Sudah Tepat Khensin Himura Tolak Gabung ke Pemerintahan, Godaan Terlalu Berat – Terminal Mojok

Sudah Tepat Khensin Himura Tolak Gabung ke Pemerintahan, Godaan Terlalu Berat

Featured

Aliurridha

Hidup adalah perihal memilih. Memilih tentang jalan yang akan dilalui. Ketika sampai di persimpangan jalan manusia harus memutuskan harus memilih ke mana: belok kiri, belok kanan, lurus, atau bahkan kembali. Jalan apa yang dipilih seseorang akan menentukan menjadi seperti apa hidupnya kelak. Seperti halnya Kenshin Himura yang memilih jadi pengembara ketimbang jadi elite di pemerintahan Jepang. Bagaimana jika ia memilih jalan sebaliknya?

Saya membayangkan bagaimana Khensin Himura yang menolak ajakan Yamagata Aritomo untuk diajak bergabung ke pemerintahan dan memilih untuk jadi pengembara itu ternyata memilih tergoda dengan tawaran itu. Kira-kira seperti apa nasib Khensin Himura seandainya dia memilih bergabung menerima ajakan untuk jadi elite pemerintah?

Dikorek-korek masa lalunya oleh lawan politiknya

Sebagai seorang Batosai Si Pembantai yang tangannya berlumuran darah dari ketika masa-masa revolusi, akan membuat hidupnya tidak akan tenang. Masa lalunya akan dikorek-korek oleh lawan-lawan politiknya. Dia akan dituntut karena telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang paling fundamental yakni menghilangkan nyawa orang.

Setiap hari kamis keluarga dari korban revolusi akan datang dengan pakaian serba hitam berdiri di depan istana Kekaisaran meminta pertanggungjawaban negara untuk kejelasan bagaimana nasib anak, saudara, ayah, kakek, dan keluarga mereka yang terbunuh dan hilang. Meski pemerintah Meiji terus-terusan mengacuhkan nasib mereka dan menganggapnya sebagai pahlawan revolusi, tapi Khensin Himura setiap malam terganggu tidurnya memikirkan. Tidak dikorek-korek masa lalunya saja Kenshin terus dihantui rasa bersalah apalagi jika iya.

Jika pun Kenshin berhasil mengatasi rasa bersalahnya dan membangun partai politik dan mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri Jepang, mungkin dia akan selalu kalah oleh seorang pedagang yang cuma petugas partai. Bahkan orang tua dari petugas partai itu hanyalah seorang petani biasa bukan kalangan elite militer yang andil dalam menciptakan Restorasi Meiji.

Terpaksa membangun dinasti

Mau tidak mau Kenshin harus menyiapkan anaknya untuk jadi penerusnya untuk menjaga kekuasaannya. Karena jika hal itu tidak dilakukan maka kesalahan-kesalahan yang dilakukan akan selalu diungkit-ungkit. Sampai pada tahap paling parah dia akan dipaksa untuk menjalani peradilan karena dosa-dosa yang dilakukan pada masa revolusi. Akhirnya ia terpaksa menyiapkan kedua putranya untuk mengikuti jejaknya masuk partai politik.

Baca Juga:  Penyebutan Perempuan dalam Masyarakat Jawa dan Makna Filosofis di Baliknya

Putra pertama bernama Kenji yang berkarier di militer terpaksa harus berhenti dari militer padahal belum jadi jenderal. Sedih sekali pesta perpisahannya yang penuh air mata, tapi itu semua dilakukan demi kepentingan rakyat. Ia terpaksa mengundurkan diri untuk ikut Pilgub Tokyo untuk menyelamatkan rakyat miskin Tokyo dari Gubernur yang suka menggusur orang miskin.

Putra keduanya Yosihime yang berprofesi sebagai pengusaha kuliner dan memilih untuk berjualan Takoyaki demi menjauhi politik ini terpaksa diseret-seret juga. Ia harus melepas hobinya berbisnis kuliner dan mencoba peruntungan untuk menjadi walikota Osaka yang juga merupakan salah satu kota terpadat di Jepang. Lebih padat lebih bagus bisa menopang suara Khensin Himura jika ingin mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri Jepang untuk ketiga kalinya.

Terpaksa bermain sandiwara

Sebagai seorang pendekar pedang tertangguh selama perang masa-masa revolusi, Kenshin adalah seorang yang tidak tertandingi. Berbagai usaha membunuhnya oleh para lawan politiknya gagal. Dijaga maupun tidak, meski sudah tua ia masih percaya diri. Tapi tidak dengan serangan para lawan politiknya dalam berbagai kebijakan yang diambilnya. Tidak pada serangan para buzzer yang dibayar untuk selalu menghembuskan kabar angin bahwa dosa-dosa masa lalunya masih dilakukan kepada beberapa aktivis yang hilang.

Kesulitan dari serangan lawan politik dan buzzer-buzzer yang suka-suka mengungkit masa lalu itu membuat Kenshin terpaksa harus playing victim. Dia tahu satu-satunya cara adalah meraih simpati publik adalah dengan playing victim. Jadi ia membayar seseorang untuk melakukan aksi pembunuhan kepada dirinya ketika ia sedang mengadakan pertemuan dengan rakyat Jepang yang sudah mulai kehilangan simpati pada dirinya. Tidak lupa ia menghubungi para jurnalis yang sudah siap-siap untuk menyebarkan informasi agar lebih banyak simpati atas dirinya.

Baca Juga:  Kediri Bukan Hanya tentang Simpang Lima Gumul

Sepanjang perjalanan di kereta dia tersenyum memikirkan plot yang sudah disiapkannya. Ketika dia turun tiba-tiba seorang berbaju putih teriak-teriak sambil membawa kunai menusuk bahu kanannya. Dengan luka kecil itu dia berteriak-teriak kesakitan dan dibawa oleh ambulans ke rumah sakit. Pelaku yang ditangkap pura-pura amnesia dan dianggap orang gila.

Di rumah sakit Khensin Himura senyum-senyum sendiri memikirkan reaksi media atas kejadian ini. Sayang teramat sayang media malah mencurigai itu konspirasi. Bagaimana mungkin seorang Batosai dengan mudahnya diserang bahkan ketika dalam penjagaan ketat. Rakyat pun berbisik-bisik bahwa kejadian itu adalah settingan yang bahkan jauh lebih buruk dari Rumah Uya.

Kenshin akhirnya stres, ia menjadi jauh lebih tua dari usianya yang saat itu, 59 tahun tapi terlihat seolah oleh 72 tahun. Rambutnya putih semua, lebih putih dari Enishi Yukishiro yang menyaksikan kakaknya mati di depan matanya.

Saat itu ia menyesal menerima ajakan Yamagata untuk diajak bergabung ke pemerintahan. Akhirnya ia pun fokus untuk membuat album, tidak main-main 4 album sepanjang karier politiknya. Namun sekali lagi sayang, tidak laku.

Jadi sudah benar keputusan Kenshin menolak ajakan Yamagata Aritomo menolak bergabung ke elite pemerintahan. Godaannya terlalu berat, apa-apa yang dilakukannya salah. Ujung-ujung terpaksa menggunakan kekuasaan untuk memukul kritisisme rakyatnya sembari berkata: Tidak ada pelanggaran HAM yang dilakukan negara.

Mungkin benar juga apa yang dikatakan elite politik +62, “Malaikat saja kalau masuk ke sistem politik akan jadi iblis.”

BACA JUGA Seandainya Elite Politik Negeri Adalah Kenshin Himura, Betapa Indahnya Negeri Ini atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
7


Komentar

Comments are closed.