Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

SpongeBob Mogok Kerja di Episode ‘Squid on Strike’ Adalah Gambaran Demo yang Kompleks

Fatony Royhan Darmawan oleh Fatony Royhan Darmawan
13 Oktober 2020
A A
Tuan Krabs, Tokoh Kartun Cerminan Pemilik Media yang Realistis terminal mojok.co

Tuan Krabs, Tokoh Kartun Cerminan Pemilik Media yang Realistis terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Ada yang menarik dari cerita SpongeBob episode “Squid on Strike” atau yang lebih dikenal sebagai episode mogok kerja. Alur cerita dimulai ketika Tuan Krabs sedang menghitung uang di ruang kerjanya di Krusty Krab. Seraya menghitung uang, Tuan Krabs berujar, “Aku menghitung uang, uang lebih manis daripada madu, uang ini, uang itu, keuntungan akan membuat dompetku tebal.” Sebuah awal yang epik untuk mengawali bagaimana SpongeBob mogok kerja bersama rekannya, Squidward.

Episode ini mengibartkan Tuan Krabs sebagai sosok kikir dan kapitalis. Kepelitan Tuan Krabs sebagai seorang bos bahkan sudah diakui di Bikini Bottom dan mendapat penghargaan kepiting paling pelit mengalahkan kepiting pelit lainnya.

Kekikiran Tuan Krabs kembali muncul saat memberikan gaji kepada anak buahnya, Squidward dan SpongeBob. Dari amplop yang disodorkan, alih-alih isinya uang, amplop Squidward malah berisikan celana dalam dan amplop SpongeBob berisi tagihan. Akibatnya Squidward mengajak dan mengajari SpongeBob untuk melakukan mogok kerja bersama.

Alur cerita episode ini seolah-olah sejalan dengan yang terjadi di Indonesia belakangan ini, yakni demonstrasi buruh menolak pengesahan UU Cipta Kerja. Nasib kaum buruh yang berusaha protes kepada pemilih usaha menjadi inti cerita di episode ini. 

#1 SpongeBob dibutakan pekerjaan

Sebagai seorang buruh, karakter spongeBob ini nggak patut dicontoh. Kecintaannya kepada pekerjaan sebagai koki telah membutakan nalar sehatnya sebagai seorang buruh. Lha wong disodori tagihan sama Tuan Krabs tepat di hari gajian, kok mau-maunya membayar. SpongeBob selalu bersembunyi di balik kecintaannya pada pekerjaan. Bukankah karakter demikian juga sering kita temui? Banyak karyawan dan buruh yang apatis dan merasa bahwa bersyukur adalah sebuah cara menahan amarah. Padahal, apa yang mereka lakukan memicu pihak kapital untuk terus menekan pekerjanya. Alih-alih bahagia, buruh demikian justru akan terlihat mudah dibodohi.

Hal berbeda ditunjukkan oleh karakter Squidward. Walaupun pemalas, tapi ia setidaknya masih punya akal sehat dalam urusan pekerjaan. Squidward dalam episode ini menuntut kenaikan upah demi kesejahteraannya setelah sekian lama bekerja dengan Tuan Krabs, gajinya nggak pernah dinaikkan. Malah, ia berkali-kali diberi tagihan dan potongan gaji sepihak. 

#2 Squidward dalang demonstrasi yang payah

Pemerintah Bikini Bottom kalau mencari siapa dalang di balik aksi demonstrasi Krusty Krabs, jawabannya adalah Squidward. Semua bermula ketika Squidward memprovokasi SpongeBob untuk bersama-sama melakukan mogok kerja hingga mereka berdua dipecat. Squidward juga berniat membongkar penindasan selama ini yang dilakukan Tuan Krabs.

Tetapi, sayangnya Squidward sangat payah sebagai seorang dalang demonstrasi jalanan. Begitu payahnya Squidward, terlihat ketika ia menginjak-injak topi Krusty Krab tapi malah ditilang polisi Bikini Bottom karena dianggap membuang sampah sembarangan.

Baca Juga:

Jumbo, Sebaik-baiknya Film Animasi Anak Indonesia yang Pernah Saya Tonton

Patrick Star dalam SpongeBob SquarePants Sebenarnya Orang Kaya yang Pura-pura Bodoh demi Bisa Bahagia

Selanjutnya Squidward mengajak SpongeBob membuat papan bertuliskan “Krusty Krab Unfair” (Krusty Krab Tidak Adil), tetapi SpongeBob malah menulis “Krusty Krab Funfair” (Krusty Krab Taman Bermain) sehingga orang-orang berdatangan dan menginjak-injak Squidward.

Kemudian Squidward berorasi dan berhasil menarik perhatian massa, tetapi orasi Squidward malah membuat mereka lapar dan pergi ke Krusty Krab. Tuan Krabs pun mentertawakan kegagalan Squidward dan SpongeBob.

Upaya Squidward dan SpongeBob mogok kerja rupanya tidak berjalan mulus. Cara mereka menarik perhatian massa memang awalnya berhasil, banyak orang bersimpati dan mengamini orasi Squidward. Sayangnya, massa yang bukan buruh itu nggak paham substansi. Mereka cuma datang meramaikan, lalu pergi dengan kembali menginjak-injak Squidward. Perjuangan kadang memang terjal.

