Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Sepeda Listrik Nggak Cocok buat Mahasiswa Mendang-Mending di UI karena Mahal dan Nggak Bisa Boncengan

Dinar Maharani Hasnadi oleh Dinar Maharani Hasnadi
14 Juli 2024
A A
Sepeda Listrik Nggak Cocok buat Mahasiswa Mendang-Mending di UI karena Mahal dan Nggak Bisa Boncengan

Sepeda Listrik Nggak Cocok buat Mahasiswa Mendang-Mending di UI karena Mahal dan Nggak Bisa Boncengan (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tahun 2023 lalu, pihak UI (Universitas Indonesia) bersama PT Beam Mobility Indonesia mulai menyediakan sepeda listrik Beam Rover di lingkungan kampus UI Depok. Program ini bertujuan mempromosikan gaya hidup sadar lingkungan dan mengurangi emisi karbon di wilayah kampus UI. Terdapat 450 unit sepeda listrik Beam yang tersebar di 42 titik shelter di seluruh kampus UI.

Sepeda dengan warna ungu yang khas ini dilengkapi dengan helm. Memakainya pun cukup mudah. Tinggal mengunduh aplikasi Beam di HP, lalu memindai (scan) kode QR di sepeda listrik yang ingin digunakan. Setelah kode QR dipindai dan pembayaran sudah diselesaikan, baru helm bisa dicopot dari tempatnya dan sepeda listrik bisa dipakai.

Memang kedengarannya cukup praktis. Selain itu, sepeda listrik ini diatur dengan rapi oleh petugas-petugasnya. Ada shelter sepeda listrik Beam dekat halte bikun (bus kuning) di tiap-tiap fakultas UI, jadi mengambil dan mengembalikannya juga tidak boleh sembarangan.

Akan tetapi saya merasa bahwa masih banyak aspek yang menjadikan sepeda listrik Beam ini kurang efektif. Soalnya kebanyakan mahasiswa UI seperti saya adalah kaum mendang-mending. Dengan kata lain, target market-nya bukan kami.

Sewa sepeda listrik UI lama-lama bikin boncos

Salah satu hal yang dikeluhkan banyak mahasiswa UI mengenai moda transportasi satu ini adalah harganya yang mahal. Biaya sewa sepeda listrik Beam adalah Rp1.750 ditambah Rp700 per menit. Jadi, kalau misalnya saya menyewa sepeda listrik ini selama sepuluh menit, total biaya yang harus dikeluarkan adalah Rp1.750 + (10 x Rp700) = Rp8.750.

Kalau dilihat dari harganya saja, memang cukup menggiurkan. Namun, jika dibandingkan dengan jarak yang ditempuh, banyak mahasiswa UI yang merasa sayang dan nggak tega mengeluarkan uang segitu untuk jarak yang dekat. Apa lagi kalau setiap hari menggunakan sepeda listrik ini. Sedikit-dikit lama-lama menjadi bukit. Bisa boncos juga.

Soalnya, kebanyakan mahasiswa UI menggunakan sepeda listrik Beam untuk bepergian dari satu fakultas ke fakultas lain, atau pergi ke fakultas lain di wilayah kampus. Kadang, ada saja orang yang menggunakan sepeda listrik Beam untuk wara-wiri keliling kampus UI. Biasanya ini mahasiswa baru atau orang yang sekadar berkunjung karena ingin melihat-lihat.

Banyak juga mahasiswa UI yang memiliki mindset mendang-mending sehingga akan berpikir, “Ah, dari sini ke situ mah ngapain naik Beam, jalan kaki aja,” karena toh hitung-hitung hemat duit.

Baca Juga:

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Kerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

Hal lain yang bikin kesal adalah sistem pembayaran sepeda listrik ini. Sebelum bisa dipakai, pembayaran harus dilakukan dengan cara top-up saldo di aplikasi Beam, lalu menyetor nominal tertentu. Jadi, bukan pakai dulu, baru bayar di akhir. Makanya, sering terjadi insiden Beam tiba-tiba mogok di tengah jalan saat sedang dipakai karena saldonya sudah habis.

Nggak cocok dikendarai di area kampus UI

Aspek kedua yang cukup merisaukan adalah sepeda listrik Beam ini kurang cocok dengan medan kampus UI yang cukup membahayakan. Bayangkan, UI itu punya banyak jalan berkelok-kelok dan tanjakan-tanjakan curam.

