Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Anggapan Solo Serba Murah Mulai Terasa Seperti Dongeng, Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
11 Januari 2026
A A
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Share on FacebookShare on Twitter

Kita semua mungkin masih mengenal Solo sebagai kota yang ramah di dompet. Seperti “brosur tidak resmi”, banyak yang mempromosikan Solo sebagai tempat dengan hal-hal indah. Misalnya, makan murah, kos terjangkau, orang-orangnya kalem, cocok untuk mahasiswa, pekerja pemula, dan siapa saja yang ingin kabur dari kerasnya kota besar. 

Seolah-olah, tinggal di Solo adalah bentuk perlawanan terhadap kapitalisme yang terlalu agresif. Masalahnya, hal-hal indah itu mulai retak. Pelan-pelan, tapi konsisten.

Saya mulai menyadarinya bukan dari data statistik, melainkan dari struk belanja yang makin panjang dan saldo rekening yang makin pendek.

Makan murah tinggal kenangan

Dulu, makan di Solo identik dengan angka belasan ribu. Nasi liwet, soto, tengkleng, atau sekadar nasi kucing di angkringan bisa mengenyangkan tanpa membuat dompet sesak napas. 

Kini, angka itu pelan-pelan bergeser. Harga dua puluh ribuan mulai terasa normal. Tiga puluh ribu bukan lagi kemewahan, terutama jika kita tergoda menu “kekinian”.

Bukan berarti makan murah lenyap sepenuhnya. Ia masih ada, tapi harus mencarinya lebih keras, masuk gang, kompromi rasa, atau rela antre lebih lama. Murah kini bukan default, melainkan hasil perjuangan. Ironisnya, di kota yang sering dipuja sebagai surga kuliner murah, justru kopi susu dan rice bowl bergaya metropolitan tumbuh lebih cepat daripada warung tradisional.

Kos murah di Solo perlahan jadi dongeng

Cerita kos tiga ratus ribu per bulan kini terdengar seperti dongeng yang diceritakan senior ke junior. Masih ada, katanya, tapi lokasinya semakin menjauh dari pusat aktivitas, fasilitas seadanya, dan kadang sinyal internetnya lebih lambat dari proses move on.

Kos yang “layak” kini mulai menyentuh angka tujuh ratus ribu hingga sejuta, apalagi jika dekat kampus atau pusat kota. Kamar ber-AC, kamar mandi dalam, dan parkiran aman sudah menjadi standar baru yang otomatis menaikkan harga.

Baca Juga:

6 Mitos Tentang Solo yang Ternyata Beneran Ada

Laweyan, Kecamatan Bersahaja di Kota Solo yang Nggak Mau Kalah sama Banjarsari dan Pasar Kliwon

Solo pelan-pelan belajar menjadi kota urban. Lengkap dengan harga hunian yang ikut belajar naik.

Nongkrong murah harus pakai strategi

Nongkrong di Solo dulu identik dengan wedangan, teh panas, dan obrolan panjang tanpa takut tagihan. Sekarang, nongkrong sering berarti pesan kopi kekinian, duduk di tempat estetik, dan secara tidak sadar menghabiskan uang setara dua kali makan.

Bukan salah kafenya. Kita juga ikut berubah. Standar kenyamanan naik, ekspektasi visual meningkat, dan kebutuhan eksistensi ikut bermain. Murah tidak lagi sekadar soal harga, tapi soal gengsi dan pengalaman.

Hidup murah kini membutuhkan strategi: pilih jam happy hour, pesan air putih, atau pura-pura sibuk supaya tidak pesan ulang.

Transportasi di Solo memang murah, tapi waktu mahal

Secara nominal, transportasi di Solo memang relatif murah. Namun, murahnya ongkos harus kita bayar dengan waktu. Angkutan umum yang belum sepenuhnya terintegrasi membuat banyak orang tetap bergantung pada kendaraan pribadi. Biaya bensin, parkir, servis, dan cicilan motor menjadi pengeluaran rutin yang jarang kita hitung secara jujur.

Belum lagi parkir liar yang tarifnya fleksibel mengikuti mood juru parkir. Murah di teori, mahal di praktik.

Gaya hidup diam-diam menyamaratakan harga

Masalah terbesar mungkin bukan kenaikan harga, melainkan perubahan gaya hidup. Mall, kafe, event, konser kecil, dan festival kuliner membuat pola konsumsi warga Solo semakin mirip kota besar. Kita tidak lagi sekadar hidup, tapi ikut berlomba menikmati.

Akhirnya, Solo tetap terasa murah jika membandingkannya dengan Jakarta. Tapi perbandingan itu menipu. Karena gaji tidak ikut Jakarta, sementara gaya hidup pelan-pelan ikut. Murah menjadi relatif, bukan absolut.

