Slogan I Hate Monday: Memang, Apa sih, Salahnya Hari Senin?

i hate monday

i hate monday

I hate Monday!

Saya sering mendengar atau membaca kalimat tersebut. Awalnya, saya tidak memahami, mengapa orang-orang harus membenci hari Senin. Padahal, Senin adalah hari yang baru. Tempat harapan-harapan baru berkumpul. Senin adalah waktu terbaik—selain pagi—untuk memulai semuanya dari awal kembali. Sungguh!

Tapi, itu pendapat saya dulu, saat masih SMP. Sekarang, big no! Saya mulai membenci Senin sejak masuk SMA. Jarak antar rumah dan sekolah yang jauh, membuat saya (((sedikit))) malas untuk menjalani aktivitas pembelajaran. Apalagi, setiap Senin sampai Kamis, saya menghabiskan waktu selama 8 jam lebih di sekolah. Belum dikalkulasikan dengan waktu saat di angkutan umum. Benar-benar amat-sangat-melelahkan-sekali.

Sejak itulah saya mulai mengamini slogan I hate Monday. Ya, saya membenci hari Senin, meskipun secara teknis dia nggak salah. Ya, cuma apesnya hari Senin aja sih, kenapa dia harus berada setelah hari Minggu, hari di mana umat manusia menghabiskan waktunya untuk menikmati libur, jalan-jalan, nge-date, pedekate, refreshing bahkan sampai yang cuma seharian molor di rumah. Hari Minggu adalah sebuah kemewahan dan Senin adalah musuhnya.

Senin seolah menyimpan banyak kenangan buruk dalam kepala saya. Setiap Senin, akan selalu ada upacara bendera. Semua siswa, guru, hingga pegawai sekolah berbaris dalam satu tempat. Kesalnya lagi, entah mengapa, setiap Senin juga, para guru BP/BK selalu stand by di pintu gerbang. Mereka melakukan razia mulai dari gelang, cincin, kuku, hingga rambut. Sangat rajin sekali tanpa pernah absen.

Belum lagi para keamanan sekolah yang juga selalu siaga di pintu gerbang, khususnya ketika pintu gerbang sekolah sudah ditutup. Akibatnya, siswa yang telat bakalan ketahuan, nggak bisa manjat pagar sekolah, deh. Haish. Setelah itu, hukumannya malah benar-benar bikin malu bin jera: dijemur di depan siswa lainnya yang sedang upacara. Hih, kan malu kalau kelihatan gebetan. Kelihatan banget nggak bisa bangun paginya, gagal pedekate deh.

Lepas berdiri, anak-anak yang telat biasanya masih disuruh hormat ke bendera, lalu dilanjutkan siraman ruhani dari guru BK. Terakhir, namanya dicatat dalam buku poin untuk kemudian dikalkulasikan, berapa kali dosa telat ikut upacara atau pelanggaran-pelanggaran lainnya pernah dilakukan. Ampun, deh. Senin seolah membawa petaka bagi orang-orang yang masih jetlag sehabis berlibur di hari Minggu.

Rentetan peristiwa tadi masih belum seberapa. Saya nggak paham, entah ini takdir atau semesta memang berkonspirasi, tapi, setiap Senin, pelajaran pertama biasanya selalu tentang penghitungan. Kadang Kimia, Fisika, bahkan Matematika. Nggak pernah sekali pun saya mendapatkan mata pelajaran Seni Budaya atau Pendidikan Agama Islam di hari pertama. Benar-benar membuat badmood.

Itu adalah sedikit asal-usul serta sebagian alasan mengapa saya mengamini slogan I hate Monday. Sekarang, ketika lulus kuliah dan dalam masa vakum menunggu prosesi wisuda (((baca: pengangguran))) apakah saya mulai berdamai dan menyukai hari Senin? Jawabannya: big no!

Senin justru terasa semakin menyebalkan. Bagi orang sejenis saya yang sedang masa vakum aktivitas kuliah, setiap hari terasa sama saja. Tidak ada kesibukan yang berarti. Saya jadi tetap membenci Senin, karena Senin mengingatkan saya betapa minggu telah berlalu dan saya masih tetap di sini. Hiks ~

Senin dibenci oleh orang-orang yang sedang dalam masa transisi seperti saya karena mengingatkan betapa setiap hari, minggu dan bulan dapat berlalu secepat itu. Orang-orang yang sibuk berlarian ke sana-ke mari, sedangkan saya duduk diam mengamati, hehehe.

Sebenarnya, bukan hari Senin yang salah. Menurut saya, hari Senin justru disalahkan hanya sebagai pelampiasan semata. Ia disalahkan karena letaknya yang berada di awal, sebagai permulaan. Sehingga, orang-orang yang tidak berdaya—macam saya—dan belum siap untuk memulai kembali, justru menjadikan hari Senin sebagai kambing hitam, biang kesalahan. Makanya, hari Senin layak untuk dibenci.

Dulu, saat masih menggarap skripsi, saya juga kerap menyalahkan hari Senin. Ia seolah memberitahu bahwa hari yang baru telah dimulai, sedangkan progres skripsi saya masih stuck di tempat. Hiks. Akhirnya, Senin lah yang saya salahkan. Hehehee. (*)

BACA JUGA Surat Terbuka Untuk Dosen Pembimbing atau tulisan Siti Halwah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version