Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Tanpa Kill the DJ, Jogja Jadi Nggak Istimewa-istimewa Banget

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
2 Maret 2023
A A
Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi? kill the DJ

Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi? (Bangoland via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Siapa sangka, salah lagu satu lagu hip hop Jawa bisa menguasai tangga lagu Spotify. Apalagi kalau bukan “Cintamu Sepahit Topi Miring” karya Jogja Hip Hop Foundation (JHF). Tentu saat membahas JHF akan kurang tanpa menyebut Kill the DJ. Sosok yang menjadi simbol keistimewaan Jogja. Sosok yang sedang jadi pembahasan banyak netizen yang bisanya hanya julid itu. Hih.

Bukan berlebihan, Kill the DJ dan keistimewaan Jogja ibarat dwi tunggal. Bersama JHF, Kill the DJ menjadi patih penjaga keistimewaan Jogja. Menjadi simbol yang akan membuat Jogja selalu romantis dan istimewa.

Marzuki Mohamad, sang Kill the DJ, memang luar biasa. Tanpa melupakan peran 4 personel JHF lain, Kill the DJ memang istimewa. Dia menjaga keistimewaan, pada saat orang-orang ragu dengan hal itu. Dengan lagu “Jogja Istimewa,” Kill the DJ membakar semangat warga Jogja agar tetap menjaga keistimewaan. Sangat berkobar, sampai siap untuk referendum.

Pada akhirnya Jogja tetap berstatus daerah istimewa. Dan “Jogja Istimewa” menjadi semacam anthem bagi warga Jogja. Meskipun banyak pihak terlibat, tapi Kill the DJ punya pengaruh besar. Maklum, karena Kill the DJ memang seperti Jogja: ISTIMEWA! Dan ketika keistimewaan kini dipertanyakan, sosok Kill the DJ tetap dipuja sebagai patih penjaga status tersebut.

Magis Jogja Istimewa

Lagu “Jogja Istimewa” adalah perisai penjaga kritik pada keistimewaan. Membuat para wisatawan yang merebut ruang hidup terus mengingat Jogja. Dan membuat warga Jogja tetap punya sedikit alasan untuk menjaga keistimewaan. Seperti mantra ketika dikumandangkan, orang Jogja kembali merasakan semangat yang sama ketika isu referendum. Meskipun hidupnya susah dan terjebak kesenjangan sosial yang lebih parah dari rerata nasional.

Seperti lirik lagu itu, Jogja memang istimewa karena orang-orangnya. Ketika warga Jogja masih percaya isi lagu tersebut, Jogja akan istimewa. Tanpa lagu tersebut, mungkin orang Jogja lupa dengan status dirinya. Jogja istimewa hanya menjadi status hitam di atas putih tanpa nyawa. Dengan lagu “Jogja Istimewa,” warga Jogja punya sedikit tenaga untuk menghantam suara penghina daerahnya. Masih punya sedikit nafas untuk tanya “KTP mana boss?! Kalau tidak suka, keluar dari Jogja moass!”

Kill the DJ juga tidak sekadar memuji keistimewaan. Kembali bersama JHF, Kill the DJ merilis “Jogja Ora Didol”, lagu yang membakar semangat isu yang diangkat oleh Mas Dodok. Membuat beberapa orang Jogja mulai melek isu agraria dan gentrifikasi yang mengancam daerahnya. Dengan lirik yang teduh dan menjadi sentuhan lembut di telinga penguasa.

Kill the DJ adalah kunci

Tapi seperti Jogja, tentu romantisnya “Jogja Istimewa” yang tetap meraja. Meskipun hantaman isu miring menerpa, Jogja Istimewa yang juara. Tentu tanpa karya beliau ini, orang Jogja akan terlalu lama tenggelam dalam kritik dan perlawanan memperjuangkan ruang hidup. Sampai lupa kalau Jogja itu istimewa meskipun semua makin susah.

Baca Juga:

Jogja Itu Emang Romantis, tapi buat Pendatang dan Turis Aja

Jogja Istimewa Kini Hanyalah Ilusi untuk Mempertahankan Citra Romantis yang Sudah (Kelewat) Usang

Bahkan beliau, bersama JHF, bisa tampil di dalam Kraton. Diiringi oleh Royal Orchestra, menembangkan lagu di pusat monarki Jogja. Hebat betul.

