Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Seruan Pajak Diganti Zakat Itu Naif bin Ugal-ugalan

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
11 Maret 2023
A A
Seruan Pajak Diganti Zakat Itu Naif bin Ugal-ugalan

Laporan perpajakan yang cukup ribet (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Seruan stop bayar pajak lalu menggantinya dengan zakat itu aneh, situ sehat?

Rafael Alun Trisambodo mungkin tak habis pikir. Gara-gara anaknya, singgasana harta yang sepertinya sudah dikumpulkan dan disembunyikan bertahun-tahun dari negara terkuak dan bikin satu kementerian pusing kepalanya. Satu aksi bocah goblok bin tengil, bikin satu menteri diserang dari kanan kiri.

Siapa yang menyangka? Tapi begitulah aturan Tuhan bekerja.

Kehebohan makin bertambah ketika Menkopolhukam mengungkapkan ada Rp300 triliun transaksi gelap yang melibatkan pegawai Kementerian Keuangan. Tambah babak belur sudah institusi yang berperan sebagai bendahara negara ini.

Bu Sri Mulyani tentu menjadi sosok yang paling pusing. Institusi yang dipimpinnya sedang jadi pembicaraan publik, sayangnya dalam konteks yang negatif.

Rentetan kejadian ini menurunkan kepercayaan publik terhadap transparansi pengelolaan pajak di Indonesia. Bahkan ada yang menyerukan untuk berhenti membayar pajak karena terjadi banyak sekali praktik manipulasi, penyelewengan, dan pemerasan atas nama pajak.

Beberapa cuitan di Twitter dan salah seorang kenalan melalui story WhatsApp-nya bahkan mulai membandingkan pajak dan zakat. Mereka dengan beragam diksi yang menggebu-gebu melempar seruan untuk cukup membayar zakat dan nggak perlu bayar pajak.

Wah, mulai ra mashok nek ngene iki.

Baca Juga:

Refleksi Lebaran Bagi Kepala Rumah Tangga: Tunaikan yang Wajib, Masa Bodo dengan Gengsi dan Ocehan Tetangga

Pajak Naik dan UMR Mini Bikin Warga Jawa Tengah Bersyukur karena Diberi Kesempatan untuk Menderita Luar Biasa

Seruan ngawur

Seruan ini tentu saja naif dan asal-asalan. Lebih jauh, mungkin juga menyesatkan karena menggiring persepsi publik agar tidak taat membayar pajak, yang penting kan sudah bayar zakat.

Saya bukanlah pegawai pajak, bukan juga fans bu Sri Mulyani atau orang yang berharap bisa bekerja di Kementerian Keuangan. Tapi, sebagai warga negara yang pernah belajar tentang ilmu ekonomi (bahkan ekonomi syariah), saya tahu bahwa zakat tidak akan pernah bisa jadi satu-satunya instrumen fiskal yang ditarik oleh otoritas (negara) dari masyarakat untuk membangun peradaban.

Pemberi zakat (Muzakki) hanya dibebankan kepada seorang Muslim dengan syarat tambahan lainnya seperti haul (jangka waktu) dan nisab (batasan minimum harta). Sementara penerimanya (Mustahik) hanya diperuntukan kepada orang Muslim dengan spektrum yang diperinci yaitu 8 Asnaf.

Indonesia bukan negara Islam. Indonesia negara dengan komposisi penduduk yang tidak hanya diisi oleh Muslim. Ada warga negara dengan identitas agama lain yang wajib ditarik secuil hartanya dan dimanfaatkan untuk kepentingan warga negara terbelakang yang juga datang dari latar belakang selain Muslim. Orang-orang ini tidak mampu dijangkau oleh zakat. Hanya pajak yang mampu mengikat mereka. Oleh karena itu, zakat sulit dijadikan sebagai satu-satunya instrumen fiskal negara. Masuk ke dalam kas negara saja tidak.

Pemasukan dari zakat

Terlebih, zakat sendiri masih berkutat dengan persoalan rendahnya kesadaran masyarakat (kaya) untuk membayar zakat. Zakat di Indonesia itu hanya mampu terhimpun kisaran 4 persen dari total 233 triliun potensi per tahunnya.

Selain itu, kalau hanya mengandalkan zakat, pembangunan peradaban negari seperti infrastruktur publik jadi menyalahi syarat pemanfaatan zakat karena di luar dari 8 asnaf.

