Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Stasiun Purworejo Memang Sebaiknya Diaktifkan Kembali karena Banyak Manfaatnya

Raihan Muhammad oleh Raihan Muhammad
22 April 2025
A A
Stasiun Purworejo Memang Sebaiknya Diaktifkan Kembali karena Banyak Manfaatnya

Stasiun Purworejo Memang Sebaiknya Diaktifkan Kembali karena Banyak Manfaatnya (Wibowo Djatmiko via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Di kabupaten yang cocok ditinggali oleh kaum introvert, kenangan itu tak pernah benar-benar pergi. Ia menempel di bangunan tua, di aroma karbol bangsal rumah sakit, di lantai tegel yang dingin, bahkan di plang tua berkarat bertuliskan “STASIUN PURWOREJO”. Bangunan yang dulu ramai itu sekarang hanya jadi latar foto orang-orang yang (katanya) cinta heritage, tapi entah kapan terakhir kali naik kereta dari sana.

Stasiun Purworejo sekarang memang statusnya cagar budaya. Sudah dipoles, dipercantik, dan difoto dari segala sudut. Tapi lama-lama rasanya mirip foto mantan yang cuma jadi arsip Instagram: cakep, dikenang, tapi tak pernah kembali. Padahal yang kami butuhkan bukan cuma tempat nostalgia, tapi tempat berangkat. Yang hidup, bukan sekadar hidup di rak arsip sejarah.

Kalau hari ini ada yang bilang warga Purworejo nggak butuh stasiun diaktifkan lagi, coba cek siapa yang diajak bicara. Warga yang tiap hari ke Kutoarjo naik angkot sempit dan ngetemnya lama? Atau transportasi lain yang nunggunya pun lama dan kalau mau ke Jogja harus oper dua kali? Mungkin memang nggak semua orang butuh Stasiun Purworejo aktif lagi. Tapi wisatawan sangat membutuhkannya.

Jangan bikin wisatawan lelah duluan sebelum jalan-jalan keliling Purworejo

Purworejo memiliki potensi wisata yang menenangkan. Cocok untuk pelancong yang kepingin rehat dari hiruk pikuk kota besar. Menikmati suasana tempo dulu yang masih terasa di alun-alun, bangunan kolonial, hingga keramahan warung-warung kecil di sudut kota masih bisa dilakukan di sini. Sayangnya, akses menuju pusat kota tak sepraktis itu. 

Memang sudah ada Stasiun Kutoarjo sebagai penghubung utama jalur kereta di Kabupaten Purworejo. Namun lokasinya yang lumayan jauh dari pusat kota membuat wisatawan masih perlu menempuh jarak puluhan kilometer untuk sampai ke jantung kota. Pilihan transportasi lanjutan ada, tapi nggak selalu nyaman dan efisien. Apalagi bagi mereka yang baru pertama kali berkunjung ke sini.

Seandainya Stasiun Purworejo benar-benar diaktifkan kembali, perjalanan wisata bisa dimulai sejak turun dari kereta. Tanpa perlu ganti kendaraan atau tarik koper ke sana-sini, wisatawan bisa langsung merasakan atmosfer kota. Lebih ramah bagi pelancong, dan tentu saja lebih menyenangkan untuk pariwisata lokal.

Daerah lain banyak yang punya lebih dari satu stasiun, masa Purworejo cuma punya satu stasiun?

Di pelbagai wilayah Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Malang, bahkan Jogja, memiliki dua stasiun atau lebih sudah hal biasa. Jakarta saja punya Stasiun Gambir, Pasar Senen, hingga Jatinegara yang punya fungsi berbeda. Semarang juga punya Stasiun Semarang Tawang dan Poncol. Bukan karena mereka kelebihan lahan, melainkan karena mereka paham bahwa akses transportasi harus dekat dengan denyut warga.

Lantas kenapa Purworejo, yang luas wilayahnya nggak bisa dibilang kecil, cuma mengandalkan satu stasiun di Kutoarjo yang bahkan bukan pusat kota? Boleh sih mengatakan cukup, tapi cukup menurut siapa? Cukup buat warga Kutoarjo mungkin, tapi bagaimana dengan warga Kecamatan Purworejo, Loano, Bener, Kaligesing, Gebang, dan bahkan warga Kabupaten Magelang yang hingga kini nggak punya stasiun kereta api jarak jauh aktif? Kebayang harus menempuh belasan kilometer dulu sebelum bisa naik kereta?

Baca Juga:

Tutorial Menyelamatkan Purworejo: Jiplak Saja Wisata Kebumen dan Cara Magelang Menciptakan Lapangan Kerja

Sudah Saatnya Purworejo Turunkan Ego dan Belajar dari Kebumen daripada Semakin Tertinggal

Di tengah wacana peningkatan konektivitas dan pemerataan pembangunan, rasanya sayang kalau aset sebesar Stasiun Purworejo cuma dijadikan titik foto ala vintage. Padahal bisa kok fungsional dan estetik dalam satu waktu. Tinggal diaktifkan, difungsikan, dan diberi kesempatan hidup kembali.

Stasiun yang hidup bisa menghidupkan ekonomi sekitar

Aktifnya kembali Stasiun Purworejo bukan cuma soal rel dan kereta, tapi juga soal denyut ekonomi yang ikut bergerak. Wisatawan yang turun di jantung kota cenderung lebih mudah mengakses tempat wisata, penginapan, hingga kuliner lokal. Artinya, makin besar potensi warung pecel, tukang becak, pengrajin batik, sampai pengusaha UMKM ikut kecipratan rezeki.

