Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Game

Sudah Saatnya Negara Mengawasi Microtransaction dalam Gim

Nurfathi Robi oleh Nurfathi Robi
20 Mei 2021
A A
reza arap microtransaction warnet gamer apex legend mojok

warnet gamer apex legend mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Video viral tentang bapak-bapak yang komplain ke kasir Indomaret karena anaknya top up sebesar 800 ribu memang sudah selesai. Si bapak sudah minta maaf dan perundungan dari netizen berangsur-angsur menyusut. Namun, masih ada pertanyaan yang tertinggal di benak saya, bagaimana bisa seorang bocah tidak segan meludeskan 800 ribu demi gim kesayangannya?

Dari kacamata awam, microtransaction—membeli barang digital dengan uang nyata—di dalam video gim memang nggak masuk akal. Ya saya paham, siapa sih yang nggak ngelus dada lihat orang top up ratusan ribu bahkan jutaan demi barang artifisial? Tapi, bagaimana jika kita menggunakan kacamata seorang pelaku bisnis microtransaction ini?

Ketika kebijakan microtransaction senewen Star Wars: Battlefront II jadi geger gedhen di jagat gaming dunia, Electronic Arts selaku publisher, membela diri dengan mengatakan bahwa kebijakan ini diterapkan supaya gamer mendapatkan “a sense of pride and accomplishment”. Meski pernyataan ini kontroversial, setidaknya kita bisa menarik kesimpulan: skin dan barang-barang digital yang dijual di dalam game didesain sedemikian rupa untuk “menaikkan derajat sosial” si gamer yang membeli barang tersebut. Kalau katanya pentolan media gaming The Lazy Monday, Rivaldo Santosa, “Menunjukkan lo lebih kaya dari orang lain.” Persis seperti kalian yang bawa Pajero atau Fortuner ke acara reuni SD.

Maka terjawab sudah, mengapa ada bocah yang rela menghabiskan uangnya demi barang-barang digital di game kesayangannya. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara meresponnya?

Pengawasan orang tua juga harus didukung kebijakan

Saya sebenarnya cukup prihatin masih banyak yang menyalahkan orang tua sebagai biang keladi ketika ada kasus viral yang melibatkan anak dan top up gim online. Sebagai seorang kakak yang berkali-kali disuruh emak menyelinap ke kamar adik untuk mengecek history laptopnya, saya paham susahnya mengatur apa yang seharusnya adik saya konsumsi dan apa yang tidak dari internet.

Terlepas dari apakah orang tua mampu atau tidak mampu mengawasi anaknya, saya yakin orang tua di manapun ingin anaknya bijak menggunakan uangnya. Tapi di sisi lain, kita juga mesti berpikir realistis: generasi orang tua kita tidak cukup tangkas menghadapi isu isu digital yang semakin gila-gilaan, contohnya microtransaction. Maka di sinilah peran kebijakan dibutuhkan.

Otoritas Belgia membatasi video gim yang mempunyai konten gacha sebagai buntut dari kontroversi Star Wars: Battlefront II. Gim-gim berlatar perang dunia kedua harus melalui proses sensor yang menghilangkan penggunaan lambang swastika apabila ingin didistribusikan di Negara Jerman. China mengharuskan gim menyertakan angka persentase bila item tersebut hanya bisa didapatkan melalui sistem gacha. Jepang mengharuskan developer video gim berkonten gacha wajib menyertakan “Pity System” di mana item yang tersedia hanya lewat fitur gacha harus pasti didapatkan setelah player melakukan gacha dalam jumlah tertentu.

Dari beberapa contoh tersebut, kita bisa melihat bahwa negara dan pemerintah punya hak untuk mengintervensi industri gim ini. Indonesia sayangnya belum serius menjawab dinamika gim online yang jadi primadona di kalangan remaja.

Baca Juga:

Saat Belanja Bersama Anak Kecil, Orang Tua Perlu Perhatikan Aturan Tidak Tertulis Ini

Rahasia Game Super Mario Bros yang Jarang Orang Ketahui

Lantas bagaimana seharusnya langkah taktis yang bisa diambil oleh pemerintah?

Pertama, klasifikasi video gim sesuai dengan kategori umur. Indonesia sebenarnya sudah punya. Melalui Kominfo, Indonesia telah menerapkan sistem Indonesia Game Rating System (IGRS). Namun, sejauh riset saya, sistem ini belum mengakomodasi microtransaction yang kerap jadi sumber polemik yang buntutnya adalah kasus viral. Setelah sistem ini diumumkan melalui BEKRAF Game Prime 2016, sistem ini tidak mengalami banyak perubahan.

Padahal, menurut saya, sistem seperti ini sangat strategis. Misalnya, gim dengan IGRS 7+, kan bisa tuh diterapkan aturan tidak boleh menyuntikkan microtransactions sama sekali. Misalnya lagi, pihak publisher dan developer video gim tidak boleh menjual item dengan harga lebih dari 150 ribu dan tidak boleh menghadirkan konten gacha berbayar, misalnya.

