Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Stereotip ‘Rajin’ pada Orang yang Suka Membaca Buku Itu Kekeliruan Fatal

Fadlir Nyarmi Rahman oleh Fadlir Nyarmi Rahman
16 Oktober 2020
A A
Cara Mengikhlaskan Buku yang Telah Dimaling Orang-orang Laknat mojok.co/terminal

Cara Mengikhlaskan Buku yang Telah Dimaling Orang-orang Laknat mojok.co/terminal

Share on FacebookShare on Twitter

Sore hari di ruang kerja, dalam penantian kedatangan pasien yang harus diperiksa, saya memilih membaca buku terjemahan bahasa Indonesia dari novel Rich People Problem (2018) karya Kevin Kwan untuk membunuh waktu.

Saat saya tenggelam dalam kisahnya yang mengesankan, seorang perawat menepuk pundak saya dan berkata, “Weseh. Bacain buku, rajin amat koh, Bro.”

Saya hanya menjawabnya dengan singkat, berharap ia cepat pergi, “Hehe, gabut, Mas.”

Ya, saya senewen saja gitu karena sering dibilang seperti itu saat orang lain mendapati saya sedang membaca buku. Mungkin niatnya memuji, tapi alih-alih tersanjung, saya malah jadi nggak nyaman.

Kenapa sih, kegiatan membaca kerap dan harus diidentikkan dengan kata “rajin”? Seolah-olah dengan membaca buku, seseorang otomatis menjadi pribadi yang rajin—untuk nggak mengatakannya keren.

Padahal kan, nggak begitu. Soalnya, menurut saya membaca merupakan kegiatan yang biasa saja. Sekadar kesenangan yang dilakukan orang-orang yang menyukainya. Sama seperti kegiatan yang lain.

Misalnya nih, kamu suka bermain gim Mobile Legends. Pastinya, kamu akan memainkannya di waktu tertentu dan mungkin sudah kamu luangkan khusus untuk kegiatan main gim.

Nah, semua itu dilakukan ya karena kesenangan semata. Kamu mendapat perasaan bahagia, sehingga kamu mau terus-terusan memainkannya. Bahkan mungkin, di sela waktu kerja dengan curi-curi kesempatan dari bosmu, tentu saja.

Baca Juga:

Aquascape Hobi Mahal yang Bikin Saya Semangat Cari Uang

15 Dosa Pemancing di Kolam Pemancingan yang Meresahkan, Bikin Rusak Suasana

Sebenarnya, begitu pun yang dialami orang-orang yang suka membaca buku. Mereka hanya melakukan kesenangannya. Dengan membaca, kebahagian menjalar ke seluruh jiwanya.

Yang nggak suka main ML, pasti nggak akan mendapat euforia seperti saat kamu berhasil menghancurkan tower atau membunuh musuh. Begitu pun, yang nggak suka membaca buku, pasti nggak akan mendapat kebahagian seperti saat pembaca dihadapkan pada kisah yang menakjubkan.

Tapi, anehnya, jika seseorang mendapati kamu sedang bermain ML di tempat dan waktu yang terkesan “nggak pas”, secara nggak adil seseorang itu pasti nggak akan ngatain kamu “rajin” atau stereotip lain yang melekat pada kegiatan bermain gim.  Alih-alih ngatain, seringnya kamu malah ditanya mengenai gim yang sedang dimainkan.

Lebih nggak adil lagi, apabila seseorang itu nggak menyukai kegiatan membaca buku. Pasti ia akan nyinyir dan ngatain “sok”. Tapi, yang main ML di waktu dan tempat yang nggak pas kayak lagi di tongkrongan, nggak pernah tuh dikatain, “Sok amat sih, main ML mulu.”

Sama-sama melakukan kesenangan toh, aslinya. Tapi, kenapa sih, banyak orang nggak bisa adil walau hanya di soal ngata-ngatain doang?

Oh iya, untuk memperjelas, yang saya maksud itu dalam konteks di tempat umum, ya. Bukan di lingkungan yang sama-sama menyukai gim ML maupun kegiatan membaca buku.

Begini. Menurut saya, stereotip pada pembaca itu merupakan kekeliruan yang cukup fatal. Sebab, bisa membuat mereka nggak nyaman untuk menjalankan kesenangannya.

