Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Smart Gate System (SGS) di Universitas Negeri Malang (UM), Kebijakan Baru dengan Rasa Lawas: Tetap Mendadak dan Merepotkan!

Ahmad Fahrizal Ilham oleh Ahmad Fahrizal Ilham
7 April 2025
A A
Smart Gate System Universitas Negeri Malang (UM) Merepotkan! (Unsplash)

Smart Gate System Universitas Negeri Malang (UM) Merepotkan! (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Di bulan Ramadan lalu, kampus tercinta saya, Universitas Negeri Malang (UM), tiba-tiba mengedarkan 2 buah surat pemberitahuan. Kedua surat itu, mengabarkan kepada seluruh civitas akademika, bahwa akan segera dibangun Smart Gate System (SGS), di 4 Gerbang Utama UM. Yakni di Jalan Semarang, Veteran, Surabaya, dan Ambarawa.

Berdasarkan surat itu, seluruh warga Universitas Negeri Malang (UM) harus mendaftarkan nomor plat kendaraan bermotornya masing-masing. Ini hanya untuk bisa masuk area kampus tanpa pungutan biaya. 

Sementara itu, masyarakat umum yang berkepentingan atau sekadar pengen berkunjung ke kampus, wajib membayar tarif tertentu. Besaran nominalnya belum terang. Sungguh, ini sebuah peraturan yang sangat aneh.

Menduga alasan Universitas Negeri Malang (UM) melakukannya

Meski saya langsung keheranan saat membaca surat edaran itu, beberapa teman saya, banyak yang berhusnuzan. Mungkin, pembangunan SGS ini merujuk pada banyaknya kasus pencurian helm atau barang-barang berharga lainnya di dalam kampus.

Harapannya, dengan adanya SGS ini, pihak keamanan Universitas Negeri Malang (UM), akan mudah melacak yang keluar-masuk kampus. Jadinya, kalau ada pelaku pencurian atau orang yang berkunjung ke UM dengan gelagat yang mencurigakan, bisa dengan cepat ditangkap dan diamankan.

Tentu, ini niat yang baik. Walaupun, saya merasa masih ada cara lain yang lebih masuk akal. Misalnya, dengan memperbanyak area pengawasan CCTV dan memperluas kawasan dengan pencahayaan yang baik saat malam hari. 

Belum lagi, masih banyak titik-titik lain, di luar gerbang utama, yang bisa menjadi pintu masuk bagi orang asing ke dalam area UM. Khususnya via jalan kaki.

Asumsinya, kalau pencuri atau orang yang berbuat jahat sudah pasti naik kendaraan bermotor, saya bisa paham kenapa SGS ini diberlakukan. Tetapi kalau masih banyak jalan tikus yang bisa diakses oleh warga umum, ya kenapa mesti memberlakukan SGS, sih?

Baca Juga:

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

Malah kelihatan banget nyari uangnya

Alih-alih mengamankan area kampus, saya justru melihat, ada tendensi jika kebijakan ini sangat kental dengan nuansa “nyari uang banget”.

Perlu diketahui, sebelum diberlakukannya SGS, di Universitas Negeri Malang (UM) sendiri sudah ada kebijakan-kebijakan berkaitan dengan uang, yang tidak kalah menyebalkan. Misalnya, peraturan wajib transaksi cashless di seluruh kantin. Imbasnya adalah naiknya harga semua makanan.

Selain itu, ada juga peraturan baru yang mengatakan bahwa wisudawan Universitas Negeri Malang (UM) hanya boleh membawa satu orang tamu undangan saja. Sementara kalau mau tambah, ada biaya Rp100.000 per kepala. 

Tentu ini sangat ngeri apabila kita membayangkan ada 2 orang tua mendampingi wisudawan. Namun, karena uang sudah habis untuk akomodasi, sang ibu tidak bisa mendampingi. Sedih sekali membayangkan kejadian kayak gini.

