Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mengapa Penerbit Tak Tertarik Menerbitkan Karya Penulis yang Followernya Sedikit?

Ali Adhim oleh Ali Adhim
29 November 2019
A A
Mengapa Penerbit Tak Tertarik Menerbitkan Karya Penulis yang Followernya Sedikit?
Share on FacebookShare on Twitter

Ada ungkapan menarik dari Eduard Douwes Dekker, dalam karyanya yang berjudul Max Havelaar (1860). Kita mengenalnya sebagai Multatuli, pemuda yang lahir di Amsterdam, Belanda, 2 Maret 1820.

Seperti ini ungkapannya, “Para penerbit lebih menilai karya berdasarkan reputasi penulisnya daripada nilai isinya“, ungkapan ini tepat di halaman 41. Pada awalnya saya mengira bahwa novel satir yang ditulis oleh Multatuli ini hanya berisi kritik atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi di Hindia Belanda saja. Ternyata saya salah. Dalam novel itu, ada juga kritik Multatuli terhadap para penerbit yang hanya mau untung dari popularitas penulisnya.

Kalau kita tengok kembali tahun penerbitan novel Max Havelaar yang sudah lampau itu, kita akan tersadar bahwa industri perbukuan ternyata sudah sejak zaman dahulu menganut paham kapitalis.

Kita tahu, dalam Oxford Dictionaries 2013 kapitalisme memiliki arti sistem ekonomi di mana perdagangan, industri, dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Lalu apa hubungannya dengan penerbitan buku, karya, dan reputasi penulis? Saya akan mencoba menerka-nerka apa yang diungkapkan oleh Multatuli itu adalah sebuah potret kehidupan yang real dan konkrit.

Coba, lihat, dan saksikan sendiri, mengapa banyak sekali penerbit buku mayor maupun inide yang berduyun-duyun mencari naskah ke Wattpad? Sebab di sana banyak penulis yang memiliki banyak fans dan pembaca.

Apa pentingnya fans dan pembaca untuk penerbit? Toh, penerbit hanya butuh naskah yang bagus dan berkualitas? Ya memang prinsip dasarnya seperti itu. Akan tetapi, yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana agar naskah yang akan diterbitkan itu bisa terserap di pasar, terlebih bagaimana agar naskah itu bisa best seller dan viral.

Viral dan best seller adalah dua hal yang sangat diinginkan oleh penerbit mana pun. Sebab dengan viral, karya penulis yang diterbitkan akan diburu oleh banyak orang, dan dari viral itu akan berdampak pada penjualan yang bombastis.

Kembali lagi ke Wattpad, di Wattpad penulis-penulis yang memiliki banyak fans tentu akan dengan mudah mendapatkan pembeli karyanya. Inilah salah satu alasan mengapa banyak sekali penerbit yang mencari naskah di Wattpad. Penerbit tahu bahwa mendapatkan naskah di Wattpad sama halnya penerbit akan terbantu dalam promosi.

Baca Juga:

Alasan Gramedia Tidak Perlu Buka Cabang di Bangkalan Madura, Nggak Bakal Laku!

Gramedia Menyedihkan, Ramai Pengunjung Bukan untuk Beli Buku melainkan Alat Tulis dan Aksesori Lucu

Tidak hanya satu dua naskah di Wattpad yang bukan hanya dilirik oleh penerbit, tapi juga dilamar oleh PH Film kenamaan di Indonesia. Contohnya ada banyak, kiranya tak perlu saya sebutkan satu persatu. Nah, setelah prosesi penerbitan buku dan gala premiere film yang diadaptasi dari naskah di Wattpad rampung, tibalah saatnya meledak, menggegerkan ruang maya, viral, dan best seller.

Selain di Wattpad, ada juga media sosial lain yang mengantarkan penulisnya ke meja PH Film besar di Jakarta, setelah novel yang ia tulis di Facebook viral dan mendapat respons banyak dari pembacanya. Novel itu terjual puluhan ribu eksemplar dalam kurun waktu satu bulan.

Jangan tanya berapa banyak penerbit yang merayu dan melamar penulis yang memiliki banyak fans dan pembaca di media sosial. Bukan hanya penerbit bau kencur saja, bahkan penerbit raksasa yang bukunya sering nangkring di rak best seller saja terkadang masih tergiur dengan penulis yang mempunyai banyak fans.

Fenomena seperti ini barangkali menjawab pertanyaan, Mengapa Penerbit Tak Tertarik Menerbitkan Karya Penulis yang Followernya Sedikit? Tentu saja jawabannya karena penerbitan tidak ada yang mau rugi, untuk apa mereka menerbitkan karya yang tidak mempunyai segmentasi pasar yang bagus, hal itu akan menyusahkan penerbit.

Jadi perlukah memperbanyak follower dulu baru menulis sebuah karya? Agar karya kita bisa diterima dan nangkring di toko buku offline maupun online di seluruh Indonesia? Tidak juga. Sebab, meskipun yang dikatakan oleh Multatuli, “Para penerbit lebih menilai karya berdasarkan reputasi penulisnya daripada nilai isinya“, ini benar. Kita juga harus ingat dengan nasihat mulia Imam Al-Ghozali, “Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah.” Tak peduli karya kita akan dilirik penerbit atau tidak, akan mendapatkan fans dan pembeli atau tidak, yang terpenting adalah berkarya. Sebab karya tidak pernah bisa dibeli dengan apa pun, apalagi dengan angka-angka yang hanya bersifat sementara.

Kalau kita meminjam ungkapan Pramoedya Ananta Toer, maka bunyinya akan menjadi seperti ini, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Wallahu a’lam.

BACA JUGA Terpujilah Wahai Engkau, Para Pembajak Buku atau tulisan Ali Adhim lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 November 2019 oleh

Tags: best sellerpenerbit bukutoko bukuwattpad
Ali Adhim

Ali Adhim

Penyuka karya sastra, sedang belajar bersahabat dengan waktu. Beberapa bukunya telah beredar di toko online dan offline.

ArtikelTerkait

palasari surga buku bandung mojok

Palasari, Wisata Buku Bandung yang Terlupakan

28 Juli 2021
pedagang buku penjual buku online toko buku online Segalau-galaunya Hubungan Tanpa Status, Masih Lebih Galau Tak Kesampaian Beli Buku di Tanggal Tua

Mending Beli Buku di Togamas atau Gramedia, ya?

11 Mei 2020
Mencari Toko Buku di Banyuwangi seperti Jarum di Tumpukan Jerami, Sulit! Mojok.co

Mencari Toko Buku di Banyuwangi seperti Jarum di Tumpukan Jerami, Sulit!

5 November 2023
fan fiction situs baca mojok

4 Rekomendasi Aplikasi Baca Fan Fiction

27 Desember 2020
Social Agency Baru: Toko Buku yang Krisis Identitas

Social Agency Baru: Toko Buku yang Krisis Identitas

31 Agustus 2022
Bukan Salah Selera Pembaca Wattpad, tapi Kapitalisme dengan Jurus Romansanya terminal mojok.co

Bukan Salah Selera Pembaca Wattpad, tapi Kapitalisme dengan Jurus Romansanya

30 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

25 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung, Iri kepada Kota Bandung Mojok.co

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

27 April 2026
3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026
Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”
  • Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang
  • Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.