Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Stop Bilang “Tapi” kepada Penyintas Kasus Pelecehan dan Kekerasan Seksual, Biarkan Mereka Bersuara!

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
5 Agustus 2020
A A
Stop Bilang Tapi kepada Penyintas Kasus Pelecehan dan Kekerasan Seksual, Biarkan Mereka Bersuara! MOJOK.CO

Stop Bilang Tapi kepada Penyintas Kasus Pelecehan dan Kekerasan Seksual, Biarkan Mereka Bersuara! MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Saya tersentuh saat membaca tulisan Kharisma Wardhatul Khusniah. Dan saya setuju bahwa banyak kasus pelecehan seksual yang terungkap merupakan sebuah kemajuan. Hari ini, banyak penyintas pelecehan dan kekerasan seksual berani berbicara dan mengungkap peristiwa yang dialami. Coba bandingkan dengan beberapa dekade lalu.

Namun, yang belum berubah adalah tanggapan dari para pemirsa. Tetap saja banyak ungkapan nyinyir yang menempatkan korban sebagai sumber petaka. Baik mengadili baju, perilaku, sampai urusan internal keluarga. Duh, mengelus dada pun belum cukup.

Belum lagi kasus beberapa waktu di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Ketika mengharapkan perlindungan dari ruang aman plat merah ini, penyintas malah kembali mengalami pelecehan dan kekerasan seksual dari kepala kantor tersebut. Jika ruang aman plat merah saja sudah tidak aman, lalu mau ke mana penyintas harus berlindung?

Tidak ada manfaatnya untuk menyinyiri sebuah kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Lebih-lebih menempatkan penyintas sebagai “tertuduh” atas kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Cukup simpan segala dalil dan opini anda. Para penyintas lebih membutuhkan kehadiran ruang aman yang benar-benar aman!

Sejatinya, ruang aman ini bertujuan untuk memberi perlindungan sekaligus membantu rehabilitasi penyintas kekerasan seksual. Ruang aman tidak melulu bicara gedung atau bangunan fisik. Ruang aman lebih kepada situasi lingkungan yang mendukung penyintas untuk kembali hidup nyaman. Dan saya pikir, penyediaan ruang aman ini tidak harus menunggu belas kasihan pemerintah. Kita bisa membangun ruang aman, kok.

Lalu, bagaimana kita bisa menciptakan ruang aman untuk penyintas pelecehan dan kekerasan seksual? Kali ini saya berdiskusi dengan Mbak Anjani. Beliau adalah anggota kolektif perempuan independen di Jogja. Beliau juga sering terlibat dalam penyediaan ruang aman bagi penyintas kekerasan seksual. Berikut intisari diskusi kami.

Pertama, kita harus ingat bahwa penyintas adalah subjek. Maka ruang aman harus menempatkan penyintas sebagai subjek. Segala keputusan, press release, sampai penanganan hukum harus melibatkan penyintas. Penyintas bukan objek apalagi bahan proyek.

Ruang aman tidak boleh mengambil keuntungan dari penyintas, bahkan untuk sekadar bahan konten media sosial. Seluruh keputusan penyintas harus dihormati. Jika mau ghibah, jauh-jauh dari ruang aman dan segala cerita di dalamnya!

Baca Juga:

Balada Perempuan Penghuni Jogja Selatan, Gerak Dikit Kena Catcalling Orang Aneh, Ketenangan Itu Hanya Hoaks!

Kekerasan di Pondok Pesantren Ditutupi Lagi, Sudah Saatnya Feodalisme di Pesantren Dibasmi, Sudah Saatnya Santri Kritis!

Ruang aman juga harus melindungi penyintas dari kontak dengan pelaku. Meskipun pelaku sudah bertobat, namun luka psikologis penyintas tetap prioritas utama. Dan mengingat poin pertama, segala keputusan yang diambil harus disetujui penyintas.

Segala bentuk rujuk dan rekonsiliasi tidak bisa dipaksakan dengan alasan apa pun. Lebih jauh, setiap individu yang pernah melakukan kejahatan seksual harus dijauhkan dari ruang aman. Namanya juga ruang aman, tentu harus menjamin keamanan dari jangkauan pelaku kejahatan seksual.