Dalam khazanah keIslaman, pajak menjadi instrumen negara yang implementasinya sudah ada sejak zaman nabi. Beberapa yang familiar di antaranya jizyah (pajak perlindungan untuk nonmuslim), usyur (semacam bea cukai), dan kharaj (pajak tanah).

Pajak itu hadir karena kesadaran Nabi dan para sahabatnya tentang kebutuhan instrumen keuangan negara yang dapat mendukung keberadaan zakat. Mereka tahu, zakat itu kewajiban privasi dari agama kepada umat muslim yang peruntukannya telah dispesifikasikan sedemikian rupa. Dibutuhkan instrumen keuangan lain yang dapat diotorisasi oleh negara sehingga diberlakukannya pajak yang disebutkan di atas. Dan penerapannya tak pernah ada larangan dari agama.

Keberadaan pajak itu menyeimbangkan fungsi zakat. Ini dua instrumen yang saling membersamai satu sama lain. Satu sifatnya untuk memenuhi kebutuhan negara dan warga negaranya, satunya bersifat filantropis.

Jangan latah isu ganti pajak

Kita seyogyanya jangan latah dengan melempar seruan untuk tidak membayar pajak. Menyalahkan, mengumpat, mengutuk, serta menuntut agar para cecunguk mafia pajak dapat diusut tuntas itu perlu. Karena hanya itu tindakan realistik yang bisa dilakukan oleh warga negara seperti kita.

Tapi tidak lantas mewajarkan seruan kekanak-kanakan dengan mengajak orang lain untuk tidak membayar pajak. Hal itu hanya menimbulkan persoalan baru. Nggak bisa dimungkiri bahwa Indonesia bergerak dengan bahan bakar utamanya adalah pajak.

Selain itu, bila memang zakat tetap dipaksa sebagai instrumen tunggal atas fiskal negara, siapa yang bisa menjamin dana zakat tidak akan diselewengkan? Toh sudah ada kan contohnya kan pada tahun lalu?

Persoalan utamanya memang bukan pada pajaknya, tapi karakter dan mental dari masyarakat yang memang tak pernah tahu dan sadar diri ketika mengemban tugas vital, terutama berkenaan dengan uang. Nggak usah jauh-jauh, uang patungan RT dan uang masjid saja kerap ditilep. Padahal nilainya hanya receh. Dari akar rumput pun, karakter dan mental warga Indonesia memang tidak baik-baik saja. Sudah buruk.

Pajak yang sifatnya mengikat dari negara dan ada sanksi langsung di dunia saja kerap dihindari, lah kok mau ngusulin zakat jadi instrumen fiskal satu-satunya. Mau Indonesia jadi bangkrut???

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menebak Motif Rakyat Indonesia Malas Bayar Pajak, tapi Rajin Donasi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2023 oleh

Tags: fiskalpajakpemasukanZakat
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

pajak pendidikan SPT Tahunan PPH orang Pribadi perpajakan Orang Pribadi influencer pajak npwp mojok.co

Sebaiknya Penetapan Pajak pada Jasa Pendidikan dan Sembako Dibatalkan Saja

11 Juni 2021
gaji profesional professional fee mojok

3 Alasan Pekerja Profesional Harus Dibayar secara Layak

4 Agustus 2021
Membedah Pajak dari Transaksi Kripto terminal mojok.co

Membedah Pajak dari Transaksi Kripto

17 Januari 2022
NIK jadi NPWP

3 Bantahan untuk Komentar Netizen yang Keliru Perkara Integrasi NIK Jadi NPWP

30 Oktober 2021
Steam Diblokir, Judi Slot Bebas Merdeka, Kemkominfo Mikir Apa?

Steam Diblokir, Judi Slot Bebas Merdeka, Kemkominfo Mikir Apa?

30 Juli 2022
pajak pendidikan SPT Tahunan PPH orang Pribadi perpajakan Orang Pribadi influencer pajak npwp mojok.co

Membedah Potensi Penerimaan Pajak dari para Influencer

23 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat Mojok.co

Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat

30 Maret 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Naik Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan Mojok.co

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

1 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja
  • Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA
  • Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional
  • Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan
  • Astrea Grand, Motor Honda yang Saking Iritnya, Sampai Memunculkan Mitos Tentangnya
  • Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.