Tak Suka dengan Puisi Putri Marino? Ya, Jangan Baca!

Ada yang menyebut ini contoh dari toxic positivity. Yang katanya selama ini orang terdekat Putri Marino tidak pernah mengingatkan tentang tulisannya.

Featured

Avatar

Putri Marino merilis buku puisinya, langsung jadi trending topic di Twitter. Karena penjualannya? Laku keras? Bukan. Melainkan karena buku puisi tersebut memunculkan kontroversi di dunia per-netizen-an.

Banyak yang sudah paham kalau Putri Marino yang bininya aktor Chicco Jerickho ini memang sering nulis puisi atau sajak atau quote gitu di caption akun Instagram-nya. Sudah beberapa bulan juga Putri Marino secara tersirat mengabarkan bahwa karyanya ini akan dibukukan.

Saya tidak mengikuti akun Putri Marino di Instagram, tapi lumayan sering membacanya karena selalu melintas di timeline. Saya tidak bilang puisi Putri Marino ini jelek, tapi saya juga tidak bilang bagus. Hanya saja itu bukan my cup of tea, kurang pas sama selera bacaan saya. So, saya tidak terlalu ambil pusing. Selama itu tidak melanggar batas kaidah kepenulisan, ya fine-fine saja bagi saya.

Nah, saat buku puisi ini akhirnya terbit ternyata banyak netizen yang kecewa. Kenapa? Setelah mengikuti beberapa cuitan dan kabar yang beredar, saya mencoba menyimpulkan sedikit apa yang sebenarnya dikeluhkan oleh netizen ini. Yuk, kita obrolin satu per satu.

Pertama, netizen seakan bingung apakah tulisan Putri Marino ini masuk ke kategori puisi atau tidak. Karena ya memang tulisannya hanya singkat-singkat saja. Yang bila dijadikan satu, mungkin hanya akan jadi satu atau dua baris utuh. Hanya saja di buku ini tulisannya diberi spasi yang agak renggang hingga terkesan ‘banyak’.

Kedua, banjir elipsis. Apa itu elipsis? Elipsis itu adalah tanda baca yang sering kita temukan dalam bentuk tiga titik (…)
Kalau kita mencari pengertian elipsis dengan mesin pencari Google, kira-kira jawabannya seperti ini:

Tanda Elipsis adalah tanda baca yang biasanya menandai penghilangan sengaja suatu kata atau frasa dari teks aslinya. Tanda ini dapat menunjukkan jeda pada pembicaraan, pikiran yang belum selesai, atau, pada akhir kalimat, penurunan volume menuju kesenyapan (aposiopesis). Simbol untuk tanda elipsis adalah rangkaian tiga tanda titik (…) atau suatu glif yang berupa tiga bintik (…).

Nah, di buku puisi Putri Marino ini akan banyak sekali kita temukan elipsis. Padahal sepertinya itu tidak terlalu diperlukan. Entah maksud Putri menggunakannya memang sebagai jeda atau malah demi estetika. Saya sih yakin editornya pasti pernah mendiskusikan pemakaian elipsis ini pada Putri.

Baca Juga:  Outfit Warga Bantul saat Menyambut Syawalan

Ketiga, diksi atau pilihan kata yang digunakan Putri dalam puisinya sangat ringan atau bisa disebut biasa saja. Saya tidak tahu perbendaharaan kata seorang Putri Marino ini seberapa banyaknya, tapi saya percaya bila kita memang ingin serius menekuni dunia menulis maka harus punya banyak stok perbendaharaan kata di kepala.

Bahkan ada beberapa netizen yang membandingkan tulisan Putri Marino dengan akun Fahri Skroepp yang memang sempat viral dengan quote-quote romantis bikin bapernya yang menggemaskan itu. Ada yang bilang Fahri Skroepp jauh lebih pandai memilih dan mengolah kata daripada Putri.

Keempat, ada yang menyebut ini contoh dari toxic positivity. Yang katanya selama ini teman-teman, keluarga dan mungkin seluruh orang yang kenal Putri tidak pernah mengingatkan tentang tulisan-tulisannya. Hanya mengiyakan tanpa pernah memberi saran atau kritik. Maka bisa jadi Putri merasa bahwa akan aman-aman saja menerbitkan bukunya. Padahal bukankah kritik itu amat sangat bisa membantu kita menjadi lebih baik?

