Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Self Healing Jadi Peluang Bisnis, Etis atau Tidak?

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
4 Mei 2022
A A
Self Healing Jadi Peluang Bisnis, Etis atau Tidak?

Self Healing Jadi Peluang Bisnis, Etis atau Tidak? (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Istilah self healing semakin banyak diperbincangkan oleh netizen Indonesia beberapa waktu terakhir ini, khususnya oleh kaum muda. Terma yang digunakan untuk menggambarkan sebuah proses penyembuhan luka psikis akibat hal tertentu di masa lampau ini menjadi suatu kata yang populer dibicarakan seiring dengan meningkatnya pembicaraan mengenai isu kesehatan mental. Beberapa tahun sebelumnya, kata depresi juga menjadi topik yang kerap diperbincangkan di berbagai platform media digital.

Tidak dapat dimungkiri, depresi itu nyata. Banyak yang mengalaminya, terutama ketika awal virus Covid menunjukkan taringnya di Indonesia. Kabar berita kematian yang berseliweran di media serta kepastian akan ketidakpastian semua hal buruk tersebut akan selesai kian menjadi beban pikiran. Sayangnya, lambat laun, makna depresi ini malah menjurus ke arah miskonsepsi. Padahal, untuk menyatakan seseorang terkena depresi, dibutuhkan seorang ahli yang telah menempuh pendidikan tinggi di bidang tersebut. Tapi, kok, semakin ke sini justru semakin banyak orang yang bangga mengaku dirinya mengidap depresi?

ADVERTISEMENT
Healing (Pixabay.com)

Tapi, itu bahasan lain. Kita serahkan pada ahlinya saja. Saya akan bahas hal lain, yaitu healing yang malah jadi ladang cuan.

Ramainya perbincangan mengenai depresi kemudian memunculkan tren berikutnya yaitu healing. Benar, healing memang dimaksudkan untuk mengikis luka batin yang sedang dialami. Tapi, itu pun harus dengan bimbingan serta pendampingan psikolog atau psikiater. Lalu, kalau diagnosisnya dilakukan secara mandiri, proses serta metode healing-nya lalu diputuskan oleh diri sendiri, kok aneh ya.

Lalu inilah yang terjadi, kata healing, justru digunakan oleh banyak orang sebagai strategi bisnis. Sebagai seseorang yang mendalami ilmu manajemen pemasaran, dari kacamata marketing, self healing kini makin lama makin mengalami pergeseran arti dari sebuah cara untuk bebas dari permasalahan mental menuju ke budaya pop. Kayaknya keren aja gitu, kalau upload foto lagi liburan di pegunungan dengan hamparan pemandangan hijau lalu dilengkapi caption dengan tulisan self-healing. Rasa-rasanya, kok kontradiktif ya.

Romantisisasi inilah yang kemudian ditangkap oleh para pemilik otak bisnis. Lihatlah di sekeliling kita, berapa banyak kafe yang berlokasi di tengah sawah atau di dataran tinggi dengan hawa dingin dan panorama khas yang memamerkan keindahan alam? Berapa banyak pula tempat penginapan yang dibuat seolah-olah merupakan suatu tempat yang damai dan jauh dari keramaian sehingga cocok untuk memberi makan jiwa-jiwa yang lelah menghadapi kehidupan?

Kafe estetik (Pixabay.com)

Resepnya hampir mirip-mirip, kok, antara kafe atau penginapan yang disebutkan di atas. Kalau tidak terkesan privat dan sunyi, ya, dikelilingi alam. Back to nature, gitu, lah. Apalagi kalau diselingi kegiatan seperti yoga atau spa, wah, pokoknya momen self-healing aestetik seperti ini wajib diperlihatkan di Instagram. Ditambah, kampanye promosi kafe atau tempat-tempat seperti itu dikasih bumbu “tempat tepat untuk self healing”, wah, makin menjadi.

Maka dari itu, timbul pertanyaan, jadi kafe-kafe atau tempat estetik pake kampanye self healing ini beneran peduli kesehatan mental atau strategi bisnis doang?