Jangan salah, itu impian lho. Musisi itu, dimungkiri atau nggak, butuh pengakuan. Ya dari fans, ya dari industri, dan kalau bisa, ya dari penguasa.

Siapa yang tak mau tampil di depan orang paling penting di Yogyakarta? Plus, diiringi Royal Orchestra lagi. Vibesnya benar-benar mewah. Bayangkan “Jogja Ora Didol” diiringi Royal Orchestra.

Saya jadi membayangkan Sex Pistols manggung di depan keluarga Kerajaan Inggris, membawakan “God Save The Queen”, diiringi orkestra. Sid Vicious yang nggak bisa main bass itu pasti malu betul dibuatnya.

Menjaga keistimewaan dari jauh

Tapi tidak hanya sisi musisi dan JHF yang istimewa. Sosok di balik Kill the DJ juga menjadi gambaran orang Jogja yang istimewa. Terus menjaga martabat Jogja dari jauh, alias dari Klaten. Sebagaimana orang Jogja yang terus membela keistimewaan dari jauh, karena Jogja memang “ditinggal ngangeni, ditunggoni ra sugih-sugih.”

Dan seperti mereka warga luar Jogja yang terus memuja romantisnya daerah istimewa ini. Dari jauh melawan suara kontra istimewa warga lokal melalui karya dan opini. Kalau kata orang-orang nih, blz dengan karya.

Kini bayangkan Jogja tanpa Kill the DJ, tanpa JHF, tanpa “Jogja Istimewa.” Di mana romantisnya? Bagaimana orang mengenal keistimewaan Jogja?

Tanpa tri tunggal patih keistimewaan, Jogja hanya akan jadi daerah wisata yang gitu-gitu saja. Tidak ada bahan bakar membela keistimewaan dari suara sumbang buruh, pedagang, tukang becak, pelajar, seniman, pengantin muda, sampai manula. Tanpa blio dan karyanya, Jogja akan sepahit topi miring.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Maret 2023 oleh

Tags: isu keistimewaanjogja istimewakill the djroyal orchestra
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi? kill the DJ

Jogja Istimewa Itu Benar, tapi Nggak Bener-bener Amat

5 Juli 2022
Jogja (Sudah Tidak) Istimewa, Gunungkidul (Tetap) Merana. (Unsplash.com)

Jogja (Sudah Tidak) Istimewa, Gunungkidul (Tetap) Merana

24 Juli 2022

Pasar Malam Sekaten di Alun-alun Dilarang, tapi Dibuka di Mal? Jogja Memang Istimewa!

15 Oktober 2021
Surat Terbuka untuk Pembenci Perantau di Jogja: Hanya Dhemit yang “Pribumi Jogja”, Kalian Bukan! konten kreator jogja

Jogja Istimewa Kini Hanyalah Ilusi untuk Mempertahankan Citra Romantis yang Sudah (Kelewat) Usang

5 Juni 2025
Ramainya Jogja Sudah Nggak Masuk Akal, bahkan bagi Orang Luar Kota Sekalipun kota jogja

Jogja Itu Emang Romantis, tapi buat Pendatang dan Turis Aja

5 Agustus 2025
Sudah Saatnya Warga Jogja Menggunakan Fitur Klakson Saat Berkendara, Sebab Jalanan Jogja Sudah Mulai Berbahaya jogja istimewa purwokerto

20 Alasan Kenapa Jogja Itu Istimewa dan Akan Tetap Istimewa sekalipun Masalah yang Menimpa Begitu Nyata

6 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Suzuki Burgman 150 Terbaru yang Rilis di Kolombia Jadi Bukti Bahwa Suzuki Makin Persetan dengan Penjualan dan Tampilan. Desainnya Jelek Banget!

5 Juni 2026
Derita Di Balik Keindahan Brown Canyon Semarang: Kisah Warga yang Harus Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang Mojok.co

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Brown Canyon Semarang, Warga (Terpaksa) Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang

4 Juni 2026
5 Barang Unik yang Saya Temukan di Facebook Marketplace, Surga yang Underrated

Facebook Marketplace, Titik Kumpul Barang Unik dan Berguna, sekaligus Surganya para Penipu

4 Juni 2026
Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan Mojok.co

Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan

5 Juni 2026
Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

7 Juni 2026
Profesi Quality Control: Salah Sedikit Dimaki, Benar Terus Dianggap Nggak Kerja

Profesi Quality Control: Salah Sedikit Dimaki, Benar Terus Dianggap Nggak Kerja

3 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.