Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Solo dan Jogja Nggak Cocok untuk Frugal Living, Mending ke Delanggu Aja! 

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
24 Januari 2026
A A
Solo dan Jogja Nggak Cocok untuk Frugal Living, Mending ke Delanggu Aja! Mojok.co

Solo dan Jogja Nggak Cocok untuk Frugal Living, Mending ke Delanggu Aja!  (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Delanggu lebih cocok untuk frugal living.

Sepertinya konsep frugal living hari ini bukanlah ide yang unik. Toh kita semua dipaksa untuk frugal dengan kondisi ekonomi dan sosial yang … sebut saja menantang. Tapi, entah kenapa masih banyak orang yang menjadikan frugal living sebagai pilihan hidup. Dan, untuk menyempurnakan kekonyolan ini, mereka ingin frugal living di Jogja atau Solo. 

Entah bagaimana fantasi frugal living menurut mereka, tapi ini ra mashok blas! Mungkin frugal living ala mereka adalah tinggal di penthouse dan hidup dari bagi hasil investasi. Tapi, setiap hari makan sayur lodeh dan belanja produk organik. Bukan hidup dengan UMR yang mencekik dan gali-tutup lubang utang. 

Dua lokasi itu bukan opsi! Jogja dan Solo akan mengisap isi dompet kalian secepat lintah mengisap darah anak rusa. Tidak, jangan ke Jogja dan Solo. Pilihan terbaik ada di kecamatan Delanggu di Klaten!

Delanggu kecamatan kecil yang diapit dua raksasa 

Aku harus spesifik untuk menyebut Delanggu. Karena geser sedikit ke barat, kalian akan bertemu Klaten. Dan, Klaten yang kini jadi perpanjangan tangan Jogja jelas tidak cocok untuk frugal living. Ya, kecamatan yang cukup besar ini adalah wilayah terbaik yang tersisa untuk hidup miskin yang estetik. 

Meskipun hanya kecamatan dan dikenal sebagai lumbung padi, Delanggu bukanlah desa terpelosok. Kecamatan ini menjadi jalur utama yang menghubungkan Jogja dengan Solo. Benang merah yang mengikat dua monarki yang pecah pasca Giyanti. Posisi ini yang membuat Delanggu tidak terlalu ndeso, tapi tidak terlalu kota. 

Posisinya yang terapit juga membuat Delanggu tidak terseret arus pembangunan dua raksasa lain. Berjarak 44 kilometer dari Jogja dan 20 kilometer dari Solo membuat Delanggu jadi buffer zone. Kecamatan ini bukan titik perputaran uang, dan sekadar jadi ‘jalan raya’ dua mesin ekonomi. Sehingga Delanggu sukses mempertahankan ekonomi agraris. 

Akan tetapi, dengan posisi tengah ini, Delanggu punya akses ke dua daerah yang lebih berkembang. Tanpa harus mengubah Delanggu jadi metropolitan baru. Dan, posisi ini sangat cocok bagi kalian yang masih fetishizing perkara hidup miskin estetik. 

Baca Juga:

Jogja Dijual (dan Sudah Laku), Warganya Cukup Jadi Penonton Sambil Ngontrak Saja

Dosa Penjual Tongseng Kambing yang Merusak Rasa dan Mengecewakan Pembeli

Baca juga Orang Jogja Nggak Kenal Frugal Living, Sejak Dulu Sudah Terlatih Prihatin Living Gara-gara UMK yang Tiarap.

Properti Delanggu terjangkau untuk hidup miskin estetik 

Tentu unsur utama hidup kita belum berubah sejak Orde Baru: Pangan; Papan, dan; Sandang. Nah perkara papan atau hunian ini krusial dalam frugal living. Kamu bisa makan oseng-oseng lombok dan pakai kaos partai tiap hari. Tapi ketika harga properti melambung tinggi maka hidup kalian tetap ngos-ngosan membayar KPR. 