Teranyar, ke depannya, masuk ke gerbang Universitas Negeri Malang (UM) juga akan kena biaya tambahan. Bagi saya, peraturan ini menyiratkan bahwa masyarakat umum yang tidak ikut urun bayar UKT, seolah tidak boleh memasuki area kampus dengan cuma-cuma.

Padahal, bisa saja ada seorang driver ojol yang perlu mencari nafkah, atau anak-anak SMA yang kepengen tahu bentukannya UM seperti apa. Bisa juga ada peserta lomba yang diadakan di UM. Bayangkan, masa mereka sekarang harus bayar “tiket” dulu, hanya untuk masuk ke UM?

Heran banget, sebetulnya UM tuh kampus apa tempat wisata, sih? Kok kelihatan banget kebelet kayanya.

Menyayangkan minimnya sosialisasi dari Universitas Negeri Malang (UM)

Selain itu, dari kedua surat yang saya terima, saya hanya mendapat informasi kalau akan ada pembangunan SGS beserta linimasa proyeknya. Yakni, pendaftaran plat nomor pada 24-31 Maret, uji coba 5-9 Mei, dan masa pemberlakuan di 14 Mei.

Anehnya, di dalam kedua surat tersebut, tidak termaktub berapa besaran uang yang harus dibayar ketika orang di luar Universitas Negeri Malang (UM) hendak memasuki area kampus. Jelas, ini menjengkelkan. Sudah peraturannya aneh, sosialisasinya juga jelek!

Kok bisa, peraturannya sudah mau diberlakukan, sudah ditetapkan jadwalnya, tapi tidak dibuka secara gamblang rincian tarif masuk gerbangnya?

Padahal harusnya, jauh sebelum peraturan diteken, minimal ada diskusi terbuka, agar kebijakan yang lahir bisa mengakomodasi kebutuhan civitas akademika UM. Lha ini tidak. Bahkan saat peraturannya sudah mau berlaku, kami dari mahasiswa, tidak bisa mendiskusikan atau memberi masukan kepada pihak kampus dengan jelas.

Karena yaa, tidak ada transparansi yang lebih jelas soal aturan ini dari jauh-jauh hari!

Pandangan saya sebagai anak Ilmu Komunikasi

Kebetulan, di semester ini, saya mendapat mata kuliah bertajuk “Komunikasi Pembangunan”. Yap. Saya awalnya mengira kalau mata kuliah ini bakal mempelajari pola komunikasi seorang mandor kepada kuli bangunan. Tapi sialnya, ternyata bukan.

Komunikasi pembangunan, lebih menyoroti peran strategis komunikasi dalam mendorong perubahan sosial, pemberdayaan masyarakat, serta penyebaran informasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi, politik, dan budaya secara berkelanjutan.

Nah. Dan dari yang saya pelajari di kelas, kebijakan SGS di Universitas Negeri Malang (UM) ini, terasa seperti melawan kaidah dari komunikasi pembangunan. Di mana, proses pembangunan yang “diupayakan” untuk mengamankan lingkungan kampus, justru dikomunikasikan secara payah. Tidak ada forum diskusi yang sehat dan terbuka, apalagi jajak pendapat sebelum-sebelumnya.

Komunikasi pembangunan melihat, pembangunan semacam ini lebih dekat dengan nuansa percepatan tanpa kehati-hatian. Kalau dalam bahasa proklamasi, seolah dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya, tapi tidak dengan cara saksama. Konsep pembangunan seperti ini, akan cenderung mengesampingkan hal-hal fundamental yang ada dalam lingkungan. Misalnya, nilai-nilai sosial dan budaya yang ada.

Dan itu terlihat jelas. Apakah pembangunan SGS ini, sudah pasti mampu mengakomodasi nilai-nilai sosial dan budaya yang ada di masyarakat?

Maksud saya, dengan sistem yang bakal memajaki masyarakat umum untuk keluar-masuk kampus, apakah sudah mencerminkan nilai bahwa kampus seharusnya terbuka bagi siapa saja?

