Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Seniman yang Sok Ngartis dan Karya yang Selalu Diminta Gratisan

Wiviano Rizky Tantowi oleh Wiviano Rizky Tantowi
23 Februari 2020
A A
Seniman yang Sok Ngartis dan Karya yang Selalu Diminta Gratisan
Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini, saya merasa kurang produktif. Biasanya, dalam seminggu ini soal makan saya bisa menghabiskan empat bungkus mie instan lengkap dengan segelas es teh tarik. Pun dengan membaca dan menulis, saya biasa melakukannya tiap malam ketemu pagi. Tapi tidak untuk kali ini. Ada yang membebani dalam benak saya tapi bukan mantan yang uwuwu itu.

Berhari-hari saya mencoba untuk meditasi. Mencari jawaban yang tak kunjung terjawab. Sampai pada sore kemarin, saya berhasil menemukan apa yang saya galaukan belakangan terakhir setelah melihat cuitan Manji. Adalah soal kiat menghargai karya seni yang sering dianggap murah dan harga teman oleh teman sendiri.

Jadi, usai saya melihat postingan Manji tersebut yang sempat viral di jagat maya, kok ya kebetulan, saya setelah itu ngobrol dengan teman saya yang juga merupakan seorang seniman di tempat saya biasa nongkrong. Dalam perbincangan itu, kami mencoba untuk berbagi tentang perkembangan industri kreatif seni saat ini.

Meni, begitu panggilan akrabnya, bercerita panjang soal apa yang ia alami selama meniti karier menjadi seorang seniman. Dia merupakan seorang perupa yang sudah terjun selama tiga tahun semenjak lulus kuliah. Banyak karya yang ia telurkan. Ikut pameran lokal hingga nasional sudah ia rasakan. Tinggal selangkah lagi mimpinya untuk memameskan karyanya di pameran internasional. Namun, sampai saat ini ketika ia telah sukses atas karya-karyanya dan meraih banyak penghargaan, masih ada saja yang minta dibikinkan karya tanpa syarat alias gratisan. Hadeh.

Padahal, karya Meni ini menurut saya harganya jauh lebih terjangkau. Ini dibandingkan dengan karya-karya yang sudah setara di atas standar. Dan, ketika saya coba bertanya, “kesel nggak kowe nek ana sing ngomong ngunu?” dia misuh secara lantang. Jelas misuh, saya pun kalau jadi Meni bakal ngamuk.

Obrolan saya dengan Meni semakin menarik. Kala saya bertanya, “Kenapa masih pasang harga murah? Padahal lukisanmu bagus-bagus.” Sambil ngudud kreteknya, dia menjawab santai, “Aku masih belum merasa seperti perupa lainnya. Yang jauh lebih apik dan nduwe makna.” Saya tidak tahu dia sengaja berucap merendah untuk meroket atau karena memang murni karena sikap rendah hati yang dimilikinya.

Ya tidak bisa dimungkiri memang, seniman juga manusia. Butuh makan. Sesekali butuh juga untuk traktiran bersama sang yayang. Diskusi saya bareng Meni itu mengungkap realita yang ada di dalam kalangan para pekerja seni.

Bahwasanya karya seni adalah produk dari olah pikir manusia. Saya rasa, beruntung sekali orang terlahir dan tumbuh besar sebagai seniman. Kreativitas yang dimiliki tak pernah ada batasnya. Kecuali satu: mati. Anggapan di sosial, seni hanyalah media penghibur saja. Jauh dari pada itu, menurut saya seni adalah tentang sisi lain pelajaran hidup. Gontak-gontok di dalam seni lumrah kok. Kemelut debat pendapat perihal patokan menghargai karya seni itu juga biasa.

Baca Juga:

Seniman AI Tidak Usah Sok Keren, Bikin Prompt AI Itu Nggak Sesusah Itu!

Salahkah Berharap Bisa Kaya dari Karya?

Kemudian, saya pun berlanjut tanya. “Fenomena yang terjadi, banyak yang sok ngartis, Men. Nek jaremu, mending mencari nama dahulu agar karyamu yang berkualitas itu lebih dikenal luas dengan mematok harga murah, atau ujug-ujug masang harga tinggi berdalil menghargai seni tapi karyamu masih belum siap dan matang secara kualitas?” Dia pun menjawab singkat, “Yang pertama lah”.

Jleb.