Patut disyukuri sebenarnya bahwa sepeda listrik Beam memiliki kecepatan maksimal 25km/jam dan bisa diatur seperti sedang naik motor biasa. Namun, banyak juga mahasiswa yang menyepelekan sepeda listrik ini, jadi mengendarainya malah ugal-ugalan.

Sepertinya masih banyak orang yang belum menyadari bahwa safety hazard menggunakan sepeda listrik Beam cukup tinggi. Ditambah dengan medan kampus UI yang cukup “ekstrem” di beberapa titik, kendaraan ini sebenarnya rawan menyebabkan kecelakaan.

Banyak pengguna sepeda listrik Beam tidak bisa mengendarai motor biasa, padahal caranya kurang lebih mirip. Banyak juga yang mengendarainya samping-sampingan dengan teman atau pacar sambil cekikikan, jadi malah lelet dan menghalangi jalan orang. Hal lain yang kerap luput dari perhatian mahasiswa adalah bahwa sepeda listrik Beam tidak bisa dipakai berboncengan.

Sosialisasi mengendarai sepeda listrik di kampus UI perlu digalakkan

Di UI, fenomena bonceng tiga (ada yang menyebutnya boti atau cenglu) sudah marak terjadi. Sering sekali dari arah kampus Fakultas Teknik ada satu motor yang isinya bisa 3 bahkan 4 orang mahasiswa. Jadi, sepeda listrik Beam ini kurang bisa beradaptasi dengan budaya mahasiswa UI, kecuali ia menerapkan inovasi produk berupa ukuran jok yang diperbesar.

Kalaupun nekat mau boncengan dengan sepeda listrik Beam, hasilnya ditanggung sendiri. Saya merupakan salah satu korban tipu daya Beam ini. Gara-gara memaksakan diri berboncengan dengan seorang teman suatu malam di depan kampus FEB, saya jatuh terjengkang dan mengalami cedera di bagian perut dan lutut.

Sakitnya, sih, bisa ditahan. Malunya itu, lho. Soalnya jam segitu masih banyak aja pengendara motor yang lewat terus melihat, mana pakai acara nanya, “Nggak papa, Neng?” Ya lihat sendiri aja apa, menurut Bapak memangnya saya nggak papa?

Intinya, sebenarnya ini masalah kurang sosialisasi saja, sih. Memang terkadang ada sosialisasi cara mengendarai sepeda listrik Beam dengan aman di kampus UI. Namun kegiatan-kegiatan seperti ini biasanya hanya disertai dalam rangkaian ospek atau dalam acara besar tertentu yang sifatnya tidak wajib. Jadi, mahasiswa kurang berminat untuk menghadiri dan memperhatikan pemaparan tentang keselamatan diri saat mengendarai sepeda listrik.

Seharusnya sosialisasi aturan-aturan saat mengendarai sepeda listrik Beam perlu digalakkan dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh mahasiswa UI dan pengguna sepeda listrik lain. Kalau bisa, malah adakan sanksi khusus bagi pelanggar aturan. Hal ini penting karena banyak juga mahasiswa UI yang mengandalkan sepeda listrik Beam sebagai sarana berkeliling.

Nggak cocok dengan cuaca Depok

Aspek selanjutnya yang jadi pertimbangan adalah kenyamanan. Pertama, Depok itu panasnya setengah mampus. Walaupun kampus UI bisa dibilang cukup rindang dan sejuk karena ada banyak danau, tetap saja, sinar matahari Depok itu sudah kayak di Padang Mahsyar.

Buat naik motor yang cepat dan satset saja, kami masih sering mengeluh. Apa lagi kalau harus jalan kaki atau pakai sepeda listrik. Sudah terbuka, panas lagi.

Nah, giliran sedang hujan, sepeda listrik ini juga tidak bisa digunakan. Sudah kehujanan, jalannya licin pula. Serba salah, deh.

Walaupun sepeda listrik Beam ini sudah memiliki shelter tersendiri di kampus UI, kadang ada pengguna tidak bertanggung jawab yang asal parkir di sembarang tempat. Bahkan ada juga yang meninggalkannya begitu saja dan kabur karena sepeda listriknya tiba-tiba mati atau ia tidak tahu bagaimana menonaktifkannya setelah selesai digunakan.

Kadang-kadang, ada aja sepeda listrik yang nyasar sendiri. Ini lumayan mengganggu estetika lingkungan kampus.

