Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sisi Gelap Pendidikan di Papua: Sebuah Kisah Ironi di Timur Indonesia

Bintang Jihad Mahardhika oleh Bintang Jihad Mahardhika
11 Juli 2023
A A
Sisi Gelap Pendidikan di Papua Sebuah Ironi di Timur Indonesia (Unsplash)

Sisi Gelap Pendidikan di Papua Sebuah Ironi di Timur Indonesia (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Cerita ini rasanya wajib saya bagikan kepada semua orang. Ini tentang perjalanan KKN saya di Provinsi Papua, tepatnya di Kampung Waryesi, Kabupaten Supiori, yang baru berjalan dua pekan. 

Saya, bersama 29 mahasiswa dari 18 fakultas melaksanakan kegiatan pengabdian selama 50 hari di salah satu wilayah bagian timur Indonesia itu. Berbagai program kerja dari masing-masing latar belakang studi kami tawarkan demi memberikan dampak baik bagi masyarakat Papua. 

Selama kurang lebih 14 hari di sini, saya menyadari bahwa telinga saya benar-benar digunakan sesuai dengan fungsinya, yakni mendengar dengan baik. Banyak cerita dari para warga terkait kondisi sejak lahir dan tumbuh di wilayah yang berada di Pulau Biak tersebut, khususnya mengenai pendidikan.

Yang saya dengar di Papua

Di Kampung Waryesi, fasilitas pendidikan dapat dikatakan lengkap. PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA ada di sini. Artinya, anak-anak memiliki kesempatan untuk menamatkan program Wajib Belajar 12 tahun. 

Berdasarkan penuturan salah satu masyarakat, anak-anak di Papua memang memiliki semangat belajar yang tinggi. Hal tersebut saya buktikan dengan antusiasnya mereka ketika kami mengadakan program kelas bahasa Inggris. 

Adik-adik kami berbondong-bondong mengikuti kegiatan tersebut. Rasa penasaran terlihat dari mata mereka yang begitu tajam memperhatikan setiap materi yang kami bagikan. Namun, kenyataan-kenyataan baik yang saya ceritakan di atas tentu tidak lepas dari berbagai persoalan. 

Masalah pendidikan yang saya lihat di Papua

Salah satu permasalahan dari pendidikan di tanah Papua yakni kurangnya tenaga pengajar di setiap sekolah. Bahkan, satu guru dapat mengampu lebih dari satu mata pelajaran. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Para guru, khususnya angkatan muda, memiliki kecenderungan untuk mengabdi di daerah perkotaan karena akses menuju sekolah di beberapa wilayah di Papua cukup sulit. Profesi yang dijuluki “pahlawan tanpa tanda jasa” itu harus menghabiskan waktu sampai dengan berjam-jam hanya untuk sampai di sekolah tempat mereka mengajar. 

Minimnya guru berdampak pada tingkat kualitas anak didik. Dapat dibayangkan betapa berat beban satu guru untuk mengampu jumlah murid di luar kapasitasnya. Tak heran jika terdapat satu atau dua siswa yang luput dari perhatian seorang guru sehingga anak tersebut tidak dapat menyerap ilmu dengan maksimal. 

Baca Juga:

Culture Shock Orang Jakarta Ketika Pertama Kali ke Jayapura, Ternyata Nggak Terpelosok seperti dalam Bayangan

Merasakan Slow Living di Nabire, Ibu Kota Provinsi Papua Tengah yang Cukup Menguras Kantong

Lebih lanjut, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2022 menunjukkan Provinsi Papua masih memimpin angka buta huruf di Indonesia. bahkan mencapai 18,81% pada rentang umur 15 tahun. Kondisi tersebut menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai bagi Indonesia yang digadang-gadang akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2045 kelak. Bagaimana tidak? Pendidikan adalah salah satu faktor fundamental untuk menentukan maju atau tidaknya sebuah negara. 

Permasalahan lain juga melekat pada program pendidikan

Saya pernah mendapatkan kesempatan berbincang dengan salah seorang guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah di Kampung Waryesi. Pada obrolan singkat kami tersebut, beliau menceritakan bagaimana dia lebih fokus mengajar anak didiknya dalam lingkup conversation di samping melaksanakan kurikulum pendidikan hasil godokan pemerintah pusat. 