Sebagai tambahan, untuk pembuatan akun gim online, untuk gim dengan IGRS dibawah 18+, akun anak mesti diverifikasi terlebih dahulu oleh akun orang tuanya. Cara verifikasi akun seperti ini sudah berhasil China terapkan dengan Qiqi dan WeChat sebagai contohnya.

Kedua, pemerintah sebaiknya mulai membatasi microtransaction yang ada di gim-gim online. Misalnya seperti, membatasi penjualan skin dan item berbayar dalam kurun waktu tertentu. Jadi, pihak developer dan publisher tidak bisa memberondong kita dengan ratusan skin baru dalam kurun waktu yang relatif pendek. Sebab, industri gim biasanya menggunakan siklus triwulan dalam perhitungan neraca keuangannya, pihak developer dan publisher tidak boleh menjual lebih dari dua skin baru dalam satu triwulan.

Sebagai catatan, dalam rangka membantu pihak developer dalam menjaga iklim gaming yang fair, kebijakan juga harus tegas menghukum publisher-publisher nakal yang menyuntikkan item berbayar yang memberi keuntungan tertentu, skin yang nambah damage, ehm, misalnya.

Ketiga, merespon konten-konten yang mempromosikan microtransaction di media-media sosial. Kan di YouTube banyak tuh konten kreator dan influencer yang gencar membuat konten review skin dan top-up jutaan rupiah secara terang-terangan.

Saya tidak menyalahkan para konten kreator dan influencer, saya tahu mereka juga mengikuti tren untuk menggaet pemirsa. Namun, kita mesti sadari bersama bahwa tidak semua orang sudah bijak mengkonsumsi konten-konten seperti ini. Oleh karena itu kebijakan bisa diarahkan untuk membatasi peredaran konten-konten tersebut.

BACA JUGA Mitos dalam Game Mobile Legends yang Pernah Saya Percaya dan tulisan Nurfathi Robi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2021 oleh

Tags: anak kecilGame Onlinemicrotransactionvoucher game
Nurfathi Robi

Nurfathi Robi

Bergabung dengan DNA E-Sports sejak 2019. Berperan sebagai analis dan samsak tinju. Bergulat di lane atas Land of Dawn.

ArtikelTerkait

SHAREit Sekarang Jadi Aplikasi Mesum yang Banyak Clickbaitnya terminal mojok.co

Resiko Bukan Gamer: Merasa Asing Saat Teman yang Lain Bermain PUBG dan Mobile Legend

9 Juli 2019
batita Nyuruh Anak Kecil ke Masjid Itu Bagus, tapi Ajari Juga Adabnya terminal mojok

Nyuruh Anak Kecil ke Masjid Itu Bagus, tapi Ajari Juga Adabnya

27 Maret 2021
daftar game android penghasil uang jual akun jasa push rank harga akun mojok.co

10 Game Android Penghasil Uang untuk Gamer Medioker

30 Mei 2020
surat terbuka untuk pemain mobile legends indonesia swakarantina corona hiburan nyebelin kritik mojok

Mobile Legends Menyelamatkan Saya dari Kesepian

19 Juli 2020
Rahasia Super Mario Bros (Unsplash)

Rahasia Game Super Mario Bros yang Jarang Orang Ketahui

9 Januari 2023
higienis

Beruntungnya Menjadi Anak yang Tak Terlalu Higienis

21 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Bergaul dengan 5 Tipe Orang Ini agar Skripsi Cepat Kelar Mojok.co

Jangan Bergaul dengan 5 Tipe Orang Ini agar Skripsi Cepat Kelar

5 Januari 2026
Pasar Gedang Lumajang, Pusat Ekonomi Warga Lokal yang Menguji Kesabaran Pengguna Jalan

Pasar Gedang Lumajang, Pusat Ekonomi Warga Lokal yang Menguji Kesabaran Pengguna Jalan

6 Januari 2026
Buat Anak Organisasi Mahasiswa, Berhenti Bolos Masuk Kelas, Kegiatanmu Tidak Sepenting Itu!

Wajar Banget kalau Mahasiswa Sekarang Mikir 2 Kali Sebelum Masuk Organisasi Mahasiswa

7 Januari 2026
Bus Efisiensi Penyelamat Warga Purwokerto yang Ingin “Terbang” dari Bandara YIA Mojok.co

Bus Efisiensi Penyelamat Warga Purwokerto yang Ingin “Terbang” dari Bandara YIA

9 Januari 2026
Tiga Tradisi Madura yang Melibakan Sapi Selain Kèrabhan Sapè yang Harus Kalian Tahu, Biar Obrolan Nggak Itu-Itu Aja

3 Tradisi Madura yang Melibatkan Sapi selain Kèrabhan Sapè yang Harus Kalian Tahu, biar Obrolan Nggak Itu-itu Aja

6 Januari 2026
Mobil Innova Reborn, Mobil yang Bisa Dianggap sebagai Investasi Terbaik sekaligus Mesin Penghasil Uang innova reborn diesel

Saya Akhirnya Tahu Kenapa Innova Reborn Diesel Dipuja Banyak Orang, Beneran Sebagus Itu!

7 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 
  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.