Coba bandingkan dengan kondisi sekarang. Wisatawan yang datang lewat Kutoarjo harus mencari cara sendiri menuju kota. Entah naik angkot yang ngetemnya bisa bikin orang jadi bijak, naik Trans Jateng yang waktu tunggunya lumayan lama, atau ojek online yang kadang nggak ada sinyal. Begitu sampai pusat kota, niat belanja atau nongkrong sudah tergerus lelah di perjalanan. Padahal kalau bisa langsung turun di Purworejo, energi dan dompet mereka masih utuh. Tinggal dipakai belanja, makan, atau ngopi cantik.

Jadi nggak lebay kalau mengatakan bahwa satu stasiun yang hidup bisa menghidupkan banyak hal. Bukan cuma memudahkan wisatawan, tapi juga memberi napas baru bagi ekonomi warga sekitar. Sebab rel yang aktif bukan sekadar soal mobilitas, tapi juga tentang keberlanjutan hidup masyarakat kecil di sepanjang jalurnya.

Stasiun Purworejo bisa jadi oase, bukan sekadar artefak

Kadang yang kita butuhkan bukan pembangunan baru, melainkan keberanian untuk menghidupkan yang lama. Stasiun Purworejo bukan bangunan biasa. Ia saksi zaman, penjaga kenangan, sekaligus peluang masa depan yang belum benar-benar digarap. Membiarkannya tetap diam hanya akan menjadikan kota ini kaya cerita tapi miskin pergerakan. 

Menghidupkan rel lama bukan berarti mundur ke belakang. Justru di situlah letak inovasinya. Bagaimana menjadikan sejarah sebagai jembatan, bukan beban. Kota yang punya arah adalah kota yang tahu cara merawat akarnya tanpa takut tumbuh ke segala arah. Dan salah satu akar penting Purworejo adalah Stasiun Purworejo.

Jadi, kalau ada pilihan antara membiarkannya jadi latar foto prewed atau menjadikannya bagian nyata dari mobilitas dan ekonomi kota, rasanya kita tahu harus pilih yang mana. Karena Stasiun Purworejo bukan hanya soal rel dan lokomotif, tapi juga tentang harapan. Dan harapan, seperti rel tua, selalu bisa digerakkan kembali.

Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Purworejo: Kabupaten dengan Hari Jadi yang Labil dan Stasiun Kereta Mati Suri.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 April 2025 oleh

Tags: Kabupaten PurworejoPurworejostasiun purworejo
Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan. Pemerhati politik dan hukum. Doyan nulis secara satire/sarkas agar tetap waras. Aku menulis, maka aku ada.

ArtikelTerkait

Romantisnya Rute Jogja-Purworejo-Kebumen yang Penuh Jalan Berlubang Sana-sini terminal mojok.co Lumajang

Romantisnya Rute Jogja-Purworejo-Kebumen yang Penuh Jalan Berlubang Sana-sini

1 Februari 2021
Jangan Harap Menemukan Kehidupan Selepas Isya di Purworejo Mojok.co

Jangan Harap Menemukan Kehidupan Selepas Isya di Purworejo

25 Juni 2025
Motor Honda CB Lawas, Standar Sukses Pemuda Purworejo yang Merantau ke Jakarta Mojok.co

Motor Honda CB Lawas, Standar Sukses Pemuda Purworejo yang Merantau ke Jakarta 

6 Maret 2026
Kabupaten Purworejo, Kabupaten Tak Dianggap padahal Jasanya Besar dan Surganya para Introvert

Kabupaten Purworejo, Kabupaten Tak Dianggap padahal Jasanya Besar dan Surganya para Introvert

3 Juni 2025
Jalan Daendels dan Jalan Anyer-Panarukan: Sama-sama Dibangun oleh Daendels, tapi dengan Tujuan yang Berbeda, dan Orang yang Berbeda Pula

Jalan Daendels dan Jalan Anyer-Panarukan: Sama-sama Dibangun oleh Daendels, tapi dengan Tujuan yang Berbeda, dan Orang yang Berbeda Pula

1 Maret 2024
Pasar Kentu Purworejo, Nama Uniknya Bikin Salah Fokus (Unsplash)

Pasar Kentu Purworejo, Pasar yang Pasti Bikin Orang Salah Paham ketika Pertama Mendengar Namanya

19 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Sate Klopo Surabaya Masih Kalah Populer dari Sate Madura, padahal Sama-sama Enak Mojok.co

Alasan Sate Klopo Surabaya Masih Kalah Populer dari Sate Madura, padahal Sama-sama Enak

7 Mei 2026
Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya "Menolak" dan Tidak Bisa Buang Air di Sana

Toilet Rumah Sakit Memang Bersih, tapi Tubuh Saya “Menolak” dan Tidak Bisa Buang Air di Sana

7 Mei 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Bantul Selatan: Surga Tersembunyi buat Pekerja yang Malas Tua di Jalan dan Ogah Akrab sama Lampu Merah

12 Mei 2026
Panduan Memilih Lele di Tenda Lamongan yang Sudah Pasti Enak dan Nggak Bau Mojok.co

Panduan Memilih Lele di Tenda Lamongan yang Sudah Pasti Enak dan Nggak Bau

6 Mei 2026
Jurusan PBSI Memang Jurusan yang Nanggung: Mau Jadi Guru Masih Harus PPG, Sastranya Juga Nggak Terlalu Dalam PPG Calon Guru

Sisi Gelap Kuliah di Prodi PBSI: Belajar Bahasa Indonesia, tapi Mahasiswanya Nggak Paham PUEBI dan Nggak Suka Baca Buku

6 Mei 2026
6 Pelatihan untuk Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial Mojok.co

6 Pelatihan bagi Awardee LPDP yang Lebih Penting Dibanding Pembekalan dari TNI, Ada Academic Writing hingga Literasi Finansial 

11 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri
  • Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada
  • Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa
  • Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung
  • Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus
  • Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.