Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Tambak Osowilangun: Jalur Transformer Surabaya-Gresik, Jadi Tempat Pengguna Motor Belajar Ikhlas

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
15 Desember 2025
A A
Tambak Osowilangun: Jalur Transformer Surabaya-Gresik, Jadi Tempat Pengguna Motor Belajar Ikhlas

Tambak Osowilangun: Jalur Transformer Surabaya-Gresik, Jadi Tempat Pengguna Motor Belajar Ikhlas

Share on FacebookShare on Twitter

Suatu siang yang begitu terik di salah satu jalur pantura Surabaya-Gresik. Motor saya melaju pelan bersamaan dengan suara bising jalan industri. Deru mesin berat, klakson yang saling bersahut, dan hembusan angin dari polusi knalpot tronton yang lewatnya bukan sekadar lewat, tapi seperti menggeser udara segar sekaligus nyali saya. Itulah Jalan Tambak Osowilangun. Jalur pantura yang saya sebut jalurnya para transformer.

Di atas motor Beat kecil, saya melaju dengan hati-hati, karena saya tahu, di jalur ini, pengendara motor seperti saya hanya figuran. Aktor utamanya adalah para truk tronton besar berbentuk seperti Optimus Prime yang 24 jam berlalu-lalang. Dari merekalah, logistik disalurkan melalui hub seperti pelabuhan dan terminal di Gresik dan Surabaya.

Di jalan Tambak Osowilangun ini, di kiri-kanan jalan sudah seperti panggung yang kebesaran untuk pengendara moda transportasi motor seperti saya. Tronton, bus, kontainer, bergerak seperti para transformer yang lupa menahan tenaga. Badannya tinggi, langkahnya berat, asapnya mengepul, dan sekali mereka melintas, motor seperti saya cuma bisa mencari posisi aman.

Terlalu bergaya dan percaya diri di jalur ini adalah petaka. Sebab jalanan yang tak rata dan berlubang bisa membuat saya jatuh dan habis dilindas oleh kendaraan-kendaraan berat itu.

Takut, waspada, pasrah, ikhlas

Perasaan yang muncul ketika melalui jalur ini tentu adalah kombinasi dari berbagai emosi. Rasa takut, waspada, merinding, pasrah, tapi juga ikhlas. Mau bagaimana lagi, jalur ini adalah jalur paling mainstream yang acap kali dilalui banyak pengguna jalan, termasuk pengguna motor.

Keberadaan-kendaraan berat di jalan Tambak Osowilangun memang nggak bisa dihindari. Jalan ini bukan hanya berperan sebagai jalur penghubung Gresik dan Surabaya, tapi jadi semacam terasnya arus logistik. Sebab di jalan inilah ada hub logistik bernama Terminal Teluk Lamong.

Kalau mau dianalogikan, logistik itu seperti peredaran darah, jalan ini adalah pembuluh nadi yang fungsinya jadi tempat penyaluran logistik ke berbagai daerah.

Makanya meski ada tol, tronton atau kontainer tetap melalui jalan ini karena akses darat Teluk Lamong yang sangat bergantung pada Tambak Osowilangun. Alasan logis lainnya, banyak angkutan kontainer jalannya bukan sekali jalan (kadang muter gudang–depo–pelabuhan–gudang), jadi mereka memilih rute yang paling “nyambung” dengan titik-titik logistiknya. Dan titik-titik itu kebetulan numpuk di koridor Surabaya barat–Gresik. Di situlah jalur ini terasa seperti “Transformer.” Sistem rutenya memang mendesain mereka melalui jalan ini.

Baca Juga:

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

Tentu saja, jalur ini punya dua sisi. Ibarat seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi jadi keuntungan tersendiri, tapi di sisi lain, punya konsekuensi yang harus dihadapi. Boleh jadi kota menjadi tumbuh karena arus logistik yang lancar, ekonomi pun meningkat, tapi semua itu harus dibayar mahal dengan keselamatan para pengendara kecil, baik itu motor maupun mini bus. Tak jarang terjadi kecelakaan yang korbannya tentu saja para pengguna motor.

Selain itu, lokasinya yang dekat laut dan buruknya sistem drainase, membuat jalur ini sangat rawan banjir ketika intensitas hujan meningkat. Bisa dibayangkan para pengguna motor itu harus melalui banjir sambil was-was terhadap lubang di jalan yang tak rata dan tronton yang sering kali klaksonnya bikin jantungan. Bahkan suara rem anginnya yang “psssshhhh” saja sudah bikin merinding.

