Menikmati Hidup
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