Kelima, ternyata ada yang bawa-bawa tentang dunia sastra dan kepenulisan Indonesia. Menurut beberapa netizen, bagaimana sastra Indonesia bisa berkembang bila para penulis yang menerbitkan buku itu ternyata standarnya hanya sebegini saja?

Well,

Lalu bagaimana?

Ini menurut saya ya, puisi memang mempunyai beberapa kategori di dalamnya. Ada puisi kontemporer, ada puisi modern, dan ada beberapa lagi. Yang bisa menjawab dengan pasti apakah tulisan Putri ini bisa disebut puisi ya hanya mereka. Kita yang kurang memahami mungkin bisa bertanya kepada beberapa orang yang memang ahlinya. Namun bila memang buku ini sudah terbit dengan secara jelas dan gamblang dinamakan buku puisi maka pastilah editor dan penerbitnya punya patokan sendiri. Iya kan?

Penggunaan elipsis akan baik bila digunakan sewajarnya, kalau terlalu banyak memang jadi agak mengganggu. Menurut saya bukannya memperindah tulisan tapi malah bikin pusing dan terlihat tidak rapi.

Soal diksi, kita semua orang-orang yang menyukai dan mencintai sastra apalagi puisi pasti punya tokoh panutan masing-masing. Ada Chairil Anwar, WS. Rendra, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, sampai Aan Mansyur. Dan biasanya sedikit banyak tulisan kita akan meniru tulisan para penulis puisi itu. Meniru dalam arti mengambil tema yang sama, menggunakan format sama atau juga jenis-jenis kata yang sama. Mana yang menjadi acuan seorang Putri Marino kan kita tidak tahu. Mungkin Putri memang lebih nyaman menggunakan pilihan kata sehari-hari yang lugas, yang lebih mudah dimengerti agar tulisannya tidak terkesan terlalu berat dan serius. Dan juga bukankah puisi-puisi yang sedang digemari adalah yang seperti itu?

Baca Juga:  Gaya Orang Pekalongan Menyantap Nasi Megono yang Tak Kalah Ribet dari Soto dan Sushi

Selanjutnya, kritik memang bisa jadi cambuk yang paling ampuh. Sebagai orang yang juga cinta menulis saya sangat menghargai kritik yang masuk ditujukan pada saya asalkan kritiknya membangun. Karena dengan itu saya akan coba memperbaiki. Kalau memang Putri Marino selama ini tidak pernah mendapat kritikan bisa jadi mungkin karena orang-orang terdekatnya merasa tulisan di caption Instagram-nya itu hanyalah curhatan tipis-tipis dari Putri Marino, tidak diseriuskan untuk menjadi karya sebuah buku. Wajar kan kalau kita bikin status atau caption yang agak puitis?

Saya tidak berani melihat hal ini dari kacamata sastra karena saya merasa belum capable untuk itu. Tapi secara umum saja, bila ada yang bilang dunia sastra tidak akan berkembang dan maju karena standar penulisnya hanya ‘segini’ ya mungkin ada benarnya. Saat ini kan untuk bisa menuliskan sesuatu lalu menerbitkannya menjadi sebuah buku itu gampang sekali. Banyak penerbit indie yang akan mendukung asalkan kita punya dananya. Agak sedikit berbeda dengan penerbit major yang punya kriteria tertentu. Dengan adanya kemudahan ini bisa dibilang semua orang bisa menerbitkan buku. Yang membedakan adalah buku tersebut layak dijadikan bacaan atau tidak.

Sebenarnya sederhana saja solusinya. Kalau kamu tidak suka dengan tulisan Putri Marino maka jangan beli bukunya, jangan baca. Kelar. Habis perkara. Sebab, tidak ada tulisan atau buku yang jelek, yang ada tulisan atau buku tersebut tidak pas dengan seleramu.

Bagi yang sudah membeli atau membaca lalu kecewa, beri masukan buat Putri Marino. Bedakan antara memberi mengkritik dan mencela ya, Gaes.

Satu lagi, nggak semua orang yang bisa menulis itu bisa jadi penulis.

BACA JUGA Apabila Widji Thukul Tiba-tiba Muncul dan Baca Puisi di Tengah Demo Mahasiswa atau tulisan Dini N. Rizeki lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
62


Komentar

Comments are closed.