Kemacetan di Tambak Osowilangun tak terhindarkan

Semua jadi makin menguji kesabaran ketika terjadi kemacetan. Hal itu karena di beberapa titik, jalan ini begitu sempit karena berdekatan dengan pemukiman penduduk. Saat macet, situasi bisa jadi makin menegangkan. Motor mencari celah, orang nekat nyebrang, tronton maju-berhenti-maju-berhenti, yang membuat jalur ini benar-benar menguji rasa sabar dan ikhlas. Mau panas atau hujan, kemacetan di jalur ini seperti hidup dan mati.

Saat cuaca cerah, panas terik begitu menusuk ditambah dengan polusi tronton yang membuat seseorang bisa seperti tercekik. Pun saat kondisi hujan, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, bahwa potensi banjir membuat pengendara motor jadi harus lebih berhati-hati karena jalanan yang gak rata.

Keberadaan pemukiman penduduk yang jaraknya begitu dekat dengan jalan menjadi masalah lain yang mengkhawatirkan. Ketika diperhatikan, kanan-kiri ada gang kecil yang langsung berhadapan dengan jalan ini. Ada pagar rumah yang jaraknya hanya sekian meter, menjadikannya semacam marka tambahan. Melihat kondisi pemukiman yang begitu berdekatan, rasa-rasanya seperti hidup berdampingan dengan maut.

Belajar ikhlas di Tambak Osowilangun

Bagi yang ingin menyeberang, ada fasilitas berbentuk semacam alarm. Penyebrang bisa memencet sebuah tombol dan akan muncul suara “tetot-tetot” yang jadi penanda akan ada yang menyeberang. Tronton, kontainer, dan pengguna jalan lain harus berhenti ketika alarm itu berbunyi. Ini yang jadi salah satu penyebab kemacetan panjang. Tapi mau bagaimana lagi, berhenti adalah bentuk toleransi dan menghormati penyeberang yang juga punya hak untuk itu.

Tambak Osowilangun memberi saya satu pelajaran, yaitu rasa ikhlas. Ikhlas bahwa kadang seseorang hanya bisa jadi figuran, bukan karena tidak layak, tapi karena memang panggungnya sedang dikuasai sesuatu yang lebih besar. Memaksa untuk jadi pemeran utama justru akan membawa kerusakan.

Seperti di jalan ini, pemotor seperti saya harus belajar memberi ruang pada tronton dan kontainer. Bukan karena mereka yang paling berkuasa, tapi karena mereka membawa sesuatu yang tak mungkin ditawar. Di bak merekalah komoditas disebarluaskan, kebutuhan disalurkan, dan ekonomi pun berputar. Sementara pengendara motor seperti saya cukup memastikan satu hal, yaitu pulang dengan selamat.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jalan Kalianak Adalah Maut, Penghubung Gresik-Surabaya yang Mengancam Nyawa Pengendara

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Desember 2025 oleh

Tags: Gresikjalur logistik surabaya gresikSurabayatambak osowilangun
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Stasiun Indro Bikin Gresik Jadi Daerah Industri yang Terlihat Menyedihkan Mojok.co

Stasiun Indro yang Menyedihkan Membuat Kota Industri Gresik Jadi Terlihat Payah

27 Februari 2026
Nasib Pilu Ketintang Surabaya di Musim Hujan, Masih Jadi Langganan Banjir meski Sudah Ada Perbaikan dari Pemkot

Nasib Pilu Ketintang Surabaya di Musim Hujan, Masih Jadi Langganan Banjir meski Sudah Ada Perbaikan dari Pemkot

5 Desember 2024
Terminal Bungurasih Momok bagi Pengguna Jalan Raya Waru Sidoarjo, Macet Ora Umum! Mojok terminal bungurasih surabaya

Pengalaman Saya Dipalak dan Ditipu Calo di Terminal Bungurasih Surabaya, Bikin Kapok untuk ke Sana Lagi

20 Agustus 2024
Merantau di Jogja Lebih Enak Dibanding Surabaya, Lebih Slow dan Manusiawi Mojok.co

Merantau di Jogja Lebih Enak Dibanding Surabaya, Lebih Slow dan Manusiawi

23 Agustus 2025
Surabaya, Tempat Tinggal Terbaik di Indonesia Hingga Kini (Unslash)

Setelah Berkeliling Indonesia dan Tinggal di Kota-Kota Besarnya, Saya Bersyukur Pernah Tinggal di Surabaya

14 Maret 2024
Ilustrasi Madura Ditinggal Jawa Timur, Saatnya Jadi Provinsi Sendiri (Unsplash)

Madura Tertinggal, ketika Jawa Timur Maju Pesat Menjadi Alasan Kuat Madura Justru Harus Jadi Provinsi Sendiri

5 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Naik Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan Mojok.co

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

1 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026
3 Alasan Stasiun Jombang adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

3 Alasan Stasiun Jombang Adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

29 Maret 2026
Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026
Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

29 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.