Iya, memang membaca buku lebih enak di rumah atau di lingkungan yang lebih privat. Namun, dalam situasi tertentu seperti yang saya alami atau saat sedang di tempat umum gitu, melakukan kesenangan termasuk membaca buku merupakan hal yang wajar saja, bukan?

Jika pada akhirnya, efek dari membaca adalah menambah “kecerdasan” yang menjadikannya berbeda, ya itu hanya kebetulan belaka bagi saya. Toh, bermain gim, menonton film, menggambar, atau kegiatan lainnya, juga memiliki akibat yang nggak didapatkan dari proses membaca dan sedikit-sedikit menambah kecerdasan juga.

Seperti teman saya saat SD yang suka sekali bermain PS 2. Dia banyak tahu istilah bahasa Inggris dan di kelas termasuk murid unggulan. Ia mengaku bahwa kebanyakan gim itu berbahasa Inggris dan ia belajar darinya.

Singkatnya, setiap kegiatan yang memang didasari rasa senang akan berdampak baik bagi pelakunya. Ini teori siapa, ya? Nggak tau, deh. Yang penting, berdampak baik aja dolooo~

Masalahnya begini, jumlah pembaca buku memang nggak sebanyak itu. Mereka, termasuk saya, agak rikuh untuk sekadar mengeluarkan buku dari tas, membukanya, dan kemudian melanjutkan halaman yang belum terbaca.

Ya, begitu deh. Saya juga yakin, hal tersebut bukan hanya dialami oleh saya saja. Siapa saja yang suka membaca buku dan pernah melakukan kegiatan tersebut di tempat umum pasti juga merasakan hal serupa.

Tapi, ya sudah. Mungkin orang-orang yang sering ngomentarin kayak gitu lupa bahwa peribahasa yang benar itu “rajin membaca jadi pandai, jarang membaca jadi polisi” bukan “pandai membaca jadi rajin”.

BACA JUGA 5 Pesawat Radiologi yang Penyebutannya Kerap Digebuk Rata Jadi ‘Alat Rontgen’ dan tulisan Fadlir Rahman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2020 oleh

Tags: Baca Bukuhobi
Fadlir Nyarmi Rahman

Fadlir Nyarmi Rahman

Seorang radiografer yang sedikit menulis, lebih banyak menggulir lini masa medsosnya. Bisa ditemui di IG dan Twitter @fadlirnyarmir.

ArtikelTerkait

Ironi Perpustakaan Sekolah, (Katanya) Gudang Ilmu tapi Nyaris Tak Tersentuh Terminal Mojok jurusan ilmu perpustakaan

Ironi Perpustakaan Sekolah, (Katanya) Gudang Ilmu tapi Nyaris Tak Tersentuh

15 September 2022
tren bersepeda di tengah pandemi wabah corona tren olahraga mojok.co

4 Alasan Orang Tiba-tiba Suka Bersepeda Belakangan Ini

11 Juni 2020
Selamat Kamu Tidak Juara Kelas, Dik!

Selamat Kamu Tidak Juara Kelas, Dik!

22 Desember 2019
baca buku orang tua anak minat baca mojok

Bertobatlah wahai Orang Tua yang Tidak Suka Baca Buku tapi Menuntut Anaknya Suka Baca

14 Oktober 2020
Kabar Buruk Hari Ini: Perjalanan Seorang Mawa Kresna Selama Menjadi Jurnalis

Kabar Buruk Hari Ini: Perjalanan Seorang Mawa Kresna Selama Menjadi Jurnalis

29 Januari 2024
Mempertanyakan Orang-orang yang Punya Hobi Memancing Mojok.co

Mempertanyakan Orang-orang yang Punya Hobi Memancing

18 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons) sidoarjo

Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres

12 Mei 2026
4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu Mojok.co

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu

12 Mei 2026
5 Kelebihan Kos LV yang Jarang Disadari, Nyatanya Nggak Seburuk yang Diceritakan Orang kos campur

Pengalaman Hidup di Kos Campur: Sebenarnya Tidak Seburuk Itu, tapi Sebaiknya Memang Jangan Pernah Coba-coba Tinggal

13 Mei 2026
Orang Jakarta Baperan: Panggilan ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Mojok.co

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

8 Mei 2026
Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Pernah Menyetir Mobil Adalah Red Flag Sesungguhnya di Jalan Raya Mojok.co

Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Paham Logika Nyetir Mobil Lebih Red Flag di Jalan Raya

14 Mei 2026
Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

9 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.