Si Doel Anak Sekolahan Episode 25, Musim 2: Sarah Rindu tapi Doel Sinis Melulu – Terminal Mojok

Si Doel Anak Sekolahan Episode 25, Musim 2: Sarah Rindu tapi Doel Sinis Melulu

Artikel

Avatar

Suasana pagi di Si Doel Anak Sekolahan episode 25 kali ini lumayan anteng. Babe lagi ngelamun di bale-balenya sambil sok-sokan mancing ikan di kolam. Doel sudah siap berangkat cari kerja lagi, Atun mau ke pasar, Mandra juga sudah siap naeik opelet. Bertiga mereka duduk di meja makan ditemani Mak Nyak. Mandra heran melihat Doel yang sudah rapi jali pagi-pagi.

“Lah lu udah rapi banget mau cari kerja lagi, Doel?” tanya Mandra. Doel mengangguk.
“Hebat amat. Ntar lu udah susah-susah cari kerja, pas udah keterima kagak boleh lagi ama babe lu!” sambung Mandra.
“Diem lu!” kata Mak Nyak yang takut obrolan ini didengar oleh Babe.
“Kan bener Nyak, Bang Doel kemaren kan udah diterima di kantor gede, eh malah kagak dibolehin ama Babe,” Atun ikutan komentar.
“Nah kantornye jauh di tengah laut,” jawab Mak Nyak.
“Yang namanya kantor mah mau di tengah laut kek, di tengah empang kek, emang ngapaa?!” Mandra masih tidak habis pikir kali ya dengan alasan Babe melarang Doel berangkat ke Natuna.

Babe memang mendengar obrolan mereka ini dari luar, tapi tidak seperti biasanya, Babe diam saja. Malah kelihatan semakin merenung. Saat Mandra, Atun, dan Doel berpamitan pada Babe, Babe memanggil Doel sebentar. Babe bertanya apa Doel mau cari kerja lagi dan apa bisa diterima. Ujungnya Babe bilang, “Apa nggak baiknya lu coba lagi ke kantor cabang Pertamina yang dulu? Coba deh lu ke sana lagi, siapa tahu belum telat.”

Doel semringah mendengar omongan Babe. Dia berangkat setelah mengiyakan. Mak Nyak juga terlihat senang dengan keputusan Babe yang akhirnya membolehkan Doel berangkat.

Di dalam opelet, Mandra ngeluh karena melihat Doel yang sejak berangkat dari rumah tadi diam saja nggak ada suaranya. Mandra dan Atun berusaha menghibur Doel. Mereka mengira Doel dimarahi lagi oleh Babe Sabeni.

“Lagian lu ngapa susah-susah, lu minta tolong sama si Sarah. Kan dia temennya banyak,” kata Mandra.
“Nah iya tuh, Bang. Minta tolong aja ama Sarah. Nyok kita ke rumahnya nyok!” kata Atun dengan semangat.
“Mau ngapain, Tun?” tanya Doel.
“Atun mau tanya lipstik yang dipake Sarah kemaren warnanya cakep deh, Bang.”
“Iya, Doel. Gue juga kangen lihat pintunya yang bisa jalan sendiri,” Mandra cengengesan.

Doel kalah suara. Ngebantah macam apa juga, Atun dan Mandra nggak mau dengar. Doel pasrah menurut saja digiring oleh Atun dan Mandra menuju rumah Sarah.

Sesampainya di rumah Sarah, kelakuan norak Mandra dan Atun muncul. Mulai dari ribetnya mencet interphone yang ditempel di tembok pagar rumah Sarah, sampai pintu pagarnya yang bisa dibuka pakai remote control. Sarah menyambut mereka dengan ramah. Mereka duduk di teras rumah saat Sarah meninggalkan mereka untuk mengambilkan minuman. Mandra dan Atun yang melihat remote control pagar mulai tertarik buat coba-coba. Mereka asyik, Doel panik.

Baca Juga:  The Lighthouse: Adu Testosteron hingga Metafora Prometheus-Proteus

“Tun, Tun. Jangan bikin malu Abang, Tun!” begitu kata Doel saat melihat adiknya sibuk pencet sana-sini.
“Apaan sih lu ngomel aja kayak nenek-nenek!” sahut Mandra.
“Iya nih, Abang resek banget ah!” kata Atun juga.

Sarah keluar tak setelah minum dihidangkan. Dia membawakan hadiah untuk Doel. Sebuah buku filsafat.

“Aku jalan-jalan ke toko buku di sana terus lihat buku ini, langsung inget kamu,”
“Inget aku?” tanya Doel.
“Iya. Kenapa? Nggak boleh?”

Sarah kemudian baru ngeh bahwa Mandra dan Atun tidak ada di teras. Mereka sedang asyik menyelidiki (halah) misteri pagarnya Sarah yang bisa membuka dan menutup sendiri.