Yang terakhir, ruang aman perlu dikelola oleh sesama gender. Hal ini untuk mencegah munculnya trauma dari penyintas kekerasan seksual. Mbak Anjani sendiri menyayangkan keterlibatan lintas gender dalam pengelolaan ruang aman.

Tanpa harus membahas kasus di P2TP2A, pengelolaan lintas gender juga dapat menimbulkan rasa tidak aman yang berlebih. Ingat, ruang aman ada bukan sebagai proyek, namun hadir dengan keterlibatan sukarela. Kalau mau berproyek, lebih baik Anda membuka rental PlayStation daripada ruang aman.

Setelah ruang aman terbentuk, kita perlu membangun sikap yang tepat dalam membantu penyintas. Jangan sampai penyintas merasa tidak nyaman hingga meninggalkan ruang aman. Dalam membantu penyintas, Mbak Anjani memberi petunjuk dari buku What We Talk About When We Talk About Rape karya Sohaila Abdulali. Beruntung, poin penting buku ini sudah disarikan oleh akun hollaback_jkt sebagai berikut.

Kita harus ingat bahwa wajar jika kita juga takut atau marah saat mendengar cerita penyintas kekerasan seksual. Kita juga harus percaya ceritanya, tanpa embel-embel “tapi”, “dan”, “jika”. Biarkan penyintas memimpin diskusi. Persilakan penyintas untuk berbicara, diam, menangis, bahkan bercanda.

Tanyakan keinginan penyintas, tanpa harus menebak-nebak. Kita perlu mengajak penyintas mencari bantuan (medis, hukum, psikologis) tanpa perlu memaksa. Tidak perlu mempertanyakan detail kronologis. Jangan mempertanyakan cerita penyintas. Kita harus memberi kesempatan penyintas menceritakan kronologis sesuai perspektifnya. Kita tidak perlu mencoba menganalisa, cukup dengarkan. Kita harus memperlakukan penyintas sebagai orang yang sama saat sebelum kejadian buruk menimpa. Dan terakhir, yang paling penting, jangan resek!

Demikian sedikit kiat-kiat bagi Anda yang peduli untuk membangun ruang aman. Ketersediaan kita menjadi ruang aman bagi penyintas dapat memberi dampak positid yang besar. Daripada sibuk rebahan dan bercuit di media sosial, bukankah lebih baik kita yang terjun langsung menolong para penyintas kekerasan seksual? Toh, plat hitam bisa lebih baik membangun ruang aman dibandingkan plat merah!

BACA JUGA Ontran-Ontran Yogyakarta dan tulisan Dimas Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2020 oleh

Tags: Kekerasan SeksualPelecehan Seksualpenyintasrumah aman
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

perkara catcalling

Surat Terbuka Untuk Tulisan Perkara Catcalling dan Tergantung Siapa Pelakunya: Memuji dan Catcalling itu Beda, Mz!

10 Agustus 2019
Kota Batu Dibuat Malu Berkat Julianto Eka Putra, Pelaku Kekerasan Seksual (Unsplash.com)

Kota Batu Dibuat Malu Berkat Julianto Eka Putra, Pelaku Kekerasan Seksual di Lingkungan Sekolah

12 Juli 2022
Lelaki yang Alami Pelecehan Seksual Itu Masalah Super Besar dan Bukan Guyonan! terminal mojok.co

Lelaki yang Alami Pelecehan Seksual Itu Masalah Super Besar dan Bukan Guyonan!

18 Januari 2021
cak nadi buaya

Analogi Buaya-Ayam Cak Nadi Bener-bener Ra Mashok!

15 Desember 2021
aib kekerasan seksual kekerasan ekonomi dalam hubungan

Perempuan dan Segala Aib yang Melekat Pada Kami

31 Mei 2019
Memahami Drama Penangkapan Pemerkosa di Pesantren Jombang dari Perspektif Mantan Santri  Terminal Mojok pondok pesantren

Memahami Drama Penangkapan Pemerkosa di Pesantren Jombang dari Perspektif Mantan Santri 

8 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026
8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya (Wikimedia Commons)

8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya

10 April 2026
Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.