Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jogja Istimewa Kini Hanyalah Ilusi untuk Mempertahankan Citra Romantis yang Sudah (Kelewat) Usang

Lies Yulianto oleh Lies Yulianto
5 Juni 2025
A A
Surat Terbuka untuk Pembenci Perantau di Jogja: Hanya Dhemit yang “Pribumi Jogja”, Kalian Bukan! konten kreator jogja

Surat Terbuka untuk Pembenci Perantau di Jogja: Hanya Dhemit yang “Pribumi Jogja”, Kalian Bukan! (Dhio Gandhi via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja selalu dijual sebagai kota Istimewa, kota pelajar, budaya, dan keramahan. Tetapi benarkah masih seindah yang digembar-gemborkan? Atau ini hanya ilusi yang dijual untuk mempertahankan citra romantis yang sudah usang? 

Orang bilang Jogja ramah, tunggu dulu. Coba tanyakan pada mahasiswa pendatang yang digeledah preman parkir, atau pedagang kecil yang terusir karena proyek “penataan” kota. Keramahan kota Jogja hari ini hanya berlaku bagi turis dan orang-orang yang punya kantong tebal.

Bagi warga sekitar, beda cerita. Mereka harus gigit jari melihat harga tanah melambung tinggi karena invasi bisnis properti dan industri pariwisata. Dan ini telah mengubah cerita tentang Jogja.

Jogja kini bukan lagi yang dulu kita kenal. Cerita mengenai keramahan hanya tinggal kenangan. Bapak-bapak becak atau andong yang dulu begitu ramah melayani pelanggan, sekarang sudah berubah. Sekarang jangan kaget jika naik andong yang jarak seharusnya hanya sekitar 1 km, kita diajak melewati jalan memutar sehingga lebih jauh, dengan tujuan jelas, untuk menarik harga lebih tinggi.

Cerita tentang harga makanan (konsumsi) yang murah, juga hanya sekedar label. Faktanya untuk makan sepiring nasi gudeg dengan lauk telor bacem saja harus merogoh uang setidaknya 15 ribu rupiah. Lantas di manakah keramahan Jogja yang orang-orang sekarang bilang?

Budaya di Jogja hanya untuk tontonan 

Jogja begitu bangga dengan gelarnya sebagai kota budaya. Tetapi budaya di sini semakin jadi komoditas, dan hanya menjadi komoditas. Kesakralannya sudah terkikis. Pertunjukan wayang untuk turis, bukan lagi bagi warga sekitar. Batik orientasi ekspor, karena harga lebih tinggi. Keraton sekarang menjadi museum yang megah, sementara rakyat di sekitarnya hidup dalam kesenjangan. Mereka tidak memiliki keberanian untuk ikut menginjakkan kakinya di dalam area keraton.

Di satu sisi, ada banyak pertunjukan seni yang begitu glamour dan memukau. Tetapi di sisi lain masih banyak seniman jalanan yang berjuang untuk sekadar makan. Dan rakyat kecil hanya bisa menikmati tontonan budaya kelas pinggir jalan, sambil menikmati macetnya kota Jogja.

Saat ini tontonan bagi masyarakat kecil di Jogja adalah kemacetan, bukan pertunjukan budaya. Karena di Jogja, tiada waktu tanpa macet. Kalau tidak macet, bukan Jogja namanya.

Baca Juga:

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

Hidup di Kotabaru Jogja Itu Enak, Sampai Kamu Coba Menyeberang Jalan, Ruwet!

Kota Pelajar yang semakin tidak terjangkau

Jogja dulu terkenal sebagai surga pelajar, tetapi sekarang biaya hidupnya semakin mengkhianati julukan itu. Kontrakan mahal, biaya kost selangit, harga makanan fantastis, dan fasilitas pendidikan yang sebenarnya tertinggal jauh dibanding kota besar lain. Kampus-kampus ternama memang ada, tapi apakah itu menjamin kualitas hidup mahasiswanya? Atau justru membuat mereka terjerat dalam lingkaran konsumerisme dan tekanan ekonomi?