#3 Tuan Krabs nggak punya buzzer

Walau serakah dan kikir, saya perlu angkat topi untuk Tuan Krabs. Sebagai seorang pimpinan yang punya posisi strategis, Tuan Krabs nggak sedikit pun mempekerjakan buzzer bayaran sebagai tameng atau pasukan yang bakal membelanya kalau ada yang mengusik.

Tuan Krabs juga menjunjung prinsip demokratis dalam memimpin Krusty Krab. Buktinya ketika SpongeBob dan Squidward melakukan demo, Tuan Krabs sama sekali nggak mengerahkan kepolisian Bikini Bottom untuk membubarkan demo dengan gas air mata.

Di akhir tayangan, Tuan Krabs bahkan berusaha mencapai kesepakatan dengan Squidward dan mengabaikan gengsinya. Inilah yang diharapkan buruh, dirangkul oleh pemimpin, bukan diinjak-injak dan diperlakukan semena-mena.

#4 SpongeBob bertindak brutal

Adegan yang paling epik adalah ketika SpongeBob bisa sangat bebas mengobrak-abrik dan merobohkan Krusty Krab. Saya jadi iri ketika SpongeBob dapat dengan bebas meluapkan kekesalannya kepada atasannya tanpa harus merasakan pedihnya gas air mata.

Saya juga heran kenapa nggak ada sama sekali aparat kepolisian Bikini Bottom yang sadar akan aksi SpongeBob. Sedangkan sewaktu Squidward menginjak-injak topi Krusty Krab, tiba-tiba ada polisi datang menilang. Di manakah polisi Bikini Bottom di malam hari waktu SpongeBob menyabotase Krusty Krab?

Sayangnya upaya brutal SpongeBob ini sebenarnya sudah melebar dari wacana mogok kerja yang ia rencanakan dengan Squidward. Hal ini bikin Squidward dan SpongeBob yang sama-sama demonstran tidak satu suara lagi. Kawan-kawan, kalau sudah terpecah belah, urusannya memang jadi susah.

#5 Bikini Bottom nggak butuh UU Ciptaker

Melihat keserakahan dan kepelitan Tuan Krabs dalam menetapkan gaji karyawan, saya jadi sepakat kalau di Bikini Bottom memang nggak perlu pakai UU Ciptaker. Lha, tanpa wacana baru bagi buruh saja, karyawan Krusty Krab sudah demo. Kalau Squidward dan SpongeBob mogok kerja, siapa yang menjamin asupan Krabby Patty ke seluruh umat Bikini Bottom? 

BACA JUGA Review Grup Dangdut Hasoe Angels dari Orang yang Nggak Pernah ke Klub Malam dan tulisan Fatony Royhan Darmawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2020 oleh

Tags: animasiSpongeBob
Fatony Royhan Darmawan

Fatony Royhan Darmawan

Seorang mahasiswa yang hobi main Pro Evolution Soccer level beginner dan suporter klub liga 3 yang hampir bubar.

ArtikelTerkait

Andai SpongeBob Tinggal di Indonesia, Pasti Lolos Ujian SIM

Andai SpongeBob Tinggal di Indonesia, Pasti Lolos Ujian SIM

18 Februari 2022
Membandingkan Alat Sandy Cheeks dan Doraemon, Manakah yang Lebih Berguna? terminal mojok.co

Membandingkan Alat Sandy Cheeks dan Doraemon, Manakah yang Lebih Berguna?

25 Desember 2020
Kalau Pengin Lebih Laris, Nussa-Rara Harus Belajar dari Animasi Omar dan Hana Pengalaman Saya Menonton Sinetron Azab di Indosiar

Kalau Pengin Lebih Laris, Nussa-Rara Harus Belajar dari Animasi Omar dan Hana

4 Juni 2020
Penayangan Film Nussa di Bioskop Adalah Ujian buat para Orang Tua terminal mojok.co

Penayangan Film Nussa di Bioskop Adalah Ujian buat para Orang Tua

19 Oktober 2021
Kata Siapa Nenek-nenek Nggak Bisa Jadi Superhero? Super Neli Buktinya!

Kata Siapa Nenek-nenek Nggak Bisa Jadi Superhero? Super Neli Buktinya!

29 Mei 2020
Apa Jadinya Kalau Karakter dalam Film Avatar Aang Hidup di Jogja Terminal Mojok

Apa Jadinya Kalau Karakter dalam Film Avatar Aang Hidup di Jogja?

16 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Mempercepat Antrean di Psikiater

Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Menambah Antrean di Psikiater

14 Maret 2026
Tips Membuka Bisnis Rental Mobil Selama Lebaran untuk Pemula, Alias Nggak Usah!

Tips Membuka Bisnis Rental Mobil Selama Lebaran untuk Pemula, Alias Nggak Usah!

14 Maret 2026
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons)

Nasib Orang Surabaya di Gresik: Bertahan Hidup di Tengah Matinya PDAM dan Ganasnya Sistem Inden SD

19 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Waktu Lebaran Tak Pernah Sepi, Ia Disesaki oleh Orang yang Pulang Kampung, Perantau yang Lari, dan Wisatawan Bermodal THR Tebal

13 Maret 2026
Kontrakan di Jogja itu Ribet, Mending Sewa Kos biar Nggak Ruwet, Beneran   pemilik kos

4 Kelakuan Pemilik Kos yang Bikin Jengkel Penyewanya dan Berakhir Angkat Kaki, Tak Lagi Sudi Tinggal di Situ

13 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Was-was Kuliah
  • Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku
  • Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik
  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.