Sekelumit Kisah di Terminal Giwangan dan Seputaran Jogja Selatan

Sekelumit Kisah di Terminal Giwangan dan Seputaran Jogja Selatan terminal mojok.co

Sekelumit Kisah di Terminal Giwangan dan Seputaran Jogja Selatan terminal mojok.co

Sakjane saya bingung tenan. Orang-orang kok ya bisa bilang bahwa Umbulharjo dan Giwangan itu adalah zona hitam klitih dan kekerasan jalanan. Lha belum usai label itu, saya juga kaget, bisa-bisanya Banguntapan dilabeli sebagai metropolisnya Bantul.

Terlepas dari semua label itu, saya hanya ingin berbagi kisah. Sebagai orang dari Selatan Jogja hampir tiap hari ndepis pojokan Jogja, saya pengin menceritakan beberapa hal ihwal yang sesungguhnya seputar Umbulharjo, Banguntapan, dan Giwangan. Nggak lengkap-lengkap banget, sih, tapi bisalah ngancani kamu thekthek sambil ngopi barang satu atau dua sruput dan barang satu atau dua lencer Samsu.

Saya sejak kecil hidup di Umbulharjo. Hanya lima jengkal, lah dari Terminal Lama. Sebuah terminal utama di Jogja, sebelum pindah ke Giwangan. Jadi ojek payung untuk penumpang bus ketika terminal diguyur hujan deras, saya pernah lakoni ketika umur sembilan.

Prestasi saya sebagai ojek payung amat mbois lah, yakni bisa dapat lima belas ribu sekali hujan. Itu catatan paling baik. World records perihal omset paling tinggi jadi ojek payung di terminal. Nggak ada yang penghasilan ojek payungnya sebesar lima ribu sekali hujan pada masa itu.

Keluarga saya nggak miskin-miskin amat, walau kadang makan ya seadanya. Ibu bekerja di biro wisata, di luar area Terminal Lama, bapak itu polisi cum “preman” di sana. Ada keributan, bapak saya lerai. Memang blio ini keren sekali, tapi sekali dibentak ibu karena beli raket tenis yang harganya jutaan, blio mengkeret juga.

Sebagai anak emas dua persilangan manusia paling berpengaruh di Terminal Lama, saya sedikit jumawa. Nakal lah istilah wangunnya. Tapi, cengeng juga. Dulu sering tawuran antar geng anak SD, saya yang paling kemlinthi nantang sana-sini, gelut di antara bus-bus yang mangkrak dan nggak jalan, tapi hasil akhirnya ya saya sendiri yang babak bundas.

Liat preman nyimeng dan mimik lapen, itu makanan sehari-hari. Liat orang menangis di pojok terminal dengan entah masalahnya apa, itu pemandangan sehari-hari. Liat manusia kalah, manusia yang menyerah kepada kerasnya Umbulharjo medio 2010-an, santapan masa kecil saya. Saya yang baru lulus sekolah dasar.

Setelah itu, terminal pindah, agak ke selatan. Mau nggak mau, ibu saya yang mengurus biro perjalanan, ikut serta. Aturannya, sih, semua harus masuk di Terminal Giwangan, nggak boleh ada yang berjualan di luar. Dulu lho, ya. Nggak tahu kalau sekarang.

Mendengar aturan-aturan ndakik macam itu, tentu saja para pekerja terminal amat bergairah menyambut perubahan.

“Terminal Giwangan itu adalah terminal terbaik se-Indonesia,” kata anak buah ibu saya suatu ketika kepada saya. Kala ia menjemput saya sepulang dari SMP di daerah Patehan. Saya yakin, ia berkata dengan khusyuk dan serius luar biasa. Malang, esoknya ia harus keluar dari Terminal Giwangan lantaran ketahuan mencuri di sebuah bus.

“Namanya juga hidup. Khilaf sekali akan berdampak banyak,” begitu kata bapak saya. Walau pindah teritori terminal, tapi kuasanya masih lumayan juga. Bapak tak pernah berharap legasi serupa, seperti terminal ketika masih di Umbulharjo. Yang Bapak saya butuhkan waktu itu, pendapatan para pekerja terminal segera bangkit dari masa adaptasi perpindahan dan perubahan aturan.

Kami menabung, beli rumah di Banguntapan. Lha ya jelas, uang dari mana beli rumah di Jogja selain berharap dari undian Mirota Kampus? Banguntapan jadi eksodus besar-besaran orang-orang yang meninggalkan kota mereka. Beli di Jogja nggak kuat, Banguntapan pilihan akurat. Harga miring, masih dekat kota pula. Sebab itu di Banguntapan…. banyak perumahan.