Ah, jujur saja, saya selalu mangkel tatkala bertemu seniman yang belum jadi apa-apa sudah bergaya setinggi jumantara. Kualitas karyanya masih belum berbicara banyak, tapi sudah minta ini-itu. Teman saya yang sekelas Meni saja tidak seperti itu. Sungguh beneran ada.

Ini bukan soal harga sepantasnya, tapi etika. Salah satu penyebab mengapa kesenian di Indonesia tidak begitu dihargai, ya dari para pelaku seni yang sudah membuat jembatan pada setiap karyanya tanpa mengindahkan kualitas. Masang harga jutaan, tapi tidak berinovasi. Selalu mencari zona nyaman sendiri. Saya lebih baik menghargai lebih karya-karya yang memang layak dan mampu bicara di depan khalayak.

Oh, jadi kalau begitu apa selanjutnya?

Saya dan Meni sepakat sebagai orang yang bekerja dan berkarya di lingkup industri kreatif. Boleh saja untuk pemula tujuan berkarya adalah pertama mencari uang. Namun kualitaslah yang lebih utama. Sebab, karya seni semata-mata bukan hanya bicara uang, uang, dan uang. Tapi juga bicara soal kepuasan dan rasa sayang.

Haaa, rasa sayang? Makan tuh sayang!

BACA JUGA Mengapa Penerbit Tak Tertarik Menerbitkan Karya Penulis yang Followernya Sedikit? atau tulisan Wiviano Rizky Tantowi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Februari 2020 oleh

Tags: karyaseniman
Wiviano Rizky Tantowi

Wiviano Rizky Tantowi

ArtikelTerkait

seniman

Mampukah Seniman Bersaing dengan Mas-Mas Berseragam Jadi Menantu Idaman?

4 Juni 2020
Sal Priadi: Bagaimanapun Bentuk Karyanya, bagi Saya Tetap Mantap! terminal mojok.co

Sal Priadi, Bagaimanapun Bentuk Karyanya, bagi Saya Tetap Mantap!

6 Maret 2021
mahasiswa seni mandi seniman mojok

Alasan Mahasiswa Seni Jarang Mandi

1 Oktober 2020
Salahkah Menulis demi Uang? kaya

Salahkah Berharap Bisa Kaya dari Karya?

29 Maret 2023
Cara Mudah Mendulang Rupiah Lewat Karyakarsa  

Cara Mudah Mendulang Rupiah Lewat Karyakarsa  

15 September 2022
royalti lagu moshpit rock pop punk mojok

Panduan Memahami Peraturan Pemerintah Perihal Royalti Lagu

7 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Tidak Pernah Mengecewakan Mojok.co

Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

11 Maret 2026
Sebaiknya Warga Malang Tidak Terlalu Marah kalau Matos Disebut sebagai Mall Terkecil, Masih Banyak Urusan Lain yang Lebih Penting

Sebaiknya Warga Malang Tidak Terlalu Marah kalau Matos Disebut sebagai Mall Terkecil, Masih Banyak Urusan Lain yang Lebih Penting

7 Maret 2026
Lontong Balap Makanan Khas Surabaya Paling Normal, Pendatang Pasti Doyan Mojok.co

Lontong Balap Makanan Khas Surabaya Paling Normal, Pendatang Pasti Doyan

8 Maret 2026
Perang Iran vs Amerika Buat Kelas Menengah Indonesia Makin Tertekan

Perang Iran vs Amerika Buat Kelas Menengah Indonesia Makin Tertekan

8 Maret 2026
Kelangkaan Gas 3 KG Menjelang Lebaran Adalah Drama Jelek Tahunan yang Tak (Akan) Pernah Selesai

Kelangkaan Gas LPG Menjelang Lebaran Adalah Drama Jelek Tahunan yang Tak (Akan) Pernah Selesai

5 Maret 2026
Suzuki GSX-R150, Motor Sport untuk Kalian yang Muak dengan Honda CBR dan Yamaha R15 suzuki hayate 125 motor suzuki shogun 110 suzuki access 125 motor suzuki nex crossover

Suzuki Nex Crossover: Matic Underrated yang Seharusnya Lebih Laku Dibanding BeAT Street yang Payah Itu

9 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga
  • Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara
  • Habiskan Waktu 78 Jam di Bus untuk Mudik Berujung Kapok dan Frustrasi: Harus Tahan Bau Badan, BAB, hingga “Ditakuti” Teman Sebangku
  • Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya
  • Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga
  • Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.