Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Split the Bill Bisa Jadi Cara Bentuk Kesetaraan dalam Hubungan

Annisa Rizkia Arigayota oleh Annisa Rizkia Arigayota
4 Januari 2020
A A
Split the Bill Bisa Jadi Cara Bentuk Kesetaraan dalam Hubungan
Share on FacebookShare on Twitter

Saya bertaruh setidaknya Anda pernah sekali “rebutan” bill setelah nge-date sama pacar (kalau sudah pernah punya pacar, hehehe). Hal ini sering terjadi karena beberapa laki-laki merasa punya tanggung jawab dan ego untuk tidak membiarkan perempuannya membayar, dan beberapa perempuan yang masih jaim ingin ikut membayar padahal dalam hati enggan membayar. Alasannya adalah pemahaman tentang “laki-laki yang harus bayar” masih sangat mainstream di Indonesia. Mungkin kalimat ini sudah familiar di telinga perempuan Indonesia: kalau makan sama pacar, jangan sampai kamu yang bayar ya!

Pemahaman ini tak terlepas dari kedudukan gender di Indonesia yang masih timpang. Nggak hanya sekali saya mengenal perempuan-perempuan yang enggan membayar bila sedang jalan dengan pacarnya. Menurut mereka, itu merupakan tanggung jawab sang pacar–yang adalah laki-laki–sebagai bentuk tanggung jawab karena telah mengajak si perempuan keluar rumah. Laki-laki di Indonesia yang mainstream-nya melakukan first move dalam sebuah hubungan pun dianggap sebagai pihak yang harus berjuang–dalam hal ini ngebayarin–demi mendapatkan hati perempuan. Padahal, kalau gender setara, seharusnya baik laki-laki dan perempuan bisa menjadi pihak yang harus berjuang kan?

Nggak hanya sekali pula saya mengamati perempuan-perempuan ini jadi terbiasa dengan laki-laki yang mampu secara finansial karena dapat membiayai ongkos jalan mereka setiap saat. Hal ini kemudian berimplikasi pada pola pikir perempuan tersebut yang ingin selalu dilayani (atau dijajani), kemudian enggan berhubungan dengan laki-laki yang mereka rasa tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka secara finansial. Kadang saya gemas sendiri, dan pengin blak-blakan bilang, “Pacarmu bukan mesin ATM lho Mbak.”

Pernah sekali saya berbincang dengan seorang teman laki-laki yang baru saja putus dengan pacarnya. Ketika ditanya alasan putusnya, ia kemudian berkeluh kesah, “Nggak mau pacaran lagi, ah. Jajannya banyak, kalau ngambek harus dibelikan makanan mahal supaya baikan. Tekor!”

Lho, ini jelas membentuk stigma bahwa pacaran pasti membuat laki-laki bokek, dan perempuan maunya jajan terus dan mintanya dibayarin lagi.

Pemahaman “laki-laki yang harus bayar” ini menurut saya sudah menunjukkan bahwa perempuan pun menempatkan dirinya di bawah laki-laki, tidak setara. Laki-laki yang dianggap dapat memiliki karier lebih baik dari perempuan mampu menghasilkan uang lebih banyak, sehingga harus menopang kemauan “jajan” perempuan yang ia inginkan untuk menjadi kekasih hatinya. Kok rasanya perempuan seperti dibeli dengan uang, ya?

Saya sebagai perempuan, merasa sangat nyaman bila saya dengan pasangan bisa berbagi bill, atau mungkin bahasa kerennya split the bill, supaya kami bisa membayar hasil “jajan” kami masing-masing. Selain lebih adil, saya juga merasa nggak punya hutang yang harus dibayar kepada pasangan (meskipun biasanya pasangan bilang di depan muka kita “aku ikhlas kok sayang,” padahal dalam hati menggerutu).

Belum lagi, kalau kami berdua masih belum mandiri secara finansial, uang pun masih didapat dari orang tua. Nggak malukah kita morotin uang orang tua laki-laki yang kita sayangi?

Baca Juga:

Mengakhiri Langgengnya Ideologi Kejantanan

Surat untuk Gus Yahya: Kesetaraan Gender Itu Nggak Cuma Ngurusin “Kapasitas”, Gus

Saya menulis ini murni karena keresahan pribadi melihat beberapa teman laki-laki yang jadi nggak punya uang untuk kesenangannya sendiri dan teman-teman perempuan yang jadi serakah. Buat saya, menjadi mandiri secara finansial adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Menggantungkan gaya hidup dan urusan finansial pada orang lain adalah hal yang paling tidak masuk akal menurut saya. Kalau hal sekecil ini saja laki-laki dan perempuan nggak bisa setara, bagaimana di hal-hal yang lebih kompleks?

Lagipula, Anda masih bisa split the bill dengan pasangan kok. Misal, hari ini saya traktir nonton bioskop, besok dia traktir saya makan di kafe. Saling ya, bukan salah satu.

Jangan banyak menuntut kesetaraan gender kepada masyarakat kalau hal sekecil ini saja perempuan nggak bisa memosisikan diri setara dengan laki-laki. Saya mengakui kok, meskipun terkadang laki-laki brengsek dalam hubungan, saya pikir banyak cara untuk balik membrengseki mereka tanpa harus menguras habis uangnya. Hehehe.

BACA JUGA Meminta Oleh-oleh dan Traktiran adalah Budaya Kita atau tulisan Annisa Rizkia Arigayota lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Januari 2020 oleh

Tags: Kesetaraan Gendersplit the bill
Annisa Rizkia Arigayota

Annisa Rizkia Arigayota

Annisa Rizkia Arigayota yang akrab disapa Icha adalah mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Ia sering mendapatkan ide menulis ketika bangun tidur dari mimpinya yang selalu absurd.

ArtikelTerkait

Catatan Program KB di Perayaan Hari Kartini Sebagai Bentuk Ketidaksetaraan Gender terminal mojok

Catatan Program KB di Perayaan Hari Kartini sebagai Bentuk Ketidaksetaraan Gender

21 April 2021
kesetaraan gender

Yang Kejam Kapitalisme, yang Ditolak Malah Kesetaraan Gender, Ukhti Sehat?

5 April 2020
Sepak Bola Putri

Bangkitnya Sepak Bola Putri Indonesia

10 Oktober 2019
the world of the married drakor selingkuh feminisme patriarki MOJOK.CO

The World of the Married Nggak Cuma Soal Cerita Perselingkuhan Lee Tae-oh

23 Mei 2020
perempuan ngegombal

Perempuan Juga Boleh dong Ngegombal

17 Maret 2020
Kalau Split Bill Dianggap Bikin Ribet, Pakai Cara Yumi dan Woong di Drakor Yumi's Cells Aja terminal mojok

Kalau Split Bill Dianggap Ribet, Pakai Cara Yumi dan Woong di Drakor Yumi’s Cells Aja

22 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

29 Maret 2026
Makanan Malang yang Membuat Saya sebagai Perantau Kecewa, Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

1 April 2026
Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara: Membayar Tiket Eksekutif demi Uji Nyali Makan Nasi yang Sudah Almarhum

29 Maret 2026
Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

1 April 2026
Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

29 Maret 2026
Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya
  • Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja
  • User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan
  • Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa
  • Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”
  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.