Banguntapan itu kecamatan di Bantul memang. Namun, teritori dan kultur sosialnya bahkan lebih Jogja dari Giwangan atau bahkan Umbulharjo sekalipun. Aneh, tho? Lha wong saya saja heran. Kata sebagian orang, Banguntapan justru pusat kemacetan. Sebelum pandemi, lihat saja perempatan Ring Road Selatan sisi selatan, wuaah pokoke kebak sama manusia.

Banguntapan ada macet dan ini bukan sebuah fenomena yang layak dimasukan On The Spot. Ini bukan tanpa alasan, Banguntapan—bersama Sewon tentu saja—menjadi gerbang keluarnya masyarakat Bantul yang hendak mentas ke Jogja.

Kalau lebih jeli, bukan hanya macet yang jadi hantu, tetapi juga ada truk pembawa gabah yang duwurnya nggak ngira-ngira, hilir mudik di depan rumah. Nyamplak pohon, bahkan pernah tiang listrik dipapras habis. Diterjang saja seperti sepasang kekasih yang berpelukan sebagai tanda usainya menabung rindu.

Apalagi nek bersua dengan truk sampah yang kadang sampahnya gogrok ke jalan. Astaghfirullah, itu mambunya setara dengan dirimu nggak adus seminggu. Truk sampah yang lewat menuju Piyungan, seakan sebuah pertanda bahwa penampungan sampah di sana memang sedang nggak baik-baik saja.

Kembali lagi ke Banguntapan, ya. Dulu, sekitar tahun 2011-an, sawah adalah kawan para anak-anak. Nyari keong sawah itu seperti nyari hidung di kepala sendiri alias sak ndayak akeh tenan. Lumpur adalah medan terjal permainan, sedang gelak tawa anak-anak jelas bumbu-bumbunya.

Kini, jangankan keong sawah, lha wong nyari sawahnya saja untung-untungan. Kebanyakan berubah menjadi beton dan konblok. Main layangan bukan di tanah lapang, melainkan di… eh, di mana ya sekarang nek mau main layangan?

Sawah jadi perumahan. Yang tadinya lumbung padi, kini jadi lumbung manusia pendatang. Mereka yang butuh tanah dengan harga miring di Jogja, tapi mobilitasnya yahud, Bantul Utara tentu jadi pilihan. Lihat saja baliho-baliho seluruh Jalan Imogiri Timur, sebelum datang ibu-ibu kepak sayap kebhinekaan, baliho-baliho itu bertuliskan, “Jual perumahan murah mulai 300 jutaan!”

Lebih lucu lagi baliho perumahan yang tulisannya, “Hanya 5 menit menuju bandara!” Ha lima menit matamu, sekarang bandara saja sudah pindah ke Kulon Progo. Kalau bandara masih di Adi Sutjipto, lima menit itu apa nggak kelewat sakti kalau dari bilangan Wirokerten? Jajal numpak apa ke sananya? Buraq?

Banguntapan dan Giwangan itu bagai galengan sawah bagi para petani yang mentas, alias saling bergantung. Banguntapan, menurut saya, pola masyarakatnya itu lebih kota dari kota itu sendiri. Kau mencari apa di Banguntapan? Nah, semisal nggak ada, sila cari ke Giwangan. Begitu polanya.

Tapi biasanya di Banguntapan itu ada segalanya. Jalanan pating gronjal menuju Pleret misalnya. Jalanan yang pasti bakal ditambal-tambal sebelum Lebaran tiba. Lalu rusak lagi setelah dilintasi beberapa saat. Begitu terus polanya. Nggak percaya? Tanya saja sama motor-motor yang ngglangsar ketika hujan karena masuk ke dalam lubang jalanan. Indah nian kecamatan satelit ini.

Namun, begitulah cinta saya kepadSelaa tiga kecamatan yang saya sebut di atas. Bagi saya, ketiga kecamatan ini memberikan banyak dampak kepada saya ketika menjelang dewasa seperti ini. Saya seakan dipersiapkan menghadapi kekalahan, kemalangan, pun kesusahan. Umbulharjo seperti memberikan kedewasaan, Giwangan adalah pelajaran, sedang Banguntapan tentu saja sawah-sawah yang beralih fungsi jadi perumahan.

BACA JUGA Kedai Kopi Jogja: Persaingan Blok Utara vs Blok Selatan dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version