Selip Lidah Saat Berbicara Itu Sebaiknya Nggak Terjadi di Wawancara Kerja – Terminal Mojok

Selip Lidah Saat Berbicara Itu Sebaiknya Nggak Terjadi di Wawancara Kerja

Artikel

Seto Wicaksono

Selip lidah atau slip of tongue itu sangat menyebalkan. Apalagi jika terjadi dalam situasi, kondisi, atau acara yang penting. Bikin salah tingkah dan malunya berlipat ganda. Kalau pas lagi nongkrong dengan teman-teman yang lain, sih, nggak masalah. Paling hanya jadi bahan ceng-cengan sementara waktu, sampai akhirnya berlalu begitu saja. Namun, berdasarkan pengalaman pribadi juga kebanyakan orang, selip lidah bisa menyerang siapa pun dan terjadi kapan saja. Nggak lihat-lihat siapa orangnya, juga dalam momen yang seperti apa. Termasuk saat wawancara kerja sedang berlangsung.

Sebagai recruiter yang sehari-harinya bertemu sekaligus ngobrol langsung dengan banyak kandidat, khususnya pada saat sesi wawancara kerja, saya sudah sangat, sangat terbiasa mendengar selip lidah dari para pelamar kerja. Tidak sedikit di antaranya sampai bikin saya harus menahan tawa. Lantaran kami—saya dan kandidat—sedang dalam proses wawancara kerja.

Lah iya dong. Nggak mungkin saya ujuk-ujuk terpingkal-pingkal sendirian? Pada waktu yang bersamaan, tentu saja saya harus tetap terlihat profesional.

Sepengalaman saya, selip lidah yang dialami oleh para kandidat saat wawancara kerja sering kali terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya gugup sampai sulit mengontrol diri, bicara terlalu cepat, dan kurang latihan vokal sederhana yang bisa dilakukan dengan cara mengobrol seperti biasanya sebelum proses interview berlangsung.

Itu kenapa, sambil menunggu giliran interview, saran saya, ada baiknya mengobrol dengan kandidat lain (jika ada). Biar lebih santai gitu. Bisa juga dengan latihan vokal sederhana seperti menggerakan mulut sambil mengucap a-i-u-e-o secara berulang. Tujuannya biar mulut nggak terasa kaku saat ngobrol dengan HRD.

Jangan sampai seperti beberapa kandidat yang pernah saya interview. Saking gugupnya, dia sampai selip lidah bertubi-tubi. Salah mengucap beberapa kata dalam satu sesi wawancara. Padahal, pertanyaan yang saya ajukan terbilang sederhana.

“Mba terbiasa menggunakan Microsoft Office? Apa saja yang Mba kuasai?” kata saya di sela-sela wawancara dengan kandidat.

“Iya, Pak. Saya sangat terbiasa menggunakan Mikroskop Excel,” jawab kandidat dengan cukup pede.

Oke. Saya bisa menahan tawa karena hal tersebut masih sangat minor. Meski saya sulit memungkiri bahwa saya sempat kaget saat mendengar kata (((mikroskop))).

“Saat menggunakan Microsoft Excel, biasanya rumusan atau formula apa aja yang sering diaplikasikan, Mbak?” lanjut saya, sambil berusaha melakukan probing.

“Oh, kalau itu yang standar-standar aja, Pak. Seperti formula Sum, Min, Max, dan Avenger,” jawab kandidat tersebut dengan begitu lugas.

Asli. Saya makin sulit menahan tawa saat mendengar kata (((Avenger))). Saya sampai ngedumel dalam hati, “Sebentar, ini maksudnya Average, gitu?”

Pertahanan saya untuk menahan tawa mulai goyah ketika memasuki pertanyaan terakhir. Lagi-lagi, sebetulnya kalimat tanya yang saya ajukan sangat sederhana. Nggak susah, kok.

“Apa kemampuan dari diri Mbak yang bisa diaplikasikan untuk posisi ini?” saya lanjut bertanya sambil berjuang menahan tawa dan tetap terlihat profesional dengan cara pura-pura batuk.

“Oh, oke, Pak. Saya cukup yakin dengan kemampuan kontraksi saya, Pak. Soalnya saya sangat terbiasa melakukan kontraksi dengan banyak orang,” jawab kandidat tersebut. Lagi-lagi secara lugas dan pede. Sedangkan saya, lagi-lagi harus berpura-pura batuk secara anggun sambil menutup mulut dengan tangan juga CV.

Tentu saja yang ia maksud adalah komunikasi. Bukan kontraksi.

Parah. Betul-betul parah. Lantaran saya betul-betul harus bersusah payah untuk menahan tawa. Saya nggak tahu, apakah kandidat ini sadar atau tidak saat keliru mengucap beberapa kata karena selip lidah? Pasalnya, ekspresinya flat. Datar aja gitu seakan tidak melakukan kekeliruan apa pun.

Berbeda dengan beberapa kandidat sebelumnya yang kalau salah ucap, ada yang tersipu malu, ikut cengengesan, atau minta maaf karena sudah selip lidah—meski sebetulnya nggak perlu minta maaf juga, sih.

Itu kenapa, selain saat berolahraga, pemanasan sebelum berbicara dalam berbagai situasi itu penting untuk meminimalisir selip lidah, salah ucap, dan hal serupa. Ya, selain meluangkan waktu untuk pemanasan, sempatkan diri juga untuk berdoa agar prosesnya diberi kelancaran dan jawabannya pun tepat sasaran. Nggak pakai ada drama slip of tongue.

BACA JUGA Pengalaman Saya Saat Hendak Wawancara Polisi di Tengah Aksi dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Baca Juga:  Wawancara Kerja dan Win-win Solution bagi Kedua Pihak Perkara Fenomena Ghosting dalam Rekrutmen
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
3


Komentar

Comments are closed.