Kota Jogja dulu dikenal karena kampus UGM yang menjadi simbol kampus rakyat. Tetapi saat ini, jika ingin berkuliah di UGM harus siap dengan dana yang besar. Mahalnya biaya berkuliah di UGM hanya kalah oleh kampus UI, itu artinya UGM bukan lagi kampus rakyat. Biaya UKT di UGM lebih tinggi dari UNS, UNDIP, UB, atau UNAIR.

Turis dijunjung, warga dipinggirkan

Lihatlah Malioboro, dulu merupakan magnet kuat bagi wisatawan karena menjadi pusat budaya. Sekarang tidak lebih dari sekumpulan pedagang dengan tawaran harga yang jauh di atas harga seharusnya, sehingga jika calon pembeli tidak pandai menawar, menjadi korban getok harga. Warga Jogja asli semakin tersingkir, digantikan oleh bisnis-bisnis yang hanya peduli pada kantong turis. Proyek “penghijauan” dan “revitalisasi” sering kali hanya kedok untuk mengusir masyarakat kecil demi kepentingan investor.

Jogja sudah kehilangan jiwanya

Jogja mungkin masih istimewa di mata orang luar, setidaknya sebagai provinsi, karena namanya tetap Daerah Istimewa Yogyakarta. Tetapi bagi yang tinggal dan setiap saat harus merasakan denyut kotanya, Jogja sedang berubah menjadi monster kapitalisme yang memakan warganya sendiri. Jika tidak ada upaya pembenahan, sebentar lagi “keistimewaan” hanya akan menjadi dongeng sebelum tidur. Indah di iklan, pahit di kenyataan. 

Jogja bukan lagi milik rakyatnya. Jogja sekarang hanya milik mereka yang bisa membeli.

Penulis: Lies Yulianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Itu Nggak Istimewa dan Tidak Lagi Sama karena yang Istimewa Itu Orang-orangnya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Juni 2025 oleh

Tags: biaya hidup di jogjaJogjajogja istimewa
Lies Yulianto

Lies Yulianto

Pendidik SMK dan seorang penulis.

ArtikelTerkait

Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Ringroad Jogja, Jalan yang Amat Tidak Ramah untuk Pengendara Sepeda Motor

Ringroad Jogja, Jalan yang Amat Tidak Ramah untuk Pengendara Sepeda Motor

10 November 2023
Klaten Nggak Melulu Candi Prambanan dan Umbul Ponggok, Ada Desa Kemudo yang Tak Kalah Istimewa! klaten solo jogja

Empat Tahun Mondar-mandir Solo-Jogja, Musuh Terberatku Bukan Macet, tapi Klaten

13 Agustus 2025
Saya Bangga Setengah Mati Lahir dan Besar di Kebumen (Unsplash)

Dulu Malu Bilang Orang Kebumen, Sekarang Malah Bangga: Transformasi Kota yang Bikin Kaget

10 Desember 2025
Jogja Selalu Dianggap Manis, Padahal Ujungnya Selalu Pahit (Unsplash)

Jogja Selalu Dianggap Manis, Padahal Ujungnya Selalu Pahit

4 Juni 2024
Suku Sunda Nggak Kuat Merantau Itu Anggapan Sesat (Unsplash)

Benarkah Orang Suku Sunda Nggak Punya Nyali untuk Merantau seperti Suku Lain?

28 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan (Unsplash)

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan dari Cerita Rakyat Minahasa dan Membebaskan Kita dari Kebosanan Horor Jawa

23 April 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026
Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

23 April 2026
Derita Gen Z Bernama Sri- Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu (Unsplash)

Derita Gen Z Punya Nama Sri yang Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu

21 April 2026
Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

22 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka
  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau
  • Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido
  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.