Baca Juga:

Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering rumahan

Akulah pengunjung kafe yang terganggu itu gara-gara musik yang disetel keras-keras, bikin tenaga terkuras dan harus adu volume saat ngobrol

Rasanya ironis. Self healing, harusnya, selalu tentang seseorang yang berjuang menyelamatkan diri sendiri. Kalau sudah dijadikan promosi jualan gini (atau pada titik terburuk, sekadar pamer), rasa-rasanya kok nggak etis ya.

Apakah yang dilakukan pelaku bisnis yang jualan self healing tersebut salah? Ini debatable. Pelaku bisnis menangkap peluang. Itu memang tidak etis, tapi mau bagaimana lagi, ya kan? Kita mau berbusa bilang itu tidak etis, ujungnya ya malah kena counter. Kayak nggak paham netizen aja. Tapi, kita setuju dulu, ini tidak etis.

Pondok pinggir desa (Pixabay.com)

Menurut saya, jika orang-orang tak serampangan mendiagnosis dirinya sendiri, mungkin promosi bisnis dengan kata-kata self healing bakal tak seramai ini. Saya tentu saja tidak membela para pelaku bisnis, tapi pasar tercipta ketika ada demand. Dan ironisnya, demand ini tercipta karena orang yang serampangan mendiagnosis, dan yang benar-benar butuh justru tak tersentuh.

Yang bisa kita lakukan sekarang, tentu saja, adalah dengan menyerahkan semua kepada ahlinya. Ketika merasa ada yang tak mengenakkan, segera hubungi psikolog agar dapat pertolongan yang tepat. Untuk para pelaku bisnis itu… biarkan saja. Bagaimanapun juga, ketika orang sudah paham tentang kesehatan mental, nantinya jualan self healing mereka lama-lama menurun. Terkadang, menunggu dunia berubah itu sia-sia, dan semua akhirnya kembali pada kita sendiri.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Toilet Bus: Fasilitas atau Sekadar Hiasan?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2022 oleh

Tags: BisnisEstetikkafeself healing
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

Memahami 3 Langkah Penyelamatan Suatu Bisnis yang Terancam Pailit bisnis keluarga MOJOK.CO

Memahami 3 Langkah Penyelamatan Suatu Bisnis yang Terancam Pailit

12 Agustus 2020
Paula Gianita Membagikan Rahasia agar UMKM di Indonesia Mampu Bertahan Lama

Paula Gianita Membagikan Rahasia agar UMKM di Indonesia Mampu Bertahan Lama

20 April 2023
harga rokok naik cukai rokok perokok di kafe buang puntung sembarangan padahal udah ada asbak mojok.co

Bukan Maen! Kafe Udah Nyediain Asbak, Perokok Tetep Buang Puntung Sembarangan

1 September 2020
Perlahan tapi Pasti, Warmindo Menggeser Angkringan dari List Tempat Makan Murah terminal mojok.co

Bisnis Angkringan: Modalnya Nggak Seberapa, Untungnya Bisa buat Nyicil Rumah

25 Januari 2021
Seandainya Ah Tong dalam Serial Upin Ipin Menjalankan Bisnisnya di Karanganyar: Warga Sejahtera, Nggak Ada yang Nganggur Lagi

Seandainya Ah Tong dalam Serial Upin Ipin Menjalankan Bisnisnya di Karanganyar: Warga Sejahtera, Nggak Ada yang Nganggur Lagi

24 Februari 2024
Dear Maba, kalau Diajak Bisnis Aneh-aneh sama Kating, Jangan Mau ya!

Dear Maba, kalau Diajak Bisnis Aneh-aneh sama Kating, Jangan Mau ya!

24 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua Mojok.co

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua

9 Agustus 2026
Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah

7 Agustus 2026
Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian Mojok.co

Kerja sambil kuliah program Ekstensi UI mengubah cara pandang terhadap pekerjaan saya sebagai ASN Kementerian

10 Agustus 2026
Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Purworejo, kota yang menyambutmu bukan dengan gapura selamat datang, tapi dengan jalan berlubang

5 Agustus 2026
Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

10 Agustus 2026
Takut ke Puskesmas karena malas hadepin antrean panjang (Unsplash)

Pergi ke Puskesmas itu tidak menakutkan, yang menakutkan menghadapi antrean panjang dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.