“Mereka lagi apa sih?” tanya Sarah.
“Biasa. Tingkah orang kampung kalau melihat kemajuan teknologi, menggelikan ya?” jawab Doel terdengar sarkas.
“Lho kamu kok jadi sinis gitu sih?”
“Sinis? Ah, nggak.”
“Emangnya aku nggak boleh tersenyum kalau melihat sesuatu yang lucu?”
“Siapa bilang nggak boleh? Aku kan cuma bilang tingkah orang kampung macam mereka sering menggelikan.”
“Iya sih, kamu cuma bilang begitu, tapi buat aku kok kedengarannya gimana gitu.”
“Kamu aja yang terlalu perasa.”
“Aku perasa? Perasaan kamu deh Doel yang selama ini perasa terus! Sampai-sampai aku nggak pernah lihat kamu senyum, apalagi ketawa. Seolah-olah di dunia nggak ada yang lucu ya yang bisa bikin kamu ketawa. Kenapa sih Doel kamu nggak pernah tersenyum?”
“Buat apa aku tersenyum? Apa yang harus aku tertawakan?”
“Lho kok gitu?”

Tabok aja, Sar! Tabok! Aing emosi denger jawaban Doel! Hih!

Sarah mengakhiri obrolan sinis Doel dengan memanggil Atun untuk minum. Sarah mengajak Atun dan Mandra pulang ke rumah Babe dengan alasan Sarah kangen sayur asem masakan Mak Nyak. Dengan naik opelet nanti mereka akan mampir ke pasar dulu buat belanja keperluan masak dan perlengkapan salon Atun. Doel menolak untuk ikut, dia mau berangkat melamar kerja saja, katanya. Sarah dan Atun didrop oleh Mandra di swalayan. Mandra lanjut narik opelet, Doel lanjut cari kerja.

Sementara di dua tempat yang berbeda ada yang sedang galau. Zaenab yang mencari Doel juga Roy yang mencari Sarah. Hish, pada ganggu aja!

Di rumah, setelah kaget dengan kedatangan Zaenab, paniknya Mas Karyo yang mukanya luka kena cukur elektrik oleh-oleh dari Sarah, Mak Nyak masih harus takjub juga karena Engkong Ali yang datang sambil ngegas minta dibantu untuk mengurus perceraiannya dengan Nyak Rodiyah. Bukan baru kali ini Engkong punya niatan cerai. Engkong Ali lelah dengan tingkah anak-anak Nyak Rodiyah yang menganggap Engkong Ali selalu punya duit, jadinya dikit-dikit minta duit.

Baca Juga:  Si Doel Anak Sekolahan Episode 24, Musim 2: Sarah Pulaaang!!!

Atun dan Sarah datang naik taksi. Sarah bilang ke Mak Nyak kalau dia ingin belajar masak sayur asem lagi. Mak Nyak senang dan langsung mengajak Sarah masuk. Mereka membersihkan sayuran yang bakal dimasak di halaman belakang rumah sambil mengobrol. Sarah sempat bertanya tentang Doel pada Mak Nyak. Saat berdua dengan Atun, Sarah juga mencoba mancing-mancing tanya tentang Zaenab. Atun bingung menjawabnya. Dia takut salah omong.

Doel pulang tak lama kemudian. Dia langsung rebahan di kamar. Mak Nyak masuk ke kamar Doel dan bertanya bagaimana hasilnya. Doel bilang bahwa posisi yang ditawarkan kemarin ternyata sudah diisi oleh orang lain. Doel telat. Sarah mendengar percakapan Mak Nyak dan Doel. Sarah lalu masuk ke kamar Doel sambil membawakan minum.

Babe yang juga baru pulang dari kantor kelurahan, langsung diajak makan oleh Sarah. Mereka mulai makan duluan sembari nunggu Doel yang lagi mandi. Sarah masih di rumah Doel sampai malam, sempat nonton TV bersama-sama keluarga besar Doel sampai akhirnya mereka mengobrol berdua di depan. Obrolan Sarah dan Doel cukup dalam di sini. Doel bilang bagaimanapun suatu hati nanti masyarakat asli Betawi seperti dia dan keluarganya harus mau mundur dan tergusur. Bukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh zaman. Perkembangan zaman akan memaksa mereka untuk pasrah. Ikut menjadi modern atau menyingkir, pilihannya cuma itu.

Tapi obrolan yang asyik ini terganggu dengan kedatangan Mas Karyo yang entah dapat ilham dari mana ingin minta tukar hadiah oleh-oleh dari Sarah. Dia kapok pakai alat cukur eletrik itu karena bibirnya luka, jadinya minta ditukar baju, kaos, topi atau kacamata saja. Mandra dan Atun lalu menyusul keluar karena mendengar suara Mas Karyo. Sarah berjanji bakalan mengajak mereka jalan-jalan ke pantai besok.

Kira-kira bagaimana ya tingkah Mandra, Atun, dan Mas Karyo kalau diajak jalan ke pantai? Sinisme macam apa lagi yang bakal dibilang oleh Doel ke Sarah? Kita tunggu Si Doel Anak Sekolahan episode 26 alias episode terakhir di musim kedua ini besok ya, mylov! Ciao!

BACA semua sinopsis sinetron Si Doel Anak Sekolahan musim 1 di sini. Klik ini untuk mengikuti sinopsis Si Doel Anak Sekolahan musim 2

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
8


Komentar

Comments are closed.