Aku coba mencari harga kontrakan di daerah Delanggu. Puji Tuhan, masih di bawah Rp13 juta per tahun. Alias kurang lebih satu juta per bulan. Bandingkan dengan Jogja dan Solo yang dikuasai kos-kosan mahal. Bahkan, dengan budget sewa kos di dua kota itu, kalian bisa dapat rumah lega di Delanggu. 

Membeli properti di Delanggu juga lebih masuk akal dibanding Jogja dan Solo. Tentu saja, karena Delanggu adalah kecamatan rural yang sederhana. Aku pernah mencari harga rumah paling standar di Jogja, 300 juta-an. Di Delanggu, kamu sudah dapat rumah cukup lega dengan bonus halaman yang bisa jadi carport dua mobil SUV. Tapi kamu ingin frugal living, kan? Pakai saja halaman itu untuk berkebun dan menghasilkan pangan. 

Kenapa aku tidak memasukkan unsur pangan dan sandang? Bukan karena tidak penting, tapi karena rerata harga keduanya kini tidak terlalu mencolok. Perkara pangan tentu bisa diakali dengan jajan di warung tetangga atau memasak di rumah. Dan, sandang bisa diakali dengan menanti tanggal kembar atau sumbangan kaos parpol. Tapi papan adalah kunci frugal living sebenarnya. 

Fasilitas umum yang siap memanjakan frugal living 

Kalau kamu melihat Delanggu dari Google Maps, pasti akan merasa sunyi senyap. Tidak ada fasilitas umum yang mentereng, apalagi pusat ekonomi megah. Tapi, perhatikan satu poin utama: dia ada di tengah-tengah daerah yang lebih ‘mahal’. Dengan sedikit effort (baca: motoran 30 menit sampai 1 jam), kamu sudah bisa mengakses fasilitas umum kelas atas. Kamu juga bisa mengakses mall, bioskop, dan pusat hiburan lain dengan geser ke Jogja atau Solo. 

Tapi kalian ingin frugal living, kan? Ngapain mikir mall dan bioskop? Hiburan frugal itu cukup menonton jathilan, YouTube (bukan premium), dan scrolling kekonyolan pejabat. 

Untuk kebutuhan dasar, Delanggu sudah ada rumah sakit dan sekolah sampai tingkat menengah. Kalau perkara menguliahkan anak, cukup geser sedikit ke dua kota tadi. Itu pun masih bisa pulang-pergi tiap hari modal motor yang rutin ganti oli. 

Tapi jika kalian butuh akses ke Jogja atau Solo secara rutin, masih ada KRL. Stasiun Delanggu jadi titik pemberhentian KRL Jogja-Solo yang jelas murah itu. Kalian bisa bekerja di Jogja atau Solo demi gaji yang lumayan, lalu tidur nyenyak di Delanggu. Meskipun tabu menyebut gaji di dua kota itu dengan “lumayan”.  

Satu lagi, koneksi internet di Delanggu sudah sangat layak! Tentunya ini penting bagi kalian yang bekerja remote. Atau minimal harus rutin update story hidup susah estetik. 

Baca juga Kabupaten Nganjuk, Satu-satunya Tempat di Jawa Timur yang Akan Membuatmu Kaya Raya.

Pemuas fantasi frugal living 

Yang lebih penting perkara frugal living bukan poin-poin sebelumnya. Tapi, bagaimana bisa meromantisisasi hidup susah dengan gaya. Dan, Delanggu adalah pemuas fantasi bagi mereka yang punya fetish mlarat. Delanggu, meskipun jadi jalur distribusi utama, tetaplah kecamatan rural. Sepedaan di pinggir hamparan sawah luas bukanlah mimpi di Delanggu. 

Bayangkan begini, kalian adalah pekerja remote dengan kantor pusat di Singapura. Setiap pagi kalian akan menyiapkan laptop di teras rumah, lalu Check-In meeting sambil menatap sawah. Sarapan jajan pasar yang satu item masih seribuan. Siang sedikit kalian makan di warung tetangga yang masih mematok harga nasi ayam sepuluh ribuan. Ketika matahari mulai malu-malu di ufuk barat, kalian selesaikan pekerjaan dan jalan-jalan santai keliling desa. Malamnya kalia tidur ditemani suara jangkrik tanpa ada keriuhan ala pusat kota. 