Solo murah secara emosional, tapi mahal secara realitas

Yang masih bertahan dari Solo mungkin bukan murahnya. Di sini masih bertahan rasa nyaman dengan ritme hidup yang tidak terlalu tergesa, orang-orang yang ramah, jarak tempuh yang relatif dekat, dan suasana kota yang tidak terlalu bising. 

Secara emosional, hidup di Solo memang menenangkan. Tapi secara finansial, ia mulai menuntut kewaspadaan.

Kita tidak lagi bisa hidup asal jalan tanpa perencanaan. Kita harus mencatat anggaran bulanan secara ketat, harus bisa mengendalikan godaan, dan lebih realistis menyikapi romantisme kota murah. 

Solo tidak berubah menjadi mahal secara tiba-tiba. Ia hanya tumbuh. Seperti anak kecil yang dulu makan sedikit, kini minta porsi lebih besar. Kita yang masih membawa ekspektasi lama akhirnya sering kaget saat membayar.

Mitos hidup murah di Solo memang belum sepenuhnya mati. Ia hanya tidak lagi sekuat dulu. Dan mungkin, itu bukan sepenuhnya kabar buruk. 

Kota yang berkembang memang membawa konsekuensi. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan diri. apakah tetap hidup dalam nostalgia harga lama, atau belajar berdamai dengan realitas baru.

Karena pada akhirnya, yang paling mahal bukan harga makanan atau kos, melainkan ilusi bahwa segala sesuatu akan selalu murah selamanya.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Ironi Kota Solo: Kotanya Nyaman untuk Ditinggali, tapi Biaya Hidupnya Begitu Tinggi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Januari 2026 oleh

Tags: biaya hidup sologaji soloJakartakafe kekinian solokuliner solosolosolo mahal
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Solo Baru: Lokasi di Sukoharjo, tapi Gaya Hidup Mirip Solo, Bikin Sukoharjo Krisis Identitas dan Hilang Arah

Solo Baru: Lokasi di Sukoharjo, tapi Gaya Hidup Mirip Solo, Bikin Sukoharjo Krisis Identitas dan Hilang Arah

21 Mei 2025
Solo Safari Zoo, Alat Pencitraan Brilian dari Gibran Rakabuming Terminal Mojok

Solo Safari Zoo, Alat Pencitraan Brilian dari Gibran Rakabuming

31 Januari 2023
Sate Kere Solo, Makanan Orang Miskin yang Kini Digandrungi Semua Kalangan Mojok.co

Sate Kere Solo, Makanan Orang Miskin yang Kini Digandrungi Semua Kalangan

29 Juni 2024
Curahan Hati Orang Sragen yang Sering Mengaku Asli Solo daripada Daerah Aslinya Mojok.co

Curahan Hati Orang Sragen yang Lebih Sering Mengaku Asli Solo daripada Daerah Asalnya

29 September 2025
5 Rekomendasi Kuliner Khas Solo Sekitar Stasiun Solo Balapan

5 Rekomendasi Kuliner Khas Solo Sekitar Stasiun Solo Balapan

24 Mei 2023
5 Hal yang Bikin Tinggal di Surabaya Itu Perlu Disyukuri Terminal Mojok.co

5 Hal yang Bikin Tinggal di Surabaya Itu Perlu Disyukuri

1 Maret 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Hal yang Bisa Dibanggakan Kota Bandung meski Tata Kelolanya Buruk dan Transportasi Umumnya Tidak Layak

5 Hal yang Bisa Dibanggakan dari Kota Bandung meski Tata Kelolanya Buruk dan Transportasi Umumnya Tidak Layak

6 Januari 2026
5 Mitos Kebumen yang Bikin Orang Luar Mikir Dua Kali sebelum Berkunjung

5 Mitos Kebumen yang Bikin Orang Luar Mikir Dua Kali sebelum Berkunjung

5 Januari 2026
Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

Menjadi Perawat di Indonesia Adalah Kursus Sabar Tingkat Dewa: Gaji Tak Sebanding dengan Beban Kerja yang Tak Manusiawi

5 Januari 2026
Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Bisa Diharapkan (Unsplash)

Lulusan S2 Nelangsa dan Ijazahnya Tak Lagi Jadi Harapan, Bikin Saya Juga Ingin Bilang kalau Kuliah Itu Scam

9 Januari 2026
6 Mitos Tentang Solo yang Ternyata Beneran Ada (Unsplash)

6 Mitos Tentang Solo yang Ternyata Beneran Ada

10 Januari 2026
Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang Mojok.co

Pengalaman Tertipu Beli Durian di Wonosalam, Pusatnya “Raja Buah” di Jombang

7 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 
  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.