Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh!

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
21 Mei 2020
A A
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu
Share on FacebookShare on Twitter

Hari raya Idul Fitri memang menjadi momentum spesial bagi banyak orang. Maklum, hari raya bisa jadi momen tahunan untuk menjalin silaturahmi setelah sebelumnya tidak pernah sempat bertegur sapa. Hari raya juga bisa menjadi ungkapan syukur setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan lamanya. Makanya, nggak begitu mengherankan jika banyak orang berlomba-lomba untuk mempersiapkan yang terbaik demi menyambut datangnya hari raya.

Sudah biasa kita lihat siaran televisi maupun surat kabar tentang lonjakan harga bahan pangan hingga pakaian. Hal ini terjadi karena permintaan meningkat, akibat keinginan kita untuk mempersiapkan segala hal istimewa di hari raya. Mulai dari memasak makanan yang lebih mewah dari makanan keseharian kita, sampai menggunakan baju baru yang merupakan salah satu sunah dalam menyambut hari raya Idul Fitri.

Omong-omong soal pakaian baru, sunah yang satu ini memang agak dilematis. Bukan tentang hukum sunahnya, tetapi tentang cara kita memaknai dan menerapkannya. Coba kita lihat, ada berapa berita di televisi yang menayangkan tentang peningkatan kriminalitas jelang hari raya? Beberapa di antaranya ada yang beralasan mencuri atau merampok demi menghadirkan baju hari raya untuk anaknya. Namun, pernah tidak kita mendengar berita perampokan jelang hari raya yang tujuannya untuk beli sabun atau sarapan pagi saat hari raya? Padahal mandi dan sarapan itu sunah juga, lho, sama seperti mengenakan pakaian baru di hari raya.

Sama-sama sunah, tapi kok beda perlakuan, ya? Saking spesialnya pakai baju baru ini, kita bahkan tidak sungkan bertanya ke anak-anak kecil, “Dibelikan baju baru berapa?” tanpa tedeng aling-aling, tanpa ragu, dan tidak peduli pada kondisi ekonomi orang tua si anak. Seolah-olah, kalau nggak pakai baju baru itu bukan golongan orang yang merayakan Idul Fitri gitu.

Padahal setidaknya ada delapan perkara sunah yang dapat kita amalkan saat Idul Fitri. Salat ied, makan sebelum salat, mandi, membedakan rute berangkat dan pulang salat, berjalan kaki menuju tempat salat, mengucapkan selamat, pakai baju baru, dan memperbanyak takbir. Dari semuanya, kenapa ya, kok yang kita persiapkan jauh-jauh hari bahkan sampai rela berutang cuma sunah pakai pakaian baru?

Wajar, karena memakai pakaian baru adalah satu-satunya amalan sunah hari raya yang tampak secara visual. Amalan sunah yang lain seperti mandi dan memperbanyak takbir tidak bisa tampak secara visual. Kita ini kan memang makhluk visual dan lebih senang diapresiasi atas apa yang tampak, toh?

Sebenarnya tidak ada yang buruk dari menjalankan sunah memakai pakaian baru atau pakaian terbaik yang kita punya saat hari raya. Namun, jika memang kondisi sedang tidak memungkinkan, maka hendaknya kita mampu berbesar hati. Toh, masih ada tujuh sunah yang lain yang bisa kita kerjakan. Jika kita mampu memaknai hari raya sebagai kemenangan atas diri kita sendiri, maka seberapa pun amalan sunah yang bisa kita kerjakan untuk menyambut hari itu pastilah membahagiakan. Layaknya pesta pernikahan, kalau kita menggelar pesta dalam rangka menyenangkan hati orang lain yang melihat, maka kita tidak akan tenang. Berbeda jika pesta digelar sebagai bentuk syukur atas karunia yang Allah limpahkan kepada kita, maka apa pun yang kita suguhkan, kita tidak akan risau.

Begitu pula dengan mengenakan pakaian baru saat hari raya. Jika kita niatkan sebagai upaya untuk mengamalkan sunah, kita akan mudah mencari alternatif lain apabila kondisi tidak memungkinkan. Kalau memakai pakaian baru kita maksudkan untuk menyenangkan mata orang melihat, jika tidak bisa kita lakukan, kita akan merasa risau. Padahal pakaian baru itu merupakan simbol kebaruan jiwa kita pasca menjalankan ibadah puasa. Jadi tidak perlu membesar-besarkan pemakaian simbol jika kita merasa cukup dengan substansi.

Baca Juga:

THR Ludes Sebelum Hari Raya Tidak Melulu Salahmu, Hidup Memang Lagi Susah

Sebenarnya Siapa sih yang Memulai Tradisi Uang Baru Saat Hari Raya? Bikin Repot doang!

Seperti lagu anak-anak yang judulnya Baju Baru, juga sudah berpesan kepada kita semua bahwa yang terpenting saat hari raya adalah semangat kita untuk menjadi lebih baik pasca Ramadan.

Baju baru alhamdulillah

Tuk dipakai di hari raya

Tak ada pun tak apa-apa

Masih ada baju yang lama

 … Untuk apa berpesta-pesta

Kalau kalah puasanya

Malu kita kepada Allah yang Esa

Meskipun ini lagu anak-anak, tapi dalam menjalankan praktiknya kita sebagai orang dewasa pun sering luput. Kita malu kalau hari raya tidak pakai baju baru, tapi tidak malu kalau puasanya tak berbuah hasil.