Hal tersebut dia lakukan dengan tujuan agar murid-muridnya di Papua mampu berbicara dengan para wisatawan mancanegara yang datang berlibur di Kabupaten Supiori yang kaya akan wisata alamnya. 

Dari pembicaraan dengan guru tersebut, saya menyimpulkan bahwa program pendidikan dari pemerintah pusat tidak dapat sekonyong-konyong diaplikasikan di setiap wilayah di Indonesia, termasuk Papua. Penyetaraan program justru membuat daerah yang tertinggal semakin sulit untuk mengejar standar kualitas para murid di daerah yang memiliki tingkat pendidikan yang baik. 

Pekerjaan rumah yang berat

Dari runtutan fakta pahit di atas, pemerintah, dalam hal ini Kemdikbud, memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat. Perlu komitmen dan langkah konkret untuk menciptakan sumber daya manusia yang siap untuk menghadapi perubahan dunia yang serba cepat. 

Kendatipun demikian, pemerintah tidak dapat bergerak sendiri. Perlu dukungan dari banyak pihak untuk mewujudkan pendidikan yang layak di Papua. Masyarakat juga memiliki peran besar untuk membantu pemerintah melaksanakan tugasnya. Para orang tua memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan motivasi dan menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan kepada anak-anaknya.

Setiap orang bebas untuk bermimpi. Mungkin kalimat tersebut sering kita dengar. Namun, yang saya yakini, kebebasan tersebut tidak hanya cukup sampai dengan bermimpi, tetapi juga ketika mewujudkannya. 

Mimpi yang tidak diusahakan hanya akan menjadi angan-angan. Oleh karena itu, saya percaya bahwa dengan tekad yang kuat dari berbagai stakeholder, bukan tidak mungkin untuk menciptakan kesetaraan lingkup pendidikan di Indonesia yang siap melahirkan putra-putri bangsa yang berkompeten.

Penulis: Bintang Jihad Mahardhika

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Papua, Irian, dan Segenap Atribut Primitif yang Disematkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Juli 2023 oleh

Tags: Kabupaten SupioriKampung Waryesikkn di papuapapua
Bintang Jihad Mahardhika

Bintang Jihad Mahardhika

Anak satu-satunya.

ArtikelTerkait

Bandara Aminggaru Ilaga Papua, Bandara Penting dengan Fasilitas Paling Buruk di Indonesia

Bandara Aminggaru Ilaga Papua, Bandara Penting dengan Fasilitas Paling Buruk di Indonesia

10 Desember 2023
Begini Rasanya Jadi Orang Batak Keturunan Jawa Berwajah Timur terminal mojok

Begini Rasanya Jadi Orang Batak Keturunan Jawa Berwajah Timur

23 Maret 2021
7 Fakta Unik Terkait Papua yang Saya Temukan di Sana Terminal Mojok

Papua, Irian, dan Segenap Atribut Primitif yang Disematkan

27 April 2023
Culture Shock Orang Jakarta Ketika Pertama Kali ke Jayapura, Ternyata Nggak Terpelosok seperti dalam Bayangan

Culture Shock Orang Jakarta Ketika Pertama Kali ke Jayapura, Ternyata Nggak Terpelosok seperti dalam Bayangan

9 Desember 2025
Stadion Papua Bangkit pertanyaan yang sering didapat mahasiswa papua di jawa mojok.co

Pemakaian Nama Gubernur sebagai Pengganti Nama Stadion Papua Bangkit Akan Mendapat Reaksi Berbeda Jika Hal Itu Dilakukan di Jakarta

29 Oktober 2020
PAPUA

Kerusuhan di Papua: Mau Nyalahin Siapa?

30 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Penyesalan yang Akan Kalian Rasakan jika Kuliah di Bangkalan Madura, Pikir-pikir Lagi

Pemkab Bangkalan Madura Diisi oleh Pejabat Lebay, Banyak Ritual Cuma Pengen Dapat Pujian!

1 Maret 2026
Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal Mojok.co

Rumah Dekat Lapangan Padel Adalah Lokasi Tempat Tinggal Paling Nggak Ideal

27 Februari 2026
Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

26 Februari 2026
Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah guru honorer ppg

Fakta tentang Guru yang Terjadi di Lapangan, tapi Tak Pernah Dibahas oleh Fakultas Pendidikan

27 Februari 2026
Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

24 Februari 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

UNNES Semarang Rajin Menambah Mahasiswa, tapi Lupa Menyediakan Parkiran yang Cukup

24 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.