Saya hanya berharap, jangan sampai SGS Universitas Negeri Malang (UM) ini, justru lebih mencekik hidup orang banyak. Kita tahu, di Kota Malang sendiri sudah ada bejibun tukang parkir dan pungutan liar yang belum bisa dibereskan sampai hari ini.

Seharusnya Universitas Negeri Malang (UM) nggak perlu memungut uang kayak gini

Maka, sebagai institusi pendidikan, sudah seharusnya Universitas Negeri Malang (UM) tidak perlu ikut-ikutan tren memungut uang begini. Saya yakin UM juga tidak akan jatuh miskin, hanya karena tidak memajaki pengunjung kampus.

Terakhir, saya ingin mengutip dawuh Everett M. Rogers (1976), bahwa sudah seharusnya pembangunan itu bersifat partisipatif secara luas. Ia tidak boleh hanya turun dari perintah atasan tanpa mendengarkan urgensi masyarakat secara meluas. Bahkan bagi Paulo Freire (1970), pembangunan hanya mungkin terjadi apabila masyarakat turut dilibatkan secara sadar melalui partisipasi kritis.

Maka, sudah seharusnya, pembangunan tidak lagi bersifat gegabah, terburu-buru, serta tidak menimbang konteks nilai sosial-budaya yang ada. Dalam kajian komunikasi pembangunan, hal tersebut adalah wujud dari paradigma pembangunan yang sudah sangat usang dan lama. Yaa, mirip-mirip zaman Orba, lah.

Eh, tapi sekarang juga, ya?

Penulis: Ahmad Fahrizal Ilham

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kuliah di Universitas Negeri Malang (UM) Menyadarkan Saya, Ternyata Nggak Semua Orang Cocok Belajar di Sini

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 April 2025 oleh

Tags: kampus di malangMalangSGS UMSGS Universitas Negeri MalangSmart Gate SystemUM Malanguniversitas negeri malang
Ahmad Fahrizal Ilham

Ahmad Fahrizal Ilham

Berasal dari Malang, dengan ketertarikan mendalam pada narasi kemanusiaan. Ia meyakini bahwa cerita terbaik sering kali tidak ditulis, melainkan dirasakan dari detak jantung pemiliknya

ArtikelTerkait

4 Hal yang Lumrah di Malang tapi Nggak Biasa di Jogja

4 Hal yang Lumrah di Malang tapi Nggak Biasa di Jogja

14 September 2024
Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Ketika Malang Sudah Menghadirkan TransJatim, Karawang Masih Santai-santai Saja, padahal Transum Adalah Hak Warga!

29 November 2025
Banjir dan Macet, Dua Sejoli yang Bikin Ngalam Bernasib Malang Terminal Mojok

Banjir dan Macet, Dua Sejoli yang Bikin Ngalam Bernasib Malang

8 April 2022
Apel Strudel, Oleh-Oleh (Katanya) Khas Malang yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dibeli Mojok.co

Apel Strudel, Oleh-Oleh (Katanya) Khas Malang yang Sebaiknya Dipikir Ulang sebelum Dibeli

12 Desember 2024
Makin Mahal Hingga Kurang Aman, Inilah Alasan Mengapa Kos-kosan di Dinoyo dan Kerto Malang Makin Sepi meskipun Dekat Banyak Kampus   kos dekat kampus

Makin Mahal Hingga Kurang Aman, Inilah Alasan Mengapa Kos-kosan di Dinoyo dan Kerto Malang Makin Sepi meskipun Dekat Banyak Kampus  

11 April 2025
Malang Tak Perlu Meniru Jogja yang (Katanya) Istimewa Lebih "Menyala" biaya hidup di malang

Menghitung Gaji dan Biaya Hidup yang Masuk Akal untuk Hidup Enak dan Layak Di Malang  

7 September 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
Trauma Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Menderita Mojok.co

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

31 Maret 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial
  • WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?
  • Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi
  • Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna
  • Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif
  • Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.