Melihat contoh kasus kenapa sepeda listrik memang tidak cocok bagi mahasiswa mendang-mending UI

Dari penjabaran faktor-faktor di atas, mari kita lihat contoh kasusnya.

Misalnya A ingin menggunakan sepeda listrik untuk pergi dari FISIP ke FEB UI. Di Google Maps, jarak antara kedua fakultas ini adalah 1 km. Dengan kecepatan maksimal 25 km/jam, jarak ini bisa ditempuh sekitar 2-3 menit paling cepat. Tapi karena medan di depan FEB cukup ekstrem, tidak mungkin ngebut. Jadi, si A mengendarai sepeda listriknya dengan agak lambat. Alhasil, biaya yang harus dibayar semakin tinggi.

Itu belum mempertimbangkan teriknya matahari Depok atau kemungkinan sepeda listrik tiba-tiba mati di tengah jalan.

Karena keburu malas, akhirnya si A memutuskan untuk naik bikun (bus kuning) saja. Gratis, adem, cepat, dan dapat diandalkan. Memang, si A—dan banyak mahasiswa UI lainnya, termasuk saya—adalah kaum mendang-mending yang cenderung memilih hal lain yang lebih “rasional”. Namun, bukannya begitu hakikat manusia sebagai makhluk ekonomi?

Penulis: Dinar Maharani Hasnadi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Bus Odong Unpad Perlu Banyak Belajar dari Bus Kuning UI.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Juli 2024 oleh

Tags: kaum mendang mendingMahasiswamahasiswa UIsepeda listrikUIUniversitas Indonesia
Dinar Maharani Hasnadi

Dinar Maharani Hasnadi

Mahasiswi HI. Penulis lepas. Suka makan sushi pakai ikan asin.

ArtikelTerkait

jumatan

Jumatan Tidak Membuatmu Menjadi Lebih Tampan

31 Mei 2019
4 Tradisi Mahasiswa Pascasarjana Menjelang UAS Terminal Mojok

4 Tradisi Mahasiswa Pascasarjana Menjelang UAS

19 Desember 2022
Proker KKN Kadang Nggak Nyambung sama Jurusan Kuliah dan Kita Harus Berdamai dengan Itu

Proker KKN Nggak Nyambung sama Jurusan Kuliah: Mahasiswa Harus Berdamai dengan Itu

11 Agustus 2023
Mahasiswa Terjebak Judi Online, Bukti Orang yang Mengecap Pendidikan Tinggi Nggak Melulu Punya Nalar Mojok.co

Mahasiswa Terjebak Judi Online, Bukti Orang yang Mengecap Pendidikan Tinggi Nggak Melulu Punya Nalar

16 Juli 2024
Gap Year Selalu Dipandang Negatif, padahal Manfaatnya Juga Banyak terminal mojok.co

Gap Year Selalu Dipandang Negatif, padahal Manfaatnya Juga Banyak

25 September 2020
Pengalaman Kuliah Sambil Kerja Part Time Selama 5 Tahun, Memungkinkan Dilakukan Asal Tahu Siasatnya Mojok.co

Pengalaman Kuliah Sambil Kerja Part Time Selama 5 Tahun, Memungkinkan Dilakukan Asal Tahu Siasatnya

1 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026
Selama Real Madrid Tidak Percaya dengan Strikernya, Lupakan Meraih Gelar UCL ke-16

Real Madrid Tanpa Trofi (Lagi), Saatnya Buang Vini

16 April 2026
Kelas Menengah Dimatikan dengan Pajak dan Kenaikan BBM (Unsplash)

Kenaikan Harga Pertamina Turbo dan DEX Mendorong Kelas Menengah Menuju Kemiskinan dan Kematian

20 April 2026
4 Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan ke Mahasiswa Universitas Terbuka mahasiswa UT kuliah di UT

Saya Sempat Meremehkan Universitas Terbuka, Sampai Akhirnya Saya Menjalaninya Sendiri sambil Kerja

20 April 2026
Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita Mojok.co

Kuliah di UIN Dipandang Sebelah Mata, Ditambah Ambil Jurusan Nggak Populer Jadi  Makin Menderita

16 April 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jalan-jalan di Surabaya Itu Mudah dan Murah, tapi Jadi Mahal karena Kebanyakan Tukang Parkir Liar

21 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami
  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja
  • Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti
  • 3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.