Itu kan fantasi frugal living kalian?! Sudahlah, Delanggu adalah titik terbaik memulai hidup miskin yang estetik dan instagramable. Setidaknya sampai Delanggu (atau Klaten) menyerah, jadi korban gentrifikasi, dan berakhir seperti daerah lain. 

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2026 oleh

Tags: delanggufrugal livingJogjaklatensolo
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Kasta Helm di Jogja: BMC dan GM Mutlak Dimiliki Gondes Bantul, Cargloss Dipakai Warga Sleman

Kasta Helm di Jogja: BMC dan GM Mutlak Dimiliki Gondes Bantul, Cargloss Dipakai Warga Sleman

20 Maret 2025
Siasat Naik Kereta Ekonomi Solo-Nganjuk agar Kursi Tidak Hadap Belakang Mojok.co

Siasat Naik Kereta Ekonomi Solo-Nganjuk agar Kursi Tidak Hadap Belakang

1 Oktober 2024
Part Time Dagadu Jogja Banyak Untungnya, Mahasiswa Jogja Wajib Coba Mojok.co

Part Time di Dagadu Jogja Banyak Untungnya, Mahasiswa Jogja Wajib Coba

17 Januari 2024
Lamongan (Unsplash.com)

Lamongan Tak Butuh Diromantisasi, Apalagi Dibandingin Sama Jogja

23 Juni 2022
Transmart Pabelan Solo: Dulu Digdaya, Kini Menatap Muram-muram Duka

Transmart Pabelan: Mall Besar yang Sekarang Hidup Segan, Mati (Sepertinya) Sudah Pasti

14 November 2025
Pengalaman Suram sebagai Mahasiswa Perempuan Jogja yang Pulang Malam   Mojok.co

Pengalaman Suram sebagai Mahasiswa Perempuan Jogja yang Pulang Malam  

26 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Bikin Sengsara Lulusan S2 (Unsplash) LPDP

Beasiswa LPDP Terkadang Memang Tak Tepat Sasaran, tapi BIB Justru Jauh lebih Mengecewakan

2 Maret 2026
Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga fisioterapi

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh

3 Maret 2026
All New Honda Vario 125 eSP 2018: Motor Matik Kencang, Nyaman, dan Paling Enak Dipakai Harian motor honda blade 110 honda vario 160 supra x 125 vario street

Honda Vario 125 Generasi Keenam, Motor dengan Desain Gagah tapi Kualitasnya Ampas

4 Maret 2026
Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi Mojok.co

Bukit Menoreh Memang Tidak Nyaman, dan Kamu Juga Nggak Harus Suka kok

5 Maret 2026
Ironi Mahasiswa Madura di UNESA: Kena Roastingan Rasis Dosen Soal Suku, Malah Ditertawakan Mahasiswa Penjilat yang Cari Muka

Ironi Mahasiswa Madura di UNESA: Kena Roastingan Rasis Dosen Soal Suku, Malah Ditertawakan Mahasiswa Penjilat yang Cari Muka

6 Maret 2026
songkok nasional

Mengenal Songkok dari Simbol Perlawanan hingga Identitas Wibawa Indonesia

2 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa
  • Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan
  • Derita Anak Rantau di Jogja: Sulit Cari Kos Murah, Nyaris Terjebak Dunia Gelap, hingga Temukan “Berkah” di Masjid
  • Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Kena Mental demi Bahagiakan Ayah Ibu yang Hanya Lulusan SD hingga Jadi Wisudawan Terbaik
  • KA Ambarawa Ekspres Andalan Bonek Tempuh “Jalan Kegilaan” di Rute Grobogan – Pasarturi, Demi Ziarah ke Rumah Kedua
  • Menertawakan Usia 30 Tahun Bersama Priska Baru Segu Lewat “Pertigapuluhan” di Yogyakarta

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.