Padahal Alquran pun telah mewanti-wanti kepada kita bahwa sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa (QS Al-A’raf ayat 26). Taqwa jugalah yang menjadi tujuan disyariatkannya ibadah puasa, sehingga dari sini kita bisa memahami bahwa implikasi dari puasa kita mestinya sudah cukup menjadi pakaian terbaik kita saat menyambut hari raya, dengan atau tanpa adanya kain baru.

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 Mei 2020 oleh

Tags: baju baruIdul FitriLebaranTerminal Ramadan
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

Secarik Memori Ramadan di Pesantren yang Bikin Rindu

Secarik Memori Ramadan di Pesantren yang Bikin Rindu

25 April 2020
Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti Starter Pack Kue dan Jajanan saat Lebaran di Meja Tamu Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru Pasta Gigi Siwak: Antara Sunnah Nabi Atau Komoditas Agama (Lagi) Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini Melewati Ramadan dengan Jadi Anak Satu-satunya di Rumah Saat Pandemi Memang Berat Belajar Gaya Hidup Eco-Ramadan dan Menghitung Pengeluaran yang Dibutuhkan Anak-anak yang Rame di Masjid Saat Tarawih Itu Nggak Nakal, Cuma Lagi Perform Aja Fenomena Pindah-pindah Masjid Saat Buka Puasa dan Salat Tarawih Berjamaah 5 Aktivitas yang Bisa Jadi Ramadan Goals Kamu (Selain Tidur) Nanti Kita Cerita tentang Pesantren Kilat Hari Ini Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan? Kata Siapa Nggak Ada Pasar Ramadan Tahun Ini? Buat yang Ngotot Tarawih Rame-rame di Masjid, Apa Susahnya sih Salat di Rumah? Hukum Prank dalam Islam Sudah Sering Dijelaskan, Mungkin Mereka Lupa Buat Apa Sahur on the Road kalau Malah Nyusahin Orang? Bagi-bagi Takjil tapi Minim Plastik? Bisa Banget, kok! Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! Mengenang Kembali Teror Komik Siksa Neraka yang Bikin Trauma Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan Angsle: Menu Takjil yang Nggak Kalah Enak dari Kolak Nanjak Ambeng: Tradisi Buka Bersama ala Desa Pesisir Utara Lamongan

Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan

30 April 2020
Ingat, ya! Ramadan Itu Satu Bulan, Bukan Satu Pekan

Ingat, ya! Ramadan Itu Satu Bulan, Bukan Satu Pekan

24 April 2020
bermaafan di idulfitri

Ajaibnya Kaum Muslim di Hari Raya Idulfitri

7 Juni 2019
Ngapain, Sih, Sewa iPhone untuk Flexing Saat Lebaran? Segitu Hausnya akan Pengakuan, ya?  

Ngapain, Sih, Sewa iPhone untuk Flexing Saat Lebaran? Segitu Hausnya akan Pengakuan, ya?  

27 Maret 2025
oleh-oleh dan traktiran

Meminta Oleh-oleh dan Traktiran adalah Budaya Kita

21 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Dijual (dan Sudah Laku), Warganya Cukup Jadi Penonton Sambil Ngontrak Saja

4 Maret 2026
Pengalaman Naik Toyota Calya dari Kudus ke Semarang: Rasanya seperti Naik Gerobak Ber-AC, Kapok!

Dulu Saya Menganggap Toyota Calya Adalah Gerobak Diberi Mesin, tapi Kini Saya Menjilat Ludah Sendiri

3 Maret 2026
KA Sri Tanjung, Kereta Ekonomi Tempatnya Penumpang-penumpang “Aneh” Mojok.co ka kahuripan

KA Sri Tanjung, Kereta Ekonomi Tempatnya Penumpang-penumpang “Aneh”

3 Maret 2026
Tiga Makanan Para Pengembara di Timur Tengah

Tiga Makanan Para Pengembara di Timur Tengah

9 Maret 2026
9 Jenis Kucing Pemikat Rezeki Menurut Serat Katuranggan Kucing (Unsplash)

9 Jenis Kucing Terbaik yang akan Mendatangkan Rezeki Menurut Serat Katuranggan Kucing

7 Maret 2026
THR Ludes Sebelum Hari Raya Bukan Melulu Salahmu, Hidup Memang Lagi Susah Mojok.co

THR Ludes Sebelum Hari Raya Tidak Melulu Salahmu, Hidup Memang Lagi Susah

9 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Mendewakan Innova Zenix Adalah Kesesatan Finansial, Wujud Kebodohan Struktural yang Sangat Hakiki karena Tetap Kalah Aura Dibanding Innova Reborn
  • Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati
  • Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja
  • Sarjana Ekonomi Pilih Berjualan Ayam Penyet, Sempat Diremehkan Banyak Orang, tetapi Bisa Untung 3x Lipat UMR dan Kalahkan Gaji Pekerja Kantoran
  • Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial
  • Mendambakan Menjadi Seperti Vidi Aldiano, Cara Hidup dan Pergi bikin “Iri” Banyak Orang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.